
Ryuna sudah langsung panas dingin bahkan berkeringat, hanya karena langkah kaki Kim ia sadari terdengar mendekat. Dan Ryuna benar-benar hanya bisa pasrah ketika Kim mendekapnya dari belakang. Dekapan yang makin lama makin erat, yang mana Ryuna buru-buru menarik handuknya ke atas, ketika Kim mencoba menariknya ke bawah.
Ulah Ryuna membuat Kim terkejut dan berakhir menertawakannya. Kim melongok sekaligus menatap wajah Ryuna yang sudah langsung menatapnya dengan tatapan sebal.
“Mandi dulu Mas, sambil ... aku siap-siap dulu. Soalnya aku beneran belum siap!” Di akhir ucapannya, Ryuna sengaja mengomel dan kian membuat Kim terbahak. Meski pada akhirnya, lagi-lagi Kim justru memeluknya.
“Mandi bareng saja, ya. Kamu sudah kena keringatku lagi!” ucap Kim meyakinkan, tapi Ryuna buru-buru kabur dari sana sambil mendekap kuat handuknya.
“Na ...,” panggil Kim di sela tawanya.
“Sudah malam, Mas,” lirih Ryuna benar-benar pasrah dan menjadi melangkah sambil menunduk.
“Sebentar kok. Paling enggak ada sepuluh menit!” mohon Kim.
Ryuna terpejam pasrah seiring kedua kakinya yang berhenti melangkah. Mundur malu, maju dan mengabaikan, ia juga merasa bersalah bahkan berdosa. Karenanya, ia sengaja menoleh. Membuatnya mendapati Kim yang awalnya murung sudah langsung ceria. Kim mengangguk-angguk dan jelas menuntunnya untuk segera menghampiri pria itu.
Walau malu sampai ubun-ubun dan membuat tubuhnya makin panas dingin sekaligus berkeringat, Ryuna memberanikan diri untuk putar balik sekaligus menghampiri sang suami. Ia melakukannya sambil terus menunduk, memegang kuat-kuat ujung handuk bagian atasnya dan ia taruh di tengah-tengah dada.
Kim sudah langsung menyambut Ryuna dengan rangkulan mesra, seiring wajahnya yang sudah langsung menempel ke wajah Ryuna, sesaat setelah bibir mereka lebih dulu menempel. Ryuna segera memejamkan kedua matanya, berusaha mengimbangi Kim sekaligus menikmati apa yang terjadi. Kejadian yang juga langsung membuat kehidupan mereka seolah berhenti berputar.
Terbawa suasana dengan perlakuan lembut Kim, kedua tangan Ryuna refleks mendekap erat tengkuk Kim hingga membuatnya agak berjinjit. Kendati demikian, ci*uma*n mereka terus berlanjut. Memnag bukan c*iu*man yang menggebu, melainkan ciu*ma*n yang benar-benar lembut, tapi sangat manis sekaligus berkesan. Namun tak lama kemudian, kedua mata Ryuna mendadak terbuka, dan kedua mata Kim yang masih terpejam langsung memenuhi pemandangannya. Kenyataan tersebut terjadi bukan karena c*ium*an mereka. Namun karena handuk yang awalnya menutupi tubuhnya justru lolos dan kenyataan tersebut dikuatkan dengan kenyataan Ryuna yang makin kedinginan.
Ryuna berangsur menyudahi ci*uma*n mereka, memastikan keberadaan handuknya yang benar-benar lolos dari tubuhnya. Yang mana ia juga buru-buru menggunakan kedua tangannya untuk menutup mata Kim, lantaran pemuda itu juga hendak memastikan apa yang sedang Ryuna perhatikan.
“Aku pengin lihat, ih!” rengek Kim sambil menahan tawanya.
Tawa Kim sudah langsung menular kepada Ryuna. Kedua pasangan yang masih malu-malu itu masih berusaha mencari suasana yang tepat.
__ADS_1
“Enggak apa-apa, ih Na. Itu punyaku ....”
“Mas ih ... rasanya malu banget! Lihat, tatap mata aku. Saking malunya, aku sampai nangis meski aku juga ketawa!”
“Kok aku lupa buat beli test pack, ya? Terus pas hamil muda, aman enggak kalau tetap ‘berhubungan’?” ujar Kim yang hendak jongkok tapi buru-buru Ryuna rangkul hingga kedua sejoli itu kembali cekikikan. Malahan, kali ini baik Kim bahkan Ryuna sampai tertawa lepas. Mereka sampai lemas dan merasa konyol pada apa yang mereka lakukan.
“Jail banget ih Mas ... dibilang aku sudah sampai nangis, eh sengaja!” rengek Ryuna sengaja mendekap sampai berjinjit, guna membuat sang suami tidak melongok mengelilingi tubuhnya yang benar-benar tanpa pelindung. Kini saja walau sudah dihalangi wajahnya, Kim masih usaha untuk melongok ke belakang bawah atau malah depan bawah.
