
“Kok rasanya, ... jantungku seperti ditusuk-tusuk, yah?” batin Ryuna sudah langsung merasa sangat tidak nyaman.
Karena meski status Ryuna ibarat mendadak menjadi istri, menikah dengan pemuda yang sebelumnya sama sekali tidak Ryuna kenal, bagi Ryuna, pernikahannya dan Kim tetaplah sakral. Apa pun sekaligus bagaimanapun keadaan mereka, Ryuna tetap ingin bersama-sama Kim hingga akhir. Terlebih meski dari segi ekonomi Kim hanya anak petani, tanggung jawab Kim beserta kenyataan Kim yang tampak tulus mencintainya, dirasa Ryuna sudah lebih dari cukup untuk terus mengarungi bahtera rumah tangga.
Hanya saja, keadaan kini juga mendadak membuat Ryuna merasa ragu. Masihkah Kim akan tetap begitu, bertanggung jawab, mengayomi sekaligus mencintainya, jika pria itu memiliki wanita sekaligus cinta yang baru?
Sampai detik ini, pak kades masih menjelaskan status Rukmi yang tak terikat hubungan dengan siapa pun. Sebab ulah Rukmi minggat di acara malam pertama, dan sebelumnya sampai menyekap sang suami, membuat sang suami sekeluarga murka. Pihak suami Rukmi sepakat membatalkan pernikahan dan Rukmi diwajibkan membayar denda. Karenanya, bagi pak kades, status Rukmi benar-benar tak terikat, selain Rukmi yang siap dijadikan istri kedua.
“Rukmi juga berjanji akan selalu baik ke Ryuna. Buktinya, dari kemarin pun Rukmi sudah berusaha pendekatan dengan Ryuna agar rumah tangga kalian rukun seperti rumah tangga ki Awet!” yakin pak Kades yang sudah sampai berlutut di hadapan Kim maupun Ryuna.
“Kenapa Rukmi tidak Pak Kades nikahan dengan ki Awet saja, agar rumah tangga mereka tetap rukun meski ki Awet sudah punya banyak istri, Pak?” sergah Kim. “Maaf-maaf saja, yah, Pak. Andaipun kemungkinan terpahitnya kami harus berpisah, hanya maut saja yang mampu melakukannya. Saya dan Ryuna tetap akan bersama-sama hingga akhir. Andaipun Pak Kades akan mengungkap hubungan kami, ya silakan karena itu hak Pak Kades. Namun Pak Kades juga jangan lupa, saya juga berhak membela diri, bahkan itu menuntut Pak Kades! Kalau begitu permisi, tapi bisa saya pastikan, acara KKN kami cukup sampai di sini. Semoga warga sini, termasuk Pak Kades lebih punya hati, lebih melek, agar kalian senantiasa melihat kebaikan orang lain. Amin, ... sebelum Allah benar-benar membutakan mata bahkan hat kalian!” tegas Kim. Ia masih membopong Ryuna, membawanya pergi dari sana meski kenyataan tersebut membuatnya sangat kewalahan. Ditambah lagi, diserud*uk Rukmi ketika wanita itu menjelma menjadi macan, sukses membuat dadanya tidak baik-baik saja.
Kim mantap dengan keputusannya yaitu mengakhiri acara KKN di sana. Ia mengumumkannya kepada semua yang ada di sana.
“Saya mewakili rekan-rekan saya, memutuskan untuk mengakhiri KKN di sini, demi keamanan bersama. Namun besok kami akan tetap pamitan secara resmi kepada warga. Karena setelah semua yang terjadi, saya merasa lebih baik KKN ini disudahi,” ucap Kim sengaja pamit. Ia meminta rekannya untuk mengangkat tubuh Dodo dan sampai detik ini masih belum tak sadarkan diri.
“Kim, aku jalan saja. Dada kamu sakit, ... kamu beneran enggak baik-baik saja,” mohon Ryuna berbisik-bisik.
__ADS_1
“Enggak apa-apa,” singkat Kim masih sangat kesal kepada pak kades, pak RT, dan juga beberapa warga yang terlibat.
Di tengah kegelapan yang mulai menyelimuti, rombongan mereka yang masih dikawal oleh kedua pengawal Kim, terus melangkah menuju pondok atau itu tempat penginapan putri. Ryuna yang tak sengaja mengawasi ke atasnya, dikejutkan oleh seekor burung hantu yang terus terbang mengikuti mereka.
