
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Melihat cara Hana menolak Robert membuat Gibran semakin kagum.
semua yang Hana ucapkan semakin membuat nya berambisi untuk memiliki Hana.
Rasanya Gibran sudah menjadi pria paling beruntung mendapatkan Hana.
selain cantik tapi Hana juga tegas dan pintar, semua kata-kata nya tertata rapih di tambah ketegasan dari sikap nya itu.
Benar kata orang jika pengalaman bisa mengajarkan seseorang menjadi lebih baik, dan mungkin hal itu juga terjadi pada Hana.
Dan yang berubah pada dirinya mungkin malah semakin mencintai istri nya.
"Ada apa? kenapa menatap ku terus seperti itu?." tanya Hana sambil memasukkan makanan ke mulutnya.
Melihat Hana yang makan dengan nikmat itu membuat Gibran tersenyum, dan hal itu di lihat kembali oleh Hana yang malah menjadi salah tingkah di buatnya.
"Sayang, ada apa kenapa tersenyum terus." tanya Hana lagi.
Gibran tidak menjawab, dia malah mengulurkan tangannya lalu menggunakan satu jari nya untuk mengusap sudut bibir Hana yang ada sedikit bekas makanan.
"Tidak akan ada yang akan mengambil makanan mu, pelan-pelan saja makan nya." ucap Gibran sambil tersenyum, lalu kembali makan lagi.
Hana terpaku di perlakukan manis seperti itu, jantung nya berdetak kencang jika saja bukan di umum dia akan membawa suami nya itu langsung ke ranjang.
"Tahan ini di umum." gumam Hana.
"Kamu mengatakan sesuatu sayang?." tanya Gibran yang mendengar gumaman kecil sang istri.
Hah?.
Hana gelagapan, buru-buru dia menggelengkan kepalanya.
"Nggak kok, ayo makan lagi." sahut Hana memilih kembali makan lagi.
Sepulang dari cafe keduanya langsung memilih pulang, di perjalanan pulang lagi-lagi Hana dan Gibran saling menebar kemesraan, dan tentunya menjadi pukulan keras untuk Pak supir yang jauh dari istrinya tapi terus di lihatlah tontonan panas di jok belakang.
"Pak supir istrinya kerja nggak?." tanya Hana kepo, tapi tangan nya tidak bisa diam masih mengelus kepala suaminya yang kini tengah tiduran di paha nya.
"Kerja nona, jadi buruh cuci di kampung." shaut Pak supir.
"Oh, kenapa nggak di ajak ke rumah aja, kerja di rumah gitu, iya kan sayang, nggak apa kan nambah bibi pembantu?" lanjut Hana melirik suaminya.
"Iya, boleh kok." sahut Gibran sambil melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
Supir terdiam mendapatkan tawaran dari majikan nya itu.
"Beneran tuan?." tanya Pak supir.
Dan Hana hanya mengangguk, membuat supir tersenyum senang.
__ADS_1
istrinya di kampung sendiri karena kedua anak nya sudah memiliki keluarga dan pindah ke luar kota, dan tentunya jika istrinya juga kerja ia tidak usah pulang pergi lagi dan menghamburkan uang ongkos.
Melihat Pak supir yang tersenyum membuat Hana ikut tersenyum.
Bukan tanpa alasan Hana mau bibi pembantu batu, entah kenapa Hana merasa tidak respect pada bibi pembantu di rumah nya.
Apalagi beberapa hari ini bibi pembantu di rumah nya itu sering ke pergoki main hp di saat jam kerja, bahkan pekerjaan rumah pun masih banyak dan belum selesai.
Awww !!
Hana menutup bibirnya saat pak supir melirik ke belakang, lalu menatap kesal pada suaminya yang mengigit perut nya.
"Maaf, habisnya gemes." kata Gibran sambil nyengir membuat Hana menghembuskan nafas nya kasar.
Sesampainya di halaman rumah kedua nya langsung keluar dari mobil, lalu masuk ke dalam rumah.
"BI." panggil Hana.
"Iya non." sahut bibi pembantu.
"Tolong bantuin Pak supir ngangkut belanjaan ya Bi."
"Baik non."
