
Kebucinan Kim kepada Ryuna sungguh tak kaleng-kaleng. Dari Kim yang rela memanjat pohon kelapa, mangga, dan juga terjun langsung ke kebun sebelah untuk memetik beberapa cabai dan membuatnya menjadi bumbu rujak. Namun baru juga akan meninggalkan kebun, mereka justru mendapati para pekerja sudah menyiapkan suguhan di saung depan vila. Dari kelapa muda yang sudah siap minum, aneka potongan buah lengkap dengan bumbu rujak di mangkuk berbeda. Juga aneka makanan lainnya.
Pada kenyataannya, di kehamilan Ryuna, wanita itu memang tidak pernah kekurangan apa pun. Baik itu kekurangan kasih sayang, apalagi makanan yang kadang di luar nalar dan kerap mendadak wanita hamil inginkan.
Layaknya kini, semuanya tersaji tanpa diminta. Namun tentu saja, Ryuna tetap mau yang disiapkan khusus oleh suaminya.
“Yang dari Mas tentu jauh lebih spesial, Mas,” ucap Ryuna, hingga Kim sudah langsung panik ketika Rain asal menggerogoti mangga mangkal petikannya.
“Muntahin ... muntahin. Itu aku panjat khusus buat istriku!” omel Kim dan sudah langsung membuat semua yang ada di sana tertawa.
“Sudah dimakan ya sudah,” ucap Ryuna di sela tawa kecilnya, selain ia yang juga segera mengabarkan kepada Rain, untuk tetap memakan mangga yang telanjur digerogoti.
“Asli ini enggak enak banget. Berasa makan col*ongan yang kadar kehor*matannya nyaris seratus persen!” rengek Rain yang sekadar mengunyah mangga mangkal di dalam mulutnya pun, jadi tak memiliki tenaga. Padahal, lagi-lagi ulahnya sudah membuat semuanya tertawa.
“Ayo makan dulu. Itu buat nanti, disisihin dulu bila perlu disegel biar enggak ada yang sembarang ambil lagi,” seru ibu Chole yang sudah bersiap duduk lesehan di saung depan dan memang sudah terbiasa untuk acara bersantai, termasuk makan bersama layaknya sekarang.
Satu hal yang cukup mencolok dalam kebersamaan sekarang. Hyera tak lagi iri apalagi marah-marah di setiap gadis itu menyaksikan kebersamaan Sabiru dan Calista. Semuanya tampak akur sekaligus kompak.
“Ke danaunya mau hari ini juga?” tanya ibu Chole yang membagi nasi di sangku, ke setiap piring di sana.
__ADS_1
“Yang lain boleh ke danau, tapi Mbak Ryuna jangan.” Pak Helios yang duduk sila persis menghadap Ryuna, menatap Ryuna penuh ketegasan.
“Hah?” batin Ryuna sudah langsung kaget, padahal ia sangat ingin main apalagi naik perahu di danau.
“Memangnya kenapa? Semacam ... pantangan?” Brandon sudah lebih dulu berkomentar lantaran terlalu penasaran.
Pertanyaan Brandon barusan sudah langsung membuat semuanya termasuk ibu Chole sangat penasaran. Mereka tak sabar mendengar penjelasan pak Helios yang terkesan memang akan berakibat fatal andai Ryuna sampai menentang.
“Takut mendadak brojol terus jadi buaya putih apa gimana, Opa? Kok kesannya ngeri banget?” ucap Rain yang memang tidak punya penyaring lisan.
Detik itu juga Ryuna langsung merinding. Ryuna memergoki bulu halus di kedua tangannya yang belum sempat ia tutup kembali dengan gamis setelah cuci tangan sebelum makan, kompak berdiri. Kim yang menyadari apa yang terjadi pada istrinya dan itu ketakutan mendalam, sengaja merangkul Ryuna.
“Masa iya, sil*uman yang di kera sakti masih berkeliaran dan sampai ke sini? Itu di danau ada silu*mannya gitu? Tapi kan, Mbak Ryuna saja sakti. Jadi, apa yang ditakuti?” ucap Rain lagi.