“Kim, ada burung hantu yang terus mengikuti kita,” sergah Ryuna berbisik-bisik seiring ia yang kian mengeratkan dekapannya terhadap punggung Kim karena kini, ia digendong di punggung.
“Paman ... tolong urus burung hantunya!” pinta Kim kepada salah satu pengawalnya.
Detik itu juga Ryuna menjadi memikirkan status kedua paman Kim, dalam hidup Kim. Kenapa seorang paman selalu sigap mengawal dan memperlakukan Kim layaknya sang tuan?
“Oh iya aku lupa ... biasanya kalau di desa orang tuaku, burung hantu mitosnya identik dengan wanita hamil. Apa iya, aku hamil, makanya tadi, mbak Rukmi terus berusaha menyerang aku?” pikir Ryuna yang sudah langsung waswas. Bukan perkara karena ia belum siap hamil, tapi karena kini, ia tengah berada di tempat yang sangat tidak mendukung.
Hingga akhirnya di sepertiga malam menjelang subuh, suara berisik mirip karena tengah dice*kik dari dalam kamar mahasiswi, sudah langsung mengusik Ryuna. Ryuna yang awalnya masih setengah sadar, buru-buru membangunkan Kim yang memang tidur meringkuk di pangkuannya.
“Ada apa?” sergah Kim buru-buru melepas sarung yang sedari tadi ia jadikan sebagai selimut. Ia masih menatap wajah Ryuna, kemudian berganti mengawasi suasana sekitar. Kebetulan, mereka tidur di bangku kayu, sementara di bawah, di tanah beralas tikar, para mahasiswa masih meringkuk sekaligus lelap.
“Itu di dalam ada yang merintih kesakitan!” rintihan yang makin lama makin keras, tepatnya.
__ADS_1
“Sonya ... Sonya kamu kenapa lagi? Kamu enggak boleh begini!” panik Tiwi dari dalam sana.
Detik itu juga, Kim dan Ryuna yang mendengar, bergegas turun. Saking bucinnya kepada Ryuna, Kim yang berhasil turun lebih dulu, langsung membopong Ryuna kemudian menurunkannya dengan hati-hati.
Efek memangku Kim terbilang lama, membuat kedua kaki Ryuna kesemutan. Namun karena Ryuna khawatir kepada Sonya, Ryuna berusaha siaga. Meski ketika nyaris masuk ke kamar, Ryuna justru teringat kemungkinan dirinya yang memang tengah hamil, dan harusnya menghindari sosok-sosok yang kerasu*kan.
“Kenapa?” sergah Kim yang memang belum diberi tahu oleh Ryuna mengenai kemungkinan Ryuna yang tengah hamil.
Tak mau sesumbar, Ryuna buru-buru menggeleng. “Takut ... aku tunggu di sini saja!” balasnya terpaksa berbohong, tapi Kim juga langsung memaklumi.
Karena kehebohan Tiwi dan para mahasiswi yang mengkhawatirkan keadaan Sonya, para mahasiswa yang tadinya sangat lelap juga silih berganti bangun. Apalagi Candra, si anak Tuhan yang langsung melakukan doa.
“Ryuna, ada apa lagi?” sergah Candra sengaja memastikan ke Ryuna yang berdiri di sebelah gorden merah selaku penutup pengganti pintu kamar.
Seperti biasa, Dodo yang sudah tidak dipengaruhi jelmaan apa pun, memilih bersembunyi di balik punggung Ryuna. Ryuna sampai tidak nyaman, dan tentu saja mengomel kepada Dodo.
“Sonya, tolong jangan begini. Kalau kamu sampai kenapa-kenapa bahkan fatalnya meninggal, yang bayar aku siapa? Kamu janji bakalan kasih aku uang setelah aku mendoro*ng Ryuna ke jurang! Kamu jangan begini dong ... aku beneran butuh uang itu buat bantu-bantu biaya operasi papahku!” ucap Tiwi masih sangat tidak bisa tenang.
__ADS_1
Detik itu juga semua yang di sana kecuali Tiwi apalagi Sonya yang mirip kesu*rupa*n, langsung terdiam. Mereka kompak menatap tak percaya kepada Tiwi, tapi khusus Kim yang tengah berdoa sambil memegang segelas berisi air putih, sudah langsung menatap Tiwi yang ada di sebelahnya, dengan tatapan sangat marah.