
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Dua hari berlalu, Gibran merasa Hana lebih sering melamun, bahkan akhir-akhir ini dia menjadi tidak mengenali istrinya itu, apalagi Hana yang selalu diam dan saat di tanya kenapa pasti dia akan menjawab..
"Aku baik-baik saja atau memang nya aku kenapa?."
Jawaban itu tentu saja membuat Gibran semakin merasa aneh dengan perubahan istrinya.
"Kita akan kemana?." tiba-tiba Hana mengeluarkan suara nya.
Sekarang keduanya sedang ada di dalam mobil dengan Gibran yang menyupir.
"Ke suatu tempat." sahut Gibran cepat. "Apa kamu penasaran sayang?." lanjut Gibran bertanya.
Hana menggelengkan kepalanya.
"Tidak, bawa aku kemana saja, aku akan tidur sebentar." kata Hana lalu memejamkan mata nya.
Gibran melirik Hana yang nampak mulai memejamkan matanya itu, rasanya dia ingin sekali menanyakan apa yang membuat istrinya sesedih itu, tapi melihat Hana yang seperti sedang menghindari nya itu membuat Gibran mengurungkan niatnya itu.
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 45 menit, akhirnya mobil yang di tumpangi Gibran dan Hana sampai di salah satu panti asuhan yang cukup jauh dari keramaian jalan kota.
Gibran ingin membangunkan Hana, tapi tidak jadi karena Hana sudah membuka mata nya.
"Sudah sampai?." tanya Hana.
"Iya, ayo turun." ajak Gibran.
Hana mengangguk, dia turun dari mobil dan saat Hana turun itu di saat bersamaan juga ada beberapa anak yang menghampirinya dengan membawa balon warna-warni.
Kaget, tentu saja Hana di buat kaget dengan kejutan itu, apalagi sekarang di depan nya itu ada banyak anak-anak yang imut dan manis sedang menatap nya dengan senyuman yang menghiasi di wajah nya itu.
"Untuk aku?." Hana menunjuk dirinya sendiri.
"Iya nona, balon ini adalah balon harapan, nona dan tuan sudah memberi harapan kami untuk bisa sekolah, dan ini adalah kejutan kecil dari aku dan teman-teman." ucap anak perempuan berambut ikal dengan gaya bicaranya yang masih cadel itu.
Hana melirik suaminya yang tak jauh dari tempatnya, dan Gibran mengangguk sambil tersenyum seolah mengiyakan ucapan anak-anak kecil di depan nya.
Ragu-ragu Hana menerima balon warna-warni itu, dan anak-anak itu membawanya ke taman bunga yang tak jauh dari parkiran.
Hana mengikuti kemana anak-anak itu akan membawa nya sampai akhirnya mereka berhenti di bukit kecil buatan yang sangat indah karena di kelilingi taman bunga warna-warni.
"Nona buatlah harapan mu, ibu panti bilang balon ini akan terbang ke langit dan akan membuat harapan orang yang menerbangkannya akan tercapai." jelas anak laki-laki yang bergigi ompong itu.
Ragu-ragu Hana memejamkan matanya, dan mulai mengucapkan harapan nya, meski sebenarnya Hana tidak percaya dengan lelucon ini, hanya saja melihat betapa semangat nya anak-anak panti membuat Hana menjadi ikut terbawa suasana.
"Aku tau ini konyol karena meminta tanpa berdoa, tapi jika boleh berharap aku menginginkan seorang bayi, aku mau menjadi seorang ibu.". batin Hana lalu perlahan ia membuka matanya.
Balon nya dia lepaskan, dan seketika balon warna-warni itu terbang ke atas, membuat Hana tersenyum kecil.
lalu melirik anak-anak di samping nya.
"Apa kalian suka es cream?." tanya Hana.
Anak-anak itu langsung mengangguk dengan wajah penuh semangat nya.
__ADS_1
yang lagi-lagi membuat Hana semakin terbawa suasana dan merasa kembali menjadi Hana yang dulu.
"Aku suka es cream!"
"Aku juga."
"Aku mau rasa cokelat."
"Aku mau rasa strawberry."
"Mau pelangi."
"Baiklah, karena kalian membuat aku tersenyum aku akan memberikan es cream yang banyak untuk kalian, ayo masuk mobil kita borong es cream." kata Hana sambil berlari.
Dari kejauhan Gibran yang melihat Hana yang nampak berlari bersama anak-anak panti.
sudut bibirnya terangkat, Gibran tersenyum senang saat melihat keceriaan Hana sudah kembali lagi.
"Aku senang bisa melihat mu bahagia, istriku." gumam Gibran sambil tersenyum.
