
“Pusing mual, kan? Mab*uk kendaraan, kan?” lembut Ryuna sambil buru-buru menyeka sekitar bibir sang suami menggunakan tisu yang sudah tersedia di hadapan mereka. Ia masih menatap Kim penuh cinta.
Sambil menatap Ryuna, Kim mengangguk-angguk dan sesekali menghela napas pelan beberapa kali. “Aku enggak kerasu*kan apalagi kena efek mis*tis. Semua kejadian janggal di KKN, benar-benar sudah usai,” lirihnya yang memang merasa tak karuan akibat mab*uk kendaraan yang ia alami.
Menyimak itu, Ryuna berangsur menghela napas lega. Segera ia membuka ransel miliknya dan kebetulan ada di depan kedua kakinya. Ia mengeluarkan tas berisi P3K miliknya dari sana, kemudian menggunakan sejumlah obat untuk merawat Kim.
Di tempat berbeda, di kediaman pak kades, Rukmi yang awalnya sedang tiduran di kamar mendadak berusaha mencek*ik lehernya menggunakan kedua tangan. Rukmi tampak dikendalikan oleh kekuatan gaib. Kedua mata Rukmi melotot tak berkedip, sementara kuku-kuku jemarinya beranjak memanjang runcing berwarna hitam. Istri pak Kades yang kebetulan baru masuk, sudah langsung histeris. Membuat pak Kades yang awalnya tengah memandangi bingkisan pemberian pak Helios langsung terusik.
Buru-buru pak Kades ke kamar Rukmi yang ada di sebelah ruang keluarga pria itu awalnya berada. Terlebih, sang istri sudah histeris tersedu-sedu layaknya menangisi seseorang yang meninggal secara tragis.
Hanya saja, melihat Rukmi layaknya sekarang, pak Kades tak lagi panik. Pak kades hanya kebingungan, tak lagi bertindak buru-buru, seiring ingatannya yang dihiasi agenda dirinya berjabat tangan dengan pak Helios. Acara jabat tangan yang membuat mereka seolah tersengat aliran listrik. Namun ada akhirnya, justru ia yang terpental dan berakhir terkapar di atas terpal. Selain kejadian jabat tangan tersebut, pak Kades juga jadi ingat adegan Ryuna kesakitan sambil memegangi perut dan diamankan oleh Kim maupun pak Helios.
Beberapa detik kemudian, pak Kades pergi tanpa pamit bahkan sekadar basa-basi kepada sang istri dan sampai detik ini masih histeris. Ia kembali sambil membawa air mineral selaku isi paket bingkisan pemberian pak Helios. Ia memberikannya kepada sang istri, memintanya untuk meminumkan keada Rukmi.
“Bapak mau ke mana?” sergah sang istri takut ditinggal hanya dengan Rukmi yang sedang mirip siluman.
“Mau bakar semua jim*at, Bu! Sepertinya yang minta janin Ryuna, malah nyerang ke Rukmi!” pamit pak Kades. “Ibu juga tolong sambil bantu doa ya! Agar kita tetap bisa berjaya, membangun usaha walau tanpa benda pusak*a!”
Jadi, bisa disimpulkan kenapa Ryuna sempat kesakitan luar biasa dan pak Helios yakin, ada yang berusaha menyakiti calon cucunya. Juga, alasan pak Helios sudah langsung menatap penuh tanya cenderung marah pak kades, ketika agenda jabat tangan mereka dan terkesan dialiri arus listrik.
Sore menjelang petang, rombongan Kim sudah sampai tujuan. Mereka mendarat di lantai atas kediaman orang tua Kim. Hanya saja, Kim buru-buru mengajak Ryuna maupun kedua temannya pergi dari sana.
“Dimarahi mamah kamu loh!” lirih pak Helios wanti-wanti sambil mendelik kepada Kim.
__ADS_1
“Mamah kan masih di Singapura. Pengin ngerasain hidup susah di kontrakan Pah!” balas Kim masih berbisik-bisik.
“Masalahnya istri kamu sedang hamil. Papah yakin Ryuna sedang hamil!” pak Helios masih mengomel.
“Semingguuuuu, saja Pah. Tiga hari ... tiga hari!” mohon Kim yang memilih buru-buru pergi keluar karena Ryuna dan kedua temannya sudah lebih dulu ia antar ke depan pos satpam.
Ditinggal Kim, pak Helios makin ketar-ketir. “Dua hari saja!” lantangnya.
“Tiga Pah, aku janji. Habis itu aku bawa Ryuna tinggal di sini!” balas Kim agak berseru juga sambil terus buru-buru melangkah keluar dari rumah mewahnya yang mirip istana.
