Saling Cinta Setelah Menikah

Saling Cinta Setelah Menikah
65 : Romantis dan Manis


__ADS_3

Semuanya ikut, tapi Kim tetap fokus menjaga sang istri. Hari ini, meski rencana bulan madu sekaligus baby moon mereka jadi rasa liburan keluarga bahkan tawuran karena Rain dan Sabiru sampai ikut.


“Yang di perut, aman?” tanya ibu Chole sambil buru-buru melangkah menghampiri kebersamaan.


Sekelas ibu Chole dan pak Helios juga ikut.


“Perutku, Oma?” ucap Rain dengan polosnya menatap Chole.


“Anaknya Ojan!” ucap pak Helios sudah langsung tertawa. Ia yang awalnya melangkah di belakang sang istri, refleks berhenti sambil susah payah menahan tawanya.


“Ya bukan perut Rain. Perutnya Mbak Ryuna,” lembut ibu Chole yang juga tidak bisa untuk tidak tertawa. Ditambah lagi, sang suami sudah lebih dulu tertawa dan terdengar sulit mengakhirinya.


“Anteng Mah, lagi istirahat kayaknya,” ucap Ryuna sembari membingkai perutnya yang makin besar, menggunakan kedua tangan.


“Berarti dia nyaman-nyaman saja. Padahal kalau mamahnya cuma berdua sama papahnya, beneran enggak mau diem. Petakilan terus. Lah ini kok anteng. Dielus, diguncang, ... ih iya, beneran anteng.” Padahal, ibu Chole sudah sampai menggoyang perut Ryuna.


“Mas Kim, coba Mas elus perut Mbak Ryuna,” ucap Brandon sengaja menantang karena ingin bukti konkret bahwa jabang bayi dalam perut Ryuna sangat cemburu kepada Kim.


Detik itu juga, Kim yang sadar sang putra sangat cemburu kepadanya, refleks melirik sebal Brandon. “Masa iya, Mas ibarat buat tumba*l!”

__ADS_1


Meski yang lain termasuk Ryuna kompak menahan tawa setelah mendengar keluh kesah Kim, semuanya juga makin sibuk tertawa ketika ulah Kim mengelus perut Ryuna, sudah langsung membuat yang di dalam sana tidak mau diam.


“Bisa begitu, ya? Itu nendang sama muku*lnya, kayak dendam banget!” ucap Rain yang kemudian terbahak-bahak.


Dari semuanya, hanya Kim yang tampak ngenes, tapi dengan segera, Ryuna yang sampai detik ini masih tertawa, sengaja membingkai wajah Kim menggunakan kedua tangannya, kemudian mendekapnya.


Kim pikir, mereka akan berangkat beramai-ramai. Namun ternyata, orang tuanya tetap menjadi orang tua yang super perhatian. Karena khusus untuknya dan Ryuna, mereka benar-benar hanya bertiga dengan sopir yang mengemudikan mobil mereka. Sementara yang lain tampak dibagi karena jumlahnya yang memang banyak setelah ditambah Rain dan Sabiru. Awalnya Kim berpikir begitu, tapi nyatanya Sabiru dan Rain tetap boncengan menggunakan motor. Kini saja, keduanya ada persis di belakang mobil mereka. Kim yang awalnya tiduran di pangkuan Ryuna hingga yang di perut makin menga*muk, berangsur memastikan ke belakang setelah kabar yang Ryuna berikan.


“Motoran memang lebih asyik, tapi kan perut kamu sudah makin besar. Duduk saja sudah gampang pegel, kan?” ucap Kim dan Ryuna sudah langsung mengangguk-angguk dengan ekspresi tidak nyaman.


“Nanti kita naik perahu saja,” bisik Kim sambil tersenyum ceria tepat di depan wajah Ryuna.


Kim yang masih tersenyum ceria, berangsur mengangguk-angguk. “Di dekat vila keluarga memang ada danau kecil. Di sana ada perahu, ada kura-kura, kebun sayur, stroberi—”


Makin Kim berbicara, makin lirih sura pemuda itu yang juga sukses mengajak Ryuna sama-sama tersipu.


“Ini suamiku bucin akut ke aku!” lirih Ryuna yang jadi tidak berani menatap Kim secara terang-terangan. Namun dengan segera, Kim mendekap wajahnya dari samping. Pria itu tak hanya bucin akut kepadanya, tapi juga gemas.


