
^^H A P P Y R E A D I N G^^
๐น๐น๐น๐น๐น
Setelah selesai mengantarkan ibu Lisna ke tempat peristirahatan terakhir nya yaitu pemakaman, Hana dan Gibran langsung pulang karena mereka juga harus menguruskan acara tahlilan untuk ibu Lisna.
Di rumah Hana di bantu dengan beberapa orang yang sedang menyiapkan acara tahlilan nampak sibuk.
Gibran yang melihat itu berinisiatif untuk membuatkan jus untuk sang istri.
Sedangkan Hana yang duduk di sopa nampak sedang menelpon seseorang.
"Beli 200 cake, 200 paket panas 2 with rice." ucap Hana.
"Baik, apa ada yang lain Nyonya." ucap orang di sebrang telpon.
Hana terdiam nampak berpikir, untuk tahlilan ekstra cepat dan tanpa persiapan apapun seperti sekarang sangat sulit untuk berpikir, tapi sebisa mungkin Hana harus bisa melancarkan acara tahlilan mertuanya karena sebagai muslim acara tahlilan itu sangat wajib agar almarhumah tenang di alam barunya.
Selain itu Hana juga ingin banyak yang mendoakan mertuanya.
maka dari itu Hana akan mengundang anak yatim di panti asuhan dan beberapa tetangga terdekat di rumah mertuanya.
"Hanya itu, uang nya akan saya transfer." lanjut Hana.
"Baik Nyonya." balas orang di sebrang telpon.
Setelah panggilan nya terputus Hana langsung memijat pelipisnya yang terasa pusing, matanya melihat ke ruang keluarga nya yang kini sudah lebih luas karena sopa nya di pindahkan dan di gantikan dengan karpet.
"Tinggal ngisi uang di amplop." gumam Hana sambil beranjak berdiri.
Hana melangkahkan kaki nya untuk ke kamar nya, lalu mendudukkan bokong nya di tempat tidur.
Tangan nya terulur untuk mengambil tas nya, lalu Hana mengeluarkan uang yang sebelumnya dia ambil di ATM.
Ceklek..
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, dan datanglah Gibran dengan segelas jus jeruk yang sudah dia buat dengan susah payah itu.
"Sayang.." Hana tersenyum melihat suaminya.
"For you." ucap Gibran membalas senyuman istrinya, lalu memberikan jus itu pada Hana.
Hana menerimanya, lalu meminum jus itu.
"Thanks, Hubby." balas Hana lalu menyimpan jus itu di nakas.
Gibran ikut duduk di samping sang istri, lalu memasukan uang ke dalam amplop nya.
"Nggak kecil?." tanya Gibran.
Hana menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Entahlah, tapi semuanya di ukur dengan niat, bukan kah ikhlas lebih utama di bandingkan dengan pamrih dan ria?" sahut Hana bijak yang membuat Gibran semakin takjub dengan apa saja yang ada di dalam diri sang istri.
Attitude dan personality yang luar biasa, tapi dua kata itu seperti nya tidak bisa mewakili kekaguman nya untuk Hana.
karena apapun itu Hana tetap menjadi yang terbaik.
"Terimakasih" ucap Gibran.
"Untuk?." tanya Hana tidak mengerti.
"Padahal ibu telah berbuat tidak baik pada mu tapi kamu ___" ucap Gibran terhenti karena Hana mengecup bibirnya singkat.
"Jangan katakan itu lagi, ini adalah bakti aku untuk Ibu mertua ku, dan lagi pula sudah seharusnya aku melakukan ini, Ibu bukan hanya mertua ku tapi juga saudara seiman ku." kata Hana sambil tersenyum.
Tak mampu berkata-kata lagi, Hana benar-benar membuat Gibran tidak bisa berpaling dari segi apapun yang ada di diri Hana.
"Kamu memang wanita hebat." puji Gibran.
Hana terkekeh lalu menatap suaminya.
"Kamu juga pria yang hebat, dan pria hebat di depan ku ini adalah suami yang paling aku cinta." balas Hana.
Keduanya memasukan uang nya bersama-sama, tidak ada kata lelah untuk Hana dan hal itu juga yang membuat Gibran merasa bersalah, sejak pernikahan nya ia hanya bisa merepotkan sang istri.
Beberapa jam berlalu acara tahlilan sudah sudah berjalan dengan lancar, Hana langsung mengganti pakaian nya dengan piyama santai nya, lalu melirik suaminya yang juga memakai piyama yang sama dengan nya.
