
“K-Kim, Food ...?” Belum apa-apa, Ryuna sudah linglung.
Yang Ryuna tahu, restoran yang mereka kunjungi memang selalu ramai layaknya restoran cepat saji pada kebanyakan. Walau sejauh ini, di restoran tersebut bukan hanya berisi makanan cepat saji, melainkan makanan merakyat lainnya, dengan nama menu yang fenomenal yaitu Mantan.
“Mas, aku pernah beberapa kali ke Kim Food,” cerita Ryuna memulai obrolan sambil tetap membiarkan kedua tangannya digandeng sang suami.
Kim yang masih menuntun Ryuna memasuki restoran langsung bergumam lembut kemudian menatap teduh sang istri yang sesekali menatapnya. “Berarti belum pernah ke sini, ya? Ini yang pusat.”
Ryuna menggeleng lembut. “Belum Mas, ini beneran yang pertama kalinya. Kalau Mas?”
Bukannya menjawab, Kim justru terdiam dan merasa ragu untuk menjawab. Yang ia lakukan malah memeluk gemas Ryuna, meski mereka terus melangkah
“Aku penasaran sama menu “sate mantan”. Dari dulu belum sempat coba. Oh, iya ... Mas sudah tahu belum kalau di sini, nama menunya fenomenal bin viral, serba mantan? Kesannya yang punya sama bikin nama menunya, memang dendam kesumat ke mantan!” lanjut Ryuna sambil menatap Kim ceria, ia bahkan tertawa geli dan membaginya kepada sang suami.
Ryuna tak mau terus menerus larut dalam kesedihan, sementara kenyataan yang harus ia hadapi jauh lebih membutuhkannya. Terlebih hanya tinggal menunggu proses, ia akan mendapatkan keadilan atas kasusnya maupun orang tuanya dengan Dodo sekeluarga.
Belum sempat mendapat jawaban, Ryuna terusik oleh suara yang amat ia kenal. Suara pak Helios, juga suara ibu Chole. Yang membuatnya langsung tak berkutik sekaligus mati gaya, mertuanya itu memakai celemek layaknya karyawan pada kebanyakan.
“Naaaaaaa, siniiiiii! Kalian ke sini? Kalian mau makan apa? Mamah siapin rujak sama pecel, dan menu lainnya, ya!” ucap ibu Chole sudah langsung heboh dan segera kembali memasuki area dapur.
__ADS_1
Melihat gerak ibu Chole yang begitu leluasa, seolah wanita itu sudah terbiasa melakukan segala sesuatunya, membuat Ryuna langsung curiga. Pertama, nama restorannya saja sudah membuatnya teringat nama suaminya. Kedua, pak Helios dan ibu Chole yang tak segan sibuk bekerja, juga sangat disegani oleh setiap karyawan yang ada.
“P-pah, tadi Ryuna komentar, ... katanya ... ini mengenai nama menu di restoran kita yang baginya fenomenal bin viral. Nah, Ryuna curiga, yang punya restoran sekaligus yang kasih nama menunya, punya dendam khusus bahkan kesumat ke para mantan!” ucap Kim di antara tawanya sambil menikmati bebek goreng di piringnya.
Ryuna yang baru tahu jika restoran kunjungan mereka merupakan salah satu gurita bisnis dari keluarga suaminya, langsung ketar-ketir. Bebek goreng yang harusnya lunak, mendadak sulit ia suwir hanya karena kabat yang baru saja suaminya bagikan.
“Nah iya, Na ... dulu si juragan bedak, sudah tahu mamahnya Kim sudah punya suami bahkan anak, masih saja modus. Malahan dia sampai lupa daratan dan sampai berharap ada menu terbaru yang namanya ‘kapan kalian cerai?’. Cari mat*i banget kan itu mantan enggak tahu diri!” ucap pak Helios sudah langsung sewot.
Ibu Chole yang awalnya tengah menyuapi pak Helios menggunakan tangan kosong langsung ngakak. Tawa yang juga langsung menular kepada Kim maupun Ryuna. Meski untuk Kim dan Ryuna, kedua sejoli itu hanya tersenyum malu-malu.
“Sampai sekarang, masih, Pah?” tanya Ryuna sudah langsung mencoba akrab sekaligus menyatu dengan keluarga suaminya.
