Saling Cinta Setelah Menikah

Saling Cinta Setelah Menikah
33 : Akhir Dari KKN


__ADS_3

“Astaghfirullah ....” Kim mulai tidak bisa tenang. Ia segera membopong Ryuna, membaringkannya di pangkuannya. Namun seketika, Ryuna menolak dilepaskan. Tangan kiri Ryuna yang tidak merem*as perut, menjadi menggenggam erat tangan kanan Kim.


“Dijaga, Mas! Dibacakan doa!” tegas pak Helios masih dengan suara lirih, dan memang mengomel. “Syam ... tolong gantikan aku!” seru pak Helios terlalu mengkhawatirkan sang menantu.


Syam yang awalnya tengah berusaha menuntun pak RT yang berusaha memberontak mondar-mandir mirip zombie, untuk duduk, buru-buru meninggalkannya demi mengerjakan permintaan pak Helios. Tubuh pak RT sudah langsung terban*ting, dan dengan segera, Syam menggantikan pak Helios menggantikan memimpin doa di sana. Baik pak Helios maupun Syam juga sampai mengabaikan Tiwi dan Sonya yang masih meraung-raung sambil berbaring di sebelah mereka.


Mungkin efek peserta KKN telanjur kesal kepada Sonya dan Tiwi, karena biar bagaimanapun, awal mula mereka berurusan dengan teror mistis juga atas ulah jahat keduanya, benar-benar jadi tidak ada yang iba. Mereka ogah-ogahan menolong, termasuk sekelas Candra yang kita ketahui sangat agamis kepada agamanya.


“Okelah, Puji Tuhan,” ucap Candra yang pada akhirnya menyerah. Candra menolong Sonya dan Tiwi, mendoakan keduanya sebisanya.


Tanpa pikir panjang, pak Helios segera meraih sebotol air mineral kemudian membukanya, melafalkan beberapa doa, kemudian meminta Kim untuk membantu Ryuna meminum air minum tersebut.


“Ini langsung dibawa pulang saja karena sepertinya memang ada yang mau jadiin janin kalian tum*b*al. Tempat ini beneran enggak baik buat pendatang apalagi orang asing yang hanya singgah sebentar,” sergah pak Helios.


Ryuna yang sudah setengah sadar, jadi takut sendiri mendengarnya. “Papahnya Kim kok bilang seperti tadi? Memangnya dia tahu, ya? Semacam punya indra keenam atau malah indigo?” pikir Ryuna yang perlahan merasakan perubahan. Ia mulai merasakan kenyamanan. Di perutnya yang masih rata, tak lagi ada yang sibuk me*remas bahkan mengguncang, selain rasa panas luar biasa yang seolah akan menjadi awal mula perutnya meledak.


“Minum pelan-pelan, habiskan saja. Biar, nanti yang jahat, siapa yang nanam rasa sakit itu ke kamu sama calon cucu Papah, pasti dia juga yang memetik hasilnya,” sergah pak Helios yang buru-buru membacakan doa lagi sambil membuka setiap tutup air mineral di sana. Ia dibantu oleh Syam.

__ADS_1


Suasana mulai beranjak tenang, setelah setiap mereka yang kera*su*kan, meminum air minum bawaan dari rombongan pak Helios.


“Pih, ki Dawet mana? Masa iya dia enggak muncul-muncul?” bisik Ojan benar-benar sudah tidak sabar ingin menghadapi atau setidaknya melihat ki Awet.


“Dia beneran enggak akan pernah bisa dilihat oleh sembarang mata, dan baru bisa kembali berwujud setelah dia menyadari kesalahannya, kemudian kembali ke jalan yang benar!” balas pak Helios ngos-ngosan karena biar bagaimanapun, apa yang ia lakukan dan itu melakukan rukiah masal, benar-benar menguras tenaga.


“Coba diserlok Pih, biar dia bisa kembali ke jalan yang benar. Takutnya kalau dia pakai gugel map, nanti suruh balik kanan neraka, balik kiri pun bukan jalan yang benar,” balas Ojan yang kali ini serius sekaligus menatap sang bapak angkat, dengan tatapan prihatin. Hanya saja, berbeda dari biasanya, kali ini pak Helios justru tertawa.


“Puji Tuhan, Bos Kim ... itu rok mini, ... eh maksudku Rukmi, masuk helikopter Bos,” ucap Candra.