Boy yang kebetulan duduk di sebelah Rain, sengaja memenuhi mulut Rain dengan selada air, selaku salah satu lalapan di sana. Karena kini, menu makan mereka memang makanan khas Sunda yang menjadikan aneka lalapan sebagai teman sambal, selain aneka lauknya.
Pak Helios menghela napas pelan sekaligus dalam, kemudian menatap wajah-wajah di sana. “Gini, ... ini bisa jadi pelajaran buat kita semua. Bahwa wanita hamil itu rawan. Makanya sering ada pamali-pamali. Wanita hamil, yang lagi mens. Ini beneran rawan. Sementara di danau itu agak angker dan yang tunggu tipikal ngeyel!”
“Ngeyel kayak kamu,” lirih Boy sambil menatap sebal Rain yang usianya empat tahun lebih tua darinya.
__ADS_1
Rain yang tengah mengunyah selada air di mulutnya setelah semua itu disumpal pak*sa oleh Boy ke dalam mulutnya, refleks mendelik sembari menunjukkan ekspresi tak nyaman.
“Aku sama Hyera juga lagi mens, Pah!” lirih Calista sembari melirik panik Hyera yang duduk persis di sebelah pak Helios. Detik berikutnya, Hyera sudah langsung mengangguk-angguk.
“Ya sudah, yang ke danau cukup Rain saja. Biar jadi buaya putih!” ucap Brandon dengan entengnya.
“Eh, apaan? Aku enggak mau jadi buaya putih. Aku cukup jadi buaya darat saja!” ucap Rain yang kemudian terbahak. “Ya Alloh makan selada air tanpa sambal tanpa garam, ibarat hidup tanpa musik dangdut!” keluhnya kemudian dan sudah langsung membuat yang lain mesem.
Hanya saja, apa yang terjadi telanjur membuat Ryuna bertanya-tanya. Ryuna jadi kurang fokus, mesk sebisa mungkin, wanita itu tetap berusaha memanjakan Kim yang sengaja ia suapi.
“Mbak, Mas ... anak kalian memang istimewa. Namun buat jaga-jaga karena dulu, kakaknya papah juga mirip anak kalian. Yang mana, dia yang sangat kuat, punya indra ke enam, dan apa-apa serba bisa, ternyata juga punya kelemahan yaitu harus menjauhi semua tempat yang dihiasi banyak air bahkan itu empang,” ucap pak Helios sengaja menemui Ryuna dan Kim secara khusus, tak lama setelah mereka selesai acara makan bersama dan sempat membahas danau sekaligus kenyataan Ryuna yang dilarang ke danau.
Mendengar itu, Kim dan Ryuna yang belum lama memasuki kamar mereka di vila, langsung bengong. Sesekali, mereka akan saling lirik di tengah kenyataan mereka yang juga mulai bergidik.
“Almarhum kakaknya Papah, meninggal di empang belakang pesantren, di usianya yang masih sangat muda. Tubuhnya ditemukan mengapung di empang, setelah tiga hari dinyatakan hilang. Padahal selama itu kami sudah melakukan pencarian besar-besaran di sana. Wallahualam bissawab. Hanya Allah yang lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Namun semenjak itu, Papah dan semuanya menduga-duga, bahwa seserba bisanya manusia, dia tetap punya kelemahan. Apalagi sejauh ini, sejak kecil, sekadar dibiarkan berendam di ember rendam mandi saja, almarhum selalu tenggelam.”
Ryuna yang sudah langsung takut, refleks meraih sekaligus menggenggam erat tangan kiri Kim menggunakan kedua tangannya. Ia masih balas menatap tatapan serius sang papah mertua yang memang menatapnya penuh keseriusan.
“Besok lahirannya pun, kita ke kampung. Lahiran di sana saja biar banyak yang bantu doa karena saat lahiran, pasti banyak yang ganggu atau malah coba ambil,” lanjut pak Helios yang detik itu juga menjadi menatap berat wajah Ryuna maupun Kim, silih berganti.
__ADS_1
“Lakukan yang terbaik, Pah. Insya Allah semuanya akan baik-baik saja meski memang penuh perjuangan!” sergah Kim yang sudah langsung mendekap sekaligus membenamkan kepala Ryuna ke dadanya bersama air mata Ryuna yang menjadi sibuk berlinang.