
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Hana memeluk tubuh pria yang baru saja tumbang di samping nya itu, ya..pada akhirnya dia menghentikan perjalanan nya untuk singgah di hotel bintang tiga.
Tentunya hanya karena hasrat keduanya yang saling membuncah, dan sekarang setalah permainan nya yang menghabiskan waktu cukup lama itu yaitu satu jam lebih Hana dan Gibran saling memeluk satu sama lain.
Tidak menjadi yang pertama untuk Hana, begitupun untuk Gibran, keduanya bersatu setelah menjadi janda dan duda, tapi entah kenapa bagi keduanya pasangan nya saat ini adalah orang pertama yang memiliki nya.
"Cepat hadir sayang, bunda dan Ayah sudah tidak sabar menunggu kahadiran mu." ucap Gibran sambil mengusap perut rata Hana.
"Amin, semoga ya sayang." sahut Hana ikut mengelus perut rata nya.
Dan setelah itu keduanya saling memeluk lagi, kulit keduanya bersentuhan, saling menghangatkan dengan cara berpelukan.
"Ahk iya, Tara akan menikah." ucap Hana ingat akan pesan adiknya tadi malam.
"Kapan?." tanya Gibran.
"Masih belum di bicarakan, tapi Tara bilang dia sudah mau menikah." jelas Hana.
"Bukan kah Tara masih seumuran Arselia?." tanya Gibran lagi.
Hana mengangguk kecil.
"Iya mereka sama-sama kelas 3 SMA, tapi Tara masih 17 tahun." sahut Hana. "Bagaimana pendapat mu?." tanya Hana menatap suaminya.
Gibran terdiam, dia memang tidak tau seperti apa adik iparnya itu, tapi mendengar cerita Hana yang selalu menceritakan sikap manja Tara menurutnya Tara pasti punya alasan untuk memutuskan menikah muda.
Apalagi pria pilihan adik iparnya itu adalah seorang pengusaha sukses, tentunya Gibran tau siapa Darrel yang seorang Ceo perusahaan X yang ada di kota B.
"Apapun pilihan nya aku yakin adik kita pasti sudah memikirkan nya baik-baik, dan mungkin tuan Darrel adalah pilihan nya." jelas Gibran.
"Kamu benar sayang, aku juga setuju kalau Tara nikah muda dan apalagi menikah nya sama tuan Darrel, ya meski galak dan pedas aku yakin Tara pasti bisa meluluhkan hati pria dingin itu." kata Hana sambil tersenyum.
Karena kelelahan Hana dan Gibran memilih untuk tidur, dan tentunya dengan posisi saling berpelukan.
Sedangkan di tempat lain, nampak Arr yang berjalan kesana kesini sudah seperti setrikaan, matanya melihat jam di ding-ding yang sudah memperlihatkan pukul delapan malam.
Dan sekali lagi Arr menghembuskan nafas nya kasar, tidak ada kabar nya dari sang adik membuat Arr semakin khawatir, apalagi adiknya pulang dengan Taksi.
"Jenn, angkat dong.. nggak tau apa kalau kakak lagi khawatir." gumam Arr panik.
Meski dia tau adiknya itu tomboy dan pemberani tapi tetap saja hal itu tidak membuat kekhawatiran Arr mereda.
Adiknya adalah seorang wanita, sekaligus satu-satunya keluarga yang dia miliki setelah meninggalkannya ibu dan bapaknya belasan tahun lalu.
Sekali lagi Arr mencoba menghubungi adik nya, tapi lagi-lagi dia tidak mendapatkan sahutan karena adik nya masih belum mengaktifkan ponselnya.
Suntuk menunggu kepulangan Jenn Arr memilih mengambil jaket kulit nya, lalu mengambil kunci motornya yang ada di dekat televisi.
Motor moge Arr yang harganya sangat mahal itu membelah jalanan kota, beginilah Arr saat dia merasa kesepian, dia akan melampiaskan nya dengan jalan-jalan atau sekedar makan di pinggir jalan.
"Tumben rame banget." gumam Arr.
Dan saat melewati kerumunan itu Arr melihat korban tabrak lari, Arr menghentikan sebentar motor nya, lalu kembali mencoba menghubungi Jenn lagi.
"Hallo Jenn."
__ADS_1
"Iya kak."
"Kamu dimana, kenapa belum pulang, kakak jemput ya, sherlock tempat nya sekarang."
"Kakak bawel ihk, tenang aja aku pulang nya di antar sama teman, kakak tunggu di rumah aja."
"Perempuan atau laki-laki yang ngantar nya?."
Dan.. Tut..
Panggilan nya terputus, Jenn yang mengakhiri panggilan nya tanpa menjawab pertanyaan terakhir nya.
Arr menghela nafasnya panjang, begitulah adiknya selalu membuat nya was-was, Jenn tidak tau saja kalau Arr sekarang sedang khawatir pada adiknya sampai matanya tiba-tiba mengeluarkan air mata karena ia sensitif jika di hadapkan dengan orang yang di sayang nya.
