
Kim yang tak membalas seruan Rukmi, berangsur mengecu*p kening Ryuna. Detik itu juga dunia Ryuna menjadi hening. Yang mana Ryuna juga berangsur menyalami tangan kanan Kim dengan takzim, dan lagi-lagi dibalas kec*upan oleh Kim. Kali ini, Kim mengabsen kedua pipi Ryuna.
“Ini aku enggak dikasih?” tagih Kim berbisik-bisik dan terdengar merengek bahkan itu di telinganya sendiri.
Kedua mata Ryuna menjadi sibuk mengerjap seiring jantungnya yang baginya mendadak senam. “Dikasih apa?!” bisiknya membalas Kim, meski ia mulai curiga, yang Kim maksud masih ci*uman. Karenanya, ia kembali menyalami tangan kanan Kim dengan takzim.
“Sudah sana pulang, hati-hati,” bisik Ryuna kali ini setengah mengusir.
Setelah sempat menahan tawanya, Kim yang masih menjabat tangan Ryuna sengaja merapatkan jarak wajah mereka hingga terjadilah ci*uman bibir yang benar-benar Kim inginkan. Ci*u*man bibir yang malah membuat Ryuna mendadak linglung.
Sementara di belakang sana, Rukmi yang diam-diam menyaksikan, menjadi menunduk sedih. Rukmi menghela napas berat sambil sesekali menatap berat kebersamaan Ryuna dan Kim di depan sana.
***
“Iya, enggak apa-apa. Diatur saja asal tetap terkendali, Mas. Andai semuanya pindah ke aula, jadi nanti bikin sekat saja pakai tirai apa gimana? Atau, para mahasiswa yang pindah ke rumah juga bisa apalagi tempat mandinya memang dekat penginapan putri,” ucap pak kades yang dengan mudahnya memberi restu.
“Terus kalau mbak Ryuna memang butuh tempat tinggal privasi, suruh tinggal di rumah kami pun enggak apa-apa. Nanti kami bilang, kalau kami sudah mengangkatnya sebagai anak,” yakin pak kades masih sangat ramah.
Ucapan Ramah pak kades barusan langsung disambut senyum ramah oleh Rukmi yang kebetulan melangkah di sebelah Kim mengikuti orang tuanya yang ada di depan mereka. Namun, kebaikan tersebut justru membuat Kim merasa aneh. Termasuk ketika ibu Miftah selaku istrinya pak kades, juga mendukung usul pak kades.
“Benar kata Ryuna, memang ada yang aneh. Tapi apa, ya?” pikir Kim.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali, setelah salat subuh bersama beberapa mahasiswi yang tidak sedang halangan, kecuali Sonya yang memang jadi bangun sesukanya, Ryuna sengaja langsung masak. Ia nyaris menggunakan telur dari Rukmi, tapi karena perubahan Rukmi yang mendadak jadi baik, ia jadi ngeri. Apalagi bukannya diberikan kepada mahasiswi lain, Rukmi baru memberikannya kepada Ryuna.
“Na, enggak jadi masak telor? Memangnya ini telur siapa yang beli?” tanya Sindy yang kebetulan sudah menemani sekaligus membantu Ryuna, dari awal mereka beres salat. Malahan, di sana mereka hanya berdua. Meski barusan, terdengar Rasjid dan Candra yang menawarkan bantuan.
“Kalau masu masak, masak saja, Ndy. Tapi aku enggak usah, ya. Soalnya memang lagi enggak makan. Lagi rawan jerawat!” Ryuna mengakhiri balasannya dengan senyum kikuk. Ia sengaja memberikan alasan yang baginya paling masuk akal. Lihatlah, Cindy langsung tersenyum semringah sambil mengangguk. Meski tak lama setelah itu, mahasiswi yang satu fakultas dengan Kim itu menanyakan kebenaran hubungan Ryuna dengan Kim.
“Benar, kalian pacaran?” ucap Cindy yang kali ini memang mendesak Ryuna.
“M-menurut kamu gimana kelihatannya?” ucap Ryuna belum berani memberikan balasan gamblang. “Namun harusnya kalau sebatas pacaran, harusnya ya boleh, kan?” pikirnya. Ia segera meninggalkan Cindy untuk memastikan nasi yang tengah ia masak dengan cara dikukus.
