Saling Cinta Setelah Menikah

Saling Cinta Setelah Menikah
48 : Di Antara Ipar Dan Mertua


__ADS_3

Masih pagi dan baru beres salat subuh bersama, Ryuna sudah sibuk mere*m*as tangan Kim. Ryuna hanya terlalu tegang karena memang belum terbiasa berada di tengah keluarga Kim.


“Habis ini, aku beneran enggak usah masak? Nyiapin sarapan, nyiapin bekal buat kuliah?” bisik Ryuna tepat di depan wajah Kim yang memang sudah duduk di sebelahnya.


Kim langsung menggeleng. “Enggak usah. Sarapan sudah ada yang nyiapin, tapi kalau kamu mau bantu, juga enggak dilarang. Tapi jangan dulu kecapaian deh, kamu kan lagi hamil muda. Mamah papah bilang, rawan juga. Paling nanti buat makan siangnya kita makan di kampus atau malah mampir ke restoran,” ucapnya berbisik-bisik juga. Namun setelah itu, ia sengaja pamit dan membawa Ryuna pergi dari sana. “Pengin makan ramen,” ujarnya kepada yang lain dan sudah langsung membuat yang lain terbengong-bengong.


“Ramen apa indomi?” sindir Brandon—si paling sinis sekaligus dingin.


Bahkan karena sikap Brandon yang sangat dingin, Ryuna sampai tidak berani kepada pemuda berusia lima belas tahun itu, yang mana Ryuna juga akan langsung menahan napas jika lewat di depan Brandon.


“Beneran Ramen yang pedes, Dek!” balas Kim masih menyikapi dengan hangat.


“Mamah juga jadi pengin makan mi kentang kasih telur sama cabe!” ucap ibu Chole bersemangat.


Pak Helios yang masih duduk di sebelahnya sudah langsung mengernyit sambil menatapnya tak habis pikir. “Masa iya ikut ngidam?”


“Cucunya sayang oma ...!” manja ibu Chole dan sukses membuat Calista maupun Boy kompak menahan tawa.


“Mamah bilang, Mamah mau diet?” protes Hyera sengaja mengingatkan.


Ibu Chole yang tak memakai cadar langsung kebingungan, seiring tatapannya yang berhenti tepat di kedua mata suaminya. “Papah bilang, kalau Mamah gendut, Papah bakalan tetap cinta?”


Detik itu juga pak Helios langsung mengangguk-angguk. “Pasti! Papah memang cinta mati ke Mamah. Bismillah, jadi pasangan dunia akhirat!” ucapnya terdengar kaku tapi menggemaskan, bahkan di telinganya sendiri. Ia melakukannya sambil menepuk-nepuk gemas kedua pipi ibu Chole yang sampai ia bingkai menggunakan kedua tangan.

__ADS_1


Dari semuanya, lagi-lagi Calista dan Boy yang sibuk cekikikan. Lain dengan Hyera yang tampak tidak nyaman.


“Papah Mamah, pacaran terus!” protes Hyera buru-buru duduk di antara mamah dan papahnya.


“Mamah sama Papah, ada rencana nambah anak lagi?” to*dong Brandon sudah langsung membuat kedua orang tuanya syok.


“Kalau kalian mau adik, itu nanti kan kak Kim kan bentar lagi punya anak,” ucap ibu Chole mencoba mencairkan keadaan. Namun, sikap cuek bin dingin kebangetan dari seorang Brandon membuatnya sangat gemas. Brandon yang begitu mengingatkannya kepada pak Helios saat di masa lalu. Saat di awal kisah mereka di novel : Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta yang Kejam.


“Siniiiii, siniii. Dari semuanya, Mas Brandon itu yang paling gemesin tahu!” Ibu Chole sengaja mencubit gemas, menguwel-uwel Brandon yang tetap saja judes dan hanya memasang wajah menyebalkan sekaligus tidak nyaman.


“Coba dikasih bandana pink atau malah kerudung pink, Mah. Kayaknya jadi cucok!” ucap Hyera yang sengaja bermanja kepada papahnya. Ia duduk di pangkuan pak Helios yang ia dekap erat, selain ia yang tak segan meringkuk di dekapan pak Helios. Sementara di sebelahnya, Boy dan Calista malah ngakak. Keduanya yang lebih cocok jadi anak kembar karena memang selalu kompak, memutuskan pergi ke belakang.


“Mau bikin ramen juga,” ucap Calista sudah langsung sempoyongan dan nyaris terjatuh karena Boy mendadak naik ke punggung.


