
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Di kamar apartemen nampak Robert yang kini sudah tidak bisa berjalan, setelah pertemuan nya dengan Gibran dan Hana di salah satu cafe saat itu Robert langsung mengalami kecelakaan.
Dan sekarang kedua kaki nya tidak bisa di gunakan karena saat kecelakaan itu kakinya terjepit, hingga membuat Robert sekarang harus menggunakan kursi roda untuk bantuan saat dia ingin kemana-mana.
"Anasya!" panggil Robert.
Sosok yang di panggil datang, Anasya datang dengan dua piring makanan.
dan hal itu membuat Robert bingung.
"Kenapa dua?." tanya Robert.
Akhir-akhir ini Robert memang bisa bersikap lebih baik, tapi meski begitu hal itu tidak membuat kebencian Anasya berubah, dia masih membenci pria yang sudah menganggap nya boneka se* nya itu.
"Ini untuk saya, dan ini untuk anda tuan." ucap Anasya.
"Suapi aku." kata Robert lagi.
Anasya melakukan nya, dan seperti biasanya Anasya melakukan pekerjaan nya tanpa berniat mengobrol ataupun yang lain nya, dia menyuapi Robert satu kali lalu menyuapkan makanan untuk nya satu kali, dan begitupun seterusnya.
"Aku ingin minum air hangat." ucap Robert.
"Baik." Anasya bangkit dari tempat duduknya dan berjalan pergi ke dapur.
Meninggalkan Robert yang terdiam dengan mata yang menatap ke arah punggung Anasya yang sekarang mulai tidak terlihat lagi.
"Apa aku harus melakukan apa yang Hana katakan?." gumam Robert.
"Anda memiliki segalanya tuan, jangan iri pada takdir orang lain karena setiap orang memiliki takdir berbeda-beda, dan mungkin jika anda bisa bersyukur dengan kehidupan yang sekarang anda jalani itu bisa saja anda mendapatkan kebahagiaan yang jauh lebih besar dari kami."
Apa yang di katakan Hana memang benar adanya, Robert tidak pernah bersyukur dengan apa yang dia miliki, yang selalu dia permasalahkan adalah kesendirian nya dan hal itu juga yang membuatnya memiliki penyakit iri akan Kebahagian milik orang lain.
Padahal jika mau Robert juga mungkin bisa mengukir kebahagian nya sendiri, tanpa harus menyakiti perasaan orang lain.
"Minum nya tuan." suara Anasya mengangetkan Robert.
Robert menerima air nya, lalu meminumnya dan memberikan gelasnya pada Anasya lagi.
"Anasya.."
"Hem."
"Apa kamu sudah hamil?"
__ADS_1
Prenkkk !!
Anasya menjatuhkan sendok yang ada ditangan nya.
lalu mengambilnya dan berdiri.
"Maaf tuan saya akan mengambil sendok yang baru." kata Anasya lalu pergi ke dapur.
Kembali meninggalkan Robert yang melihat kaki nya dengan wajah yang mungkin bisa di katakan sedih.
"Bodoh, kenapa juga aku menanyakan hal seperti itu."gumam Robert sambil menggelengkan kepalanya.
Sedangkan di dapur Anasya meremas ujung rok nya, dia mengusap perutnya yang masih rata itu.
"Kamu nggak akan mendapatkan perlakuan kasar nya sayang, dia nggak akan tau jika kamu ada di dalam hidup Mama, dia nggak bisa nyakitin kamu." ucap Anasya sambil mengusap perutnya yang rata.
Anasya sudah mengecek ke klinik terdekat, dan dia baru tau kalau dia sedang mengandung dua Minggu, dan anak yang ada di dalam kandungan nya itu adalah anak Robert, hasil perbuatan menjijikan nya dengan pria kejam itu.
Bagas masuk ke rumah kontrakan nya dengan penampilan nya yang kacau, hari ini dia bukan hanya kehilangan seorang ibu, tapi Ia juga merasa gagal menjadi seorang kakak yang baik untuk adik nya.
"Ibu, seperti yang ibu minta aku akan membuat Arselia menjadi gadis baik, aku janji." ucap Bagas berjanji di dalam hatinya.
Bagas berjalan ke kamar nya, dan saat melihat kamar nya Bagas melihat Freya, teman seperjuangan nya yang tinggal bersama nya.
"Woy." ucap Bagas.
"Gas kamu habis nangis?" tanya Freya.
