
“Aku belum sempat bahas ini.” Ryuna membahas kalung berliontin bintang miliknya bertepatan dengan Kim yang baru keluar dari kamar mandi.
Aroma sabun sekaligus sampo yang begitu segar seketika menyeruak dari dalam kamar mandi yang baru saja Kim tinggalkan, terlebih pintunya dibiarkan terbuka begitu saja. Kim yang memakai kemeja lengan panjang putih dan juga celana panjang warna putih, terlihat makin tinggi sekaligus gagah, meski pemuda itu belum merapikan penampilannya.
“Itu memang buat kamu.” Sambil menahan senyumnya, Kim berkata, “Kejutan sebenarnya. Terkejut kan?”
Ryuna menggeleng pelan seiring ia yang menahan senyumnya. “Enggak terkejut sih, ... tapi bahagia banget. Kadang sampai takut, ... jangan-jangan, ini hanya mimpi?”
Mendengar itu, Kim sudah langsung tersipu seiring langkah santainya yang mengantarkannya tetap di hadapan Ryuna. “Kamu enggak mimpi, kok. Ini beneran nyata. Bersamamu, menikah denganmu sekaligus bahagia bersamamu, sudah menjadi bagian paling depan, dari sederet impian sekaligus tujuanku ada. Kita memang masih terlalu muda untuk mengarungi bahtera rumah tangga, terlebih bagi angkatan generasi sebaya kita yang kadang akan menjadikan pernikahan sebagai nomor sekian dalam kehidupan mereka. Namun aku yakin, bersamamu, kamu juga bisa sama-sama siap buat jalani ini semua. Baik suka ataupun duka, sebisa mungkin aku akan membuat semuanya baik-baik saja. Belajar dari yang sudah ada, Insya Allah kita bisa!”
Mendengar ucapan lembut tapi tegas dari Kim yang terdengar sangat manis, sepanjang itu juga Ryuna menatap kedua mata suaminya dengan senyum termanisnya. Wajah khususnya kedua matanya jadi berbinar-binar, kenyataan yang paling tidak bisa berbohong sekaligus menegaskan bahwa wanita itu sangat bahagia. Kebahagiaan yang murni Ryuna dapatkan dari sang suami.
“Kamu tinggal rias sama pakai gaun, kan?” ucap Kim sambil mengeringkan kepalanya menggunakan handuk kecil yang masih tersampir di bahu kanannya. Namun, Ryuna yang sampai berjinjit segera membantunya.
Ryuna yang memakai piyama panjang warna merah maroon polos, sementara kepalanya masih dibungkus handuk, berangsur menoleh ke belakang selaku keberadaan pintu masuk. “Bentar lagi harusnya.”
“Aku tunggu di kamar Brandon. Sekalian mau ngobrolin yang tadi,” ucap Kim yang sampai detik ini masih sangat manis.
__ADS_1
“Biasanya kalau ipar laki-laki bakalan lebih cocok sama ipar perempuan. Enggak tahu kenapa, tapi seperti ada kecenderungan tersendiri. Terlebih sejauh mengamati, Mas terlalu sempurna buat dicontoh sama adik-adik Mas. Bisa jadi sebenarnya adik-adik Mas merasa insecure karena mereka merasa enggak bisa seperti Mas, apalagi bisa lebih baik dari Mas,” ucap Ryuna sambil terus mengeringkan kepala sang suami. Demi mengimbanginya, Kim sampai membungkuk-bungkuk. Namun baru saja, pria itu mengangkatnya kemudian menaruhnya di kursi rias.
Kim membiarkan Ryuna berdiri di kursi rias agar tinggi mereka seimbang dan ia tak harus membungkuk-bungkuk hanya agar Ryuna mengeringkan rambutnya dengan leluasa. Kini, justru Ryuna yang menahan tawanya sambil merampungkan tujuannya yaitu membantu sang suami mengeringkan kepala.
“Jadi nanti ngobrolnya biasa saja yah, Mas. Biar enggak terlalu spaneng,” lanjut Ryuna dan Kim langsung membalasnya dengan bergumam sekaligus mengangguk santai.
Beberapa saat kemudian, Kim sengaja membawa satu kantong pakaian miliknya dan memang tergantung di hanger. Sementara Ryuna yang ia tinggalkan sudah langsung menjalani rias.
Di tempat berbeda, di sebuah kamar, Kim merapikan penampilannya sendiri. Merapikan kancing lengan kemeja, memakai dasi kemudian merapikan kerah. Gaya rambut juga sengaja ia tata sendiri menggunakan pelumas rambut, tapi Calista dan Boy yang sudah kompak memakai nuansa merah muda mendadak sibuk mendandaninya.