"Minum nya tuan." ucap ibu panti yang tiba-tiba datang.
"Terimakasih, Bu." balas Gibran sopan, lalu mendudukkan bokong nya di kursi kayu yang ada di depan rumah panti.
"Sama-sama tuan, terimakasih juga berkat bantuan anda anak-anak di panti sekarang sudah bisa sekolah." lanjut Ibu panti.
Gibran adalah donatur tetap di panti asuhan X, dan tentunya apa yang di sisihkan Gibran untuk panti tidak lah sedikit, ibu panti adalah saksi kebaikan seorang Gibran yang selalu menyisihkan sedikit dari harta nya untuk panti asuhan.
"Tidak perlu sungkan Bu, saya hanya melakukan apa yang seharusnya saya lakukan, lagi pula harta hanya titipan."
"Semoga kebaikan tuan bisa di balas berkali-kali lipat oleh Tuhan."
Sore harinya setelah menghabiskan waktu di panti asuhan selama berjam-jam akhirnya keduanya pulang.
Di perjalanan itu Hana terus melirik suaminya, membuat Gibran yang di lirik itu menjadi salah tingkah.
"Ada apa?." tanya Gibran.
"Aku mencintaimu." jawab Hana sambil tersenyum.
Gibran tersenyum kecil.
"Aku tau." sahutnya menyebalkan.
"Terimakasih." ucap Hana tiba-tiba, membuat Gibran menghentikan mobilnya di pinggir jalan, lalu melirik istrinya.
"Untuk?." Gibran menaikan sebelah alisnya ke atas.
Hana menatap Gibran yang juga sedang menatap nya.
ragu-ragu tangan nya terulur untuk memegang tangan sang suami.
"Terimakasih untuk hari ini, aku sangat bahagia, sangat." ucap Hana sambil tersenyum.
Gibran merentangkan kedua tangannya, dan Hana yang paham dengan kode itu langsung menghamburkan tubuh nya ke pelukan sang suami.
"Sama-sama, jangan bersedih lagi.. saat kamu diam aku selalu merasa menjadi pria menyedihkan karena tidak membuat istriku bahagia."
__ADS_1
"Maafkan aku, tapi setelah ini aku akan tersenyum lagi, seperti Hana yang dulu."
Gibran tersenyum lalu membelai wajah sang istri dengan penuh kelembutan.
"Jangan tutupi apapun lagi padaku."
"Meski itu akan membuat mu terluka?."
Gibran mengangguk.
"Apapun itu, aku lebih menyukai kejujuran."
Hana menghela nafasnya panjang, lalu menatap suaminya.
Ragu-ragu Hana mengambil ponselnya, sampai akhirnya..
Terdengar suara ibu Lisna yang mengatakan ingin membuat Hana mand*l dan di lempar oleh Gibran.
"Jadi karena itu kamu sedih?."
Hana hanya mengangguk, dia ingin melihat apa yang akan di lakukan suaminya setelah tau ibunya sejahat itu.
Tapi saat melihat wajah Gibran yang nampak biasa saja Hana menjadi tersenyum, dia tau tidak ada seorang anak yang bisa membenci ibu kandung nya, begitupun dengan dirinya yang masih bisa berbaikan dengan ibu bapak nya terlepas dari apa yang di lakukan ibu bapak nya.
"Apa kau mau aku menjauhi ibu?." tanya Gibran.
"Tidak, tidak ada anak yang sejahat itu pada ibu nya." sahut Hana.
"Dan tidak ada seorang ibu yang mampu hidup setelah mencelakai anak nya." Gibran menatap Hana.
"Terlepas dari semua itu, Ibu ya tetap ibu mu, dan ibu ku juga." balas Hana menatap Gibran.
Keduanya terdiam sampai akhirnya Hana memegang kedua tangan sang suami.
Hana tau suaminya tidak bisa di suruh memilih antara ibu dan dirinya.
"Ibu memang jahat, tapi dia tetap ibu kita.. bagaimana kalau kita pindah." usul Hana.
Gibran terdiam, nampak menimbang.
sampai akhirnya dia tersenyum.
"Apapun itu, demi kebaikan mu dan kebaikan kita semua. Kita akan pindah."
Hana tersenyum, dia langsung mencium bibir suaminya lalu mengigit pelan leher Gibran membuat Gibran mengerejapkan matanya.
"Cepat sampai di rumah, aku rasa dua hari ini cukup untuk kita istirahat, aku merindukan mu." bisik Hana di telinga Gibran.
"Bagaimana dengan hotel." .
Hana tersenyum malu-malu dan mengangguk.
"Baiklah, aku rasa kamu juga merindukan ku."
________
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️