
Ibu mertua dan para ipar, kedua kenyataan tersebut selalu jadi cobaan tersendiri untuk seorang menantu. Apalagi menantu sekelas Ryuna yang sadar diri, dirinya bukan siapa-siapa. Ibarat langit dan Bumi, kurcaci dan raksasa, batu kerikil dengan berlian—bagi Ryuna yang diam-diam menahan kebingungan sekaligus ketakutan mendalam, semua itu sangat cocok menjadi ungkapan perbandingan dirinya dan Kim, tapi justru dirinya yang tidak lebih baik.
Pertemuan dengan pak Helios usai. Selain membahas mimpi Ryuna, juga kemungkinan pak kades yang menggunakan semacam t*um*bal untuk kelancaran hidup khususnya untuk kemulusan perjalanan karier pak kades, pak Helios juga mengabarkan kasus Sonya dan Tiwi. Keduanya tetap diberi sanksi tegas. Bukan hanya dilaporkan ke polisi, tapi juga sampai dibuatkan khusus artikel krimi*na*l dan sudah langsung disebar luaskan. Pak Helios sengaja meminta saudaranya yang bernama Akala, dan merupakan seorang penulis sekaligus jurnalis, untuk melakukan semua itu.
Diam-diam, Kim sengaja mengawasi Ryuna dari kejauhan. Istrinya sengaja ia biarkan untuk ke kamar sendiri, tapi tampaknya, Ryuna justru salah jalan.
“Ini aku di mana, ya?” pikir Ryuna yang kemudian melongok ke dalam ruangan di hadapannya. Berbagai alat kebugaran ada di sana, sementara ketika ia menoleh ke belakang, di sana sang suami dan tengah mengawasinya, justru tersipu dan perlahan menertawakannya.
“M-mas!” rengek Ryuna bergegas menyusul sang suami.
Kim sudah langsung mengulurkan tangan kanannya dan bermaksud segera menggandeng Ryuna. Ryuna sendiri segera meraih tangan kanan sang suami sembari tetap menjaga setiap geraknya lantaran di sana masih dihiasi beberapa meja, sementara di atasnya dihiasi bingkai foto maupun vas-vas mahal. Namun karena di sudut depan yang baru saja Ryuna tinggalkan, tampak ada lemari etalase penuh piala, Ryuna sengaja menuntun Kim untuk memastikan, melihat-lihat setiap piala di sana.
“Keluarga kami terbilang keluarga aktif. Jadi, aku dan adik-adik suka olahraga gitu dan kami aktif mengikuti kompetisi olahraga. Memangnya kamu enggak bisa lihat seseorang dari bentuk tubuhnya? Kalau yang kayak Dodo kan fix demen makan. Lah kayak aku kan sudah fix demen kamu. Eh, olahraga maksudnya. Tapi ke kamu juga bener, demen!” ucap Kim jadi cekikikan sendiri sambil merangkul punggung Ryuna dari belakang.
“Apaan sih ya Alloh ....” Ryuna yang menatap Kim juga tidak bisa, jika tidak tertawa. Apa yang Kim katakan memang terdengar menggelikan, tapi kata-kata menggelikan tersebut juga membuatnya merasa bahagia. “Kalau modelnya ki Awet yang akan kelihatan gagah super berotot di mata wanita yang enggak kuat iman, gimana?”
“Itu urusan mereka!” ucap Kim tak mau ambil pusing. Ia yang awalnya merangkul, kini sengaja mendekap erat Ryuna dari belakang terlebih suasana di sana sangat mendukung.
__ADS_1
“Calista, ... Calista ... Calista ....” Ryuna menoleh dan menatap takjub wajah sang suami.
Kim yang sampai mengunci pundak Ryuna menggunakan dagunya, berangsur mengangguk-angguk. “Taekwondo, renang, lari, mbak Calista ahlinya. Satu, satu, tapi pernah hanya juara dua dan dia nangis!” ucap Kim sembari menahan tawanya.
Ryuna ikut mesem. “Tapi aku tahu apa yang mbak Calista rasakan sih. Soalnya aku sempat kan. Biasa peringkat satu dan akun pun sudah belajar sangat keras, eh jadi peringkat 2!” ceritanya dan makin membuat Kim tertawa.