“Anak kandungku aneh semua. Hobinya hidup susah, tapi anak pungut yang memungut dirinya sendiri agar dijadikan anak, kerjanya bikin susah dan gaya hidupnya enggak kaleng-kaleng. Lihat tuh, aki-aki yang selalu minta dipanggil ‘kak Ojan’, baru sampai rumah sudah langsung renang, perosotan, dan minumnya kelapa muda. Ojan ... Ojan. Mau heran, tapi kamu memang manusia!” batin pak Helios segera menaiki anak tangga yang menghubungkan lantai keberadaannya dengan lantai di atas.
“Ini aku mau dibawa ke mana lagi?” lirih Ryuna benar-benar pasrah ketika Kim sampai mengambil salah satu motor matik dari tempat parkir khusus untuk motor, dan keberadaannya tidak jauh dari pos satpam.
“Kamu yang lain pakai mobil, ini kita pakai motor?!” keluh Ryuna tak lama setelah mobil yang mengangkut Candra dan Rasjid, pergi.
Kim langsung tersenyum tak berdosa sambil menatap Ryuna.
“Mau ngetes aku ma*tre, enggak?” seloroh Ryuna yang memang jengkel. “Ayo, mau tinggal di mana aku ikutin. Toh, hari besok juga niatku langsung cari kerja. Tapi aku memang harus ke rumah Dodo buat ambil beberapa barangku,” ucap Ryuna.
Kim yang sudah bersiap duduk di motor, segera menuntun Ryuna dengan hati-hati. “Tiga hari saja. Setelah itu, kita balik ke sini.” Ia benar-benar memohon.
“Terserah kamu, tapi mainnya jangan lama-lama,” balas Ryuna berusaha sabar sekaligus pengertian.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, menggunakan motor matic warna hitam yang Kim kemudikan, mereka menelusuri keramaian ibukota. Suasana macet tak menghalangi perjalanan mereka lantaran menggunakan motor. Kim mengajak Ryuna makan di beberapa angkringan dan Ryuna ayo-ayo saja sekaligus terlihat sangat nyaman. Malahan di beberapa kesempatan, mereka tak hanya mengobrol, bercanda, maupun tersenyum. Sebab mereka juga mulai sering berbagi tawa dan tak lagi canggung ketika tangan mereka dengan sendirinya saling menggandeng tanpa harus ada hal khusus.
Setelah sampai menunaikan salat isya bersama di masjid, sekitar pukul setengah sepuluh, motor Kim memasuki deretan teras kontrakan padat penduduk.
“Suamiku orang kaya tapi hobi hidup layaknya orang susah?” pikir Ryuna, terlebih sejauh mengenal Kim, pemuda yang ia yakini tajir melintir, tampak nyaman bahkan sangat bahagia ketika Kim sedang menjalani kehidupan orang ‘pinggiran’.
“Na, ini kuncinya. Sakelar lampu ada di sebelah kanan pintu. Nyalain, terus biarin pintunya terbuka biar sirkulasi udaranya aman. Aku mau beli obat nyamuk di warung depan, ya!” sergah Kim sambil buru-buru memarkir motornya di belakang Ryuna yang langsung paham dengan arahannya. Malahan, Ryuna sudah langsung membuka kunci pintu kontrakan tujuan mereka.
Suasana di dalam kontrakan memang terbilang pengap. Ryuna segera membuka penuh pintunya kemudian menekan sakelar sesuai arahan Kim. Namun, .....
“Arrrrrrrrrgggghhh!”
Teriakan Ryuna yang juga buru-buru menyusul Kim, juga langsung membuat Kim menghampiri Ryuna. Beberapa tetangga sampai melongok dan memperhatikan mereka.
“Kenapa?” tanya Kim sudah merangkul kedua lengan Ryuna.
“K-kita, ... k-kita, enggak salah kontrakan, kan? Ihhhh ... kamu ih nyebelin!” Ryuna nyaris menangis benar-benar sebal kepada Kim.
“Kamu lihat apa sih?!” Kim yang merasa tanggapan Ryuna sudah sangat berlebihan dan bisa dipastikan telah terjadi hal fatal, segera memastikan. Sesekali, ia menoleh ke sang istri. Ryuna jadi menggunakan kedua tangannya untuk menekap wajah.
Dan ketika akhirnya Kim melihat ke dalam kontrakan yang sudah terang benderang .....
“Innalilahi wainnalilahi rojiunnnnnn, anaknya Kak Ojan, ngapain kamu cuma pakai s3mpak?!” omelnya.
__ADS_1