
Ryuna yang sudah rapi dan menutup kepalanya dengan kerudung merah jambu tengah menatap saksama koleksi lipstiknya di kotak khusus. Pilihannya jatuh pada lipstik warna merah jambu dan ia segera mengaplikasinya ke bibir yang sebelumnya sudah ia beri lip balm.
Terdengar suara pintu kamar mandi yang dibuka dari dalam. Kim yang memakai kemeja lengan panjang warna merah jambu selaras dengan pakaian sang istri langsung bengong melihat apa yang tengah Ryuna lakukan di depan cermin rias.
“Eh, Bumil ... bumil ngapain poles-poles bibir begitu?” ucap Kim serius tapi perlahan tersipu. Kedua tangannya yang awalnya berhenti mengeringkan rambut menggunakan kedua tangan sekaligus handuk kecil, kembali sibuk. Ia menghampiri sang istri yang perlahan tertawa kecil sambil menatapnya, meski setelah tepat ditegur beberapa saat lalu, istrinya itu sudah langsung kebingungan.
“Yang penting bukan warna merah terang, kan? Lagian nanti pun, aku bakalan pakai masker.” Ryuna memastikan karena sejak menikah, Kim memang memberinya aturan khusus mengenai lipstik. Karena jika tidak hanya sedang berdua dengan Kim, ia dilarang memakai lipstik warna merah terang maupun merah bata.
“Tetap saja, rasanya enggak rela,” ucap Kim manja dan sengaja menyambar bibir sang istri menggunakan bibirnya, menghapus semua lipstik bahkan lip balm dari sana.
Ryuna yang awalnya tersenyum pasrah, berangsur mengangguk-angguk sambil menghela napas pelan. Sebab ulah sang suami yang agak bar-bar, sukses membuat napasnya ngos-ngosan.
Kemudian, yang Ryuna lakukan ialah mengambil lip balm yang sudah ia masukan ke kotak kosmetik khusus dan masih ada di meja. Ia mengaplikasikan lip balm tersebut di bibir sang suami yang masih belepotan lipstiknya, meratakannya, sebelum akhirnya ia juga memoleskan lipstik merah mudanya.
“Eh, ... ini kok gini?” protes Kim sudah langsung heboh tertawa.
“Biar Mas enggak iri lagi. Kita sama-sama pakai lipstik!” balas Ryuna di sela tawanya.
“Tapi aku bukan Rain apalagi mas Ojan!” balas Kim masih heboh dengan tawanya. Namun beberapa saat kemudian, ia sengaja membingkai wajah Ryuna menggunakan kedua tangannya. Hati-hati, ia menempelkan bibirnya ke bibir sang istri hingga lipstik di bibirnya berpindah sebagian ke bibir Ryuna.
__ADS_1
“Si paling cemburuan, makanya yang di perut posesifnya enggak ketulungan ke papahnya. Lihat, perutku berasa ada debus ...,” lirih Ryuna sambil mencubit gemas kedua pipi Kim. Suaminya itu hanya tertawa tak berdosa dan tampak sangat bahagia. Sudah ia pastikan, Kim merasa menang karena telah membuat rias bibirnya berantakan.
“Tapi meski kalian sama-sama pencemburu bin posesif, yang di perut malah langsung anteng kalau mamahnya dandan apalagi jalan-jalan,” cerita Ryuna terheran-heran.
“Alah ... kamu yah, Mas. Caper banget ke Mamah. Takut banget saingan sama papah sendiri,” ucapnya tak segan mendoron*g gemas perut Ryuna.
Ryuna yang langsung tertawa lemas, refleks mencubit gemas pipi kiri Kim. “Papahnya kok gitu. Belum keluar sudah didorong-dorong terus.”
“Lagian tuh anak hobi banget ngajak ribut, mirip Oh Jan! Gini loh, Mas!” ucap Kim yang kemudian menunduk dan membuat wajahnya berada tepat di depan perut sang istri.
Sampai detik ini, perut Ryuna seperti ada pertunjukan debus di dalamnya, miri terguncang gempa tektonik. Namun karena Ryuna sudah terbiasa, Ryuna sama sekali tidak merasa terganggu
“Asal Mas tahu, dari embrio, Papah Mas ini manis banget. Kalau Mas enggak percaya, sana tanya oma sama opa. Dari awal, Mas sudah jadi kesayangan semuanya,” ucap Kim berusaha mengajak sang anak mengobrol.
