
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Satu minggu setelah kepergian Arselia dan 8 hari setalah kepergian ibu Lisna, terlalu banyak kenangan menyakitkan di rumah besar, kenangan bersama ibu dan adiknya.
"Aku akan pulang ke kontrakan ku." ucap Bagas berniat pergi.
Masih terlihat jelas raut wajah kesedihan di wajah pria 25 tahun itu, bagaimana pun Bagas besar selalu bersama ibu dan adiknya tentu di sini yang memiliki banyak kenangan adalah Bagas.
"Jangan pergi." Gibran bangkit dan menghadang jalan Bagas.
"Aku akan kembali melakukan aktivitas ku sebelum nya." ucap Bagas lagi.
Gibran menggelengkan kepalanya.
"Bantu kakak di perusahaan." kata Gibran.
"Tidak kak, aku tidak berhak untuk mendapatkan kebaikan mu." jawab Bagas menolak secara halus.
Gibran memeluk Bagas, lalu mengusap punggung Bagas dengan pelan.
"Kamu adik ku, satu-satunya keluarga ku aku mohon jangan menjauhiku lagi, ibu pasti akan senang jika melihat mu sukses." kata Gibran lagi.
Bagas melepaskan pelukannya lalu menatap kakak nya.
"Aku ingin sukses kak, tapi aku ingin mandiri seperti kakak, selama ini aku hanya seorang berandalan yang tidak jelas tapi sekarang aku akan bekerja keras untuk mewujudkan impian ibu, aku akan memulai nya dari nol, tolong jangan halangi aku." ucap Bagas sambil tersenyum.
Mendengar itu Hana tersenyum, dia yakin Bagas akan menjadi seorang pria yang sukses seperti suaminya.
"Kakak percaya sama kamu, pergilah dan pulang dengan kesuksesan mu." ucap Gibran sambil tersenyum. "Dan satu hal lagi, ini untuk kamu, kakak ingin menjadi orang pertama yang sangat bahagia karena bisa membantu mu." lanjut Gibran lagi.
Bagas ingin menolak apa yang di berikan oleh Gibran, tapi di sisi lain Bagas juga memang membutuhkan dana untuk membuat usaha yang sudah dia bayangkan sejak lama itu.
"Makasih kak, aku akan bekerja dengan baik dan pulang dengan kesuksesan ku." sahut Bagas lagi.
"Semangat Bagas!" kata Hana sambil tersenyum, yang hanya di balas dengan senyuman oleh Bagas, jika boleh memeluk Hana mungkin Bagas akan senang melakukan itu, tapi mengingat betapa posesif nya Gibran sang kakak Bagas tidak melakukan nya.
Dan setalah itu Bagas pergi dengan membawa dukungan dari kedua kakak nya.
melihat kepergian Bagas Hana dan Gibran langsung berpelukan.
"Sayang seperti nya aku akan menjual rumah ini." ucap Gibran.
"Jangan, rumah ini penuh kenangan ibu, dan adik-adik kamu sayang." kata Hana sambil tersenyum.
"Tapi mengingat mereka aku merasa__" ucap Gibran terhenti karena Hana menaruh satu jari nya di bibir nya.
__ADS_1
"Nggak ada tapi-tapian sayang, rumah ini terlalu berharga jika harus di jual, mending rumah nya kita titipkan ke pak supir sama mbak Tina, mereka kan nggak punya kerjaan kalau kita jual rumah ini." kata Hana.
Gibran terdiam nampak menimbang ucapan sang istri, sampai akhirnya dia mengangguk.
"Kamu benar sayang, aku akan menitipkan rumah ini untuk di jaga oleh pak supir sama mbak Tina, terimakasih untuk usulan mu." ucap Gibran sambil tersenyum.
Hana mengangguk kecil, bukan dia tidak mau tinggal di rumah ini, hanya saja Hana sudah menetapkan hatinya untuk tinggal di rumah sederhana yang di tinggali nya sekarang, Hana ingin hidup sederhana dengan sang suami karena menurut Hana hidup bergelimang harta tidak selamanya membawa kebahagiaan.
Dari cerita hidup ibu mertuanya dan Arselia Hana bisa belajar jika hidup tak selamanya tentang harta, ketika meninggal yang di bawa ke liang kubur hanyalah amal ibadah nya selama hidup, bukan seberapa banyak nya harta yang di miliki nya.
Karakusan akan harta bisa membuat seseorang lupa diri, bahkan sampai menutup mata untuk melakukan hal-hal yang di larang oleh Tuhan, dan setelah itu mungkin hanya ada penyesalan menanti.
"Ayo kita pulang, rumah kecil kita pasti sudah menunggu kepulangan pemiliknya." ajak Hana.
Gibran mengangguk, sebelum pergi dia menitipkan rumah nya pada supir dan bibi pembantu baru nya yang adalah istri pak supir.
dan setelah itu baru keduanya melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah sederhana nya.
