
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Bagas menatap tidak percaya pada apa yang sedang dia lihat sekarang, sebuah pesan memilukan yang di kirim oleh adiknya, Arselia.
"Kakak maafkan aku, kakak benar aku adalah gadis yang sangat munafik, aku bahkan telah terjerumus pada kubah kegelapan yang semakin dalam, tapi kak.. tolong aku.. hiks.. Aku tau ini adalah kesalahan, tapi tolong aku kak, aku tidak mau membunuh anak ku, aku tidak mau."
Lama Bagas terdiam dengan ekspresi wajah yang tidak bisa di artikan itu, dia berpikir keras dengan arti pesan dari adik nya itu.
"Apa Arselia sedang mengandung dan Ibu ingin___" Bagas menggelengkan kepalanya.
Tidak mungkin ibu nya seperti itu, ya dia tau ibu nya jahat tapi apa mungkin ibunya juga ingin membunuh keturunan nya sendiri?.
Tapi saat mengingat betapa besarnya ambisi ibu nya untuk mengambil harta kakak nya Gibran, Bagas tidak ada alasan lagi untuk tidak mempercayai adiknya.
Bagas langsung mengendarai motor nya untuk ke rumah ibu nya.
Motor Bagas melaju membelah jalanan kota dengan kecepatan yang sangat cepat.
Sampai akhirnya sebuah dering telpon membuat Bagas memilih menghentikan motor nya di pinggir jalan.
"Hallo.."
"Kamu di mana, kakak akan menyelamatkan mu."
"Maaf tuan, pemilik ponselnya sedang kecelakaan."
"Apa!"
"Ada dua korban tabrak lari di jalan X, dan kedua korban sekarang sedang dalam perjalanan perjalanan ke rumah sakit X."
"Apa korban nya itu seorang wanita tua dan gadis muda?."
"Pemilik ponsel ini masih gadis remaja tuan, tapi kalau korban satu nya lagi tidak bisa di ketahui identitas nya karena sebagian tubuhnya terlindas truk dan ada kemungkinan juga korban itu meninggal di tempat tuan."
Bagas yang masih syok itu terdiam untuk beberapa saat, ia mengusap wajah nya dengan kasar, merasa gagal untuk membantu adik nya.
"Ibu, Arselia, apa yang telah kalian lakukan kenapa semuanya harus seperti ini." gumam Bagas yang tanpa sadar air matanya mengalir deras di wajah tampan nya.
Bagas mengusap layar ponselnya untuk menelepon kakak iparnya, Bagas tau Gibran pasti tidak akan mau mengangkat telpon nya maka dari itu dia lebih memilih untuk menelpon Hana.
"Hallo."
"Iya Bagas, ada apa? apa kamu perlu sesuatu?." tanya Hana di sebrang jalan.
"Sayang kita akan meeting 15 menit lagi." suara Gibran terdengar di sebrang telpon.
__ADS_1
"Sebentar, Bagas sedang menelpon." ucap Hana.
"Bagas, kau masih di sana?." suara Hana kembali terdengar lagi.
"Ibu dan Arselia kecelakaan, jika kakak ada waktu aku mohon datanglah ke rumah sakit." kata Bagas lagi.
Dan mendengarkan itu sontak saja Hana di seberang sana kaget.
"Apa yang terjadi pada mereka?" tanya Hana penasaran.
"Entahlah, tapi yang aku dengar Arselia tertabrak mobil, sedangkan ibu__" Bagas tidak mampu melanjutkan ucapan nya, rasanya sesak meski pun dia belum tau apakah yang terlindas itu ibunya atau bukan.
"Ibu kenapa?." tanya Hana panik.
"Pergilah ke rumah sakit X, aku juga akan kesana." lanjut Bagas lalu mematikan ponselnya sepihak.
Setelah mengabari Hana Bagas langsung memilih untuk kembali melanjutkan perjalanan nya ke rumah sakit, dia harus memastikan jika wanita yang terlindas itu bukan ibunya.
Sedangkan di kantor Hana nampak terisak saat mendengar kabar duka itu, dan melihat itu Gibran langsung mendekati sang istri sebelumnya dia kesal karena Hana menerima telpon dari Bagas adiknya.
"Apa dia mengatakan kata-kata yang jahat pada mu?."
