Saling Cinta Setelah Menikah

Saling Cinta Setelah Menikah
57 : Akan Menjadi Anak Spesial


__ADS_3

“Jangan takut!”


Itulah yang pak Helios katakan kepada sang menantu bersama tangan kanannya yang menyentuh bahu kanan Ryuna. Iya, bahu—posisi yang diketahui menjadi sumber beban seseorang. Seseorang akan langsung menumpahkan kesedihan sekaligus emosinya ketika bahunya dipegang apalagi dielus—diberi perhatian. Terbukti, Ryuna yang awalnya tampak tegar sekaligus menahan ketakutan, sudah langsung menitikkan air mata.


“Ryuna ...?”


“Enggak, Pah. Aku beneran baik-baik saja. Ini ... ini aku cuma terlalu kaget saja,” ucap Ryuna terpaksa berbohong sembari menyeka cepat air matanya menggunakan kedua jemarinya. Ia tidak memiliki keberanian menceritakan apa yang ia alami dan sudah berjalan lebih dari tiga hari, meski pak Helios sangat perhatian kepadanya.


“Sini ... sini. Jangan gitu dong. Kamu anak Papah, jadi kalau memang ada apa-apa, ya cerita.” Pak Helios memutuskan untuk mengantongi ponselnya ke dalam saku sisi kiri celananya karena ia memberikan pelukannya kepada Ryuna.


Dalam dekapan pak Helios, tangis yang sebelumnya sudah payah Ryuna singkirkan justru tersambung. Hatinya terenyuh karena perhatian sang papah mertua yang terus memperlakukannya layaknya anak kandung.


“Kenapa, Pah?” ujar Kim dengan penampilannya yang terbilang berantakan, khas setiap ia pulang kerja. Dari rambut yang berantakan, juga lengan panjang kemejanya yang sudah tersingsing lebih dari siku.


Malahan meski sama-sama baru pulang kerja layaknya Kim, penampilan pak Helios jauh lebih rapi. Pak Helios masih memakai dasi, jas, dan juga lipatan kain berbentuk hati, berwarna di saku bagian dada jas sebelah kanannya, dan setiap harinya selalu diatur khusus oleh sang istri.


Kim mempercepat langkahnya sambil menenteng tas gendongnya dan menjadi tas kerjanya. Antara khawatir tapi juga cukup cemburu mengingat meski sudah tidak muda, papahnya tetap keren dan tak jarang, ada saja yang menyebut pak Helios sangat cocok jadi ‘S-ugar Daddy’.

__ADS_1


“Sejak kapan kamu bisa lihat yang enggak sembarang orang bisa lihat, Mbak?” tanya pak Helios yang duduk di sofa tunggal, menghadap Ryuna yang sudah duduk bersebelahan dengan Kim di sofa panjang.


Bukan hanya Ryuna yang terkejut. Karena Kim yang paham maksud dari pertanyaan sang papah juga refleks menatap khawatir sang istri.


“Sudah enggak apa-apa, cerita saja Mbak. Mas, istrimu ketakutan bisa lihat yang enggak sembarang orang lihat, kamu enggak tahu?” lanjut pak Helios.


Kim sudah langsung tidak bisa berpikir. Ia yang awalnya hanya menggenggam sebelah tangan Ryuna, berangsur merangkulnya. “Kamu enggak cerita?” tanyanya dengan suara lirih.


Ryuna mendadak merasa tersudut, serba salah. Ia belum memiliki keberanian untuk menceritakannya. Terlebih, yang ia lihat bukan hanya sosok pria bersahaja. Malahan, sosok tersebut yang akan menyingkirkan sosok-sosok tak kasat mata lainnya dan kebanyakan, berwujud lebih dari menyeramkan. Karena saat di kamar dan sedang duduk santai di tempat tidur saja, tiba-tiba ada wanita bertubuh besar, rambutnya panjang berantakan, dan sosok tersebut hanya menutupi tubuh bagian bawahnya. Jadi, tubuh bagian atas termasuk payu*da*ra sosok tersebut yang ukurannya sangat besar panjang hingga menyentuh lutut, kelihatan. Ryuna berpikir, sosok tersebut merupakan wujud nyata dari apa itu yang disebut wewe gombel.


Sempat berpikir sosok wewe gombel tersebut justru bagian dari pesugi*han keluarga Kim yang kaya raya, nyatanya sosok tersebut bukan satu-satunya yang mendekati Ryuna. Karena saat di perjalanan bahkan di mini market pun, Ryuna jadi bisa lihat penampakan lainnya. Hanya saja, ketika sosok pria bersahaja serba putih datang, semua makhluk menyeramkan itu langsung pergi. Meski kadang, ada saja yang sampai harus membuat Ryuna ketakutan dulu, benar-benar bandel, dan salah satunya yang paling bandel itu si wewe gombel.


Dalam dekapan Kim, Ryuna yang masih takut, memang ragu dan belum memiliki keberanian.