Tak jah dari mereka, tampak Boy yang membuka kantong pakaian berhanger yang tadi Kim boyong dari kamar hotel Ryuna berada. Kantong pakaian tersebut berisi jas putih lengkap dengan dala*mannya.
“Wahh ... targetku pakai yang begini, nanti pas usia dua delapan apa tiga puluh lah,” ucap Boy menatap takjub paket jas yang akan dipakai oleh sang kakak. Ia yang sudah memakai setelan jas hitam, sengaja menatap Kim sambil mengepaskan jas putih tersebut ke tubuhnya sendiri. Dan seperti biasa, Kim yang kali ini terlihat sangat bahagia, jadi makin sulit mengakhiri senyumnya.
“Di usia kapan pun kalian menikah, siapa pun calon yang kalian pilih, kalian wajib tanggung jawab jadi pasangan yang baik, bahagiakanlah pasangan kalian!” ucap Kim yang kemudian memeluk Calista, kemudian membenamkan wajahnya di wajah kiri adiknya itu.
Sekitar setengah jam kemudian, Ryuna sudah siap dengan penampilannya yang benar-benar memukau. Gaun putih muslimah dan juga jilbab berwarna senada. Namun, baru Ryuna sadari, dirinya yang jadi mirip bidadari karena memang sangat cantik, juga jadi mirip pengantin.
__ADS_1
“Masya Allah banget ini. Padahal tanpa make up tebal ... dan—?” batin Ryuna yang perlahan menoleh ke belakang. Ke arah pintu lantaran seseorang dari luar sana dengan begitu mudah membuka pintu bahkan ... melangkah masuk.
Sepasang sepatu pantofel putih berangsur mendekat, dan perlahan kedua mata Ryuna yang masih mengawasi sosok tersebut, beranjak naik. Dari bentuk sekaligus ukuran sepatu dan kaki juga aroma parfum yang menyelimuti, Ryuna yakin itu sang suami. Hanya saja, penampilan Kim yang mendadak sememukau sekaligus sangat tampan, membuat dunia seorang Ryuna seolah berhenti berputar. Hanya sosok Kim yang menjadi satu-satunya yang hidup dan kini tengah melangkah menghampirinya, dan itu pun dengan gerakan yang seolah mengalami adegan slow motion.
Ryuna yakin, tampangnya yang sudah sangat cantik mengalahkan bidadari, mendadak terlihat bo*doh hanya karena ia terlalu mengagumi ketampanan sekaligus kesempurnaan suaminya sendiri. Dan ia hanya tersipu malu, ketika Kim yang penampilannya sudah mirip pangeran dari kerajaan besar, mau-mau saja jongkok sambil tersenyum santai memandangi wajahnya.
“Kamu percaya, ibu sama bapak lagi senyum dan beneran sulit berhenti tersenyum hanya karena mereka yang ada di Surga, sibuk memperhatikan kita. Kamu yang Masya Allah secantik ini,” ucap Kim sambil mengusap lembut kedua sisi wajah sang istri yang sudah langsung jadi berkaca-kaca menatapnya. Kim yakin, kenyataan tersebut terjadi karena ia membahas orang tua Ryuna.
“Apalagi kalau kamu juga bahagia, ibu dan bapak pasti lega. Mereka pasti bisa beristirahat dengan tenang. Jangan nangis—” Kim sudah langsung mengelap kedua sudut mata Ryuna.
“Aku bahagia ... aku sangat bahagia, Mas!” yakin Ryuna dan langsung disambut senyum lepas oleh Kim. Terakhir, ia membiarkan sang suami memasangkan sepatu berhak cukup tinggi.
Tak ada yang aneh ketika Ryuna yang masih digandeng sekaligus mendekap sebelah lengan Kim menggunakan kedua tangannya, mengikuti tuntunan sang suami. Mereka berhenti di depan pintu yang dijaga oleh seorang pria dewasa berseragam hitam, dan langsung menyapa mereka dengan senyuman sangat ramah. Namun ketika pintu dibuka, mendadak ada yang meledan, sementara di dalam sana kompak berseru, “Happy Wedding!” Bersama kertas warna-warni yang melesat di depan Ryuna dan Kim.
“Kejutan ...?” batin Ryuna yang benar-benar terkejut dan perlahan menoleh, mendongak untuk menatap suaminya yang langsung tersenyum lebar.
Padahal saking terkejut dan perlahan gugup, Ryuna sampai gemetaran. Namun, Kim dengan santainya tersenyum bahkan membalas ucapan selamat dari dalam sana, dengan senyum lepas. Kim melambaikan tangan yang tidak didepan Ryuna pada mereka dan tampak sangat bahagia.
__ADS_1