
Suara gaduh kepanasan Dodo yang mengaku perih sekaligus sangat sakit, masih mewarnai kebersamaan di sana. Namun berbeda dari sebelumnya, kali ini tak ada lagi yang iba kepada pemuda gend*ut itu.
“Si Dodo lagi belajar ngereog kayaknya. Dikiranya hati dan pikiran ini rasa panti sosial. Sudah tahu hati dan pikiran sedang jauh dari kata tenteram karena ki Awet saja masih gentayangan entah di mana. Kirain kera*s*ukan ki Awet atau peliharaannya, eh malah ngereog!” keluh Rasjid terus berkeluh kesah.
“Puji Tuhan ada orang seperti Dodo. Berarti nanti kalau sampai kesu*ru*pan beneran,” ucap Candra berandai-andai.
“Langsung angkat, terus buang ke jurang!” tegas Kim yang segera memisahkan diri ke teras tempat semula ia dan Ryuna sarapan. Namun, Ryuna dengan cepat menyarankannya untuk cuci tangan. Ryuna bahkan sengaja melumuri kedua jemari tangan Kim menggunakan minyak goreng demi meredam rasa panas akibat cabai ulek yang baru saja Kim raih sekaligus sumpalkan ke Dodo.
“Ini tips buat meredam panasnya cabai?” tanya Kim benar-benar manis.
Tak sedikit pun curiga, Ryuna segera mengangguk-angguk.
“Kalau tips biar bisa nahan rindu ke kamu, gimana?” lanjut Kim yang detik itu juga sudah langsung membuat Ryuna salah tingkah.
“Ini yang tadi aku ulek, dikasih garam sama penyedap kok rasanya mirip bumbu geprek yah, Bos?” seru Rasjid dari dalam dapur, tapi Kim menggeleng lantaran ia tak mau berurusan dengan praha*ra Dodo lagi.
“Yang tadi belum dijawab, loh!” ucap Kim sambil menahan tawanya, sengaja menagih kepada Ryuna.
__ADS_1
“Enggak ada karena meski lagi bareng pun, kamu bakalan tetap ngaku rindu!” lirih Ryuna masih sibuk tersipu.
Kim juga masih sibuk tersipu, sementara Rukmi yang ada di sana dan sampai detik ini malah dicueki oleh Ryuna apalagi Kim, sengaja menghampiri.
“Mas Kim, itu yang di dalam siapa? Heboh kepanasan perih gitu?” ucap Rukmi sengaja basa basi.
“Oh ...?” Kim pura-pura terkejut tapi ia tak berniat menatap kedua mata Rukmi. Ia tetap menyibukkan diri dengan mengambil alih ransel Ryuna terlebih kedua tangan Ryuna masih membawa bekal. “Coba Mbak Rukmi lihat sendiri, siapa tahu kalian jodoh. Tapi, oalah aku lupa. Mbak Rukmi kan sudah menikah, ya?” Kali ini, sambil tersenyum, Kim sengaja menatap kedua mata Rukmi penuh peringatan.
Sikap tegas Kim kepada Rukmi membuat Ryuna diam-diam terpesona. Dunia Ryuna mendadak berputar lebih lambat seiring Kim yang sampai merangkul punggungnya, meski Kim juga sudah sampai membawakan ransel milik Ryuna. “Jadi penasaran, seperti apa orang tua Kim, bisa-bisanya mereka punya anak paket komplit sekelas Kim, apalagi jika Kim hanya anak seorang petani!” batin Ryuna.
“Ini aku enggak hanya dicueki, tapi memang langsung ditolak mentah-mentah. Mereka beneran enggak segan ke aku, padahal aku anaknya pak kades?!” batin Rukmi benar-benar sulit percaya. Namun demi membuat Kim dan Ryuna tak curiga kepadanya, ia tetap bersikap manis sekaligus ceria. Ia menyerahkan kantong yang ia bawa kepada kedua ibu-ibu yang awalnya mengapitnya. Tak lupa, ia juga sengaja pamit kepada Kim, meski yang ada, pemuda sangat tampan itu tetap mengabaikannya.
Di dalam aula, di bagian kamar dan itu dekat Dodo, pemuda yang sampai detik ini masih kepedesan sekaligus kepanasan, justru disilaukan oleh sebuah benda kecil berwarna keemasan. “Hah ...? Itu keris? Sakti, kah?” batin Dodo sudah langsung bersemangat. Ia hampir langsung memungutnya, tapi karena keris kecil dan besarnya tak lebih dari jari kelingking tangan kirinya itu terus bercahaya, dalam hatinya, Dodo sengaja berkata, “Kalau kamu beneran sakti dan kamu ingin aku urus, sembuhin dulu mata sama mulutku yang sekadar buat lihat saja nyaris enggak bisa!”
