SALAH RANJANG (Pria Buta)

SALAH RANJANG (Pria Buta)
Istri terbaik.


__ADS_3

^^H A P P Y R E A D I N G^^


🌹🌹🌹🌹🌹


Gibran terduduk lemas mendengar penjelasan Bagas yang baru saja mengatakan jika Arselia itu kehilangan bayi nya.


yang menandakan jika adiknya telah hamil di luar nikah.


"Robert!" ucap Bagas sambil mengepalkan tangan nya.


"Kurang ajar, dia telah merusak masa depan Arselia." Gibran ikut mengepalkan tangan nya.


Hana memegangi tangan suaminya yang nampak seperti orang marah itu, lalu menggelengkan kepalanya.


"Jangan." ucap Hana menahan.


"Sayang dia telah membuat adik ku hamil, dia harus bertanggung jawab." ucap Gibran lagi.


Hana tetap menahan tangan Gibran, lalu melirik Bagas yang juga sama terlihat marah nya.


"Prioritas kalian yang utama sekarang adalah Arselia, bukan Robert ataupun siapapun, adik kalian butuh kalian." kata Hana mencoba menenangkan kedua adik kakak itu.


Gibran dan Bagas merenung, ucapan Hana barusan memang benar adanya.


sekarang yang harus keduanya pikirkan adalah kesembuhan Arselia yang masih bertarung melawan rasa sakit nya di ruang operasi.


Lama ketiga nya terdiam, Hana melihat jam di tangan nya yang sudah menunjukan pukul 11 siang.


Hana bangkit dari duduknya, bukan hanya harus mengurus acara pemakaman ibu mertuanya, tapi Hana rasa kedua pria di depan nya juga butuh perhatian nya.


"Sayang aku akan membeli makanan dulu ya." ucap Hana.


Gibran melirik sang istri dengan wajah sedih nya, lalu mengangguk.


Hana berjalan melewati koridor UGD, sampai akhirnya Hana sampai di kantin rumah sakit.


"Mbak saya pesan dua mie ayam." ucap Hana.


"Di tunggu ya Mbak." balas pengurus kantin.


Hana mendudukkan bokong nya, sambil menunggu dia memijat pelipisnya yang terasa pusing.


hari ini benar-benar sangat melelahkan, dan penuh air mata.


Meski ibu mertuanya pernah melakukan hal fatal padanya Hana memilih memaafkan nya.


dan untuk Arselia, Hana juga sudah melupakan semuanya, terlepas dari apa yang di lakukan Arselia padanya Hana menganggap itu adalah kesalahan pergaulan.


Apalagi apa yang terjadi pada Arselia benar-benar sama dengan nya, kehilangan kendali di usia muda, Hana pernah terjebak di situasi itu, dan Hana yakin Arselia akan bisa berubah seiring berjalannya waktu.


"Semoga Arselia baik-baik saja, dia pasti sedih kehilangan bayi nya." gumam Hana tanpa sadar mengeluarkan air matanya.


Sedih? tentu saja karena ia juga pernah merasakan hal yang sama dengan Arselia.


kehilangan anak yang bahkan belum sempat dia lihat bagaimana wajahnya, begitupun dengan Hana yang merasakan sakit setelah meninggal nya putri kesayangan nya, Yura.


"Butuh tisue." ucap seorang pria tiba-tiba duduk di depan Hana.


"Kamu!" Hana menatap sosok yang jelas dia kenal itu.

__ADS_1


"Kita bertemu lagi." ucap sosok itu ramah yang tidak lain adalah Juan.


Pria yang pernah Hana temui dua kali, dan takdir kembali mempertemukan keduanya, jika beberapa bulan lalu Hana di antarkan ke ke kantor maka sekarang lain, Hana di beri tisue.


"Ahk iya, kamu di sini lagi ngapain?." tanya Hana.


Juan menaikan sebelah alisnya ke atas, lalu menaruh tisue di tangan nya ke tangan Hana.


"Usap dulu air matanya, aku di sini sedang menebus obat Mami ku." jelas Juan sambil mendudukkan bokong nya di kursi yang berhadapan dengan Hana.


"Terimakasih." Hana mengusap air mata nya.


"Sama-sama, apa yang membuat mu bersedih?" tanya Juan penasaran.


Di kejauhan Gibran yang semula ingin menyusul Hana tiba-tiba menghentikan langkah nya saat melihat istrinya sedang mengobrol dengan seorang pria.


"Siapa dia! kenapa mereka terlihat akrab." gumam Gibran sambil mengepalkan tangan nya.


