
“Kim?” batin Ryuna yang ada di sana. Ia yang tengah di dapur bersama dua mahasiswi, refleks melongok sosok tegap di sana. Ada yang datang menggunakan helikopter dan itu mencari Kim!
“Pah?!” seru Kim.
Detik itu juga Ryuna refleks menelan cairan yang menghiasi tenggorokannya. Alasan yang juga buru-buru membuatnya melongok pada sosok yang Kim panggil “Pah!”
“Ini enggak bener, ini. Suamiku ngakunya anak petani dan kadang bapaknya sengaja kerja ke ibukota buat jadi kuli bangunan,” batin Ryuna. Namun yang ia lihat, sang suami sudah berpelukan dengan sosok yang wajahnya sangat mirip dengan Kim. Seorang pria dan Ryuna prediksi berusia di akhir kepala lima.
Pak Helios, dan tidaklah lain merupakan papah kandung Kim—baca novel : Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta yang Kejam, membingkai wajah anaknya erat menggunakan kedua tangan.
“Pih, kacamata hitamnya dilepas, biar wajah Broder enggak kelihatan hitam!” seru pak Ojan, di belakang sana. “Hai adik-adik, nama saya Kakak Kim Oh Jan. Saya kakak sedikit dimiripkan dengan Broder Kim. Sini pada salim dulu, biar terhindar dari malaikat Izrail!”
Mendengar itu, Kim yang sempat terdiam serius, berangsur menoleh ke belakang. Detik itu juga ia mendapati sosok Ojan atau itu sosok yang mengaku sebagai Kim Oh Jan, sungguh tengah disalami oleh setiap rekan KKNnya. Kenyataan yang juga membuat Kim tidak bisa untuk tidak tertawa karena sekadar melihat wajah sosok Ojan dan kiranya hanya belasan tahun lebih muda dari ki Awet, sudah membuatnya sibuk tertawa.
Di tengah tawa sang putra, pak Helios yang masih sangat rindu meski mereka jelas sedang berhadapan, dan kedua tangan Helios juga menahan kedua lengan Kim, kembali memeluk erat Kim. Namun karena dari belakang dan itu Rasjid mendadak berseru, memanggil Kim dengan sebutan Bos, Kim segera menoleh.
__ADS_1
“Kim Oh Jan, dukun sakti yang akan melawan Ki Awet?” ucap Rasjid berbisik-bisik, berkode melalui komat-kamit, tapi sekelas Kim yang levelnya sudah lebih teliti dari mafia andal, juga langsung paham.
Sambil tertawa, Kim yang masih dipeluk sang papah berkata, “Lebih dari sakti sih, setahuku!” Ia dapati, Rasjid yang sudah langsung terpukau, tersenyum lepas dan tampak sangat lega. Rasjid sampai mengacungkan kedua jempol tangannya kepadanya.
“Pah, itu lihat pada tunduk nyalamin Kak Ojan, satu persatu, berasa lagi sungkem ke sesepuh!” lirih Kim kepada sang papah sambil terus cekikikan.
“Yang penting dia seneng dan enggak berisik. Soalnya suruh berdiri enggak boleh duduk pas di helikopter tadi, dia mau-mau saja. Asal diangkut. Malahan minta naiknya di atap atau malah baling-baling!” ucap pak Helios terdengar setengah jengkel.
Tawa bahagia Kim seketika berubah ketika ia memergoki Ryuna ada di antara mahasiswi yang memperhatikannya di belakang pak Helios. Setelah sempat kebingungan, ia sengaja berbisik-bisik ke telinga sang papah, menjadikan kedua tangannya sebagai pelengkapnya agar apa yang ia katakan benar-benar rahasia.
“HAH ...?!” Pak Helios benar-benar terkejut dan langsung menoleh ke belakang. Tak lama berselang, Kim juga dengan bangga menghampiri, membawa Ryuna kemudian mengenalkannya kepada Ryuna.
“Haha? Beneran papah? Katanya anak petani bahkan tukang atau itu kuli bangunan. Ini sih enggak ada cocok-cocoknya jadi petani apalagi kuli bangunan. Malahan mirip bos besar,” batin Ryuna terheran-heran, tapi ia tetap menyalami tangan pak Helios dengan takzim. “Tangannya saja lembut, hangat, wangi begini!” batinnya lagi, sibuk bercocoklogi karena apa yang Kim katakan sangat bertentangan dengan keadaan pak Helios.
