
^^H A P P Y R E A D I N G^^
🌹🌹🌹🌹🌹
Pagi hari di Apartemen Robert, pria itu nampak tetap sama yaitu tiduran di tempat tidur, tanpa bantuan Anasya Robert mungkin tidak akan bisa bangkit dari tempat tidur nya.
Sebenarnya Robert sudah melakukan beberapa langkah pengobatan alternatif ataupun mendatangi dokter spesialis tulang, tapi sampai sekarang masih tetap sama, dia masih belum bisa berjalan.
"Anasya." panggil Robert.
"Iya tuan." Anasya datang dan mendekati Robert.
"Bantu aku untuk ke kamar mandi, aku mau pipis." kata Robert.
Anasya melakukan nya, dia membantu Robert berdiri dan duduk di kursi roda nya, meski tubuh Robert yang besar itu sangat berat dan cukup membuat nya susah.
Dan saat keduanya sudah di kamar mandi Anasya kembali membantu Robert untuk duduk di atas closet, dan setelah itu baru Anasya keluar dari kamar mandi.
Tapi baru dua langkah tiba-tiba Robert menahan tangan Anasya.
"Apa kau jijik dengan ku?" tanya Robert.
Anasya tidak menjawab, dia melepaskan tangan Robert dari tangan nya lalu melirik Robert.
"Jawab iya atau tidak." kata Robert lagi.
Anasya mengembuskan nafasnya panjang lalu menggelengkan kepalanya.
"Sebentar lagi akan ada pelatihan berjalan, anda harus mandi secepat nya " ucap Anasya, lalu keluar dari kamar mandi.
Robert menghembus nafasnya kasar melihat Anasya yang pergi tanpa memberikan jawaban dari pertanyaan nya, mata nya melihat pada kaki nya yang cidera itu.
"Mungkin jika aku sudah bisa berjalan dia akan bisa menerima ku." gumam Robert sambil membuka perlahan resleting celana nya.
Tapi sedetik kemudian Robert menggelengkan kepalanya, dia ingat akan janji nya untuk Anasya, dan Robert yakin jika dia sembuh nanti Anasya akan meminta untuk di lepaskan.
Tentu saja Robert tidak bisa melakukan nya, dia sudah ingin memulai kembali kehidupan nya, Robert ingin memiliki keluarga, meski sebenarnya dia tidak yakin jika Anasya mau memberikan kesempatan untuk nya memperbaiki semuanya.
"Aku harus mencari cara agar dia bisa tetap bersama dengan ku, entah kenapa saat memeluknya aku merasakan kenyamanan yang berbeda." ucap Robert lagi.
Sedangkan di kamar nampak Anasya yang sedang menyiapkan pakaian ganti untuk Robert, sesaat Anasya terdiam, dia melihat perutnya yang semakin bertambah buncit itu.
"Pagi sayang, kau tau nak Ayah mu dia akan segera bisa berjalan, dan setelah itu kita akan bisa keluar dari rumah ini, kita akan memulai kehidupan baru berdua sayang." gumam Anasya sambil mengusap perut nya.
Anasya sudah memutuskan untuk pergi, lagi pula saat Robert kecelakaan pria itu berjanji akan melepaskan nya jika dia sudah sembuh dan bisa kembali berjalan lagi.
Dan hal itu juga yang membuat Anasya bersemangat untuk membuat Robert sembuh secepat nya.
dia ingin hidup damai, tanpa ada Robert pria yang sangat dia benci di kehidupan nya.
Setelah selesai mandi dan berpakaian kini giliran makan, Robert yang melihat Anasya membawa makanan untuknya langsung mengambil alih piring nya.
__ADS_1
"Aku akan makan sendiri." kata Robert.
Anasya mengangguk, tapi saat dia akan pergi tiba-tiba tangan nya di tahan oleh Robert.
"Jangan pergi, temani aku makan." kata Robert.
"Saya masih memiliki pekerjaan lain tuan, saya juga harus menyiapkan ruang latihan dan __" ucap Anasya terhenti karena Robert menyela ucapan nya.
"Jangan beralasan, aku tau semua alasan mu itu kau buat untuk menjauhi ku." ucap Robert.
"Jika anda sudah tau lalu kenapa anda masih diam tuan? apa kah sekarang saya harus mendapatkan penyiksaan lagi?, atau mungkin anda ingin bermain seperti biasanya, baiklah saya akan melakukan nya." ucap Anasya dengan santai nya membuka pakaian nya.
Tapi saat akan membuka Bra nya tiba-tiba Robert memecahkan piring di tangan nya.
dan melihat itu bukan nya berhenti Anasya malah gila dan melingkarkan tangannya di leher Robert.
"Ini yang anda suka kan tuan, atau anda ingin gaya seperti biasa? kita sudah tidak melakukan nya sejak anda sakit bukan?" ucap Anasya mencium pipi Robert.
