SALAH RANJANG (Pria Buta)

SALAH RANJANG (Pria Buta)
Pernikahan Tara #4


__ADS_3

^^H A P P Y R E A D I N G^^


🌹🌹🌹🌹🌹


Di kamar nya Arr yang bosan memilih keluar, dia memang di berikan kamar khusus di hotel itu, dan Arr satu kamar dengan Jenn adiknya.


"Wih kak jutek mau kemana." sosok yang Arr kenali sebagai teman Tara itu menyapa nya.


"Cari angin." sahut Arr, lalu berjalan ke melewati pemuda bernama Hadian itu.


Karena adiknya tidur Arr memilih untuk berjalan-jalan, mungkin cari kopi di cafe terdekat, begitulah pikirnya untuk mengisi waktu kosong nya yang sangat gabut itu.


"Ikut dong kak, teman-teman aku juga lagi tidur." Hadian ikut berjalan bersama Arr.


Melihat Hadian Arr tidak mengeluarkan suara nya, dia berjalan tanpa mengatakan apa-apa, tapi di anggap setuju oleh Hadian.


Sesampainya di cafe Hadian nampak kikuk, pasalnya dia tidak membawa uang.


sedangkan Arr sendiri nampak santai memesan capuccino kesukaan nya.


"Duduk, ngapain berdiri." kata Arr.


Hadian duduk dengan wajah bingung nya, dia hanya memiliki uang 50 ribu, itupun adalah sisa uang jajan nya mingguan lalu yang sudah dia belikan kado untuk Tara, sahabat nya.


"Pesan bukan diam aja." kata Arr lagi.


"Iya, di bayarin kan?" Hadian mencoba mencari untung.


Dan Arr yang mendengar itu hanya mengangguk.


"Pesan saja, biar kakak sekalian bayarin." balas Arr ingin damai.


Meski sebenarnya dia selalu kesal pada ke empat pemuda 18 tahun yang sering meledeknya galak dan jutek itu.


kesal? tentu saja Arr juga kesal jika pemuda petakilan itu meledek nya dengan kata jutek atau galak.


"Aku juga kak."


"Aku juga mau."


"Boleh juga."


Tiga suara kompak tiba-tiba duduk di kursi meja Arr dan Hadian.


membuat Arr yang melihat nya langsung melotot, dan melirik Hadian.


"Hehe, tadi mereka tidur kak suer." kata Hadian nyengir.

__ADS_1


Arr mengembuskan nafas nya kasar lalu meminum capuccino nya.


"Kalian boleh pesan sesuka kalian, tapi nggak lebih dari 60 ribu." ucap Arr, lalu kembali minum lagi.


"Makasih kakak cantik." kata Alex, Hadian Toni dan Dani serempak, lalu ke empat nya kompak memesan capuccino yang sama dengan Arr.


Dan Arr yang mendengar pujian itu tidak menjawab, dia memilih fokus pada capuccino nya, dan setelah capuccino nya habis Arr langsung berdiri.


"Mau kemana kak?" tanya Alex.


"Pulang." sahut Arr, "Tenang saja minuman kalian kakak yang bayarin, tapi sekali lagi kalian nakal kakak cubit kalian." lanjut Arr lalu berjalan ke arah kasir.


"Baik banget kak jutek, kalo gini jadi suka aku." gumam Hadian.


Yang mana membuat Alex dan yang lain nya kompak menjitak kepala Hadian.


"Inget umur, masih bau kencur juga." Kata Alex menggelengkan kepalanya.


"Masih 18 juga udah demen tante-tante." Dani ikut menimpali.


"Kaya aku dong suka nya sama anak Bang Bastian, udah cantik montok bule lagi." celetuk Toni yang membuat nya menjadi perhatian ketiga teman nya.


"Aku masih mending suka Tante, nah kamu suka anak bayi mana anak sultan lagi." Hadian tertawa mendengar ucapan Toni yang menyukai putri bungsunya Bastian dan Fallen.


Di perjalanan ke kamar hotelnya Arr tak sengaja berpas-pasan dengan sosok pria yang memarahi nya tadi siang di pernikahan Tara.


"Dasar pria aneh." ketus Arr.


"Dan kau wanita jahat." balas Lian.