“Om Bedak sudah menikah,” ucap Kim santai sekaligus lembut. Ia menyuapi Ryuna menggunakan makanan dari piringnya, meski kini, mereka tengah sama-sama menikmati bebek goreng dengan sambal hijau yang benar-benar nagih.
“Bu, ... Pak. Suamiku baik banget. Suamiku romantis banget, dan aku sayang banget ke suamiku. Lihat, mertuaku juga baik banget. Semuanya perhatian, semuanya sayang ke aku apalagi sekarang aku sedang hamil. Oh iya, Pak ... Bu, sebentar lagi aku yakin, kita akan mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya. Aku pastikan, ibu Siska akan mendapatkan balasan setimpal!” batin Ryuna sambil mengunyah pelan, menikmati setiap suapan dari sang suami. Tak beda dengan ibu Chole yang sibuk menyuapi pak Helios, itulah yang Kim lakukan kepadanya sambil sesekali makan sendiri.
Ryuna tidak bisa menjelaskan perasaannya. Yang jelas, perasaannya sungguh campur aduk. Ia merasakan bahagia, luka, sekaligus kecewa, dalam waktu yang sama. Namun tak bisa Ryuna pungkiri, bersama Kim sekeluarga, ia benar-benar bahagia. Kim dan keluarganya sudah langsung membuatnya merasa sangat nyaman.
“Dulu, si mantan pernah minta jadi menantu. Nah, akhir-akhir ini ngajak besanan. Papah suruh mereka buat besanan sama Eyang Ojan saja!” lanjut pak Helios sengaja mengambil sekaligus meminum air mineral dinginnya sendiri tanpa dibantu sang istri.
__ADS_1
“E-yang Ojan? Maksud Papah, papahnya Rain?” balas Ryuna memastikan.
“Ya iya, ... memangnya siapa lagi yang cocok dipanggil eyang selain dia? Kamu jangan ikut-ikutan panggil dia kak Ojan, ya. Enggak banget.” Pak Helios makin mengomel-omel, tapi ketiga orang yang ada di sekitarnya, apalagi sang istri, sudah langsung sibuk menertawakannya.
“Restoran ini papah bangun pas mamah hamil aku. Papah jadiin ini dan beberapa cabang lainnya, sebagai wujud rasa terima kasih sekaligus cintanya kepada mamah,” lirih Kim sambil menatap Ryuna penuh cinta. Di hadapannya, sang istri langsung terkesima. Kedua mata Ryuna yang awalnya menatap kedua matanya dengan tatapan teduh, menjadi berkaca-kaca.
Sampai detik ini, Ryuna masih menjadi pendengar yang baik. Ia menatap Kim dengan jarak yang begitu dekat, sementara kedua tangan mereka menggenggam erat di pinggir meja.
Kebersamaan mereka tak lagi disertai pak Helios maupun ibu Chole. Keduanya sudah pamit pergi untuk mengecek restoran cabang terdekat.
“Di kampung kan, papah juga bangun pondok. Dan semua itu masih untuk mamah. Papah sengaja kasih ke mamah karena melalui mamah, kebahagiaan demi kebahagiaan hadir sekaligus lahir. Walau khusus Kim Food, ini beneran buat aku, sementara yang lain sengaja dibuatkan bisnis beda. Mbak Calista sama Hyera, contohnya. Mereka mau bisnis air mineral karena bagi mereka, air mineral selalu menjadi kebutuhan pokok makhluk hidup.
“Kalau si kembar?” tanya Ryuna lembut, benar-benar manis.
“Mereka mau dimasukin ke pondok dulu. Paling nanti mereka urus Kim Food cabang. Makanya dari sekarang, aku mau siap-siap bangun bisnis lain. Atau secara online saja. Buktinya, uncle Akala sukses besar meski beliau enggak punya banyak perusahaan,” ucap Kim.
“Bisnis online, ya?” tanya Ryuna dan langsung dibalas anggukan oleh Kim. Suaminya itu bahkan merapatkan wajah mereka, kemudian menempelkan bibirnya di kening Ryuna sangat lama.
“Semanis ini, seromantis ini. Aku sampai takut kalau ini hanya mimpi. Namun, ini nyata ...,” batin Ryuna seiring ia yang menunduk sekaligus tersipu.
__ADS_1