Hari ini Ryuna sengaja memenuhi wadah bekalnya. Mi goreng dan sayur kangkung teri menjadi lauk untuk bekal miliknya hari ini karena hingga akhir, Ryuna tetap tidak menyentuh telur yang Cindy dan anak-anak lain olah, hanya karena Ryuna takut diguna-guna Rukmi. Untuk jaga-jaga, Ryuna tak mau gegabah. Apalagi hari ini saja, di saat akan pergi kerja ke lapangan Rukmi sudah kembali datang. Seperti sebelumnya, Rukmi tak datang dengan tangan kosong. Wanita itu membawa nasi kuning yang sudah dibungkus-bungkus.
“Mbak Ryuna, yang kantong merah buat Mbak, ya!” sergah Rukmi sambil menunjuk kantong merah di meja berisi satu kotak nasi kuning yang wadahnya saja beda. Namun, ia sengaja memberikannya ketika tidak ada orang lain agar tidak mengundang perhatian.
“Makasih banyak yah, Mbak. Maaf ngerepotin,” ucap Ryuna yang sudah langsung pamit.
“Sudah langsung mau ngajar?” sergah Rumi masih bertahan di teras rumah mahasiswi KKN menginap.
“Iya, Mbak. Sistim ngajarnya kan dibagi-bagi ke lima tempat, dan kebetulan, saya masih ngajar sendiri karena rekan masih kurang enak badan.” Tentu yang Ryuna maksud Sonya. Karena jangankan menjalani KKN dengan semestinya, bangun saja, kadang Sonya baru melakukannya menjelang waktunya salat duhur.
Ryuna ke tempatnya mengajar dan itu di sebelah aula para mahasiswa, bersama Rasjid dan Candra. Keduanya khususnya Rasjid, memuji nasi kuning buatan Rukmi.
__ADS_1
“Tadi kalian enggak makan pakai tumis kangkung dan teri, sama mi goreng juga, ya?” sindir Ryuna.
“Emang ada?” balas Rasjid terheran-heran.
“Ada lah, kan aku yang masak!” balas Ryuna sambil menahan tawanya.
“Lah, kok kamu enggak bilang-bilang, kalau tahu kamu masak kangkung mana pakai teri, aku mau banget!” protes Rasjid.
“Puji Tuhan, ... Puji Tuhan, belum rezeki!” ucap Candra menenangkan sang teman.
“Ah Puji Tuhan belum rezeki, enggak bakalan bikin aku makan pakai sayur kangkung dan teri!” protes Rasjid, tapi ia sudah langsung diam ketika Ryuna menyodorkan kantong berisi satu plastik nasi, satu plastik mi goreng, dan juga satu plastik kangkung teri yang sangat diingini.
“Bagi-bagi ya. Aku memang sengaja masak lumayan banyak,” ucap Ryuna.
“Puji Tuhan ... Puji Tuhan, beneran dapat jatah dari Ryuna yang baik hati dan digosipkan pacaran sama bos Kim!” refleks Rasjid menirukan gaya Candra, dan sudah langsung membuat Candra maupun Ryuna yang disentil digosipkan pacaran dengan Kim, kompak mendelik.
Berangkat lebih awal dan sampai membawa bekal lebih banyak, selain Ryuna sengaja tidak sarapan dulu, memang sudah Ryuna rencanakan matang-matang agar dirinya bisa sarapan dengan sang suami. Tampak di depan dapur, Kim yang sedang memotong kacang panjang menggunakan pisau di atas talenan. Ryuna sengaja mendekati, melongok wajah sang suami sambil menahan senyumnya. Detik itu juga Kim sudah langsung kebingungan sekaligus salah tingkah.
“Kamu masak sendiri?” lirih Ryuna sambil menahan senyumnya.
“Masalahnya lagi LDR-an sama istri,” balas Kim menjawabnya dengan refleks dan tentu saja, tetap berusaha manis.
__ADS_1
“Wah, di sini nasi aja belum mateng. Untung kita tidur di tempat putri. Mana dikasih sarapan sebanyak ini. Mana Ryuna yang masak, pasti rasanya wuuuuuenak!” ucap Rasjid yang melangkah bersama Candra memasuki dapur dan baru saja melewati Kim.
Mendengar itu, Kim sudah langsung ketar-ketir. “Itu jatahku?!” protesnya lirih sambil mendelik kepada Ryuna yang malah menertawakannya.