"Kita lucu, couple." ucap Hana sambil tersenyum.
Hana mengangguk.
"Ayo, kita akan tidur di rumah sakit." kata Hana lagi.
Keduanya berjalan keluar rumah, dan masuk ke dalam mobil nya.
Gibran mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, di sepanjang perjalanan nya Hana memeluk tangan Gibran.
Hana dan Gibran akan ke rumah sakit untuk menggantikan Bagas, menjaga Arselia agar adik iparnya tidak merasa sendirian, apalagi kondisi Arselia setelah tau jika dia keguguran itu menjadi drop.
"Kita mampir di pinggir jalan itu ya sayang." ucap Hana.
"Ngapain?." tanya Gibran, tapi dia tetap menghentikan mobilnya di pinggir jalan.
Hana tidak menjawab, dia langsung keluar dari mobilnya dan berjalan mendekati gerobak penjual gorengan.
Gibran melihat apa yang di lakukan istrinya itu tersenyum, entah lebay atau apa, tapi Gibran merasa jika rasa cinta nya semakin bertambah setiap detik nya.
"Ayo.." ucap Hana yang baru masuk dan mendudukkan bokong nya di jok depan, jangan lupakan satu kresek gorengan di tangan nya.
Gibran melirik istrinya, lalu mendekati Hana, melihat Gibran yang semakin dekat Hana langsung replek menutup mata nya, dan melihat itu Gibran langsung terkekeh pelan.
Dia memasangkan sabuk pengaman nya, lalu menyalakan mesin mobil nya.
__ADS_1
"Kok nggak cium?." tanya Hana membuka matanya.
"Mau di cium?." Gibran menaikkan sebelah alisnya ke atas.
Hana mengerucutkan bibir nya.
"Tau ahk." kesal Hana.
Gibran mematikan mesin mobilnya, lalu mencium bibir Hana beberapa detik, merasa Gibran akan melepaskan ciumannya Hana langsung mengalungkan tangannya di leher suaminya, dan Gibran yang di berikan kode itu langsung tersenyum dan menambah beberapa menit ciuman nya.
"Sudah?." ucap Gibran sambil mengusap bibir Hana dengan jari nya.
Hana tersenyum malu, dan mengangguk.
"Ayo.." kata Hana malu-malu.
Di rumah sakit Bagas yang sedang menunggu Arselia nampak masih tidak bisa melupakan apa yang terjadi pada adik nya.
dia ingin bertanya siapa ayah dari anak yang ada di dalam kandungan Arselia, tapi tidak mungkin Gibran bertanya hal itu sekarang karena Arselia pasti akan kembali drop.
"Seberapa banyak pria yang telah membuat mu lepas kendali seperti ini Dek? kenapa kamu menjadi seperti ini." gumam Bagas yang duduk di sopa yang ada di ruangan Arselia.
Mata nya terlihat sembab dan tidak perlu di jelaskan lagi jika alasan mata nya Bagas adalah karena menangis, menangisi dua wanita yang paling dia sayangi.
Ceklek..
"Kak." Bagas berdiri.
"Kamu pulang dulu gih, Arselia biar aku dan istri ku yang di sini." kata Gibran.
"Tapi.." ucap Bagas terhenti.
"Nggak ada tapi, pulang lah dan tidur, kamu pasti mau jiarah ke makam ibu kan?, kamu bisa melakukan itu besok pagi." Hana menimpali.
Bagas menghela nafas nya panjang, lalu melirik Arselia dengan wajah yang tidak bisa di artikan.
"Kakak akan balas perbuatan mereka, kamu tenang saja orang-orang yang membuat mu seperti ini pasti akan membayar nya dengan mahal." batin Bagas.
Hana melihat tatapan kemarahan Bagas, dia langsung menepuk pundak Bagas pelan, membuat Bagas reflek memandang Hana.
"Jangan lakukan hal yang akan membuat mu menyesal Bagas, kamu orang baik aku yakin kamu pasti paham apa yang aku katakan." ucap Hana.
Bagas menundukkan kepalanya, lalu melirik kedua Kakak nya.
"Aku akan pulang, tolong jaga Arselia dengan baik ya kak." kata Bagas, lalu pergi.
_________
๐น๐น๐น๐น๐น
Lambat nggak sih alur nya? serius nanya๐
__ADS_1
Jangan lupa like coment and Vote ya kak โฅ๏ธ