
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Karena perut nya yang besar dan juga kaki yang mulai agak bengkak Hana tidak bisa melakukan banyak aktivitas, apapun itu dia selalu di temani pengasuh.
Hana sekarang bagaikan bayi yang di jaga oleh dua orang wanita yang bekerja sebagai pengasuh nya, karena kesibukan di kantor Gibran menjadi super ekstra protektif terhadap sang istri.
Gibran tidak mau istri nya kenapa-kenapa, selain itu Gibran juga ingin memastikan jika istrinya dalam keadaan baik-baik saja, maka dari itu ia memperkerjakan banyak pengasuh yang nantinya akan bergiliran menjaga istrinya selama dia tidak ada di rumah.
"Nyonya mau kemana?" pengasuh satu panik saat Hana tiba-tiba berdiri.
"Aku bosen mbak, jalan-jalan ke depan enak kali ya." sahut Hana sambil berjalan.
"Kami bantu nyonya." ucap pengasuh dua takalah panik takut majikan nya kenapa-kenapa.
Hana mengangguk, dia tidak mau membuat pekerjaan mereka terasa melelahkan, dia berjalan dengan di bantu dua pengasuh nya, sebenar nya ini cukup aneh karena ini pertama kalinya Hana di perlakukan bak ratu.
Suaminya benar-benar membuat Hana merasa spesial, dan entah kenapa alih-alih risih terlalu di kekang Hana malah senang dan semakin mencintai sang suami.
"Ahk lega nya, udah empat hari di kandan sekali keluar kandang ternyata seger juga." ucap Hana sambil tersenyum.
Beberapa hari yang lalu kondisi nya memang sedikit drop karena Hana selalu ikut ke kantor, tapi untung kondisi nya sekarang lebih segeran dan dokter kandungan nya juga sudah memastikan jika dalam waktu dekat Hana akan melahirkan buah hati nya itu.
"Nyonya apa tidak lelah?" tanya pengasuh.
Hana menggelengkan kepalanya, niatnya memang semula ingin berjalan di halaman rumah nya saja, tapi sekarang dia berubah pikiran, Hana rasa keliling komplek mungkin lebih menyenangkan.
"Mbak tenang aja, kita keliling komplek doang." sahut Hana sambil berjalan.
"Tapi nyonya nanti anda kelelahan." ucap pengasuh satu lagi.
Dia takut majikan nya itu kelelahan dan tentu saja yang akan terkena masalah adalah dirinya.
"Nggak akan Mbak, lagian kata dokter jalan-jalan pas hamil itu bagus, biar dedek bayi nya sehat." balas Hana lagi.
Ketiga nya berjalan dengan Hana yang di aping oleh dua pengasuh nya, dan sesampai nya di taman komplek perumahan elite nya Hana memilih duduk di bangku taman.
__ADS_1
"Kok jadi kangen nasi kuning yang di depan komplek ya." gumam Hana sambil memegang perut nya.
"Nyonya mau nasi kuning?" si pengasuh menyahut.
Hana melirik penagsuh nya itu, lalu mengangguk.
"Boleh, mau pake telor terus jangan lupa orek tempe nya yang banyak." sahut Hana semangat.
Pengasuh itu mengangguk, Hana pikir salah satu di antara mereka akan pergi, tapi ternyata tidak pengasuh itu mengeluarkan ponselnya dan menelpon penagsuh lain yang ada di rumah.
Hana yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya, senang dia melihat para pekerja di rumah nya yang menjaga nya tanpa batasan.
Malam harinya Hana dan Gibran ada di dalam kamar, di atas ranjang Hana yang sekarang kesusahan untuk mencari posisi tidur yang enak nampak terus gelisah.
Gibran yang melihat istrinya yang selalu susah tidur itu mengusap kepala istrinya lembut penuh sayang, dan melihat itu Hana langsung mengadahkan pandangan nya untuk menatap wajah suaminya.
