Saling Cinta Setelah Menikah

Saling Cinta Setelah Menikah
37 : Semuanya Serba Mewah


__ADS_3

Ryuna masih kebingungan mengawasi suasana rumah orang tua Kim yang baginya lebih mirip istana atau malah bangunan Mal. Ia yang sudah beberapa kali bekerja di rumah orang kaya dan salah satunya rumah Dodo, sampai tidak percaya, jika keadaan di sana nyata, dan ia sungguh menjadi bagiannya, bukan lagi pekerja. Orang tua Kim sangat kaya, Dodo sekeluarga benar-benar tak ada apa-apanya. Malahan paling rumah orang tua Dodo hanya satu garasi di sana ditambah satu lantai di atasnya dan itu pun tidak semewah garasi rumah orang tua Kim.


Di tengah suasana temaram karena sebagian lampu besar sudah dimatikan, Ryuna masih membiarkan tangan kirimnya digandeng Kim. Mereka sudah ada di lantai atas sementara tadi, Kim membawanya menggunakan lift. Jujur, andai Ryuna dilepas sendiri untuk sekadar ke lantai bawah, Ryuna tidak yakin dirinya akan bisa kembali ke lantai atas lagi lantaran suasana di sana sangat luas dan ruangannya pun terbilang banyak dengan nuansa mirip.


Sebuah kamar di paling ujung depan atau malah belakang karena Ryuna belum paham, menjadi tujuan langkah mereka.


“Ini kamar aku, ... untuk sementara, kita tinggal di sini. Sebelah ini kamar Calista adik perempuan sekaligus perempuan aku. Sebelahnya lagi persis ana kamar Boy dan Brandon. Boy dan Brandon ini kembar identik. Membedakan mereka kalau yang enggak terbiasa, terbilang sulit. Kerena sekadar suaranya saja sama. Bedanya si Brandon agak kurus, cuma agak kurus beneran enggak mencolok. Sama perhatikan bibir mereka. Bibir Boy yang atas ada tahi lalatnya itu pun kecil. Nah, berasa punya beban hidup tambahan hanya karena membedakan Boy dan Brandon, kan?” Kim menahan senyumnya. Ia yang awalnya menatap Ryuna penuh cinta, jadi gemas sendiri ke istrinya itu lantaran Ryuna tampak kebingungan. Alasan yang juga membuatnya memeluknya santai tapi erat.


“Masih ada satu lagi, Mas. Itu sebelah ujung dan pintunya pink,” lirih Ryuna terbilang lembut. Ia memang membalas pelukan Kim, tapi tatapannya telanjur menatap penasaran pintu ruangan berwarna pink di ujung belakang punggungnya.


“Itu ... itu kamarnya Hyera, bontot dari kami. Bedanya Hyera dan Calista, walau wajah mereka agak mirip,” ucap Kim lembut.


“Bentar Mas,” ucap Ryuna sengaja menahan penjelasan Kim. Ia berangsur menatap kedua mata Kim.


“Apa?” lembut Kim menjadi menatap lekat setiap inci wajah Ryuna. Jarak wajah mereka begitu dekat hingga Kim yang sangat normal sekaligus sangat mencintai Ryuna menjadi terbawa suasana.

__ADS_1


Sadar bibir Kim sudah nyaris menempel ke bibirnya, Ryuna sengaja memundurkan wajahnya kemudian berkata, “Saudara Mas, adik-adik Mas maksudnya, kembar semua?” Karena Calista dan Hyera sempat dibandingkan perbedaannya oleh Kim, tanpa disebutkan jika keduanya kembar.


Kim berangsur menggeleng. “Hanya mirip. Cuman, bedanya Hyera belum berhijab. Namun meski Calista berhijab, dia jago bela diri. Lari di benteng rumah saja, Calista bisa!” lembutnya yang mengakhirinya dengan senyum. Namun, Kim sadari sang istri justru menjadi pucat pasi.


“Kenapa ...?” tanya Kim penasaran.


“Makin minder aku lah Mas!” Kali ini Ryuna berkeluh kesah, tapi Kim yang sempat kebingungan, berakhir menertawakannya.