"Semoga Jenn pulang dengan selamat." gumam Arr, lalu kembali mengendarai motor moge nya lagi.
Setelah lama berkendara akhirnya nya motor Arr sampai di tempat makanan kesukaan nya,
yaitu sate.
"Bang pesen dua porsi di bungkus ya."
"Porsi banyak atau biasa Mbak?."
"Biasa aja Bang."
"Oke, di tunggu ya Mbak."
Arr menunggu sambil memainkan ponselnya, ragu-ragu Arr melihat akun sosial media nya yang sudah lama tidak pernah dia pakai itu.
dan pas membuka akun sosial medianya ia melihat postingan Hana, istri Bos nya.
Foto yang di unggah itu mungkin hanya tangan, tapi jika di lihat dengan jelas tentu saja Arr bisa tau kalau tangan itu adalah tangan Gibran.
"Mereka benar-benar sudah bahagia, aku harap mereka akan selamanya bersama, mereka saling mencintai." gumam Arr.
Tidak perlu tau seberapa besar cinta Gibran pada Hana, bahkan matanya pun tidak bisa di bohongi saat melihat tatapan Gibran pada Hana yang penuh cinta
Arr mengikhlaskan perasaan nya, apalagi menyimpan perasaan cinta sendiri itu rasanya tidak enak, ia yakin suatu saat nanti dia pun akan menemukan cinta nya, meski entah kapan.
"Mbak sate nya udah." ucap tukang sate yang membuat Arr seketika sadar dari lamunan nya.
"Ahk iya, ini uang nya." Arr memberikan uang nya.
Setelah mendapatkan apa yang yang di tuju tidak ada alasan untuk Arr tidak pulang, Arr kembali mengendarai motor moge nya, membelah jalanan kota dengan setelan anak motor nya.
Saat di tengah perjalanan tiba-tiba ponsel Arr berdering, membuat Arr langsung menghentikan motor nya di pinggir jalan.
"Hallo.." suara Jenn terlihat panik.
"Ada apa Jenn, kenapa kamu belum pulang?." tanya Arr takalah panik.
"Aku kecelakaan kak, tolong ke jalan Xxxx kak, cepetan." suara Jenn masih terdengar panik.
"Kamu kena___"
Tut..
Arr menghembuskan nafas nya kasar, jantung nya berdegup dengan kencang mendengar adiknya kecelakaan.
__ADS_1
"Tunggu kakak Jenn, tunggu!" gumam Arr, lalu mengendarai motor nya ke tempat yang di ucapkan Jenn tadi.
Lama Arr mengendarai motor nya, apalagi tempat yang Jenn ucapkan itu cukup jauh dari tempat Arr sekarang berada.
Dan sesampainya di tempat itu Arr tidak menemukan adik nya, yang dia lihat hanya sebuah mobil yang menabrak pohon.
"Ya ampun Jenn, kamu dimana." Arr semakin panik.
Tangan Arr terus mengusap layar ponselnya, sampai akhirnya panggilan nya tersambung.
"Jenn, kamu dimana!"
"Di rumah sakit X, Kakak kesini jangan lupa bawain baju tidur ya."
"Emang baju kamu kenapa?."
Dan Tut.. !
Arr kembali menarik nafasnya panjang, kenapa adiknya itu sangat suka membuat nya khawatir seperti ini.
Satu jam berlalu, Arr melihat jam di ponselnya yang sudah memperlihatkan jam sepuluh, ingin dia masuk ke ruangan yang sedang di tempati temannya Jenn itu, tapi hal itu ia urungkan Arr tidak ingin adiknya malu karena kerempongan nya.
Tapi tiba-tiba pintu terbuka, membuat Arr langsung berdiri.
"Ayo pulang." kata Arr.
"Aku mau tapi aku nggak bisa kak." sahut Jenn dengan wajah lesu nya.
"Kenapa?." tanya Arr. lalu menutup hidung nya. "Kamu bau banget Dek." lanjut Arr masih menutup hidung nya.
Jenn mendengkus, padahal dia sudah mencuci tangan dan kaki nya tapi bau di tubuhnya masih tetap sama, yaitu bau kambing.
"Hari ini benar-benar melelahkan kak." kata Jenn sambil duduk.
"Siapa sebenarnya pria itu? pacar kamu?." tanya Arr ikut duduk.
Jenn langsung menggelengkan kepalanya cepat.
"Bukan, dia pria aneh yang konyol." sahut Jenn menolak tuduhan itu.
"jadi kamu nggak pulang?." tanya Arr lagi.
Dan Jenn mengangguk.
"Nggak kaya nya, dia nggak ada yang nemenin kak, kasihan."
"Kalau dia macam-macam kasih tau kakak."
"Iya kak."
Setelah memberikan baju tidur untuk adiknya Arr pulang dengan wajah lelah nya, kembali mengendarai motor moge nya lagi untuk membelah jalanan kota.
"Jika Jenn sudah menemukan calon nya, aku kapan."
___________
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️
__ADS_1