Hana menggelengkan kepalanya.
"Tidak." sahut nya, masih terisak.
Hana mengusap air matanya, lalu berjalan mendekati suaminya.
"Kita harus ke rumah sakit sekarang." ucap Hana lagi.
"Ada apa? kita harus meeting 10 menit lagi sayang." kata Gibran.
"Ini lebih penting dari meeting sayang, adik dan ibu mu mengalami kecelakaan, kita harus cepat ke rumah sakit." lanjut Hana lagi.
Apa!!
Gibran kaget mendengar itu, tapi belum juga dia memperlihatkan keterkejutan nya Hana sudah menarik tangan nya untuk berjalan ke luar ruangan.
"Tidak ada waktu untuk kaget, kita harus cepat." kata Hana keduanya sedang di dalam lift.
Dan sepanjang perjalanan ke rumah sakit Gibran lebih banyak diam.
Hana yang melihat itu tau seperti apa perasaan suaminya sekarang.
Seorang anak mendengar ibu nya celaka, tentu saja akan sangat sedih, terlepas dari semua kejahatan yang ibunya lakukan tetap saja tidak ada namanya mantan anak atau mantan ibu.
"Apa ibu dan adik ku akan baik-baik saja sayang?."
__ADS_1
"Tentu saja, mereka adalah wanita kuat, aku yakin mereka akan sembuh."
Sesampainya di rumah sakit Gibran dan Hana langsung ke UGD, di sana mereka melihat Bagas yang terduduk dengan kepala menunduk.
"Bagas, dimana ibu?." tanya Gibran.
"Ibu di dalam, dokter masih memeriksa nya." jelas Bagas.
"Lalu bagaimana dengan Arselia?." tanya Gibran lagi.
"Arselia juga masih di periksa dokter." lanjut Bagas dengan wajah sedih nya.
Gibran terduduk di lantai mendengar ucapan Bagas, melihat itu Hana langsung menarik suaminya untuk membenarkan cara duduknya, tapi Gibran menolak dan malah menarik Hana ke pelukan nya.
Gibran menangis di pelukan sang istri, Hana yang tidak bisa berbuat apa-apa untuk menghilangkan kecemasan suaminya hanya bisa memeluk suaminya, mencoba menenangkan suaminya meski sebenarnya Hana juga merasa sedih terlepas dari semua yang terjadi antara keluarga suaminya dan dirinya.
"Kak.." panggil Bagas.
Gibran melirik, Bagas duduk di lantai agar menyamakan kakak nya yang juga duduk di lantai.
Bagas mencium kaki sang kakak lalu memandang wajah kakak nya.
"Jika ini adalah hari terakhir ibu, aku berharap kakak bisa memaafkan nya, begitu pun dengan Arselia." kata Bagas memohon.
Dan mendengar itu Gibran langsung melirik istrinya, Hana yang paham langsung melepaskan pelukannya dan duduk di kursi tunggu.
"Jika kamu ada di posisi ku menjadi anak yang tidak di harapkan?, di celakai oleh ibunya bahkan sampai tidak bisa melihat beberapa tahun, di perlakukan layak nya orang asing yang menumpang di rumah sendiri, apa kamu masih bisa menerima semua itu?." tanya Gibran melirik Bagas.
Bagas terdiam, dia tau seperti apa perasaan kakak nya, dan ya.. itu semuanya karena Ibu nya yang selalu membedakan apapun di antara mereka bertiga, dan kakaknya adalah korban egois ibu nya.
"Kakak benar, kesalahan ibu terlalu fatal bahkan susah di maafkan." Bagas menundukkan kepalanya.
Melihat itu Gibran langsung mendekati adiknya, dan tanpa sadar memeluk Bagas.
"Mungkin berat melupakan perlakuan ibu padaku, bohong jika aku tidak membenci nya bahkan mungkin sakit hati dengan sikap nya, tapi jauh dari semua itu rasa sayang ku pada ibu telah mengalahkan kebencian ku, aku telah memaafkan nya." ucap Gibran sambil menepuk pelan pundak Bagas.
"Terimakasih kak.."
___________
🌹🌹🌹🌹🌹
Btw cover Hana dan Gibran ganti ya, takutnya ada yang bingung dengan gambar baru nya.
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️
__ADS_1