
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Pagi harinya sebelum berangkat kerja Hana dan Gibran sarapan dulu, keduanya duduk di meja yang bersebalahan.
Hana mengambilkan nasi goreng buatan nya untuk suaminya, lalu mengambil untuk nya sendiri.
Hana memang selalu bangun pagi-pagi agar bisa memasakkan nasi goreng atau makanan lain nya untuk sarapan suaminya.
"Makasih sayang." kata Gibran.
"Sama-sama, selamat makan." sahut Hana sambil tersenyum lalu mendudukkan bokong nya di kursi.
Melihat keromantisan yang selalu Hana dan Gibran perlihatkan padanya membuat Bu Lisna dan Arselia tersenyum kecut.
Semakin bertambah saja rasa ketidaksukaan nya melihat wajah Hana yang selalu so polos dan so baik itu.
Suasana di meja makan seperti biasnya selalu sepi dan tidak ada yang berbicara, ke empat nya makan dengan khitmat meski begitu lirikan sinis tak pernah kedua nya sembunyikan saat melihat ke arah Hana.
"BI." panggil Hana.
"Iya non."
"Susu aku mana Bi?." tanya Hana.
"Bentar bibi ambilin non." sahut Bibi pembantu, saat berjalan dia melirik ke belakang, lebih tepatnya melirik ke arah Bu Lisna, dan Bu Lisna langsung memberi kode dengan menganggukkan kepalanya.
"Sejak kapan kamu suka susu sayang?." tanya Gibran heran.
Selama ini Gibran memang tidak pernah melihat Hana minum susu, dan bahkan Hana pernah berkata jika dia tidak terlalu menyukai susu.
Hana melirik suaminya lalu tersenyum.
"Oh itu susu yang lagi viral katanya bagus untuk tubuh, biar langsing." sahut Hana sambil melirik dua wanita yang melihatnya dengan wajah sinis itu.
Setelah beberapa saat bibi pembantu datang dengan segelas susu yang ada di atas baki yang di bawa nya.
"Loh kok satu sih! aku juga mau susu." Arselia terlihat kesal.
Dan tanpa di duga Arselia malah mengambil susunya, tapi saat akan meminum nya ibu Lisna langsung berdiri dan mengambil susu itu.
"Ini punya kakak ipar kamu, suruh bikin lagi." kata Ibu Lisna menatap tajam Putri nya.
__ADS_1
"Nggak apa Bu, itu buat Arselia aja lagian aku bisa buat yang baru." ucap Hana sambil tersenyum.
Ibu Lisna menggelengkan kepalanya, tidak mungkin dia memberikan susu itu pada putri nya, susu itu sudah di campur obat yang bisa membuat mand*l, dan jika Arselia meminum nya bisa di pastikan dia tidak akan punya cucu dari putri kesayangan nya itu.
"Ibu balikin." Arselia merebut gelas berisi susu itu, membuat susu itu sedikit tumpah.
Sampai akhirnya..
Prenkkk !!
Gelas berisi susu itu pecah karena Bu Lisna langsung membanting gelas itu, membuat Gibran yang sedang makan langsung menggebrak meja.
"Aku sudah pernah mengatakan jika aku benci suasana makan yang berisik!" ucap Gibran sambil menaruh sendok nya di piring dan berdiri.
Hana kaget melihat Gibran yang terlibat marah, dan pergi ke luar rumah begitu saja tanpa menunggu nya.
"BI tolong ambilin sapu, pengki dan kain lap buat beresin gelas yang pecah ini." titah Hana.
"Baik non." sahut Bibi pembantu lalu pergi ke arah dapur.
Arselia yang kesal pada sang ibu memilih pergi ke kamarnya, dan terdengar suara pintu kamar yang cukup keras di kamar Arselia.
Hana melihat Ibu Lisna yang nampak kesal itu, rasanya jika saja wanita di depan nya itu bukan mertuanya dan bukan seorang wanita yang lebih tua darinya, Hana ingin sekali menjambak rambut nya, melampiaskan kemarahannya itu.
"Apa maksud mu!" tanya ibu Lisna pura-pura tidak mengerti, jangan lupakan wajah seorang ibu yang polos itu, memuat Hana jengah.
