Saling Cinta Setelah Menikah

Saling Cinta Setelah Menikah
24 : Mulai Sayang


__ADS_3

Ryuna sengaja keluar untuk menemui Kim yang wanita itu pergoki keluar dari kamar putra. Kim sudah langsung mengulurkan tangan kanannya, sementara Ryuna yang paham maksud suaminya, segera menyalaminya dengan takzim.


“Tadi Dodo sempat ke sini. Sempat mau masuk, tapi habis itu enggak tahu ke mana?” ucap Ryuna sengaja laporan. Sampai detik ini, Kim masih belum melepaskan tangan kanannya.


“Anaknya masih di kamar. Kayaknya ketiduran,” ucap Kim tak bersemangat kemudian mengabarkan bahwa dirinya merasa tak enak badan.


Meski ragu, Ryuna sengaja menggunakan tangan kirinya untuk mengecek suhu tubuh Kim. Ia meletakan tangan kirinya itu di letakan di leher kanan Kim, tapi dengan cepat, Kim bersandar ke tangan kiri tersebut. Pemuda itu mendadak sangat manja, membuat dunia Ryuna menjadi berputar lebih lambat karena wanita itu sudah langsung memutuskan untuk merawat sang suami yang memang demam tinggi.


Ryuna mendudukkan Kim ke kursi tunggal di sebelah mereka. Ia segera pamit untuk membuat teh hangat, kemudian membantu Kim minum, selain Ryuna yang sudah langsung memberi Kim parasetamol. Tanpa Ryuna maupun Kim sadari, dari jalan dan itu di balik pohon beringin besar, kedua pengawal Kim mengawasi, menatap kebersamaan mereka sarat khawatir.


“Istirahat bentar,” lirih Ryuna benar-benar perhatian. Karena Kim hanya menggunakan kaus lengan pendek warna hitam, selain kedua lengan Kim yang dihiasi lumpur mengering karena pemuda itu memang masih mengurus renovasi jalan, Ryuna sengaja melepas jaket alamameternya, kemudian memakaikannya kepada Kim. Ia juga sengaja mengambil dua kursi dari dalam kelas, menyusunnya di sebelah Kim agar suaminya tiduran di sana. Namun, ia hanya memberikan tasnya sebagai bantal.


“Aku enggak berani ambil bantal di kamar kalau di sana ada Dodo,” lirih Ryuna yang jongkok tepat di hadapan Kim.


Kim yang meringkuk menatap Ryuna di tengah kedua matanya yang sendu, berangsur mengangguk-angguk. “Begini juga sudah cukup,” lirihnya masih tersenyum lembut menatap Ryuna penuh cinta. “Tapi aku mau sun. Kiss.” Kali ini Kim sengaja merengek, memohon.


Kim memang melakukannya deng lembut, tapi itu sudah langsung membuat Ryuna tak karuan. Jantung sekaligus hati Ryuna berdebar-debar, tapi Ryuna memberanikan diri untuk menci*um kening Kim, selain kedua tangannya yang sampai mendekap punggung sekaligus kepala Kim.


“Thank you!” manis Kim benar-benar lembut. Bibirnya yang mulai kering, dan mungkin karena ia mulai dehidrasi efek demam, ia tempelkan di lengan kiri sang istri.

__ADS_1


“Yang kamu rasa pusing, ngilu, meriang, apa gimana?” lembut Ryuna yang memang perhatian. Terlebih tak bisa Ryuna pungkiri, dirinya mulai menyayangi Kim.


Kebersamaan kali ini membuat kedua sejoli itu merasa sangat damai. Mereka merasa menjadi pasangan yang sesungguhnya, meski sampai detik ini, mereka masih harus tetap jaga-jaga. Hingga ketika pintu kamar putra dibuka dengan kas*ar dari dalam hingga terb*anting dan menimbulkan suara gaduh, Ryuna buru-buru menyudahi pelukan maupun c*iumannya.


Dodo masih dengan tingkah anehnya. Serba cepat dan tampak perka*sa, selain kacamata tebal yang tak lagi menyertai penampilannya. Ryuna refleks membahasnya kepada Kim.


“Bentar aku bilang ke Dodo, buat bilang ke yang lain kalau kamu sakit,” sergah Ryuna buru-buru menghampiri Dodo meski Kim belum memberi Izin. Namun, Kim yang merasa tidak tenang apalagi cara Dodo melangkah saja, baginya sangat bar-bar, sengaja menyusul.