Sedangkan di tempat lain tepatnya di kantor nampak Arr yang sedang memijat pelipisnya melihat betapa banyak nya berkas-berkas yang harus dia kerjakan.
Selama 9 hari ini Gibran Bos nya tidak masuk kerja, Arr paham Bos nya itu mungkin sedang berduka atas kepergian dua anggota keluarga nya itu.
Tiba-tiba ponselnya Arr menyala, membuat Arr langsung mengusap layar ponselnya dan dia melihat pesan dari adiknya.
"Kakak di undang di nikahan Tara, nanti kita perginya bareng ya." isi pesan itu.
"Iya, kakak akan datang." balasan cepat dari Arr untuk Jenn.
Tring..
Ada satu balasan lagi dari Jenn, dan Arr langsung membaca nya.
"Bahan untuk dress nya udah di kasih, kakak mau di buatin dress kaya gimana?."
Arr terdiam, dia melihat banyak nya tumpukan pekerjaan nya, yang membuat Arr langsung menghembuskan nafas nya kasar.
"Terserah kamu aja, kamu tau apa yang kakak sukai." dan setelah mengirim balasan itu Arr langsung menutup layar ponselnya karena jika terus membalas pesan dari adiknya bisa-bisa nanti melebar kemana-mana dan berujung menyuruhnya untuk mencari pacar lagi.
Dan Arr malas jika harus kembali mendengarkan rengekan adiknya untuk menyuruh nya mencari pacar atau suami nya.
bukankah itu menyebalkan.
Sore harinya setelah menghabiskan waktu delapan jam bekerja akhirnya Arr bisa merasakan angin di luar ruangan ber AC.
"Akhirnya pulang." gumam Arr sambil meregakan otot-otot nya yang terasa pegal itu.
Setelah itu Arr kembali mengendarai motornya, dia memang pulang pergi dengan menggunakan motor, sebenarnya Arr bisa saja membeli mobil tapi dia tidak melakukan itu karena Arr ingin menghemat uang nya.
__ADS_1
Arr memiliki impian untuk membuat usaha nya sendiri, dia ingat usianya yang sudah tidak muda lagi, dia sudah kepala tiga dan tentu saja hal itu harus Arr ingat karena tidak mungkin dia selamanya akan bekerja meski gajih nya sekarang memang cukup tinggi.
Sesampainya di rumah Arr melihat sosok laki-laki yang di kenali.
"Hay kak, baru pulang kerja." sapa pria itu ramah, nama nya Juan dan pria itu adalah teman dekatnya Jenn.
"Iya." sahut Arr singkat, lalu duduk di kursi untuk membuka sepatu nya dan setalah itu Arr langsung bangkit dari tempat duduknya, lalu masuk ke rumah nya.
Dan saat masuk ke rumahnya Arr melihat Jenn yang sedang di dapur, Arr tau meski adiknya berkata tidak menyukai Juan tapi ia sangat yakin jika pesona berondong itu akan cepat atau lambat bisa membuat Jenn jatuh hati pada pria berondong itu.
"Kak." Jenn tersenyum melihat kedatangan sang kakak.
"Juan suruh pulang, bentar lagi magrib bilangin nggak baik diem di rumah cwe sampai malam." kata Arr, lalu pergi ke kamar nya.
Jenn berjalan dengan jus di baki kecil yang di bawa nya, lalu keluar dari rumahnya.
"Ini jus untuk kamu." kata Jenn.
"Makasih Jenn." kata Juan sambil tersenyum manis.
"Hem, kata kak Arr kamu pulang sekarang." ucap Jenn.
Yang membuat Juan kaget dan hampir tersedak jus nya.
"Jadi kamu ngusir aku?." tanya Juan.
Jenn menggelengkan kepalanya.
"Nggak gitu, cuman aku nggak mau aja orang berpikiran aneh tentang kamu, ini sudah mau magrib, kamu pasti paham apa yang aku maksud." kata Jenn dengan wajah yang dingin seperti biasanya.
Juan menghela nafasnya panjang lalu bangkit dari kursinya.
"Aku paham, tapi aku harap kamu masih ngebolehin aku untuk mendekati kamu ya Jenn." kata Juan menatap Jenn penuh harap..
Tiba-tiba ada beberapa tetangga yang melewat ke rumah nya, dan mereka nampak terkejut melihat ada seorang pria di teras rumah kakaknya.
"Iya, aku kasih kamu lima kesempatan, dan jika aku nggak bisa membalasnya aku harap kamu mendapatkan yang lebih baik." kata Jenn ingin mengambil gelas nya yang kosong lalu berjalan ingin masuk ke rumah nya.
Sampai akhirnya Jenn menghentikan langkahnya.
"Kamu yang terbaik, aku akan pastikan kamu pasti akan mencintai ku." kata Juan, lalu pulang dengan senyuman manis nya itu.
__________
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️
__ADS_1