"Beras minyak daging sama kebutuhan dapur bawa nya ke dapur aja sekalian cuci dulu ya sebelum masuk kulkas, kalau alat mandi sama cemilan simpen di atas meja aja nanti aku yang pilihin." lanjut Hana dan di angguki oleh bibi pembantu.
Setelah itu Hana masuk ke dalam kamar, dan saat masuk ke kamar dia tidak melihat sosok suaminya.
membuat Hana mengerutkan keningnya bingung, tapi saat mendengar suara gemericik air Hana langsung tersenyum.
Hana menutup pintunya dan tak tanggung-tanggung ia mengunci kamar nya agar tidak ada yang berani menganggu nya.
Kaki nakal nya berjalan mendekati kamar mandi, dan saat membuka pintu klop kamar mandi ternyata pintunya tidak di kunci.
"Sayang." panggil Hana sambil membuka baju nya.
Gibran yang sedang berdiri di bawah shower itu melirik ke sumber suara, lalu tersenyum saat melihat Hana yang sedang melepaskan pakaian nya itu.
"Kemarilah." kata Gibran.
Gibran menarik Hana ke pelukan nya, keduanya berpelukan di bawah guyuran shower sampai akhirnya tangan Hana malah mengusap dada Gibran yang membuat Gibran langsung tersenyum.
"Kamu yang meminta."
"Aku? kamu kali."
"Kita berdua."
Hana mengangguk sambil tersenyum.
"I love you." kata Hana sambil menatap suaminya
"I love you too honey." sahut Gibran membalas menatap sang istri.
__ADS_1
Keduanya saling menatap satu sama lain sampai akhirnya sebuah ciuman berhasil menyatukan keduanya.
Hana melingkarkan tangannya ke leher sang suami, lalu memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan suaminya.
__
Sedangkan di luar Bu Lisna yang melihat banyak nya belanjaan yang di beli Hana terlihat tidak suka.
begitupun dengan Arselia yang juga sama merasa semakin tidak menyukai Hana.
"Panggil bibi pembantu." ucap Bu Lisna.
"Ngapain?." tanya Arselia.
"Panggil aja, suruh dia ke kamar ibu." kata Ibu Lisna lagi.
Arselia langsung pergi ke dapur untuk memanggil bibi pembantu.
"BI di panggil Ibu ke kamar." ucap Arselia.
"Baik nona."
Setelah bibi pembantu pergi Arselia langsung tertarik pada beberapa cemilan di atas meja, tanpa ragu Arselia mengambil cemilan itu lalu pergi ke kamar nya tanpa berniat meminta dulu pada pemilik cemilan nya.
Sedangkan di kamar ibu Lisna nampak memberikan sejumlah uang pada bibi pembantu, membuat bibi pembantu menjadi bingung.
"Ini untuk apa nyonya?." tanya Bibi pembantu bingung.
"Itu untuk misi besar, saya bisa memberikan bonus yang lebih banyak lagi untuk mu asal kamu bisa mengerjakan apa yang saya suruh." kata ibu Lisna.
Membuat bibi pembantu penasaran.
"Memang nya apa yang harus saya lakukan nyonya?."
Ibu Lisna terdiam sampai akhirnya dia mengeluarkan botol kecil dan langsung dia berikan pada bibi pembantu.
"Berikan obat itu ke setiap minuman yang akan di minum Hana."
Bibi pembantu terdiam nampak menimbang, membuat Ibu Lisna tersenyum kecut.
"Saya tau kamu di kampung sedang butuh uang untuk pengobatan suami kamu kan, jangan munafik saya juga tau kalau kamu pernah mengambil anting-anting saya, dan saya rasa itu bisa menjadi bukti untuk membuat kamu masuk penjara." lanjut ibu Lisna sambil tersenyum menyeringai.
"Maaf nyonya ini obat apa?." tanya bibi pembantu dengan gugup.
Bu Lisna tidak menjawab, dia malah memberi kode pada pembantu nya untuk pergi dari kamar nya.
Dan setelah kepergian bibi pembantu Bu Lisna langsung tersenyum menyeringai.
"Setelah dia meminum semua obat itu aku pastikan dia akan di tendang karena tidak bisa mengandung, haha." gumam ibu Lisna sambil tersenyum.
_________
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️