"Terserah, tapi putra mu yang menabrak ku." kata Arr lagi.


"Ya, dan kau membuat nya menangis." sahut Lian takalah ketus.


Sampai akhir nya pintu lift terbuka, dan saat Arr akan keluar keduanya malah keluar bersamaan, dan kembali menebar tatapan tajam nya.


"Wanita gila."


"Pria gila."


Baik Arr ataupun Lian sama-sama mengatakan yang sama saat keluar dari Lift, dan sialnya keduanya berjalan ke arah sama.


"Kau mengikuti ku, jangan-jangan kau Intel." ucap Lian sambil berjalan.


"Hah apa saya tidak salah dengar?, Anda yang mengikuti saya tuan, yang benar saja saya mengikuti pria aneh seperti anda." balas Arr sambil berjalan.


Sampai akhirnya keduanya berhenti di tempat yang sama, Arr menyentuh pintu kamar hotel nya, dan di saat bersamaan juga Lian membuka pintu kamar hotelnya.

__ADS_1


Keduanya membalikan badan dan lagi-lagi bersamaan, bahkan pintu kamar hotel yang keduanya tempati pun saling berhadap-hadapan.


"Apa lihat-lihat!" ketus Lian merasa Arr terus melihat nya.


"Percaya diri sekali anda tuan, jelas saya melihat putra anda, dia lebih menggemaskan dibandingkan bapaknya yang gila." sahut Arr lalu masuk ke dalam kamar hotel nya.


"Dasar wanita gila." gumam Lian, lalu melirik putra nya.


"Ada apa Son? kau terbangun?." tanya Lian sambil memangku tubuh putra nya.


Willy menatap wajah sang Daddy, lalu terisak.


"Mommy." Willy terisak.


Lian melihat ke arah kamar hotel yang di tempati Arr, lalu melihat putra nya.


"Dia bukan Mommy mu Son, Mommy nya cantik dan juga ceria, dia tidak." kata Lian, lalu membawa masuk Willy ke kamar hotel nya.


Malam harinya acara resepsi pernikahan Tara dan Darrel banyak kamera di setiap sudut ruangan, acara pernikahan seorang pengusaha muda yang sukses itu banyak menyita perhatian publik, dan tentunya sangat meriah.


"Hadiah di pernikahan Tara mahal-mahal Bu, bagaimana kalau nanti malam kita ikut bantu buka amplop." usul Pak Sofyan.


"Bapak bener, kita harus ikutan buka amplop nanti yang ada semuanya di ambil sama keluarganya Darrel." Bu Rumi ikut mengangguki ucapan suaminya.


"Besan kita kaya Bu, paling-paling di ambil sama si Hana, secara dia kan punya suami yang miskin." kata pak Sofyan lagi.


Dan semua obrolan ibu Rumi dan Pak Sofyan itu terdengar jelas di telinga Hana, ia memang sengaja memasang alat penyadap suara di baju ibu bapak nya, dan otomatis semua obrolan ibu bapaknya bisa terdengar di telinga nya Hana.


"Sayang besok pas pulang antar aku ke rumah ibu dan bapak ya." kata Hana.


"Ngapain?" tanya Gibran.


"Bapak dan ibu nggak akan berubah kalau nggak di jauhi, aku akan mengirim ibu dan bapak ke daerah yang jauh dari kota ini, embel-embel liburan aku yakin mereka akan mau." kata Hana lagi.


Gibran mangut-mangut mendengar ucapan istrinya, dia juga memang sempat tersulut emosi karena mertuanya tidak pernah menganggap Hana sebagai putrinya, tidak ada jika dia di hina tapi jika istrinya? Gibran tidak terima.


"Apapun alasannya aku tau itu yang terbaik untuk ibu dan bapak, aku ngikut aja lagi pula itu adalah hak kamu sebagai anak untuk membuat orang tua sadar, aku yakin kamu pasti berhasil." Gibran menyemangati sang istri.


Dia telah gagal membuat Ibunya berubah, setidaknya dia ingin melihat orang tua Hana bisa sadar dari pengalaman ibu Lisna, ibu nya.


"Stay with me." kata Hana.


"Aku janji." sahut Gibran lalu memeluk Hana.


_________


🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️


__ADS_2