
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Melihat rumah sederhana ini benar-benar membuat Gibran semakin jatuh cinta pada wanita yang ada di pelukan nya itu.
bukan hanya cantik wajahnya, tapi attitude dan personality istrinya juga sangat luar biasa.
Tidak bisa sedetik saja rasanya untuk Gibran bisa berhenti mencintai istrinya, Hana adalah anugrah terindah dari Tuhan untuk nya yang paling nyata.
"Kenapa bangun, ayo tidur lagi." ucap Gibran saat melihat Hana terbangun dari tidur nya.
"Aku merasa pelukan nya kurang, jadi aku tidak bisa tidur nyenyak." sahut Hana sambil tersenyum.
Membuat Gibran terkekeh pelan, lalu memberikan pelukan hangat nya lagi pada tubuh sang istri.
"Apa sudah hangat?." tanya Gibran.
Hana menggelengkan kepalanya.
"Masih belum, dan sepertinya aku membutuhkan ciuman." lanjut Hana dengan nada manja nya.
"Astaga istriku ini benar-benar sangat menggemaskan ya." Gibran mencubit gemas pipi sang istri.
"Maka dari itu peluk dan cium aku, karena istri mu yang menggemaskan ini menginginkan perhatian suaminya." Hana berkata sambil membenarkan posisi nya menjadi menghadap sang suami.
Cup..
Cup..
Cup..
Bahkan tanpa di minta pun Gibran akan dengan senang hati untuk melakukan nya, memberikan ciuman nya di beberapa titik yang di minta sang istri tercinta nya.
Dan yang terakhir Gibran melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
"Aku mencintaimu." ucap Gibran sambil mencium punggung Hana.
"Astaga, aku sudah tau." sahut Hana sambil tertawa.
"Baiklah, tapi aku memang mencintai mu." sahut Gibran lagi.
"Ya, aku juga..jadi ayo kita mandi." Hana melepaskan pelukan nya, lalu bangkit dari tempat tidur.
Gibran ikut bangkit dari tempat tidur, dan melihat itu Hana langsung berlari ke kamar mandi yang ada di kamar nya.
meski rumahnya terbilang sederhana dan kecil tapi setidaknya di rumah kecilnya ini Hana memiliki kamar yang ada kamar mandi nya.
__ADS_1
"Tidak ada bathub, apa tidak apa?." tanya Hana.
"Tentu saja tidak apa, kita bisa mandi sambil berdiri." sahut Gibran.
"Tapi di sini tidak ada shower." lanjut Hana lagi.
Gibran terdiam lalu melirik istrinya.
"Jadi kita mandi memakai apa? apa kita akan masuk ke dalam bak air?." tanya Gibran lagi.
Yang membuat Hana tertawa cekikikan lalu mengambil ember yang ada di belakang pintu.
"Ini adalah gayung dan ini ember."
"Sayang aku tau."
"Baguslah kalau kamu tau, mulai sekarang kita akan mandi dengan menggunakan dua benda ini, bagaimana apakah menyenangkan." tanya Hana sambil tersenyum.
Gibran menggelengkan kepalanya, jelas itu bukan hal mudah apalagi dia tidak bisa berjongkok, dan itu adalah kesulitan pertamanya.
"Sayang aku tidak bisa berjongkok."
"Aku tau, maka dari itu akan memandikan bayi besar ku yang tampan ini."
Hana menyirami tubuh suaminya dengan air yang ada di gayung nya itu, dan Gibran hanya diam tanpa menolak di mandikan oleh sang Istri.
tapi apapun alasannya tentu saja Gibran tidak akan peduli karena bagi nya selama dia bersama istrinya maka selama itu juga dia akan bahagia.
"Apakah kita akan mandi seperti ini setiap hari?." tanya Gibran, dia sedang menyabuni tubuh nya.
Hana yang sedang membasahi tubuhnya dengan berjongkok di depan ember itu hanya mengangguk kecil.
lalu melanjutkan acara mandi nya dengan menyabuni semua anggota tubuh nya sampai bersih.
"Sayang aku sudah." ucap Gibran.
"Baiklah, tapi sebelum itu tolong gosokkan punggung ku." pinta Hana.