Beres dari sana, Kim menggandeng Ryuna melewati anak tangga ke lantai bawah. Ternyata di sana merupakan lantai keberadaan kamar Kim. Ryuna mengenalinya karena ada pintu kamar Hyera yang paling berbeda dan itu berwarna pink.
“Lusa aku ke kampus,” ucap Kim dan langsung dibalas oleh Ryuna yang juga berdalih akan ke kampus juga.
“Kalau aku sama Rain takutnya ngompol gara-gara kebanyakan ketawa,” ucap Ryuna.
“Ya sudah, besok sama aku saja,” sergah Kim sambil merangkul kemudian menepuk-nepuk bahu Ryuna.
Karena tempat tidur masih berantakan, Ryuna sengaja merapikannya. Kim sendiri berdalih akan memesan test pack secara online, selain pemuda itu yang akan membereskan laporan KKN-nya.
“Kayaknya, nanti juga aku yang bakalan beresin laporan KKN. Sonya yang jadi ketuanya saja justru tersere*t kasus kan. Tapi untungnya, meski Sonya dan Tiwi bermasalah, KKN kita enggak sampai kena,” ucap Ryuna sambil terus membereskan tempat tidur di sana. Ia memasang ulang seprai yang sebelumnya sengaja ia lepas agar hasilnya lebih rapi.
__ADS_1
“Kata siapa? Bapakku debat dulu sama pihak kampus, baik itu kampusku maupun kampus kamu. Tadinya semuanya kena, Na. Tapi papah enggak terima dan mengancam bakalan memperkarakan ke kepolisian. Apalagi kamu korba*n Sonya. Terlepas dari apa yang terjadi dengan Sonya dan k Awet, itu beneran urusan Sonya,” jelas Kim. Beres dengan ponselnya, ia segera mengeluarkan laptopnya dari dalam tas. “Kan enggak adil, kalau kita yang enggak tahu apa-apa bahkan korba*n, justru ikut merasakan imbas sekaligus hukuman!”
Ryuna yang mulai memasang selimut biru gelap di tempat tidur, setuju dengan anggapan Kim. Untungnya, pak Helios turun tangan dan sampai menuntut hak peserta KKN yang lain.
Tempat tidur sudah rapi, dan Ryuna mendadak bingung mengenai apa yang harus ia lakukan. Ryuna memilih duduk di pinggir tempat tidur, dan mendadak terusik oleh sebuah bingkai kecil berisi foto todak begitu jelas. Ada gadis kecil kumal dan jga bocah laki-laki bersih tengah tersenyum ke arah kamera, di bingkai tersebut.
“Kok wajahnya kayak enggak asing, ya?” pikir Ryuna. Ia meraih bingkai foto tersebut kemudian menatapnya saksama. “Mirip aku, tapi masa ...? Terus, kenapa juga foto ini, sampai ada di sini? Foto sampai ditaruh bingkai dan jadi pajangan di kamar, harusnya spesial kan?” pikir Ryuna.
Karena Ryuna mendadak sepi, Kim yang tengah fokus di meja belajar yang juga merangkap menjadi meja kerjanya, berangsur menoleh ke belakang. Ia mendapati Ryuna yang sedang memegang bingkai berisi foto mereka ketika masih kecil—baca novel : Mempelai Pengganti Ketua Mafia Buta yang Kejam.
Mendapati itu, hati Kim mendadak melow. Ia teringat masa-masa kecil mereka yang sempat bersama. Kedua matanya sudah langsung berembun karenanya, selain dadanya yang juga menjadi bergemuruh menahan kenangan masa lalu yang diwarnai pilu karena perpisahan mereka.
“Na ...?” panggil Kim berat.
Merasa kepergok, Ryuna berangsur meletakan bingkai foto berwarna putih dan awalnya sempat ia awasi. Ryuna menoleh sekaligus menatap Kim.
“Kamu beneran lupa?” lanjut Kim tapi pertanyaannya membuat Ryuna terlihat makin bingung. Kedua mata Ryuna jadi makin bergetar, goyang, tampak jelas jika Ryuna berusaha menerka-nerka, tak langsung konek ke pertanyaannya. Karena jika Ryuna ingat, harusnya Ryuna sudah langsung mengingat Kim sekaligus mengingat hubungan termasuk itu janji mereka.
__ADS_1