
Ryuna yang memakai gaun malam warna merah muda, melangkah loyo keluar dari kamar mandi. Sesekali, wanita itu akan melakukan peregangan kedua tangan, kepala, tubuh, bahkan kedua kakinya. Ryuna terlihat sangat kelelahan, sekadar menyugar rambut panjangnya yang tergerai saja seolah sudah tidak sanggup. Namun ketika wanita itu menatap ke tempat tidur dan di sana ada sang suami yang duduk menunggu, Ryuna diam kebingungan, tapi beberapa detik kemudian, wanita cantik itu segera memasang senyum. Termasuk untuk melangkahnya, Ryuna sampai berusaha semangat empat lima.
“Capek?” tanya Kim lembut, dan sudah langsung sukses membuat sang istri diam dan perlahan tersenyum masan. Ia sengaja merentangkan kedua tangannya, sengaja meminta sang istri untuk masuk ke dekapannya.
“Badanku meriang dan rasanya enggak jelas, Mas.” Dalam dekapan Kim, Ryuna benar-benar diam, meringkuk dan sekadar membalas dekapan Kim saja, ia memang tidak sanggup.
“Sini aku pijitin. Sekalian minta Mbak buat siapin makan, ya? Soto panas-panas, pakai nasi, oke, ya? Minumnya yang hangat, mmm ... teh manis kasih lemon atau perasan jeruk nipis?” ucap Kim benar-benar lembut dan memang sengaja memberikan perhatiannya.
Ryuna berangsur mengangguk-angguk sebagai balasannya. Yang mana di detik berikutnya, sang suami dan sampai detik ini masih mendekapnya, juga segera menelepon ART rumah. Kim meminta sang ART untuk segera menyiapkan apa yang tadi pemuda itu tawarkan kepada Ryuna.
“Oke ... makasih banyak yah, Mbak.”
Dalam diamnya, Ryuna mengakui, suaminya selalu bersikap manis kepada orang terdekat mereka, termasuk kepada para pekerja di rumah. Malahan semenjak Ryuna hamil, Kim jadi makin manis, dan itu Kim lakukan sebagai bentuk rasa syukurnya karena sebentar lagi, pemuda itu akan memiliki seorang anak.
“Gaun malamnya lepas dulu, aku mau urut kamu biar enakan. Ini AC kayaknya matiin dulu soalnya badan kamu mulai anget. Bentar, pakai minyak sereh, kayaknya di lemari sini ada,” ucap Kim yang segera meninggalkan Ryuna untuk jongkok dan membuka lemari kecil di sebelah tempat tidur.
__ADS_1
“Mas yakin?” tanya Ryuna ragu, tapi jika merujuk dari ucapan Kim, suaminya itu memang akan memijatnya dan tampaknya seluruh badan karena Kim sampai memintanya untuk melepa*s gaun malam.
“Iya ... papah bilang, biasakan ajak janin komunikasi, selain biasakan urut istri apalagi kalau istri hamil. Kayaknya memang jadi ikatan tersendiri sih,” ucap Kim sembari mengendus-endus botol berisi minyak sereh yang akan ia pakai untuk mengurut Ryuna.
Mendengar itu, Ryuna sudah mesem, terlepas dari dirinya yang juga sudah langsung ketiduran. Ryuna benar-benar pulas dan langsung kaget ketika mendapati sebuah kalung putih berliontin bintang sangat berkilau, menghiasi lehernya yang sudah kembali memakai gaun malam.
“Ini aku beneran enggak ingat apa-apa. Hal terakhir yang aku ingat ... iya, aku lagi diurut mas suami, nah habis itu aku beneran enggak ingat lagi. Namun kalung ini—masa iya, habis diurut aku juga sampai diberi kalung sebagus ini, sementara kemarin saja, aku sudah dapat banyak?” pikir Ryuna yang juga merasa tidak asing pada kalung pendek nan simpel yang ia pakai. “Kayaknya kemarin aku lihat ... pas di toko perhiasan,” lirih Ryuna yang kali ini sudah langsung tersenyum ceria. Ia terlalu bahagia dan sampai bingung mengungkapkannya.
Tanpa bersuara, Ryuna sengaja mendekap manja pinggang Kim kemudian membenamkan wajahnya di leher suaminya itu. Kim yang awalnya benar-benar lelap, menjadi terusik, membalas pelukan Ryuna sembari menanyakan kabar alarm dan Kim yakini belum bunyi.
“Iya, memang belum bunyi Mas.”
“Heeum!” Kali ini Ryuna mengangguk-angguk.