Namun, Kim yang kesal usahanya selalu dihalang-halangi, sengaja membopong tubuh sang istri. Detik itu juga Ryuna langsung histeris karena terlalu syok sekaligus malu. Namun seperti sebelumnya, Kim yang kali ini memboyong tubuh sang istri ke tempat tidur, sudah langsung sibuk menertawakannya.
Kim merebahkan tubuh Ryuna sangat hati-hati ke tempat tidur. “Sebenarnya aku pengin banget, tapi aku tahu kamu sudah kedinginan.” Kim menyelimuti tubuh Ryuna. “Aku pinjam baju Lista dulu buat kamu.”
“Bajuku kan ada di ransel,” sergah Ryuna ketika sang suami sudah bersiap meninggalnya.
“Semua yang dari KKN sengaja aku sterilin dulu. Besok dicuci dulu!” sergah Kim tetap pergi.
Di sepertiga malam, Ryuna bermimpi. Dalam mimpinya, Ryuna berlari di tengah hutan dan tengah dikejar-kejar. Ryuna yang kerap menoleh ke belakang, sudah sampai kuyup keringat. Rambutnya yang tergerai sekaligus jaket almameternya juga tak luput dari keringat, basah.
“Ryuna ....” Suara menyeramkan dan terus terulang itu terdengar sangat nyata.
“Ryuna ... jangan pergi. Tolong jangan pergi. Tunggu dan sembuhkan aku dulu!”
Kali ini suara perempuan. Suara perempuan terbilang berat sekaligus tak asing. Iya, Ryuna yakin dirinya kenal kedang pemilik suara tadi.
“Ryunaaaaa!”
“Arrrrrgggh!” Ryuna terbangun sambil menjerit histeris. Bukan hanya tubuh dan juga rambutnya yang kuyup keringat. Karena kedua matanya juga sampai basah.
__ADS_1
“Na ...?” Kim yang refleks terbangun, segera membingkai wajah istrinya menggunakan kedua tangan. Selain menangis dan basah orang keringat, sang istri juga tampak sangat ketakutan.
“Mas ....” Ryuna memeluk Kim walau suaminya itu belum melakukannya lebih dulu.
Mengenai mimpi Ryuna barusan, Ryuna mengenali lokasi kejadian mimpinya berada di hutan dirinya sempat menjalani KKN.
Mendekap Ryuna, Kim merasakan ketakutan yang begitu besar. “Kita baca doa dulu. Kita baca doa biar kamu enggak mimpi b*u*ruk lagi.”
“Tadi mimpinya terasa nyata banget, Mas!” yakin Ryuna seiring ia yang mengeratkan dekapannya kepada Kim.
Karena Ryuna terus menunduk, Kim sengaja mengimbangi, meletakan wajahnya di bawah wajah Ryuna. “Na ...?”
“Di hutan ... hutan sekitar pohon kolang-kaling. Aku lari kencang banget, tapi ada yang minta tolong. Suaranya wanita. Serem banget, Mas!” cerita Ryuna.
“Kamu kenal suara wanita itu?” balas Kim masih membiarkan wajahnya ada di bawah wajah sang istri.
Setelah terdiam mencoba mengingat mimpinya yang teramat mengerikan, Ryuna yakin, bahwa itu memang suara ....
“Yang mau mencelakai anak kalian memang pihak pak kades. Papah tahu itu pas kami salaman. Sementara doa Papah cuma satu, balikin saja siapa yang mencoba gu-n*a-gu*na ke cucu Papah. Bisa jadi, mimpi kamu itu ya karena anak pak kades justru kena dan hasilnya beneran fatal seperti akibat yang harusnya anak kalian alami andai pertolongan tak segera didapatkan,” ucap pak Helios, di pagi harinya, ketika mereka hanya bertiga, di lantai atas rumah. Di sana, mereka sengaja berjemur sambil mengobrol serius karena biar bagaimanapun, ada orang lain di rumah mereka dan mereka tak mau kejadian KKN sampai tersebar.
“Terus gimana dong, Pah?” sergah Kim masih merangkul Ryuna.
“Ya sudah, enggak apa-apa,” yakin pak Helios.
“Enggak apa-apa gimana? Kalau ngejar-ngejar lewat mimpi gimana? Aku sendiri pasti juga enggak tenang,” balas Kim terlalu khawatir. Terlebih setelah mimpi itu saja, Ryuna sampai tidak tidur lagi.
“Habis ini sama nanti malam, Papah bantu wirid. Kalian pun wajib. Sekarang kita siap-siap buat sambut kepulangan mamah, ya!” balas pak Helios yang sudah langsung tersenyum manis kepada Kim maupun Ryuna.
__ADS_1
“Mamah mas Kim dan keempat adiknya bakalan pulang. Ya Alloh, deg-degan banget!” batin Ryuna. Dikejar-kejar set*a*n berwujud Rukmi saja sudah membuatnya takut setengah mati. Apalagi kini ditambah dengan pertemuannya dengan mamah sekaligus adik-adik Kim!