
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Hana bangun pagi-pagi sekali, bahkan matahari pun masih belum menampakkan wajahnya tapi Hana? dia bahkan sudah mandi dan jangan lupakan rambut basah nya.
"Sayang bangun yuk, bentar lagi kita sholat berjamaah." kata Hana membangunkan suaminya dengan penuh kelembutan.
"Sayang.." panggil Hana lagi.
Gibran mengucek matanya, terdiam sebentar untuk mengumpulkan nyawa nya sampai akhirnya Gibran membuka matanya, dan ya pemandangan saat membuka mata benar-benar sangat indah.
Senyuman manis Hana.
"Pagi." kata Gibran sambil tersenyum.
"Pagi too, ayo bangun cepet mandi kita akan sholat berjamaah." kata Hana.
Gibran mengangguk, dia langsung bangkit dari tempat tidur nya, tapi saat melangkah Gibran mencium harum shampoo yang di pakai Hana membuat ia menjadi terpancing untuk mencium istrinya.
"Mau ngapain?" tanya Hana sadar suaminya berbalik dan menatap horor.
"Cium dulu." kata Gibran.
Hana menggelengkan kepalanya.
"No, aku sudah punya wudhu." sahut Hana.
"Nanti wudhu lagi." kata Gibran lagi.
Dan Hana tidak menanggapi nya, dia malah berjalan hendak ke pintu sampai akhirnya Gibran nekat mencium Hana paksa, membuat Hana mendengkus kesal karena setalah membuat nya batal Gibran langsung berlari masuk ke kamar mandi, dan berteriak..
"Aku mencintaimu!"
Hana menghembuskan nafas nya panjang, lalu mengusap pipi nya yang basah bekas ciuman suaminya.
"Untung sayang." gumam Hana lalu mengelap pelan pipi nya dengan tangan nya.
Hana berjalan ke arah kamar Tara, dia mengetuk pintu beberapa kali, sampai akhirnya di ketukan yang ke tiga baru pintu nya terbuka.
Ceklek...
Ceklek..
"Kak Hana, hoam.. ngapain?" tanya Tara sambil menguap.
Hana tersenyum melihat Tara yang masih mengantuk itu, sebentar lagi Tara adik kesayangan nya itu akan menjadi istri orang.
Dan ini rasanya terlalu cepat, apalagi Hana baru bertemu Tara setelah 8 tahun dia dan Tara tidak bertemu karena insiden kawin lari nya dulu.
"Rambutnya nya basah kak." celetuk Tara, lalu mencoba membuka matanya lebar-lebar meski masih mengantuk.
__ADS_1
Mendengar ucapan Tara Hana langsung gelagapan di buat nya, dia memang habis keramas subuh-subuh.
dan tentunya alasan nya karena permainan nya semalam.
Adik nya benar-benar memang harus di nikahkan cepat-cepat, Tara adik nya itu tidak sepolos yang di bayangkan orang-orang.
"Ayo sholat berjamaah, udah di tungguin." kata Hana mengalihkan topik pembicaraan agar tidak melebar kemana-mana.
Apalagi dia tau kalau adiknya itu sangat bawel dan lebay pasti jika di lanjutkan akan menjadi obrolan yang tidak akan ada habisnya.
"Emang udah subuh?" tanya Tara kembali menguap, tadi malam dia begadang bersama para ibu-ibu dan baru tertidur di jam 12 malam.
"Belum, tapi sebentar lagi udah masuk sholat subuh, sekalian doa bersama buat nikahan kamu kata nya." jelas Hana membuat Tara mengangguk kecil dan langsung masuk ke kamarnya.
Hana menatap pintu yang tertutup sambil geleng-geleng kepala.
"Dia masih kecil bahkan untuk bangun pagi pun masih belum bisa, pilihan tepat untuk Tara memilih tuan Darrel, dia lebih tua pasti bisa membimbing adik ku menjadi istri yang baik." gumam Hana pelan, lalu berjalan kembali ke kamar nya.
Setelah acara sarapan pagi yang penuh canda tawa itu Hana Tara dan Gibran langsung pergi ke hotel dimana tempat pernikahan nya akan di adakan.