“Mas ... Mas Boy ... Mbakmu lebih kecil loh!” tegas pak Helios hingga Boy yang sudah langsung menahan—mendekap Calista dari belakang agar tidak kebablasan jatuh, segera membopongnya.


“Kalian mau ngapain?” tanya Kim kepada kedua adiknya yang sudah langsung heboh. Bersamaan dengan itu, ia sengaja mengakhiri dekapannya kepada pinggang sang istri.


Selain Boy masih memakai peci hitam dan Calista juga masih memakai mukena warna putih, Boy sampai membopong Calista.


“Mau bikin ramen juga, Mas,” ucap Boy yang kemudian menurunkan Calista dengan hati-hati.


“Mau sekalian, Dek?” ujar Ryuna sudah berusaha mendekati adik iparnya.

__ADS_1


“Enggak usah, Mbak. Enggak usah ... Mbak sama Mas fokus ke ramen kalian saja. Aku sama Boy gampang bikin sendiri,” ucap Calista sambil melepas mukenanya. “Ini mukenanya taruh dulu, nanti aku kasih ramennya. Aku yang masak biar ramennya enggak jadi lautan!” ucapnya sengaja memberikan mukenanya kepada sang adik yang malah cekikikan.


Memang sudah bukan rahasia jika Boy sangat payah dalam urusan masak bahkan sekadar memasak mi rebus.


Walau di sana ada kedua adik Kim dan bahkan kini orang tua Kim sampai datang, Ryuna langsung berusaha menyesuaikan. Awalnya memang tegang, takut, dan sebisa mungkin Ryuna selalu berusaha bersikap elegan—sempurna. Namun karena adik-adik bahkan orang tua Kim juga tipikal yang heboh bahkan bar-bar tapi manis, Ryuna jadi terbiasa sibuk menahan tawa.


“Pedas banget ini Mas. Mas kasih cabenya kebanyakan,” bisik Ryuna sambil mengelap ingusnya menggunakan tisu. Sudah masih baru dan sebisa mungkin ingin tampil sempurna di depan ipar sekaligus mertuanya, ramen yang ia makan malah membuat ingusnya makin lumer.


“Ini justru ramen terenak! Aku mau nambah dong!” balas Kim yang juga berbisik-bisik sambil menyeruput sup ramen berwarna sangat merah, meski di sebelahnya, sang istri menatapnya ngeri.


“Ya sudah, berarti ini aku bikin lagi, ya?” tanya Ryuna lirih.


Kim yang baru saja meletakan mangkuknya sudah langsung mengangguk-angguk.


“Nambah, Mas?” ujar ibu Chole memastikan. Terlebih yang ia tahu, meski Kim dan Ryuna makan ramen semangkuk berdua, itu masih dua porsi.


Ketika Kim sudah mengangguk-angguk tanpa beban kepada sang mamah, Ryuna yang masih canggung, hanya tersenyum kikuk. Termasuk ketika ibu Chole yang juga tengah memasak ramen, tak segan memijat pundak Ryuna.


“Beres kuliah langsung pulang saja, ya. Ya Mas, ya. Takut Ryuna kecapaian. Banyak-banyak istirahat, nanti mulai yoga sama Mamah!” ucap ibu Chole sambil terus memijat pundak sekaligus kedua lengan Ryuna dari belakang.


“Nanti mau mampir ke restoran cabang dekat kampus aku juga, Mah,” ucap Kim sambil menuang air mineral ke gelasnya.


“Oh, berarti dari kampus Ryuna, langsung ke kampus Mas?” balas ibu Chole memastikan.

__ADS_1


“Yang penting jangan sampai kecapaian,” ucap pak Helios setelah sang putra mengangguk-angguk. Ia memilih mendekati Calista yang sedang lahap berbagi satu panci ramen dengan Boy. Putrinya itu sudah langsung tersenyum manis dan tak segan menyuapinya. Calista—bagi pak Helios, anak gadisnya itu merupakan Chole versi kalem dan benar-benar manis.


“Punya banyak anak, pasangan romantis dan penyayang juga ke anak-anak, uang ada—semua ini beneran jadi alasan keluarga suamiku makin bahagia. Entah kesulitan apa yang pernah mereka lewati di masa lalu, hingga kini, mereka sebahagia ini dan seolah sedang memperoleh perjuangan mereka,” batin Ryuna merasa turut bahagia atas kekompakan keluarga suaminya.


__ADS_2