Di tengah kedua matanya yang masih sepenuhnya terpejam, Kim membiarkan bibirnya mengabsen kepala, wajah, termasuk leher Ryuna. “Nanti bangunin aku, takutnya aku enggak dengar. Habis sarapan kita langsung ke hotel, istirahat sama riasnya langsung di sana saja biar enggak kecapaian.”
__ADS_1
Setelah berucap seperti tadi, Kim benar-benar kembali pulas, mirip orang pingsan. Ryuna sampai tak tega mengusiknya, meski Ryuna sudah ingin membahas kalung mungil yang kini telah mempercantik penampilannya.
Di tengah acara sarapan, kedua gaun muslim milik Ryuna yang kemarin baru Ryuna coba sekaligus pilih bersama Kim, sudah diboyong oleh ART di rumah, ke mobil. Termasuk perlengkapan lain, maupun itu dua kantung panjang dan Ryuna yakini merupakan seragam untuk Kim.
Suasana pagi ini lebih sibuk dari pagi sebelumnya. Terlebih orang rumah memang akan pergi semua, dan beberapa ART sengaja dibawa untuk membantu ibu Chole, Calista, maupun Hyera yang paling heboh. Iya, dari semuanya, meski paling kecil, perlengkapan Hyera yang paling banyak. Brandon sampai berdalihakan mengangkut Hyera beserta kamar gadis itu menggunakan truk, agar tidak ribet.
“Mas Brandon mah ... dikiranya aku ini rong*sokan, mau dikarungin juga, terus dibawa pakai truk?” protes Hyera yang sudah langsung ngambek. Terlebih gara-gara celotehan sadi*s Brandon, semua yang sedang di ruang makan termasuk para ART yang tengah bekerja, kompak menertawakannya. Justru, hanya Brandon satu-satunya yang tidak tertawa, dan memang sudah terbiasa begitu.
Acara keluarga yang Kim sekeluarga maksud, ada di hotel mewah. Hotel bintang lima dan sempat membuat Ryuna bengong saking takjubnya. Terlebih dulu, sebelum mendadak dinikahi Kim, menginap di hotel apalagi hotel mewah, menjadi salah satu hal mustahil yang Ryuna tulis untuk tetap wanita itu lakukan, sebagai penghargaan untuk dirinya yang sudah sangat bekerja keras. Namun kini, setelah ia menjadi bagian dari Kim yang memiliki segala kemewahan, tampaknya mengunjungi bahkan menginap di hotel mewah, akan menjadi hal biasa untuk seorang Ryuna.
“Ibu sama bapak pasti lihatnya ikut bahagia bahkan mungkin bangga. Aku enggak bohong apalagi mengada-ngada, kayak gini bikin jiwa misk*inku meronta-ronta. Nginj*ek lobi hotel mewah saja rasanya langsung semriwing gara-gara datang sama orang kaya yang sudah punya jalan ninja. Lewatnya langsung karpet merah, sana sini langsung senyum—menyapa. Mereka begitu hormat kepadaku,” batin Ryuna susah payah mengimbangi rombongan Kim yang lebih mirip pasukan.
Sampai detik ini, Ryuna masih digandeng Kim, selain Kim yang sampai menenteng tas Ryuna. Pemandangan yang juga selaras dengan apa yang pak Helios maupun kedua saudara laki-laki Kim lakukan. Karena di depan Ryuna dan Kim, pak Helios yang memimpin langkah bersama ibu Chole, juga sampai menenteng tas jinjing sang istri.
Calista yang digandeng Boy dan keduanya mirip pasangan sangat saling mencintai, melangkah di belakang Kim dan Ryuna. Sementara di barisan paling belakang diikuti oleh tiga orang ART dan tiga orang ajudan, Hyera yang digandeng Brandon justru mirip korba*n nikah pak*sa. Iya, Hyera masib ngambek berat dan sekadar melirik wajah Brandon, gadis itu tidak sudi melakukannya. Apalagi Brandon juga bukan tipikal yang mau mengalah.
__ADS_1
“Ingat Mas Brand ... carilah istri rasa ibu peri yang bisa sabar menghadapi Mas sepanjang hari!” ucap Hyera sengaja menyindir sang kakak. Namun karena kakaknya itu hanya diam datar mirip patung berbatre, ia sengaja berkata, “Mas bukan kaum ‘pelangi‘ kan?”
Detik itu juga Brandon langsung mendelik kemudian memanggul Hyera dan memasukkan adiknya itu ke tong sam*pah terdekat.