Di perjalanan Hana melihat wajah bingung adiknya, dan diam saja tentu membuat Hana gatal untuk bertanya.
"Ada apa?." tanya Hana.
Tara melirik sang kakak, lalu menggelengkan kepalanya.
"Nggak apa, hanya aneh aja nikahan orang kaya santai ya, di kampung dulu nikahan anak tetangga aku lihat dia di rias dari subuh loh kak." sahut Tara.
Hana menggelengkan kepalanya mendengar ucapan adiknya.
"Jangan bilang kamu jadi pager beton nya." balas Hana.
Dan dengan santainya Tara mengangguk mengiyakan ucapan kakak nya.
"Pager ayu kak, tapi baju btukat nya robek pas di bagian belakang nya, kancing nya juga udah pada lepas jadi pake penitik." jawab Tara lagi dengan wajah polosnya.
Sekali lagi Hana dan Gibran menggelengkan kepalanya, adik nya itu benar-benar sangat polos.
Sesampainya di hotel Tara langsung di antarkan masuk ke salah satu kamar, dan di sana Tara melihat ke empat teman Tara yang sedang duduk di sudut kamar, tepatnya di sopa nya.
"Kalian bertiga." Tara kaget.
"Berempat Leddy, bukan bertiga." kata sosok pemuda bernama Toni.
"Kalian keluar dulu yuk, kamar kalian bukan di sini." kata Hana.
Membuat ke empat teman Tara langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Hana.
"Kakak nya Leddy Queen cantik juga ya." celetuk Toni lagi.
Ekhem !!
__ADS_1
Deheuman seorang pria membuat ke empat pemuda itu langsung melirik ke sumber suara.
"Canda Bang, santuy kita masih pelajar Bang nggak kenal sama cwe cantik." kata Toni lagi, lalu berjalan cepat karena melihat tatapan tajam yang di perlihatkan Gibran.
"Sayang mereka takut sama kamu." kata Hana.
"Biarin aja, suruh siapa goda istri aku." balas Gibran sewot.
Sampai akhirnya tiba-tiba pemuda bernama Hadian berjalan ke arah nya.
"Kak Hana kamar aku sama teman-teman nomer berapa?" tanya Hadian.
Hana terdiam sebentar, lalu melihat layar ponselnya.
"Kata Bastian kamu sama teman kamu yang lain nya ke bagian kamar 111, ranjang nya dua katanya." jawab Hana.
Hadian mengangguk, lalu melirik Gibran yang menatapnya garang.
"Kak Hana kok mau sih sama pria galak." celetuk Hadian yang membuat Gibran melotot tidak terima di sebut galak.
Melihat Hadian yang berlari Gibran ingin sekali mengejar, tapi tangan nya di tahan oleh Hana.
"Jangan, dia masih kecil, ayo ikut aku kita ke kamar aku harus make up dulu." kata Hana.
Gibran menurut dia berjalan mengikuti langkah istri nya, sampai di kamar Gibran langsung mendudukkan bokong nya di pinggir ranjang nya.
"Ibu sama bapak bentar lagi sampai sayang, nanti tolong bantu awasi bapak dan ibu ya." pinta Hana.
Gibran yang sedang merebahkan tubuh nya itu mengangguk kecil.
seperti nya hari ini akan menjadi hari terpajang nya.
Mata Gibran melihat istrinya yang sedang make up, melihat Hana yang cantik membuat Gibran terpikirkan untuk mengadakan pernikahan nya lagi.
"Sayang bagaimana kalau kita menikah lagi?" usul Gibran.
Hana yang mendengar ucapan suaminya hanya menjawab dengan gelengan kepala.
membuat Gibran menghembuskan nafas nya panjang.
"Aku ingin memberikan momen pernikahan yang mewah." lanjut Gibran.
"Tidak perlu, yang aku butuhkan bukan acara pernikahan mewah, aku hanya ingin kita membuat anak, dan terus membuat anak, aku ingin cepat-cepat mengandung anak mu, anak kita." sahut Hana lagi.
Yang mana hal itu membuat Gibran tersenyum,
"Kita akan melakukan nya malam ini." ucap nya pelan.
"Aku setuju." sahut Hana lagi, yang ternyata mendengar ucapan Gibran.
_________
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹🌹
jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️