Gibran melakukan nya, dan hal itu membuat Hana tersenyum karena dia melihat pantulan tubuh suaminya di air yang ada di ember nya itu.
"Apa yang kau tertawakan sayang?." tanya Gibran.
"Tidak ada, hanya merasa kalau kita pasangan yang aneh." sahut Hana jujur.
"Aneh?." Gibran menyudahi acara menggosok nya.
Hana berdiri dan mulai membasuhi tubuh suami dengan air dalam gayung.
__ADS_1
"Jika orang lain mungkin akan menolak hidup seperti ini, apalagi setelah mengenal hidup bergelimang harta." kata Hana menjeda ucapan nya. "Menunduk lah sedikit, kamu terlalu tinggi." lanjut Hana.
Gibran melakukan nya, dia menundukkan kepalanya, dan Hana kembali membasuhi busa yang ada di tubuh dan rambut suaminya dengan air di dalam gayung lagi.
"Selama aku bisa bersamamu, aku akan selalu bahagia." kata Gibran membuat Hana yang sedang mengambil air dengan gayung di tangan nya itu langsung memerah pipi nya.
Melihat itu Gibran ikut mengambil air dengan gayung milik nya, lalu membasahi tubuh sang istri yang penuh busa dengan air di gayung nya, dan keduanya melakukannya sampai tubuh kedua nya bersih dari busa.
Meninggalkan suasana romantis yang selalu di ciptakan pasnagan Hana dan Gibran.
di tempat yang sama yaitu di kamar mandi tapi berbeda rumah terlihat Arselia yang langsung menjatuhkan benda di tangan nya setelah melihat dua garis merah di benda itu.
Tespec atau alat yang membantu melihat seseorang hamil atau tidak itu kembali Arselia ambil, lalu dia lihat lagi dengan mata yang seolah tidak percaya.
"Siapa dan yang mana?." hanya kata itu yang keluar dari bibir tipis gadis berambut panjang itu.
Di usianya yang ke 18 tahun ini ia tidak pernah menyangka jika dia akan mengandung anak dari seseorang yang bahkan Arselia lupa siapa ayah dari anak di dalam kandungan nya itu.
Terlalu banyak pria yang tidur dengan nya, bahkan pacar nya yang baru satu Minggu berpacaran dengan nya pun takalah ikut mengotori tubuhnya.
"Anak siapa yang ada di dalam kandungan ku, Robert? Brian? atau siapa?." gumam Arselia sambil meremas rok yang di kenakan nya.
Dia memang pernah tidur dengan Robert, tapi itu terjadi beberapa bulan lalu tepatnya saat pernikahan kakak nya, apalagi setau nya Arselia masih menstruasi setelah melakukan itu dengan Robert.
Dan untuk Brian.. pria itu sudah pergi ke luar negri beberapa hari yang lalu, Arselia tidak yakin jika itu anak Robert karena terakhir kalinya dia bertemu Robert adalah satu Minggu yang lalu.
"Andri, pasti dia ayah dari anak ku." ucap Arselia yakin.
Dia keluar dari kamar mandi dengan wajah yang kebingungan, ragu-ragu Arselia mengambil ponselnya untuk menelepon kekasih nya, tapi dua kali Anasya menelpon Andri pacarnya itu tidak kunjung mengangkat nya.
"Apa dia akan bertanggung jawab, aku tidak mau membunuh anak ini."
Arselia was-was, wajahnya terlihat penuh penyesalan, dia memang tidak pernah mendengarkan apa yang di katakan ibu nya.
yang dia tahu hanyalah kesenangan dalam hidupnya tanpa tau bagiamana akibat terkahir yang akan dia dapatkan setelah kata penyesalan itu hadir.
"Jika aku mengatakan nya pada ibu sudah pasti ibu akan membunuh ku, apa yang harus aku lakukan, aku takut." Arselia menangis sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur.
Bisanya ada kakak nya yang akan selalu ada untuk nya meski kata-kata nya pedas, Arselia benar merindukan kakak nya itu.
"Kak Bagas, tolong aku.. hiks."
________
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️
__ADS_1