"Makasih." kata Hana sambil tersenyum.
"Maafin aku, pasti susah ya tiap malam tidur nya nggak enak." Gibran merasa kasihan pada istrinya.
"Siapa bilang, ini pengorbanan lagian sebentar lagi anak kita akan lahir, jadi pengorbanan aku selama sembilan bulan ini terbayar dengan kehadiran baby kita." balas Hana yang membuat Gibran tidak bisa berkata-kata dan langsung mengusap perut buncit sang istri.
Sampai akhirnya..
Awwww !!
Hana tiba-tiba menjerit sakit.
Gibran melihat Hana yang menjerit, dia panik apalagi saat Hana terus menjerit sakit itu.
"Sayang tolong, aduh sakit!" Hana kembali menjerit lagi.
Gibran turun dari ranjang, dia ingin menggendong sang istri untuk dia bawa ke rumah sakit, tapi tubuh Hana yang memang jauh lebih berat dari Hana yang dulu tentu saja membuat Gibran tidak sanggup menggendong nya.
"Sayang kamu bisa kan berdiri? kita jalan ke luar pelan-pelan." ucap Gibran mencoba tidak panik.
Hana memegang perutnya yang terasa sakit itu, lalu melihat suaminya yang terlihat panik.
__ADS_1
"Aku nggak boleh lemah, aku harus kuat." batin Hana.
"Sayang.." panggil Gibran.
"Bantu aku, sepertinya anak kita mau keluar sekarang." akhirnya Hana berdiri dengan di bantu suaminya.
Gibran memberikan perintah pada pengasuh sang istri untuk mempersiapkan persalinan, di rumah mulai panik menyiapkan perlengkapan persalinan yang sebelumnya sudah lama di siapkan.
Dua di antara empat pengasuh itu di ajak, Hana yang duduk di kursi pengemudi nampak di lap keringat nya oleh salah satu pengasuh nya, sedangkan Gibran yang duduk di kursi pengemudi nampak panik karena macet.
Hana mencoba untuk tidak panik meski dia merasa kesakitan, sampai akhir nya mata Hana melihat ke arah cemilan yang ada di kresek.
"Mbak tolong bukain." ucap Hana menunjuk cemilan nya.
Pengasuh itu membuka cemilan nya dan dia berikan pada sang majikan.
Hana mulai memakan cemilan nya, mengalihkan rasa sakit dengan ngemil, dia tidak mau membuat suaminya terlalu panik.
Gibran yang melihat Hana yang makan akhirnya bisa mengelus dada nya pelan, panik nya mereda karena Istri nya tidak menjerit sakit lagi.
"Sabar ya sayang, sebentar lagi kita sampai." kata Gibran.
"Kalau lewat tukang martabak beli dulu, sekalian beli buah juga." pinta Hana.
"Iya, aku akan beliin tapi nanti setelah kita sampai di rumah sakit." kata Gibran, dan Hana hanya mengangguk lalu kembali ngemil lagi.
Di rumah sakit suasana yang seharusnya panik dan penuh gelisah malah menjadi pusat perhatian para suster karena Hana terus makan.
"Sayang kenapa makan terus? emang nya nggak sakit?" tanya Gibran.
Hana menggelengkan kepalanya.
"Kalau nggak makan nanti aku sakit, dokter bilang kan cuman kontraksi kecil, lahiran nya besok." sahut Hana santai.
Gibran tidak menjawab, dia melihat istrinya yang sedang makan apel yang di kupas oleh salah satu pengasuh nya, biarlah istrinya makan jika dengan makan istri nya bisa melupakan rasa sakit nya.
Karena sudah larut akhirnya mereka bermalam di rumah sakit, tentunya Gibran menyewa ruangan VIP untuk sang istri, sedangkan pengasuh Gibran suruh mereka menginap di hotel terdekat agar memudahkan nya jika membutuhkan sesuatu.
__ADS_1
🌹