Saling Cinta Setelah Menikah

Saling Cinta Setelah Menikah
68 : Suami dan Keluarga yang Makin Perhatian


__ADS_3

“Hah? Akuwa? Masa iya? Enggak sekalian, yang ada manis-manisnya?” ucap kak Ojan, si tua berjiwa remaja. “Beneran enggak mau pindah ke merek lain?” lanjutnya masih bawel tapi berakhir mendapat hanta*man baskom wadah pacitan atau itu hidangan, dari pak Helios.


“Paojan, ... kelakuanmu. Mentang-mentang bentar lagi novelmu luncuran, belagu ya kamu!” semprot pak Helios.


Detik itu juga, kak Ojan atau itu Paojan, langsung terkikik. “Pokoknya semuanya wajib baca. Kisah cintaku sama maiwaifi yang penuh rintangan melebihi mencari kitab suci, tapi bukan Suci istrinya Sepri apalagi suci wanita suci Aish di novel mas Aidan! Hahahaha!”


Acara muyen kelahiran Aqwa sudah langsung ramai meski baru di malam pertama. Bukan hanya dari tetangga dan para santri. Karena kerabat dan saudara juga sudah berdatangan. Mirip saat kelahiran Kim di novel : Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta yang Kejam.


“Lahir pukul 00.00 teng! Wah, Akuwa beneran raja dem*it kayaknya!” komentar kak Ojan lagi, dan lagi-lagi digepr*ek menggunakan baskom pacitan oleh pak Helios.


Karena tampaknya, pak Helios sengaja duduk di sebelah Ojan, agar pria tua berjiwa remaja itu tak makin merus*ak silsilah keluarga mereka.


“Berarti, mau sampai kapan mereka tinggal di sini? Apa untuk sementara, atau selamanya?” tanya pak Kalandra yang sudah makin sepuh.


“Untuk sementara, tapi yang mau menetap juga sudah ada,” balas pak Helios sambil tersenyum hangat kepada pak Kalandra.


“Menetap? Siapa? Brandon ...?” tanggap pak Kalandra yang sesekali tersenyum kepada sang istri. Karena di dalam sana, para wanita tampak sangat heboh menjaga bayi baru bertubuh gemoy, dan kabarnya memiliki kemampuan luar biasa. Kelahiran Aqwa sampai membuat orang sekitar heboh atas hal-hal janggal yang menyertainya.

__ADS_1


“Sudah langsung ketebak yah, Pakde?” ucap pak Helios sambil menahan senyumnya.


Pak Kalandra berangsur mesem sambil mengangguk-angguk. “Sudah kelihatan soalnya.”


Pak Helios tersipu kemudian menunduk.


“Ya enggak apa-apa. Kalau memang Brandon mau di sini, nanti saudara yang di sini juga bakalan bantu mengawasi,” yakin pak Kalandra sambil menatap pak Helios.


Senyum semringah sudah langsung menghiasi wajah pak Helios. “Matur suwun sanget, Pakde!” ucapnya yang mengungkapkan rasa terima kasihnya menggunakan bahasa setempat.


“Bukan masalah, Her. Ibaratnya, anak-anak kalian, otomatis juga jadi tanggung jawab kami!” yakin pak Kalandra. Karena hubungan kekerabatan yang begitu erat, hubungan mereka memang sudah seperti keluarga.


“Enggak apa-apa. Anak laki-laki memang begitu. Mereka berusaha mencari jati diri. Karena jangankan Brandon, dulu saja Azzura begitu. Beberapa cucu Pakde juga. Mereka seperti mengemban beban tersendiri jika harus tampil dan berbaur dengan masyarakat umum. Makanya pas ke tempat lain dan itu ke tempat yang beneran enggak ada yang kenal mereka, mereka seperti bebas!” balas pak Kalandra.


Meninggalkan keseriusan pembahasan pak Helios dan pak Kalandra, di dalam kamar, Kim tengah sibuk menyuapi sang istri. Sesekali, para ibu-ibu yang ada di sana akan membimbing atau malah menggoda Kim yang begitu perhatian ke istri layaknya kebanyakan suami di keluarga mereka.


