
“Mulai sekarang, kamu wajib lebih hati-hati, yah, Dek. Pastikan, barang kamu enggak dipegang apalagi dikuasai—diacak-acak sembarang orang,” ucap Ryuna sembari susah payah bangun.
Ryuna menyuruh sang adik ipar untuk segera membakar bungkusan kain mori yang mereka temukan. Bibirnya dengan begitu lancar memberi wejangan di luar kendali. Bersamaan dengan itu, sosok wanita bertubuh ular tak kasat mata, benar-benar murka. Wanita itu berusaha menyer*ang Ryuna, tapi segala usahanya mental. Barulah ketika sosok wanita itu meraih tengkuk Brandon, dengan segera tubuh pemuda itu menggeliat di lantai.
Namun dengan segera juga, Ryuna menghampiri, memangku kepala Brandon dan mengusap-usap tengkuk Brandon. Detik itu juga si wanita ular meraung-raung kesakitan sekaligus kepanasan. Tengkuk wanita bermahkota emas itu terbakar, Ryuna menatapnya sekilas dengan tatapan kesal.
“Sakit, Mbak ... sakit banget. Panas. Ini aku sebenarnya kenapa?” raung Brandon yang untuk pertama kalinya bersuara banyak dan itu karena kesakitan.
Sekitar lima belas menit kemudian, Ryuna dan Brandon sudah ada di sebelah dapur restoran mereka berada. Ryuna melempar bungkusan kain mori yang ia temukan, ke tong pembakaran yang kebetulan tengah membakar beberapa sampah plastik. Hingga dengan cepat, bungkusan yang ia lempar juga langsung terbakar.
“Besok coba lihat, siapa yang tiba-tiba sakit semacam kena cacar mony*et, dan dia sampai enggak bisa ngomong,” ucap Ryuna yang sampai detik ini masih menggandeng erat sebelah tangan Brandon.
“Memangnya kenapa, Mbak?” tanya Brandon heran. Sampai detik ini, ia masih kerap meringis menahan sakit sekaligus rasa panas di tengkuknya yang sampai juga masih ia elus.
Ryuna menghela napas sekenanya. “Kamu kapten basket dan mau ada pertandingan antar sekolah, ya? Terus kamu lagi ditaksir cewek?” ucapnya sambil menatap Brandon dengan saksama.
“Mbak Ryuna kok mirip dukun, sih?” batin Brandon, tapi suaranya itu bisa terdengar oleh Ryuna dengan sangat jelas.
“Mbak Ryuna memang bukan dukun, Dek. Namun ya memang begitu yang Mbak lihat sekaligus rasakan,” yakin Ryuna dengan santainya dan sudah langsung membuat Brandon melotot kebingungan sebelum akhirnya, pemuda itu justru jadi tidak berani menatapnya.
__ADS_1
“Lah ... suara hatiku saja, bisa didengar? Bawaan hamil bayi ajaibnya, apa gimana? Kok Mbak Ryuna mendadak jadi sakti begini?” pikir Brandon dan sudah langsung ditanggapi senyum geli oleh Ryuna yang memang masih bisa mendengar suara hati Brandon.
“Gimana, Mbak? Wanita ular kecenti*lannya sudah sungkem belum ke kamu?” tanya pak Helios dengan santainya bertepatan dengan Ryuna yang tengah meminum segelas susu hamilnya.
Ryuna sudah langsung mesem sambil menatap papah mertuanya yang baru kembali ke ruang kerja. Tampak Kim yang langsung terbengong-bengong kebingungan melihat interaksi mereka.
“Alasan Buyut jarang muncul karena kamu sudah bisa urus semuanya sendiri. Namun nanti kalau dia sudah lahir, kamu juga dengan sendirinya normal lagi,” lanjut pak Helios sengaja duduk di sofa panjang sebelah Brandon duduk. Selain jadi terlihat linglung, tak beda dengan Kim, Brandon juga terbengong-bengong menatapnya.
“Sepertinya memang hanya orang-orang indihom yang paham obrolan mereka, Dek!” ucap Kim yang berangsur duduk di sebelah Ryuna. Istrinya itu duduk di dekat meja kerjanya. Selain segelas susu hamil yang sampai diberi es, Ryuna juga mengeluarkan satu kotak berisi potongan buah melon.