“Do ... kamu mau bantu urus renovasi jalan? Nanti sekalian tolong bilangin ke yang lain, ya. Kim demam, enggak enak badan,” sergah Ryuna. Di hadapannya, Dodo yang sudah langsung tersenyum kepadanya, juga terus merapatkan jarak mereka. Andai Kim tidak buru-buru menyentuh Ryuna di belakang punggungnya, pasti Dodo sudah menyentuh Ryuna. Anehnya, Dodo yang sempat mencengkeram kaus bagian dada Kim hingga tubuh Kim langsung terangkat, langsung kepanasan ketika tangan kirinya yang bebas, mencoba mence*kek Kim. Kenyataan yang terjadi karena Kim tengah melantunkan doa.


Padahal, kedua pengawal Kim sempat berlarian dan bermaksud menghampiri. Namun keduanya sengaja berhenti melangkah, kembali ke persembunyian, terlebih Dodo yang menjadi ketakutan kepada Kim, berlari ke arah mereka.


Kim terdiam sejenak kemudian melepas kepergian Dodo. “Ini ada yang enggak beres. Pasti!” yakin Kim.


Kim berangsur menatap sang istri. “Tadi kamu juga mengakui kalau Dodo jadi aneh, kan?” Di sebelahnya, Ryuna yang masih terlihat takut dan berangsur menatap kedua matanya, mengangguk-angguk.


“Biarin saja. Enggak apa-apa. Syukur-syukur itu ki Awet, biar kelar semuanya sebelum kita beres KKN!” sergah Kim yang menjadi emosional.


***

__ADS_1


Sorenya, setelah semua mahasiswa kumpul dan mereka siap ke pondok putri di tengah kenyataan Kim yang masih demam, tiba-tiba pak kades datang. Pria itu melangkah setengah berlari dan tampak sangat panik.


Kim yang baru bergabung dengan para mahasiswa dan sampai detik ini masih memakai jaket almameter Ryuna, sudah langsung melirik Ryuna. Di depan kelas Ryuna mengajar, sang istri tengah membiarkan tangan kanannya disalami oleh anak didiknya. Kini menjadi ronde ke 2 Ryuna mengajar, dalam artian, murid yang Ryuna ajar sudah berbeda dengan murid yang sebelumnya.


“Enggak bisa aku pungkiri, dan aku wajib jaga-jaga, pak kades pasti menganut ilmu seperti ki Awet. Ya sudah, diimbangi saja,” batin Kim masih kerap berkode mata dengan Ryuna. Ia dapati, Ryuna yang akhirnya mendekat karena semua anak didiknya dan jumlahnya tidak ada dua puluh, sudah pamit.


“Mas Kim, Mas ... tolong, Mas. Rukmi putri saya sakit lagi!” sergah pak Kades yang didampingi oleh seorang warga. Baik pak Kades maupun pria yang menyertainya, sama-sama masih penuh lumpur karena keduanya memang baru saja ikut membantu mengurus renovasi jalan.


“Memangnya mbak Rukmi sakit apa, Pak? Bukannya tadi pagi masih sehat dan malah bagi-bagi nasi kuning, ya?” balas Kim santun tak peduli meski kenyataannya yang memakai jaket almameter Ryuna, sudah menjadi bahan obrolan hangat di sana. Para mahasiswa kecuali Dodo, makin yakin jika Kim dan Ryuna pacaran. Terlebih Ryuna yang baru bergabung, juga langsung berdiri di belakang Kim.


Pak Kades tak langsung menjawab. Pria paruh baya itu sengaja menghela napas dalam sekaligus panjang, kemudian berkata, “P-panas! Tubuh Rukmi panas banget, Mas! Sama, matanya melotot lagi! Istri saya sudah sibuk nangis.”


“Coba dibacakan doa-doa, Pak,” lembut Ryuna turut serta memberikan saran.


Pak Kades yang refleks menatap Ryuna, berangsur menggeleng kemudian menghela napas. “Enggak tahu Mbak. Tapi ayo coba dilihat dulu. Tolong banget ya dibantu!”


“Puji Tuhan, semenjak ki Awet menghilang, kiranya demit-demit pada berkeliaran!” ujar Candra yang sudah langsung kaget lantaran salib di kalungnya, dipegang erat oleh Rasjid.


“Lo orang ngapain, Jid. Ini salib, bukan tasbih. Kalau mau jadi anak Allah, kamu harusnya bertasbih, bukan bersalib!” omel Candra.

__ADS_1


“Lah pokoknya aku takut kalau kejadiannya kayak kemarin!” rengek Rasjid yang memang sampai menangis.


Menunggu kesanggupan Kim, dalam hatinya pak kades berujar, “Rukmi begitu karena dia kehilangan keris pelindungnya!”


__ADS_2