“Gimana sih, Pah? Kok istriku digangguin?” ujar Kim yang jadi makin erat menggenggam kedua tangan istrinya. Kedua telapak tangan Ryuna sampai basah oleh keringat. Menandakan bahwa istrinya memang tidak baik-baik saja.


“Dulu waktu mbahnya Kim hamil Papah, ya kejadiannya gitu mirip kamu, Na. Papah kan memang bisa lihat yang tak kasat mata, meski sejak usia enam tahun, memang sengaja ditutup. Enggak tahan soalnya ... ya memang takut banget. Namun lima tahun terakhir, kok kebuka lagi dan pas jemput kalian ke tempat KKN, desa di sana kan enggak kelihatan. Pilotnya sampe muter beberapa kali. Barulah setelah Papah turun tangan dan lihat kasih rambu-rambu di sebelah pilot, baru kami sampai. Itu desa kalian KKN beneran enggak terdeteksi ... nih Papah jadi merinding.” Pak Helios juga menceritakan dirinya yang yakin bertemu dengan sosok ki Awet. “Dia nyusul kalian pas kalian mau ke kamar mandi. Ya sudah, beneran enggak ada ampun dan Papah hukum dia.”

__ADS_1


Menghela napas dalam, kemudian pak Helios berkata, “Ya dijalani saja, yah, Mbak. Adanya begitu, tapi Insya Allah, uyut tadi pasti selalu lindungi kamu. Sepertinya, anak kalian memang istimewa dan sana sini pengin banget ... memilikinya. Lebih sering dibacakan doa saja. Lebih rajin salat sama ngajinya. Kalau Mbak memang takut karena mereka pasti bakalan terus ganggu, kalau bisa memang jangan pernah sendiri. Ikut kerja ke Kim apa ke mamah juga oke. Atau malah mau main ke rumah oma opa juga enggak apa-apa. Solusinya gitu saja ya. Mmm, jadi enggak sabar, dia beneran istimewa loh. Wah! Coba sini lihat!” ucap pak Helios, tapi tentu ia tidak sampai membuka perut Ryuna. Ia hanya mengelus perut Ryuna yang memang masih rata, tapi itu saja sudah sangat membuatnya bahagia. Karena dengan kata lain, janin tersebut akan terlahir dan memiliki kemampuan istimewa.


“Anak-anak enggak ada, eh ternyata turun ke cucu pertama,” ucap pak Helios yang sudah langsung heboh kepada sang istri.


Ibu Chole yang baru pulang dan memang tipikal bar-bar rame tak bisa diam, juga langsung tak kalah heboh. “Masyaaa Allah. Tapi, ... ya kasihan juga sih kalau tiap saat harus lihat yang gitu dan parahnya niatnya enggak baik. Iya kalau bisa diajak ngopi apa ngeteh santai Mbak. Bilang saja, boleh datang tapi jangan macam-macam, jangan ganggu!” ucap ibu Chole yang juga turut meraba perut Ryuna. Ia membuat sang suami minggir duduk di belakangnya. “Eh, Pah. Mamah mendadak merasa jadi oma terkece! Hahaha! Semoga kalau cowok, gantengnya—”


“Gantengnya kayak aku lah, Mami Brokoli sayang!” ucap kak Ojan yang datang memboyong keluarga kecilnya.


“Innalilahi ... innalilahi!” refleks pak Helios sudah langsung siaga jongkok di depan perut Ryuna. Ia komat-kamit melafalkan banyak doa agar harapan kak Ojan barusan tidak terwujud.


Detik itu juga tatapan Ryuna dan Kim bertemu. Ryuna menatap Kim dengan tatapan bergetar menahan rasa takut sekaligus bahagia atas kabar baik dari kejadian tak nyaman yang Ryuna alami.


“Enggak apa-apa. Mulai sekarang, semuanya bakalan bantu jaga kamu sama baby. Baby pun pasti bakalan jaga kamu. Sekelas uyut saja juga jagain kamu, kan?” ucap Kim berusaha berbisik-bisik kemudian menenggelamkan kepala sang istri di dadanya.


“Mas, istrimu kenapa? Istrimu takut ke papahnya Rain, ya?” tanya Rere khawatir, tapi Kim yang ia tatap malah menahan senyum kemudian menggeleng.


“Maiwaifi ih jahat banget. Memangnya aku hantu apa, Ryuna sampai takut aku?” ujar kak Ojan yang memang tak segan duduk di lantai depan Kim lantaran sengaja kepo pada apa yang pak Helios lakukan.

__ADS_1


“Anakku akan lahir menjadi anak spesial? Bismilah aku bisa jaga ... iya, aku pasti bisa apalagi semuanya kompak dukung!” batin Ryuna yang berusaha untuk terbiasa dengan sosok-sosok yang mengganggu karena menang menginginkan jabang bayi dalam perutnya dan pak Helios yakini memang akan lahir istimewa.


__ADS_2