"Apa maksud ku? tentu saja ibu sudah tau apa yang aku maksud itu." sahut Hana lagi. "Ada cerita yang bilang jika serigala aja yang kejam dan ganas masih bisa menyayangi anak nya, tapi manusia? dia seorang ibu dari anak-anaknya tapi kenapa dia bisa tega ingin membunuh anak nya, menurut ibu itu kenapa?." lanjut Hana sambil tersenyum kecut.
Hana sudah tau rencana mertuanya yang ingin membuat dia mand*l itu, tanpa sepengetahuan mertuanya Hana sudah menyimpan penyadap suara di kamar mertuanya, dan apa yang di rencanakan mertuanya tadi malam jelas sudah Hana dengar semuanya.
Meski sebenarnya sampai sekarang Hana masih bingung dengan sikap mertuanya.
kenapa mertuanya sangat membenci nya padahal Hana merasa belum pernah sedikitpun menyakiti mertuanya.
"Omong kosong apa yang sedang kamu bicarakan hah! sayang nya saya tidak mengerti." balas Bu Lisna sinis.
Hana menghela nafasnya panjang, tidak ada gunanya bicara pada orang yang sudah tertutup mata hatinya.
Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil membuat Hana melihat jam di tangan nya lalu melirik ibu mertuanya.
"Sebaiknya ibu renungkan ucapan ku tadi, dan asal ibu tau apa yang ibu lakukan itu sangat jahat, secara tidak langsung ibu sudah mendahului kehendak Tuhan untuk umatnya memiliki keturunan, Assalamualaikum.." lanjut Hana lalu pergi meninggalkan ibu mertuanya yang terdiam dengan wajah yang tidak percaya.
"Sial, apa dia tau aku telah mencoba membuat dia menjadi mand*l." batin Bu Lisna.
__ADS_1
Sedangkan di luar Hana tak sengaja berpas-pasan dengan Arr, ternyata sekarang Arr juga ikut menjemputnya.
"Nona menangis?." tanya Arr.
Hana menggelengkan kepalanya, lalu mengusap air mata nya yang ada di sudut matanya itu.
"Ini karena kelilipan." sahut Hana sambil tersenyum.
"Mas Gibran mana?." tanya Hana.
Baru saja Arr ingin menjawab sudah terdengar suara Gibran.
"Sayang, ayo kita sudah telat." suara Gibran terdengar di dalam mobil, membuat Hana langsung berjalan mendekati mobil.
Arr melihat jelas Hana yang baru selesai menangis, dan itu membuat dia yakin jika terjadi sesuatu di dalam rumah tadi.
"Apa yang di lakukan dua nenek sihir itu, kenapa nona Hana sampai menangis." batin Arr penasaran.
Sebenarnya Arr sudah tau seperti apa sikap nyonya besar itu, tujuh tahun mengenal Bu Lisna membuat dia sedikit-sedikit mengenal sikap ibu Bu Lisna yang selalu berani melakukan apapun demi ingin mencapai tujuan nya itu.
"Kamu berantem sama ibu?." tanya Gibran.
Hana melirik suaminya lalu menggelengkan kepalanya.
"Nggak kok, aku tadi ngambil barang yang ketinggalan di kamar." sahut Hana bohong.
Gibran sebenarnya melihat raut wajah kesedihan sang istri, tapi saat melihat di jok depan ada Arr dan Pak supir Gibran memilih untuk tidak membahas nya.
"Jalan Pak." kata Gibran.
"Baik tuan." sahut Pak supir.
Setelah itu mobil itu berjalan membelah jalanan kota dengan kecepatan sedang, dan sepanjang perjalanan nya tidak ada keceriaan atau keromantisan yang di ciptakan kedua pasangan suami istri itu.
Hana lebih banyak diam dan bahkan saat di dalam mobil Hana tak se bawel biasanya, membuat Gibran yakin jika ada sesuatu yang di sembunyikan sang istri dari dirinya.
"Sebenarnya apa Ibu telah lakukan pada Hana, kenapa Hana menjadi murung seperti ini." batin Gibran.
__________
🌹🌹🌹🌹🌹
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️
__ADS_1