Melihat sikap Anasya yang seperti itu Robert langsung menarik Anasya hingga duduk di pangkuan nya.
dia membuang rasa sakit di kaki nya, dan tetap menahan pinggang Anasya yang seperti meminta di lepaskan.
"Kenapa kau tidak bisa di ajak bicara baik-baik hah!" kesal Robert.
Anasya tertawa mendengar nya.
"Bicara baik-baik? apakah seperti ini?" sahutnya menyebalkan.
keduanya sama-sama di landa rasa kesal yang membuncah.
Sampai akhirnya Robert melepaskan ciumannya dan menatap Anasya.
"Besok kita menikah." ucap Robert.
"Tidak, aku sudah punya kekasih." tolak Anasya.
"Kau pikir aku peduli, keinginan ku tidak bisa di tolak." kata Robert lagi.
Anasya menjauhkan tubuhnya dari tubuh Robert, lalu menatap Robert dengan wajah penuh kebencian nya.
"Dan kau pikir kau siapa bisa mengancam ku, lebih baik aku mati bunuh diri bersamamu sekarang di bandingkan aku harus menikahi pria gila seperti mu, tuan Robert." ucap Anasya dengan penuh penekanan, lalu keluar dari kamar dengan wajah menahan air matanya..
Robert mencoba berdiri, tapi sekuat tenaga dia berusaha untuk berdiri tetap saja Robert tidak bisa, dan dia malah merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa.
"Anasya tunggu, aku akan menikahi mu." teriak Robert.
Brukkk !!
Robert jatuh ke lantai, dia mencoba untuk menahan rasa sakit kaki nya dan merangkak ke arah pintu, tapi karena kakinya cidera membuat pergerakan menjadi lambat.
"Anasya!" panggil Robert lagi.
__ADS_1
Di dapur Anasya terduduk di lantai dengan wajah yang berlinang air mata, dia benci dengan takdir nya yang harus seperti ini, dia membenci Robert yang merusak kehidupan nya.
Tidak mudah untuk nya yang mendapatkan perlakuan tidak baik dan bisa sekali memaafkan Robert, Anasya adalah korban dia bukan hanya sakit luar nya saja, tapi jiwa nya juga terguncang setiap melihat Robert yang menatapnya dengan wajah lembut itu.
Dalam pikiran nya Anasya hanya satu yang selalu dia lihat dan dia bayangkan.
yaitu wajah menyeramkan Robert saat mengambil kesucian nya, dan senyuman Robert yang terlihat senang saat menyiksa nya di ranjang.
"Tidak, tidak..dia tidak akan membuat anak ku celaka, aku akan pergi aku akan pergi, aku tidak mau kehilangan bayi ku." gumam Anasya sambil mengusap air mata di wajahnya.
Anasya kembali ke kamarnya, dia melihat Robert yang terisak di lantai dengan mencium lantai.
"Dia pantas Anasya, dia jahat pada mu, itu adalah karma dari semua kejahatan nya." batin Anasya melirik Ribet dengan wajah kebencian nya.
"Anasya aku mencintaimu." tiba-tiba Robert mengatakan kata-kata omong kosong nya.
"Dan aku tidak mencintai anda tuan." balas Anasya memakai kembali pakaiannya.
Robert melihat Anasya dengan pandangan tidak bisa di artikan.
apalagi setelah melihat Anasya yang mengambil tas dan memasukan pakaian nya ke dalam tas.
"Kau mau kemana?" tanya Robert kaget.
"Ke tempat yang tentunya tidak ada yang bisa membuat ku takut." balas Anasya.
"Kau tidak bisa pergi begitu saja Anasya." kata Robert lagi.
Anasya melirik Robert, lalu tersenyum kecut.
"Kenapa tidak bisa? ini adalah kehidupan ku, dan anda hanya orang lain tuan, anda tidak bisa mengatur hidup saya." tegas Anasya.
Sebelum benar-benar pergi, Anasya mendekati Robert, lalu memberikan selembar surat yang entah apa isi nya.
"Saya pergi, dan setelah ini saya berharap saya bisa melupakan bajingan seperti anda." kata Anasya lalu berjalan pergi meninggalkan Robert.
Setelah kepergian Anasya Robert masih terdiam dengan posisi yang menyedihkan, tiba-tiba datanglah bodyguard nya yang langsung membantu Robert untuk duduk kembali di kursi roda.
"Ambilkan surat itu." kata Robert.
Pria itu melakukan nya, Robert yang sudah memegang selembar kertas itu langsung membaca nya.
dan setelah beberapa menit membaca tiba-tiba Robert melotot saat membaca tulisan terakhir di surat yang di berikan Anasya kepadanya itu.
"Aku akan memberikan mu waktu untuk mencari ku selama sebulan, dan itupun harus kau yang mencari ku bukan orang lain, tapi jika kau tidak bisa menemukan ku jangan salahkan aku jika anak kita yang ada di dalam perut ku akan menganggap Papa nya sudah mati!"
"ANASYA!!!!" Robert meremas surat itu.
__________
🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa like coment and Vote ya kak ♥️