Mendengar itu, Kim yang masih duduk di sebelah Ryuna, dan menatapnya dengan khawatir mengingat tadi, Ryuna sempat kesakitan, sekadar duduk saja tidak sanggup, langsung emosi.


“Lah ... dia lagi, dia lagi. Masa iya, dia masih kesur*u*pan?” keluh pak Ojan.


“Ya makanya diurus dulu,” sergah Kim berusaha membuat otot berikut saraf di tubuhnya lebih rileks lagi. Sesekali, ia menghela napas pelan sekaligus dalam sambil tetap memantau Ryuna. Namun baru saja, Ryuna yang menatapnya dan memang masih ngos-ngosan, berangsur mengangguk-angguk.


Ketika pak Ojan sudah langsung mengamankan Rukmi, menyerahkannya kepada pak kades, pak Helios sengaja menjelaskan, bahwa efek rukiah memang hanya sementara. Namun andai warga mau menjalankan ibadah dengan semestinya, pak Helios yakin, warga akan selamat sekaligus terhindar dari hal-hal sy*irik. Terakhir, pembagian bingkisan dilakukan sambil bersalaman. Pak Ojan yang masih memanggul Rukmi, sengaja mengambil salah satu dus kemudian memasukkan Rukmi ke dus tersebut. Terakhir, jabat tangan yang pak Helios lakukan dengan pak kades, membuat pak kades apalagi pak Helios terkejut. Termasuk beberapa dari mereka yang melihat, baik warga setempat maupun rombongan pesantren yang diketuai oleh Syam. Sebab jabat tangan yang sengaja pak Helios tahan, sukses membuat pak Helios maupun pak kades gemetaran mirip tersengat aliran arus listrik.

__ADS_1


“Pih ... Pih itu kenapa Pih? Kok kalian malah dugem enggak ajak-ajak, Pih!” heboh pak Ojan ingin bergabung, tapi dengan cepat, pak Helios melepaskan tangan kanan pak kades hingga pria itu mental dan berakhir terjatuh di tanah beralas terpal oren yang menjadi kebersamaan mereka.


Sontak, adegan pak kades jatuh tersebut sudah langsung menjadi fokus perhatian. Termasuk pak Helios sendiri yang mereka ketahui sempat berjabat tangan dengan pak Kades. Terlebih, sampai detik ini pak Helios masih menatap pak kades dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun, baik Kim maupun paman Syam yang merupakan orang terdekat pak Helios yakin, ada yang tidak beres dengan pak kades.


Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka, rombongan KKN maupun pesantren yang diboyong paman Syam, benar-benar bisa bernapas lega. Karena akhirnya, mereka benar-benar keluar dari desa mereka menjalani KKN dan ternyata menyimpan banyak rahasia sekaligus hal-hal mist*is berakibat fatal.


Hanya saja, mereka tak seberuntung Ryuna, Rasjid dan Candra, yang diboyong Kim menggunakan helikopter. Sekelas Dodo sampai tidak berani bicara. Dodo memilih menyendiri di tempat duduk paling belakang bus yang mengangkut mereka. Sementara itu di bus berbeda, Tiwi dan Sonya sengaja ditaruh di sana. Keduanya seolah sengaja dipisahkan dari peserta KKN lainnya.


“Wuuaaah ....”


“Puji Tuhan ....”


Rasa takjub tak hentinya terlontar dari bibir Rasjid dan Candra. Keduanya yang duduk di belakang Kim dan Ryuna, benar-benar bahagia, merasa beruntung sekaligus merasa tersanjung karena bis naik ke helikopter secara eksklusif.


“Sambil pegang kantong keresek, ya adik-adik. Lihat Kakak Ojan, begini. Kantong keresek ini ibarat penampung mun*tahan karena biasanya kalau naik helilintar begini, perutnya kayak direma*remas dan di lambung berasa pada dugem!” jelas pak Ojan yang duduk di depan bersama pak Helios.


Pak Helios hanya geleng-geleng, tapi langsung panik ketika Ryuna buru-buru meminta kantong keresek kepada pak Ojan. Helios pikir, kantong kereseknya untuk Ryuna. Namun ternyata, itu untuk Kim yang malah muntah parah dan sudah langsung membuat yang lain bengong tak percaya.

__ADS_1


“Kim ngidam?” pikir pak Helios.


__ADS_2