Dibalas seperti tadi, Kim sudah langsung tidak bisa menjawab. Ia berangsur meminta maaf. Bukan hanya kepada Ryuna, tapi juga kepada anak mereka. Ia sengaja berlutut kemudian mendekap perut Ryuna penuh sayang.
“Ayolah baikan. Kamu jangan debus terus Mas. Seharian ini kan kita mau jalan-jalan, kita nginep di hotel saja, ya. Mau ke puncak apa gimana? Mumpung ada waktu?” bujuk Kim berusaha mengajak sang putra yang masih ada di dalam perut, berdamai. Namun yang terjadi, putranya itu tetap heboh dan sama sekali tidak mau tenang.
“Gimana aku enggak gemas kalau keadaannya kayak gini,” keluh Kim yang kemudian tertawa pasrah. Namun, ia nekat mengabsen perut Ryuna yang ia bingkai menggunakan kedua tangan, menggunakan bibirnya. Lipstik warna merah jambu yang sempat menghiasi bibir Kim, seketika berpindah di gamis Ryuna dalam wujud cap bibir Kim.
__ADS_1
“Ya sudah, siap-siap, kita berangkat,” ucap Ryuna sembari meraih handuk kecil dari kepala sang suami. Ia mengeringkan kepala Kim, menyisirnya menggunakan jemari kemudian membenarkan kemeja sang suami terpasang sempurna ketika Kim akhirnya berdiri. Karena sekadar mengancing kancing pergelangan tangan, atau kancing kemeja bagian tubuh saja, jika sedang manja, Kim selalu menunggu Ryuna untuk melakukannya.
“Pakai lipstik merah saja. Mau pakai masker, kan?” ucap Kim sambil menatap kedua mata sang istri penuh arti, tapi justru berakhir tertawa.
Ryuna yang langsung tersipu menggeleng tak habis pikir menatap suaminya.
“Hari ini sampai lusa, benar-benar waktu kita,” lembut Kim yang sengaja merapatkan wajah mereka. Ia sengaja menempelkan hidungnya dengan hidung Ryuna, sementara kedua tangannya berangsur menahan punggung kepala Ryuna.
Sampai detik ini Ryuna masih kesulitan mengontrol debar hati dan jantungnya. Ia masih belum bisa untuk biasa saja, berhenti tegang dan sampai detik ini sangat sulit ia lakukan. Karena meski sudah menikah, dan mereka sudah terbiasa bermesraan, semua perhatian yang Kim lakukan, bahkan itu ketika mereka tak sengaja ada di tempat yang sama, kemudian mata Kim langsung diam-diam memperhatikannya, itu menjadi momen yang membuat Ryuna nyaris gil*a karena terlalu bahagia.
“I love you!” lembut Kim yang juga terdengar manja.
“I love you too!” balas Ryuna tak kalah manja, kemudian sengaja mengecu*p bibir Kim yang kemudian sudah langsung tertawa gemas kepadanya. Kim sampai memeluknya, mengguncangnya ke kiri kemudian kanan, secara berirama. Tak peduli, meski karena ulah Kim itu, yang di perut Ryuna makin sibuk ad*u kungfu.
Semua persiapan sudah selesai, ada satu koper kecil dan sebuah ransel sedang yang Kim taruh di atas koper. Sembari menarik koper, Kim menggandeng Ryuna, membawanya pergi.
Adik-adik Kim kecuali Brandon, tengah berunding di depan kamar Calista. Ketiganya yang sama-sama terlihat baru mandi, segera menatap semringah kehadiran Kim dan Ryuna.
“Brandddd, ayo jalan-jalan ke puncak daripada weekend mager di kamar!” sergah Boy bersemangat sambil berlari meninggalkan kebersamaan.
__ADS_1
“Eh, Dek! Enggak ada yang ajak-ajak, ya! Mbak sama Mas mau honeymoon! Kami mau baby moon!” heboh Kim ketar-ketir. Gagal sudah rencana mesra-mesraannya karena keempat adiknya, terancam ikut! Lihat saja, setelah digedor pintunya cukup lama, Brandon yang juga baru mandi, sudah langsung mengangguk kaku setelah Boy mengabarkan, bahwa Kim dan Ryuna mengajak semuanya liburan bersama ke puncak.
“Memangnya siapa sih, yang ajak? Kalian yang memaksa ikut,” lirih Kim lemas, dan semuanya termasuk Ryuna sudah langsung menertawakannya.