“Apaan sih, enggak boleh gitu. Menilai orang enggak bisa disamaratakan termasuk dalam segi kemampuan. Kecuali jika kita sedang mengikuti perlombaan dan bikin kita wajib menciptakan hal sesuai standar lomba. Kamu enggak perlu merasa minder karena kamu sampai bisa begini saja sudah sangat luar biasa. Kamu beneran hebat, cuma memang belum banyak yang paham karena enggak semua orang peduli. Kebanyakan dari orang lain kan terlalu sibuk mencari kekurangan orang lain sesuai kacamata mereka!” yakin Kin yang lagi-lagi berakhir memeluk hangat Ryuna.


Kamar Kim yang mewah dan terbilang luas, dalam keadaan terang benderang lantaran Kim baru saja menyalakan semua lampunya. Hanya saja, suasana di sana agak bau khas ruangan yang sudah cukup lama ditempati. Tampak Kim yang akan menyalakan perangkap nyamuk elektrik yang keberadaannya terbilang lumayan jauh dari tempat tidur.


“Mas, pintunya boleh buka sebentar dulu. Biar baunya enggak terlalu bikin enek? Maaf Mas, ini aku aja enggak tahu kok mendadak sensitif bau,” lirih Ryuna benar-benar memohon sambil membekap hidungnya.


“Iya, iya ... enggak apa-apa. Habis ini aku nyalain penyaring udara. Enggak dibuka sebenarnya enggak apa-apa,” yakin Kim.

__ADS_1


“Ya sudah, Mas. Aku ke kamar mandi dulu kalau gitu,” ucap Ryuna.


Mendengar itu, Kim sudah langsung bergegas berdiri. “Sini ... sini,” ucapnya sudah langsung menghampiri sekaligus menggandeng sebelah tangan Ryuna. Menuntunnya ke kamar mandi sebelah, kemudian menyalakan lilin aromaterapi, setelah lampu ia buat menyala semua hingga suasana di sana menjadi terang benderang.


“Ya Allah, jiwa misquinku menangis menyaksikan kamar mandi suamiku yang lebih mewah dari keadaan rumah Dodo,” batin Ryuna yang memilih diam meski Kim lagi-lagi sudah langsung memeluknya. Padahal, ulah suaminya itu sudah membuat jantungnya sibuk senam.


“Mandinya pakai air hangat saja biar sendi sama tulang-tulang kamu lebih rileks,” ucap Kim yang kemudian mengakhiri dekapannya. Namun karena ia sudah langsung melepas jas sekaligus kausnya, Ryuna malah panik mundur.


“Mas aku beneran belum siap, Mas. Aku belum siap, aku dulu yang mandi, ya!” mohon Ryuna tak segan mengusir Kim di sana dengan lembut.


Kim yang pasrah menjadi tersipu dan lagi-lagi mendekap tubuh Ryuna dengan keadaan tubuhnya yang tela*n*jang dada.


Setelah Ryuna beres mandi, wanita itu menyadari, ia tak memakai pakaian ganti. “Ya Allah Ryuna ... hanya pakai handuk begini memangnya aman?” pikir Ryuna. Ia memberanikan diri untuk membuka pintunya dengan hati-hati. Ia melongok tegang sekaligus takut dari sana. Ia dapati, ransel miliknya maupun Kim yang sudah tidak ada di dekat mesin perangkap nyamuk. Namun yang membuat Ryuna terkejut, dada bidang suaminya dan benar-benar belum kembali ditutupi kain bahkan kain paling tipis sekalipun, malah sudah memenuhi matanya ketika ia berhenti mengawasi suasana sekitar.


“Cari apa?” tanya Kim yang berangsur menunduk bahkan menunduk. Namun Ryuna yang ia imbangi mendadak mundur sekaligus menjaga jarak.

__ADS_1


“Ranselku mana? Aku lupa bawa pakaian ganti,” ucap Ryuna mendadak memunggungi Kim. Ia tidak berani berhadapan dengan Kim dengan keadaan seperti sekarang dan itu benar-benar hanya menutup bagian tubuh atasnya menggunakan handuk. Terlebih ia menyadari, di belakangnya, Kim justru termangu menatap punggung sekaligus rambut panjangnya yang tergerai dan masih setengah basah.


__ADS_2