“Itu tidur seanteng itu, biasanya tengah malam begadang. Apalagi kalau tali pusarnya belum lepas. Baru, nanti kalau sudah lepas, tidurnya anteng banget,” ucap ibu Septi tak mau ketinggalan langsung datang di muyen pertama. Meski malam ini, sang suami absen menemaninya lantaran harus mengurus beberapa pasien di klinik.

__ADS_1


“Oh iya, Ibu Septi. Berhubung Ibu kan istrinya dokter. Ini saya mau memperjelas,” ucap eyang Aleya yang meringkuk tiduran di pinggir Aqwa.


“Sista bikin saya tegang!” ucap ibu Septi yang walau sudah tidak muda, masih berjiwa muda.


Semua yang di sana, termasuk Ryuna yang tengah disuapi soto ayam hangat buatan ibu Arum langsung mesem. Ryuna bahkan berbisik-bisik kepada Kim yang duduk di hadapannya, bahwa menurutnya, para eyang alias para neneknya Kim, masih sangat rame sekaligus kekinian.


“Mitos lepasnya tali pusar loh, Ibu Septi. Yang katanya makin lama tali pusar kering terus lepas, makin sayang juga anak itu ke orang tuanya. Secara kan, sekarang zaman serba canggih. Serba obat, dan biasanya ini bikin luka termasuk jahitan hamil, cepat sembuh. Soalnya lahiran zaman dulu, ibu habis melahirkan saja malah enggak boleh makan enak. Apa-apa wajib direbus, kukus, atau malah bakar. Bumbu pun terbatas, dan ikan lebih-lebih, sampai ada yang enggak boleh makan,” lanjut eyang Aleya.


“Gaul-gaul mereka Mas,” bisik Ryuna lagi dan sang suami hanya tersipu. Sesekali, tangan Kim yang tidak memegang sendok untuk menyuapinya juga mengelus lembut tangannya yang suaminya itu genggam.


Perhatian Kim kepada Ryuna memang menjadi naik drastis semenjak Aqwa lahir. Padahal, belum genap sehari mereka resmi menjadi orang tua. Namun, Kim begitu bersemangat. Karena seharian ini saja, setelah mencuci semua bekas persalinan Ryuna termasuk baju keluarga kecil mereka, Kim tetap turun tangan menyiapkan makanan untuk Ryuna. Sekadar menyuapi, bahkan membantu minum, sampai Kim lakukan meski Ryuna sama sekali tidak repot.


“Lama-lama aku takut gendut kalau apa-apa dila*yani kayak gini, Mas,” rengek Ryuna lantaran sampai hari kelima setelah lahiran, Kim masih memperlakukannya layaknya Ratu. Tengah berjemur saja, Kim yang baru beres menjemur pakaian, sudah sigap menyuapinya makan. Sementara di sebelah mereka ada orang tua Kim yang tengah menjemur Aqwa. Keduanya tampak sangat bahagia sekaligus menikmati masa-masa menjadi kakek nenek baru di usia yang terbilang belum terlalu tua.


“Gendut bagaimana? Nanti kan bisa ikut mamah yoga, apa gimana. Lagian begini juga buat kebaikan bersama. Apalagi Aqwa nen*ennya kenceng banget,” ucap Kim. “Lagian, aku hanya cuti sepuluh hari. Habis itu pulang pergi. Untuk sementara kita LDR. Nanti kalau sudah empat puluh hari, kita baru pindahan ke Jakarta.”


Mendengar itu, Ryuna sudah langsung sedih. “Baru bahas mau LDR saja rasanya berat banget ya Mas.”

__ADS_1


“Mamah sama eyang tetap di sini. Nanti tiap weekend aku juga balik,” yakin Kim yang kemudian mencubit gemas pipi Ryuna.


“Ya sudah, Mas, enggak apa-apa.” Ryuna berusaha tegar, berusaha bersyukur. Karena seberat-beratnya LDR yang sudah ada di depan mata, di luar sana ada yang menjalani hubungan jauh lebih berat. Terlebih sejauh ini, segala kebutuhannya baik kebutuhan lahir maupun batin, benar-benar terpenuhi bahkan lebih. Termasuk kasih sayang dan segala kebutuhan untuk anaknya. Aqwa putranya juga tak kekurangan sedikit pun.


__ADS_2