“Gini loh, Yang. Senin sampai Jumat bahkan kadang weekend, jadwal kita sangat padat, sampai malam. Kerja, kerja, kerja. Giliran pengin quality time, yang di dalam perut debus terus. Nah mau liburan romantis, pasukanku pada kompak ikut!” keluh Kim.

__ADS_1


Ryuna mengangguk-angguk paham. Ia menggunakan kedua tangannya untuk membingkai wajah Kim, kemudian mengabsen wajah tampan suaminya itu dengan kecu*pan dalam.


“Mas ... yang anteng ya. Kasihan Papah pengin romantisan sama Mamah. Selama ini kan Papaj sudah capek kerja buat kita. Mas simpan energi Mas buat melawan hal yang memang enggak diinginkan saja yah. Bismillah, semoga nanti di sana baik-baik saja,” ucap Ryuna sambil mengelus perutnya. Ia berusaha memberi sang putra pengertian. Dielusnya penuh sayang perutnya yang perlahan anteng, menggunakan tangan kiri yang tak membingkai wajah Kim. “Ayo, mulai sekarang, jangan galak-galak ke Papah. Kalian wajib akur karena Mamah beneran sayang banget ke kalian. Semuanya Mamah sayang. Enggak ada yang dibeda-bedain!” yakin Ryuna.


Kim yang penasaran dengan hasil bujuk rayu Ryuna kepada anak mereka, memberanikan diri untuk memegang perut Ryuna menggunakan tangan kanannya. Namun detik itu juga, Kim langsung mendapatkan tenda*ngan. Dan itu bertanda sang putra tetap tidak mau diajak damai.


“Papah bawain bendera putih, ya?” tawar Kim, tapi Ryuna yang sudah sibuk menahan tawa, berangsur meraih tangan kanannya. Mereka sama-sama memegang perut Ryuna. Detik itu juga sekaligus seterusnya, semuanya baik-baik saja. Tak ada tendang*an bahkan sekedar gerakan pelan.


Kim geleng-geleng sambil menatap tak habis pikir sang istri. “Enggak kebayang nanti gimana kalau sudah keluar. Untuk sementara, kita wajib tinggal sama mamah papah, biar mereka jadi wasit pas mas tantrum,” lirihnya yang jadi sibuk menahan tawa.


Seolah tahu apa yang dilakukan papahnya, yang di perut kembali heboh, dan langsung menjadi kehebohan sendiri untuk papah mamahnya. Karena detik itu juga, Ryuna dan Kim yang kembali berpelukan, jadi sibuk cekikikan.


Suasana puncak yang sangat segar, agak berembun karena kabut yang terus menyelimuti, menyambut mereka ketika mereka nyaris sampai di vila.


Tak beda dengan rumah kediaman orang tua Kim, vila di sana juga dibenteng atau itu pagar tembok tinggi. Ryuna langsung berpikir, mertuanya sangat mengutamakan keselamatan sekaligus menjaga baik privasi keluarga mereka.


Semuanya sudah langsung tersenyum ceria sambil turun dari mobil. Termasuk juga ibu Chole yang tetap saja manja kepada pak Helios. Ibu Chole yang baru turun dari mobil, langsung menggenggam kedua jemari tangan pak Helios. Sambil mengobrol dan tampak sangat seru, ibu Chole mengajak pak Helios melangkah santai. Kedua tangan keduanya benar-benar terus bergandengan. Yang mana, pemandangan tersebut seolah sudah menjadi hal biasa untuk semuanya, bahkan Ryuna yang awalnya sempat minder sekaligus heran.


Iya, Ryuna sempat heran kepada orang tua Kim yang tetap manja, romantis mirip abege, padahal usia mereka sudah tak lagi muda. Namun setelah Ryuna memastikan keadaan di sana, selain keluarga sang suami memang tipikal manis romantis bahkan sekelas Brandon yang sangat kaku, romantis sekaligus interaksi manis juga menjadi kunci kelanggengan hubungan terlebih hubungan pernikahan, pasangan, sekaligus keluarga.

__ADS_1


Terlepas dari semuanya, ada yang membuat Ryuna merinding. Karena di depan pintu masuk utama vila, di kanan kini ada beberapa orang tua berpenampilan serba putih termasuk rambut mereka. Gaya mereka terbilang kuno, tapi semuanya tampak bersih bahkan bersinar. Dan semuanya juga kompak tersenyum bersahaja memandanginya.


__ADS_2