Bahkan saking parahnya, kedua mata Dodo juga sampai bengkak dan warnanya juga merah tak kalah terang dari cabainya.
Kini, dalam hatinya Dodo sengaja menghitung mundur sembari menunggu keris keemasan yang terus menyala itu memberinya keajaiban.
__ADS_1
“Tiga, dua, .... s sa ... sa ...,” batin Dodo yang kemudian justru berteriak, “Arrrrggghhhhhh!” Keris keemasan tadi terbang sambil terus memancarkan cahaya dan sampai mengejar Dodo.
Meski semuanya termasuk Rukmi mendengar Dodo histeris disusul suara berjatuhan silih berganti, kali ini benar-benar tidak ada yang peduli. Termasuk ketika akhirnya beberapa dari mahasiswa masuk dan mendapati keadaan sangat berantakan mirip baru saja terkena badai, sementara Dodo masih tergeletak di lantai, semuanya kompak cuek karena kapok dikad*ali lagi. Khusus hari ini, Kim berdalih tak usah melibatkan Dodo dalam KKN mereka.
“Nanti sore kita ke pondok putri ya. Mulai malam ini juga, kita mau pindah ke sana, apa mereka yang pindah ke sini. Oke, semangat tugas!” ucap Kim sengaja membubarkan anggotanya. Apalagi, Ryuna juga sudah mengabsen murid didiknya di dalam kelas, bersebelahan dengan dapur.
Ketika semua mahasiswa benar-benar pergi, tiba-tiba saja kedua mata Dodo terbuka dengan sempurna. Tanpa susah payah, tubuh Dodo yang tampak sangat ringan langsung terbangun. Tak berselang lama, ia bahkan sudah ada di depan kelas Ryuna mengajar. Detik itu juga kedua matanya menjadi menatap tajam Ryuna.
Ryuna yang awalnya sedang menulis di papan tulis, tak sengaja menatap ke arah keberadaan Dodo, hingga tatapan mereka bertemu. “Eh, ... tumben Dodo enggak pakai kacamata tapi kayak bisa lihat jelas gitu. Masa iya, mendadak normal?” batin Ryuna yang segera mengakhiri tatapannya kepada Dodo lantaran pemuda itu sudah langsung tersenyum semringah kepadanya, bahkan Dodo buru-buru melangkah masuk.
“Ya sudah Adik-Adik, ayo taawudz dulu, hafalin lagi ayat kursinya yang bisa melindungi kita dari marabahaya, termasuk itu melindungi kita dari hal-hal syir*ik. Bareng-bareng, ya A‘udzu ....”
Dodo yang awalnya melangkah gagah, mendadak kepanasan dan buru-buru menjauh. Ryuna yang lagi-lagi tak sengaja memergoki, hanya menggeleng tak habis pikir. Ryuna memilih fokus mengajari anak didiknya untuk lebih mengenal agama, agar ketika sedang mendapat kesulitan termasuk hal yang cukup diselesaikan dengan doa sekaligus amalan baik, warga sekitar tak lagi serba mengandalkan orang pintar atau itu du*kun sekelas ki Awet.
“Ulangi lagi, habis ini baru siapa yang bisa hafalin, Kakak Ryu kasih hadiah. Hadiahnya ada pulpen, pensil, buku, bahkan ... satu paket pensil mewarnai biar kalian makin semangat!” lanjut Ryuna dan sudah langsung disambut sangat antusias oleh anak-anak di sana yang memang sangat suka mempelajari hal-hal baru. Saking semangatnya kedua puluh tiga anak didik Ryuna dalam menghafalkan ayat kursi dengan suara lantang, mereka tidak mendengar suara raungan dari Dodo sambil guling-guling di teras berupa tanah agak basah, di teras depan ruang kelas mereka.
“Panas ... panas ... panas. Stoooop, tolong!” raung Dodo yang terseok-seok mencoba bangun kemudian pergi dan kembali masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Sementara di jalanan, Kim yang awalnya masih mengurus renovasi jalanan, sengaja pamit untuk memantau keadaan Dodo. Di waktu yang sama, setelah curi-curi kesempatan bertukar tatapan sekaligus senyuman, Kim yang sengaja memberikan kedua jemari tangannya membentuk hati kepada Ryuna, sama sekali tidak menemukan hal janggal dari Dodo. Dodo masih tertidur di dalam aula dengan keadaan yang tidak begitu mengalami perubahan.