
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Ibu Rumi menatap sinis pada kedua tamu nya itu, alih-alih di ajak masuk Hana malah di suruh menunggu di depan, yaitu duduk di kursi yang ada di teras depan rumah nya.
Dan sikap Ibu Rumi sudah Hana duga sebelumnya, dan hal itu juga yang membuat Hana memilih memakai piyama couple, dan memakai motor ke rumah ibu nya.
Hana tau betapa matre nya orang tua nya, maka dari itu Hana memilih untuk berpenampilan sederhana.
"Tunggu di sini." kata Ibu Rumi langsung masuk ke dalam rumah.
"Bahkan setelah tujuh tahun aku pergi, kalian masih saja tidak perduli pada ku." batin Hana.
Menyedihkan memang jika berada di posisi Hana, dia tau apa ibu bapak nya mungkin masih marah pada nya mengingat Hana telah kabur dari rumah untuk seorang pria yang tidak bertanggung jawab.
Hana melirik suaminya yang ternyata sedang melihat ke arah nya, dia tau suaminya pasti merasa kasihan pada nya.
"Nggak apa, biarin aja." ucap Hana memegang tangan sang suami.
Gibran tau sedikit hubungan Hana dan orang tuanya seperti apa, tapi melihat sekarang bagaimana cara ibu nya memperlakukan anak yang baru bertemu dengan orang tuanya selama tujuh tahun lebih rasanya sangat aneh jika tidak ada adegan berpelukan.
Tiba-tiba bapak Hana keluar dan dengan gaya so nya di menatap tajam ke arah Hana dan sosok pria yang tidak di kenali nya itu.
"Pa, ijinkan aku masuk, di sini tidak akan nyaman." ucap Hana sambil ingin mencium punggung tangan bapak nya, tapi dengan cepat di tepis oleh pak Sofyan.
"Pergi kamu, setelah penghinaan yang telah kamu berikan pada ku berani nya kamu kembali lagi ke rumah ku!" kata Pak Sofyan marah.
"Pak aku mohon di rumah ya, di sini nggak enak Pak, ada banyak tetangga yang akan mendengar." kata Hana mencoba untuk tidak membuat malu lagi bapak ibunya.
Dia tau kehamilan nya yang dulu saja sudah membuat orang tua nya marah sekaligus malu.
Hana memang bersalah untuk kebodohan di masa remaja yang terlalu mencintai seorang pemuda yang jelas-jelas tidak bisa menepati semua janji-janji nya itu.
Plakkkk !
"Pergi kamu!" teriak Pak Sofyan.
"Pak, aku mau minta maaf untuk semuanya." ucap Hana lagi.
"Kamu sudah bukan anak ku lagi, pergi!" teriak Pak Sofyan lagi.
__ADS_1
Suara Pak Sofyan mengundang beberapa tetangga yang kini mulai berdatangan melihat kejadian itu.
Hana menarik nafasnya mendengar ucapan bapak nya, ini semua bukan semata-mata hanya karena kesalahannya.
tapi karena perginya Hana membuat bapak nya kehilangan uang nya.
Gibran memeluk Hana yang terlihat menyedihkan di usir orang tua nya sendiri.
tapi Hana melepaskan pelukan nya dan mendekati ibu bapak nya lagi.
"Beras minyak? apaan, bawa lagi kita nggak butuh semua itu." terdengar suara ibu Rumi yang mendengkus kesal.
"Ini suami aku namanya mas Gibran." Hana menjeda ucapan nya. "Jika kedatangan aku memang tidak pernah di harapkan bapak dan ibu aku nggak akan pernah kesini lagi, bapak tenang aja aku dan Mas Gibran nggak akan kesini lagi." lanjut Hana sambil tersenyum.
Hana mengambil sesuatu yang ada di saku piyama nya, lalu memberikan itu ke tangan bapak nya.
"Aku menghargai ibu bapak sebagai orang tua ku, tapi kalau ibu dan bapak nggak pernah ingin mengakui aku sebagai anak aku bisa apa? aku tau aku pernah membuat kesalahan dan membuat kalian kecewa, tapi aku tetap anak kalian." kaga Hana.
Pak Sofyan melihat cek yang ada di tangan nya, dan saat melihat nominal nya ia langsung melotot karena nominal nya sangat besar.