Karena kesal Gibran pergi begitu saja, tentunya dengan membawa kemarahan nya.


"Aku nggak papa." sahut Hana singkat, lalu bangkit dari duduknya.


"Aku duluan, ya Juan." lanjut Hana sambil memberikan tagihan makanan yang di beli nya, lalu pergi begitu saja meninggalkan Juan.


Hana berjalan mendekat ruang operasi, tapi sesampainya di sana dia melihat Bagas sendirian, tidak ada suaminya yang membuat Hana mengerutkan keningnya aneh.


"Dimana mas Gibran?." tanya Hana.


Bagas melirik dengan wajah bingung nya.


"Bukan nya kak Gibran nyusul ya?." ucap Bagas yang membuat Hana menggelengkan kepalanya.


"Bagas ini makanan buat kamu, maaf ya cuman mie ayam." kata Hana lagi.


Bagas menerima nya.


"Makasih kak." kata Bagas.


Setelah itu Hana pergi mencari suaminya, Hana berjalan dengan mata yang melihat ke sana ke sini mencari sosok suami nya.


"Kebiasaan, tapi nggak apalah cemburu tanda cinta." gumam Hana sambil tersenyum.


Sampai akhirnya Hana menemukan suaminya yang sedang duduk di bangku taman.


Hana berjalan mendekati suaminya, lalu tanpa ragu duduk di samping sang suami.


"Buku mulut nya, yuk." ucap Hana.


Gibran melirik istrinya lalu terdiam.


dan melihat itu membuat Hana menghembuskan nafasnya kasar.


"Cemburu itu wajar, kalau yang nggak wajar itu punya suami yang nggak pernah cemburu istrinya di deketin cwo lain." Hana membuka suaranya.


"Aku tidak cemburu." sahut Gibran.


"Wle, hidung mu bergoyang, itu tandanya kamu berbohong." balas Hana lagi.


Gibran melirik sang istri lalu membuka mulutnya lebar-lebar.

__ADS_1


dan melihat ituHana langsung memberikan suapan pertama nya untuk sang suami.


"Aku cemburu, jadi jangan dekat dengan pria manapun selain aku." kata Gibran, lalu mengunyah makanan nya.


"Iya, aku tidak akan melakukan nya lagi, maaf." kata Hana lagi, lalu ikut menyuapkan sesendok makanan nya ke mulutnya.


"Setelah ini kita harus pulang ke rumah, jenazah ibu harus segera di makamkan." lanjut Hana.


Gibran mengangguk lalu menarik Hana agar lebih mendekat dengan nya.


"Terimakasih." ucap Gibran.


Dia benar-benar sangat beruntung, memiliki istri cantik baik hati dan juga pengertian, Hana benar-benar istri terbaik nya.


Hana memberikan suapan lagi untuk Gibran sang suami tersayang nya.


"Jangan katakan terimakasih, aku itu istri kamu, bukan orang lain." kata Hana lalu menyuapkan makanan ke mulutnya.


Di ruangan intensif nya Arselia yang baru selesai oprasi nampak masih memejamkan matanya.


Bagas yang melihat betapa menyedihkan nya nasib adiknya itu tak kuasa menahan air matanya.


"Maafkan kakak, maafkan kakak." hanya kata itu yang keluar dari bibir tipis Bagas.


"Kak.. " suara Arselia terdengar.


Bagas langsung mendekati adik nya, lalu mengecup kening adik nya.


"Akhirnya kamu sadar." ucap Bagas sambil tersenyum.


"Ibu mana kak?." tanya Arselia dengan suara yang pelan.


Bagas tidak bisa menjawab, tapi jika dia mengatakan kebohongan sekalipun tentu saja pada akhirnya nanti semuanya akan terungkap.


"Kak, dimana ibu!" suara Arselia lebih meninggi.


"Ibu meninggal." ucap Bagas.


"Ibu jahat kak, ibu mau bunuh bayi aku." kata Arselia.


Lalu tangan nya memegangi perutnya, melihat itu Bagas langsung memeluk adiknya, apalagi saat melihat ekspresi wajah Arselia yang terlihat syok karena perutnya terasa berbeda.


"Kak!"


"Kamu keguguran."


Apa!


"Nggak mungkin."


"Itu kenyataan nya, kamu pendarahan dan janin yang ada di dalam kandungan mu meninggal." lanjut Bagas.


Air mata Arselia mengalir, seketika tangis nya pecah saat mendengar calon bayi nya itu meninggal, bahkan tanpa dia tau seperti apa wajah calon anaknya itu.


__________


🌹🌹🌹🌹🌹


Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️

__ADS_1


__ADS_2