Saling Cinta Setelah Menikah

Saling Cinta Setelah Menikah
43 : Ke Rumah Dodo


__ADS_3

Keesokan harinya menjadi jadwal Kim mengantar Ryuna ke rumah Dodo. Mereka tak pergi sendiri karena mereka ditemani oleh paman Syam. Namun di kesempatan kali ini, Kim yang menyetir sementara Ryuna duduk di bangku penumpang tepat di belakangnya.


“Kalau mereka enggak mau jujur, sementara kita enggak tahu kejadian saat itu—” Kim merasa frustrasi. Sebab selain Ryuna yang berdalih berkas pengobatan Ryuna sudah tidak ada, selain Ryuna yang sudah tidak ingat. Kim khawatir, mereka tak bisa mengungkap fakta yang sesungguhnya, meski mereka yakin, Dodo dan orang tuanya memang bermasalah.


“Ryuna, kamu punya catatan pinjaman orang tua kamu ke bos kalian? Biasanya kan, kalau catatan hutang dan angsuran, ada masanya dari kapan itu terjadi. Sudah disetorin atau dipotong berapa pinjamannya. Ini memang hanya bisa untuk mengungkap sebagian ke*jahatan mereka. Sebentar, Paman cek kecelakaan atau kejadian yang kiranya berkaitan sama kamu. Karena jika memang kalian sudah sampai naik bus buat pulang kampung, kemungkinan besar terjadinya kecelakaan ya saat di tempat peristirahatan.” Paman Syam berbicara dengan pelan dan sangat tertata.


“Setelah bertemu dengan Dodo sekeluarga, Paman akan mendatangi rumah sakit terdekat rest area menuju kampung kamu. Paman akan mencaritahu kecelakaan yang kiranya terjadi di saat kamu sedang pulang kampung. Harusnya ini efektif,” lanjut paman Syam.


Ryuna yang sejak awal sudah menjadi pendengar baik, dan memang jadi bingung karena harus menghadapi hal pelik, tapi bukti yang dimiliki justru sangat sedikit, berangsur menunduk sekaligus merenung keras. Iya, Ryuna memaksa otaknya untuk berpikir keras agar ia bisa memecahkan kas*u*snya dan orang tuanya dengan Dodo sekeluarga. Terlebih sejauh ini, Dodo sekeluarga benar-benar tidak manusiawi. Seolah Ryuna dan orang tuanya menanggung beban hutang yang sangat besar, hingga setiap pekerjaan benar-benar tidak boleh untuk nanti, dan Ryuna sekeluarga benar-benar tidak pernah beristirahat. Malahan, orang tua Ryuna justru penyakitan dan berakhir meninggal.


“Masuk akal enggak sih, sampai ada ancaman dipenjarakan atau malah dib*un*uh karena orang tuaku beneran takut banget ke Dodo apalagi keluarganya. Pernah, Dodo ... dia beneran ku*rang ajar, dia ... ngintip aku pas aku mandi, aku enggak terima dan aku ngamuk, eh ... orang tua Dodo enggak terima dan nyuruh orang tuaku buat geb*ugin aku. Orang tuaku beneran geb*ukin aku, tapi sambil nangis. Dan ini bikin aku mikir, memang ada sesuatu!” ucap Ryuna yang sudah langsung berkaca-kaca.

__ADS_1


“Pokoknya wajib diusut ya, Paman!” ucap Kim yang telanjur dendam.


Sekitar setengah jam kemudian, sampailah mereka di kediaman orang tua Dodo. Seperti yang Kim maupun paman Syam yakini, rumah orang tua Dodo terbilang kecil, dan bahkan tak pantas disebut orang kaya. Keberadaannya saja di pemukiman padat, terbilang kumu*h dan tidak ada rumah mewah apalagi sampai yang seperti rumah Kim. Kebanyakan rumah di sana berukuran kecil. Sebagian besarnya bahkan tidak memiliki garasi hingga mobil-mobil terparkir di sepanjang jalan yang sebenarnya sudah sempit. Kim bahkan tak berani membawa mobilnya masuk lebih jauh. I sengaja memarkirnya di depan, memilih jalan kaki sambil menggandeng Ryuna yang ia pergoki sangat sakit hati pada Dodo sekeluarga.