Ibu Rumi yang juga mengintip berapa jumlah uang nya itu langsung menutup bibirnya.
"Uang itu hasil kerja aku selama 3 tahun, seharusnya aku menggunakan uang itu untuk operasi Yura, tapi cucu bapak dan ibu sekarang udah tenang di surga jadi aku kasih ke ibu dan bapak uang nya, semoga setelah ini bapak dan ibu nggak marah sama aku lagi." lanjut Hana.
"Bu, ambilin minum gih." ucap Pak Sofyan melirik sang istri.
"Hana masuk dulu ayo, kamu juga suaminya Hana ayo masuk." lanjut Pak Sofyan.
Membuat Hana tersenyum kecut, sedangkan Gibran langsung mengepalkan tangannya mendengar ucapan mertuanya yang tiba-tiba berubah drastis setelah mendapatkan uang.
Bapak ibunya bahkan tidak mau tau tentang Yura, ataupun bagaimana bisa Hana bertahan hidup sendiri tanpa seorang pun yang membantu nya.
"Nggak perlu, aku sama mas Gibran mau pulang." kata Hana sambil melirik suaminya.
"Ya sudah hati-hati, lain kali kamu main ya.. ajak anak kamu." kata Pak Sofyan lagi.
Membuat Hana yang baru melangkah beberapa langkah itu menghentikan langkah nya.
dan berbalik melihat ke arah bapak nya yang kini tengah tersenyum ke arah cek yang berisikan uang itu.
Ternyata uang bukan hanya membutakan saja, tapi uang juga benar-benar membuat pendengaran menjadi tuli.
__ADS_1
Jelas-jelas tadi Hana sudah mengatakan jika uang itu seharusnya dia pakai untuk operasi putrinya yang sudah tenang di alam sana.
"Sayang." panggil Gibran tau perasaan Hana pasti sangat sedih.
"Ayo." ucap Hana langsung naik ke motor nya, di susul dengan Gibran yang duduk di belakang nya dan memeluk pinggang nya.
Saat Hana akan menyalakan mesin nya samar-samar terdengar suara bapak dan ibunya di dalam rumah.
"Ini pasti hasil kerja Hana, lihat saja suaminya pakaian nya aja kaya gitu, pasti benalu tuh nggak punya kerjaan kaya si Angga." ucap Bu Rumi.
"Iya, dasar si Hana aja yang bodoh, kalau dia mau dengerin bapak untuk nikah sama juragan pasti dia nggak akan sengsara kaya gitu, dan tentunya kita juga akan semakin kaya Bu." timpal Pak Sofyan.
Begitulah ibu bapak nya, uang lebih berarti dari pada seorang anak, Hana tidak akan mendoakan yang tidak-tidak untuk bapak dan ibunya, tapi dia hanya merasa kasihan saja karena mungkin masa tua orang tuanya hanya akan di penuhi kesepian karena membenci anak sendiri.
Setiba nya di rumah nya Hana yang kelelahan karena bulak balik berkendara sendirian langsung masuk ke kamar.
begitu pun dengan Gibran yang ikut masuk ke kamar dan memeluk sang istri.
"Menangis lah." ucap Gibran.
Hana menggelengkan kepalanya.
"Untuk apa?" tanya Hana.
"Kamu sedih, dan aku nggak mau kamu menahan kesedihan itu sendiri." lanjut Gibran.
Membuat Hana tersenyum lalu menatap suaminya.
"Tapi sayang nya aku nggak sedih, aku hanya kecewa karena aku tidak seberuntung mereka yang bisa memiliki kasih sayang seorang ibu dan bapak." balas Hana sambil tersenyum.
"Air mata aku sudah habis sayang, dan setelah ini hanya ada cinta dan kebahagiaan yang aku punya, kamu adalah sumber kebahagiaan aku." lanjut Hana lagi membuat Gibran langsung memeluk Hana dan mencium semua titik wajah sang Istri tercinta nya.
"Terimakasih untuk selalu mencintai ku." bisik Gibran di telinga Hana dan setelah itu dia melanjutkan aksi nya untuk membuat istrinya senang.
________
🌹🌹🌹🌹🌹
Di sini mati lampu, baru nyala jam 6🤧
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️
__ADS_1