Apa yang Kim katakan sudah langsung membuat Brandon paham. Pemuda itu baru ingat, bahwa papah mereka juga indigo dan bisa melihat makhluk astral bahkan lebih.
“Dek Brandon sudah tahu jawabannya, Pah. Jadi, tadi aku bikin si wanita ularnya kembali saja ke yang kirim. Aku kan kasih dia pilihan, dia mau langsung hancu*r biar enggak ganggu lagi, atau balik ke yang kirim. Dia pilih balik ke yang kirim,” jelas Ryuna.
“Alasan dia ke Brandon, Bandon bikin masalah?” tanya pak Helios.
Ryuna tak langsung menjawab karena ia lebih dulu menatap Brandon. Detik itu juga adik iparnya itu jadi terlihat tegang dan buru-buru menepis tatapannya. “Bisa jadi sih Pah. Urusan kemampuan Dek Brandon, khususnya di bidang basket. Terus aku lihat ada cewek cantik juga, tapi yang enggak suka ke Dek Brandon justru bikin Dek Brandon semacam sakit cacar mony*et dan berakhir kematian. Andai Dek Brandon sampai bisa sembuh, dia bakalan diikat sama, ....” Setelah sengaja menunda ucapannya, Ryuna yang mengalihkan tatapannya dari Brandon, berangsur menatap kedua mata pak Helios. “Kalau aku lihat, ratunya si wanita ular tadi, Pah.”
Pak Helios langsung syok dan beberapa kali menghela napas dalam sambil sesekali menatap Brandon. Lain dengan Kim yang langsung melongo dan tak jadi melahap potongan buah melonnya.
__ADS_1
“Salatnya dirajinin,” ucap pak Helios lembut, memberi pengertian kepada sang putra yang memang paling anti dengan peraturan. Meski sejauh ini, Brandon tipikal yang masih lurus dan memang tidak pernah ngelayab sembatangan.
“Lagian kamu juga sering bengong, Dek!” ujar Kim yang kemudian melahap potongan buah melonnya.
“Brandon bukannya bengong. Dia cuma lagi mikirin beban negara. Buktinya bengongnya dilanjut berseason-season kan, ngalahin sinetron?” ucap pak Helios yang sengaja melede*k Brandon. Namun, seperti biasa, Brandon hanya membalasnya dengan lirikan datar. Malahan, Kim yang jadi tertawa dan berakhir tersedak.
“Mas ...,” refleks Ryuna yang segera memberi suaminya minum. Susu hamil yang harusnya ia habiskan malah dihabiskan oleh Kim. Pak Helios yang sempat bengong menyaksikannya, menjadi terpingkal-pingkal.
“Susu hamil punya istrimu loh malah kamu yang habisin, Mas!”
“Tenggorokanku sakit, Pah!” Kim sampai menangis karena tawa sekaligus tragedi tersedak yang dialami. Namun kemudian ia sengaja berkata kepada Brandon, “Salatnya beneran dibiasakan ya Dek. Jangan bolong-bolong. Buktinya pas KKN, iman sama agama yang beneran menolong Mas. Tanya saja sama Mbak Ryuna. Papah deh, Papah juga tahu.”
Di tengah keseriusan yang menyelimuti kebersamaan kini, dalam hatinya Ryuna berkata, “Awalnya, kelebihan yang mendadak kumiliki ini beneran jadi beban. Aku sudah lebih dari kewalahan. Namun makin ke sini aku jadi makin merasakan dampak baik atau itu manfaatnya. Mungkin memang sudah jalannya begini. Alhamdullilahnya, kemampuan ini bisa melindungi orang-orang terdekat.”
Ryuna juga berharap, nantinya anaknya tetap bisa menikmati hidup layaknya manusia pada kebanyakan. Andaipun sang anak akan mengalami proses berat layaknya proses yang ia alami, semoga tetap ada hal yang memudahkan.
“Kalau mamah tahu, mamah pasti sedih banget, Dek. Yang semangat buat jadi lebih baik, ya!” ucap pak Helios dan sudah langsung membuat hati Ryuna melow.
Ryuna refleks memeluk sang suami yang masih duduk di sebelah belakangnya.
__ADS_1