Yang membuat Ryuna makin aneh, sosok pria tua dan itu lebih tua dari pak Helios, malah mengaku sebagai kakak Kim dan bernama Kim Oh Jan!
__ADS_1
“Lawak sih ini. Masa aki-aki ngakunya jadi kakak? Tapi kalau ke kakek Kim Oh Jan, eh maksud aku Kak Kim Oh Jan, nah ... wajah sama tampangnya cocok jadi orang susah, masalahnya dia enggak ada mirip-miripnya sama Kim, dan Kim mirip banget sama yang dipanggil papah dan sekarang sudah merangkul aku juga,” batin Ryuna lagi. Lebih tepatnya, pak Helios merangkulnya maupun Kim, secara bersamaan.
“Nya Sonya ... memangnya Kim anak orang tajir, ya?” bisik Tiwi kepasa Sonya. Karena sampai sekarang, semenjak disidang subuh tadi akibat ia yang keceplosan, semuanya kompak menjauhi mereka. Mereka sungguh sudah langsung dikucilkan dan itu disebut yang lain secara terang-terangan, sebagai balasan dari apa yang telah Sonya maupun Tiwi lakukan.
Tanpa bersuara, Sonya yang masih merasa sangat malu sekaligus tertekan, berangsur mengangguk-angguk.
Tak beda dengan Tiwi, Dodo yang sempat Kim tab*ok menggunakan cek juga makin penasaran. “Ngakunya anak petani yang kadang serabutan nguli kerja bangunan, lah ke sini kok pakai helikopter. Masa iya, keluarga Kim haus dengan kehidupan hedon?” pikir Dodo masih belum bisa percaya, dan memang tidak bisa menerima kenyataan jika Kim justru lebih kaya darinya. Karena jika sampai helikopter yang dibawa pak Helios benar milik keluarga Kim, atau setidaknya keluarga Kim mampu menyewa, dengan kata lain, kemungkinan Kim lebih kaya darinya, benar-benar terbentang luas.
Jujur, Ryuna masih sanksi, dan memang sudah langsung tidak bisa mengugkapkan perasaannya. Namun kenyataan Kim yang tetap mengakuinya, memperkenalkannya kepada pak Helios secara khusus, selain pak Helios yang sudah langsung memeluknya erat layaknya pelukan yang pria paruh baya itu lakukan kepada sang putra, itu sudah lebih dari cukup. Selebihnya, Ryuna akan meminta penjelasan di waktu yang tepat. Ryuna tak mau naif apalagi bertindak bo*doh hanya karena suatu hal yang membuatnya merasa dibohongi, sementara sejauh ini, Kim sangat tanggung jawab kepadanya.
“Papih, ini kok aku enggak dipeluk?” protes Ojan.
“Kamu peluk helikopter saja. Atau itu peluk pohon kelapa kan banyak di luar!” singkat pak Helios tak mau ambil pusing, meski ucapannya terbilang kejam bahkan di telinganya sendiri.
“Ahhh ... Papiiiii, aku mau pelukan berjamaah juga, biar mirip kartun ‘labis-labis’ yang selalu berpelukan dan aku jadi Poh yang paling imut!” rengek Ojan memaksa bergabung berpelukan. Setelah kebingungan mengelilingi pak Helios yang masih memeluk Kim dan Ryuna secar bersamaan, ia nekat memeluk erat punggung Helios. Terus begitu mesk Helios berdalih, memintanya berhenti karena ulahnya membuat pria itu geli.
__ADS_1
Beberapa warga akhirnya berdatangan. Mungkin efek helikopter yang menimbulkan suara sekaligus angin berlebihan dari baling-balingnya. Terlebih jangankan warga setempat tanpa terkecuali pak RT si paling sensi, sekelas peserta KKN saja sampai tak bisa berkata-kata. Karena bagi peserta KKN termasuk itu Ryuna, apa yang menyelimuti kedatangan papah Kim benar-benar di luar nurul alias di luar nalar karena sejauh ini, Kim mengaku sebagai anak petani atau malah kuli bangunan!
Namun, bukan hanya Kim yang merasa puas pada tanggapan heboh sekaligus terkejut dari pak RT yang terkagum-kagum mengawasi helikopter di depan sana. Karena Ryuna yang jujur saja geregetan, gemas tingkat kabupaten ke bibir pak RT dan ingin mencubitnya menggunakan tang panas, juga merasa sangat puas!