Bagas tidak menjawab, dia merebahkan tubuhnya di samping Freya, lalu menatap ke atap yang terlihat ada dua cucak yang saling kejar mengejar di atap.
"Gas." panggil Freya lagi.
"Ibu ku meninggal, dan adik ku..dia kecelakaan." ucap Bagas, lalu memejamkan mata nya, berharap ini hanyalah mimpi, tapi baru dua detik tiba-tiba Freya memukul lengan nya.
"Serius? ibu kamu yang baik itu meninggal?." tanya Freya lagi.
Dan Bagas kembali mengangguk, membuat Freya langsung menepuk pundak Bagas pelan.
"Sabar ya Gas, takdir emang nggak bisa di tebak dan di hindari, aku turut berdukacita ya atas meninggal nya ibu kamu."lanjut Freya lagi.
Dia dan Bagas sudah berteman lama tepatnya setelah mereka menjadi tetangga, dan Freya rasa ini selama menjadi teman nya Bagas ini adalah pertama kalinya dia melihat wajah sedih Bagas.
Sebelum nya pria 25 tahun yang Freya pikir masih memiliki sikap kekanakan itu selalu bertingkah petakilan dan konyol, tapi sekarang? dia melihat mata sembab Bagas.
"Adik kamu sekarang gimana keadaan nya?." tanya Freya lagi.
"Adik ku masih drop, dia hamil dan sekarang anak nya malah meninggal sebelum dia melihat bayi nya." balas Bagas.
__ADS_1
Freya terdiam, dia bangkit dari tempat tidur lalu melirik Bagas yang nampak tidak bersemangat itu.
"Tenangin diri kamu Gas, aku tau sekarang ini yang kamu perlukan itu adalah istirahat, jangan sedih lagi ya kalau kamu butuh teman curhat telpon aja aku akan langsung datang." kata Freya.
Bagas mengangguk tapi tidak berniat menjawab, Freya berjalan keluar dari kamar Bagas, niatnya ke kontrakan Bagas itu untuk curhat tentang masalah nya tapi saat melihat Bagas yang sedang sedih Freya memilih mengurungkan niatnya untuk curhat.
Dia akan mengatakan masalah nya itu nanti saja setalah Bagas kembali ceria, jujur saja Freya butuh bantuan Bagas untuk memberikan nya solusi, selama mengenal Bagas Freya selalu memuji kebaikan Bagas yang selalu Fine pada setiap orang.
Setelah kepergian Freya Bagas mencoba memejamkan matanya lagi, tapi baru beberapa detik tiba-tiba Bagas mendapatkan telpon dari sang kakak.
"Hallo.."
"Bagas cepat ke rumah sakit." bukan suara Gibran, memainkan suara Hana yang terdengar sangat panik.
"Ada apa?." tanya Bagas langsung berdiri.
"Arselia, dia.." ucap Hana terhenti karena Gibran memberikan kode untuk tidak mengatakan nya.
"Ada apa dengan Arselia, kenapa dia?" tanya Bagas khawatir.
"Kamu ke rumah sakit aja, aku tunggu." dan setelah itu telpon nya di matikan sepihak.
Bagas langsung berjalan keluar dari rumah kontrakan nya, dan saat akan menaiki motor nya tiba-tiba Freya datang dan langsung mengambil kunci motor Bagas.
"Balikin kunci motor aku Frey!" kata Bagas.
"Aku antar, bahaya bawa motor dengan kondisi kamu yang kacau kaya gitu." balas Freya.
Bagas menghela nafas nya panjang lalu turun dari motor nya, melihat itu Freya langsung naik ke motor Bagas dan menyalakan mesin motor nya.
"Pake helm nya." kata Freya mengingatkan, tak lupa dia juga memakai helm untuk nya.
Motor Bagas yang di kendarai oleh Freya melaju dengan kecepatan sedang, dan hal itu membuat Bagas kesal.
"Freya ngebut, aku harus cepat melihat adik ku." kata Bagas.
"Iya, pegangan yang kenceng." Freya langsung menambah kecepatan motor nya.
Bagas memeluk pinggang Freya, wajahnya terlihat sangat gelisah.
"Aku mohon Tuhan jangan membuat ku merasa bersalah lagi, tolong selamatkan Arselia adik ku " batin Bagas.
________
🌹🌹🌹🌹🌹
Dag dig dug ser..
__ADS_1
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️