Paman Syam memimpin jalannya perjalanan dan kini masih menekan-nekan bel. Setelah lima menit menunggu, seorang wanita keluar. Wanita yang terlihat sangat tidak menjaga penampilan dan rambut panjangnya awut-awutan dalam cepolan asal itu, berkeringat parah tampak sangat kelelahan. Dari semua wajah di sana, ia sudah langsung mengenali wajah Ryuna.


“Duh Mbak Ryuna, akhirnya kamu pulang. Itu dari kemarin, si ibu sama bapak ngam*uk-ngamu*k terus gara-gara pesanan banyak, tapi sejak enggak ada Mbak, kami memang kewalahan. Eh Den Bagus Dodo bilangnya, Mbak Ryuna enggak mungkin balik,” ucap si wanita bernama Santy dan kiranya berusia di akhir kepala dua.


Setelah menyimak itu, Kim yang masih menggandeng erat sebelah tangan Ryuna dan sampai detik ini masih memakai topi putihnya sengaja menunduk, berbisik ke telinga kiri sang istri. “Nanti laporan KKN-nya, Dodo dicoret saja. Toh emang dia enggak berguna.”


“Setelah dari sini, kita ketemuan sama mereka di kampus kamu, kan? Hari ini aku free, tapi sore sampai malam, temenin aku kerja ya.” Kim masih berbisik-bisik, dan sekali lagi, Ryuna yang menyimak kemudian menatapnya, berangsur mengangguk-angguk.

__ADS_1


“Mbak Santy, barang-barang saya masih ada, kan?” tanya Ryuna lembut sekaligus sabar.


Berbanding terbalik dengan suara ibu Siska mamaknya Dodo yang tiba-tiba saja teriak, “Santy, ngapain kamu di luar lama-lama? Pacaran ya kamu sama sopir sebelah? Mau makan gaji buta, kamu? Sudah cepetan masuk!”


Detik itu juga Ryuna menatap Kim. “Gitu terus loh Mas. Dulu pun aku sampe kembung tiap buka pintu lebih dari satu menit, selalu dituduh-tuduh, ... potong gaji. Makanya ini, mending Mbak Santy aku bawa saja lah Mas. Aku pinjam uang Mas biar mbak Santy enggak jadi bu*da*k di sini ya Mas!” Kali ini, Ryuna benar-benar memohon. Terlebih di depan, Santy sudah sangat gelisah dan benar-benar ketakutan walau hanya baru melirik ke belakang.


“Memangnya mbak Santy ada pinjam juga?” balas Kim yang juga jadi tidak tega setelah melihat ketakutan Santy


“Andai enggak ada pinjaman apalagi potongan gaji tak manusiawi hanya karena kesalahan tak logis, pasti enggak ada yang bertahan di sini termasuk—” Ryuna refleks berhenti berucap, bengong dan menatap tak percaya kenyataan paman Syam yang sudah langsung melompati gerbang rumah orang tua Dodo. “Paman Syam kok mirip ninja, yah, Mas? Cuma manjat dikit, eh bisa langsung loncat?” bisik Ryuna meminta Santy untuk segera membukakan gerbang untuknya karena ia tak mungkin loncat seperti paman Syam, apalagi kini, ia tengah hamil.


“Mbak Ryuna, ... aku beneran takut ih!” rengek Santy sambil berlari menuju gerbang. Walau usianya memang jauh lebih tua dari Ryuna, tetap saja di saat seperti sekarang ini, ia sangat membutuhkan perlindungan. Bahkan meski ia sudah terbiasa dia*mu*k—sungguh, ia sudah tidak ingin merasakannya lagi. Namun, satu hal yang membuatnya bertanya-tanya. Tak semata penampilan Ryuna yang berubah drastis, menjadi sangat bersih sekaligus berkelas. Melainkan mengenai Kim yang ada di sisi Ryuna dan tak hentinya menggenggam sebelah tangan Ryuna.

__ADS_1


Kim terus menjaga Ryuna, di sisi Ryuna, meski Ryuna juga menggandeng Santy.


“Sudah Mbak, hari ini juga, Mbak keluar dari sini. Kerja di tempat lain, nanti saya pinjamkan uang!” yakin Ryuna dan Santy langsung mengangguk-angguk setuju.


__ADS_2