
Kecemburuan seorang Kim sudah langsung surut ketika akhirnya Ryuna mengeluarkan kotak bekal berwarna kuning lengkap dengan garpu dan sendok.
“Aku juga belum sarapan. Kita sarapan bareng, ya. Tapi ini punya kalian belum dimasak, ya? Yang lain ke mana sih, kok cuma kamu yang kerja?” lembut Ryuna sengaja berbisik-bisik.
“Aku pikir tadi aku enggak dikasih, dan ...,” ucap Kim berkeluh kesah. Namun, ia sudah langsung terusik ketika memergoki kantong merah berisi nasi kuning dalam kotak mika, ada di dalam ransel Ryuna.
“Itu apa?” lirih Kim segera meraihnya.
“J-jangan, ....” Ryuna buru-buru mendekap tasnya dan menatap sang suami penuh peringatan. Kemudian dalam sekejap apalagi suasana di sana masih sepi termasuk Rasjid dan Candra yang tengah lahap makan di dalam dapur, Ryuna segera membisikkannya.
“Enggak usah dikasih ke Dodo, buang saja. Lama-lama, aku juga jadi ngeri. Apalagi perubahannya drastis banget dan itu hanya ke kita,” ucap Kim sudah langsung serius. Setelah menatap lama kedua mata Ryuna yang tampak cemas sekaligus lelah, ia juga tak segan memeluknya. Dalam keadaan tersebut pula, Kim bisa mendengar detak jantung Ryuna yang tidak stabil, lebih kencang dari detak jantung orang dalam keadaan normal.
“Anak-anak mulai kepo, dan makin yakin kalau kita pacaran,” ucap Ryuna.
“Enggak apa-apa. Gitu saja. Habis ini aku juga bakalan ajak yang lain ngobrol, buat pilih, ke depannya mau tinggal di sini rame-rame, atau di pondok kalian saja yang kebetulan dekat dengan tempat pemandian,” balas Kim yang memang masih tenang, meski hati dan pikirannya tidak baik-baik saja.
“Ya sudah, ayo kita sarapan. Ini masakan, ... bentar Candra sama Rasjid saja yang urus,” ucap Kim yang sudah langsung menitipkan persiapan masaknya kepada kedua rekannya, dan juga langsung disanggupi.
“Aku merasa kalau hubungan kita berjalan di tempat,” ucap Ryuna sambil mencuci kedua tangannya menggunakan air yang ia ambil dari ember khusus di sebelah dapur.
Kim yang awalnya memegang bekal milik Ryuna, juga segera melakukan hal serupa, setelah terlebih dulu meletakan bekalnya ke meja di sebelahnya. “Apa yang membuatmu merasa berjalan di tempat?”
“Mungkin karena ... apa yang telah terjadi. Kita dikelilingi orang toxic bahkan hal-hal misti*s,” ucap Ryuna yang kemudian mengambil bekalnya.
“Sedang diminta buat menjalani semua ini. Sabar dulu, yang penting kita sama-sama mendukung, memahami satu sama lain meski sekarang, semuanya memang serba terbatas.” Setelah berucap demikian, Kim sengaja bertanya, “Jadi, setelah semua yang terjadi, masih mau memperpanjang mengajar tambahan di sini selama satu sampai dua minggu?”
Ditanya seperti tadi, Ryuna jadi tidak menjawab. Namun, ia membiarkan Kim merangkul punggung kepalanya. Kim membawanya ke teras depan aula. Mereka makan di sana, yang mana Kim minta disuapi dengan tangan kosong oleh Ryuna.
__ADS_1
“Nyuapin pakai tangan kosong, berarti enggak usah diisi nasi sama lauk?” ucap Ryuna sambil menahan senyumnya. Ia sengaja mengg*oda Kim.
“Sudah berani mele*dek bahkan mengg*oda, ya?” balas Kim sambil menahan tawanya dan perlahan tersipu.
Mendengar balasan Kim barusan, Ryuna juga langsung tersipu. Ia yang duduk sila bersiap menyuapi Kim lebih dulu, tapi Kim yang sampai memegang kedua lututnya, terlebih dulu menuntun mereka untuk sama-sama berdoa. Jujur, kebersamaan yang sangat sederhana itu menjadi terasa sangat manis bahkan mewah karena sikap Kim yang selalu manis kepada Ryuna.
“Oh ... sudah pada makan? Ini aku bawa nasi kuning juga,” sergah Rukmi yang baru tiba bersama dua orang ibu-ibu. Ketiganya membawa kantong berisi nasi kuning, minuman, bahkan potongan buah.
Ryuna yang kebetulan menghadap ke arah kebersamaan hingga sudah langsung menghadap Rukmi, refleks tersenyum masam, meski itu hanya berlangsung sebentar. Sebab di hadapannya, Kim yang membelakangi kebersamaan dan sama-sama duduk sila menghadap kepadanya, sudah berbisik-bisik.
“Thank you sudah datang lebih awal dan bikin aku enggak usah pusing menolak apa yang akan dia kasih!” bisik Kim yang kemudian mengelus-elus kedua lutut Ryuna yang terbungkus kulot hitam.
Mendengar itu, selain refleks tersipu, Ryuna juga menjadi menahan tawanya.
“Serius,” lirih Kim yang sengaja mengelus-elus hidung Ryuna.
“Enggak tahu kenapa, tadi rasanya pengin cepet-cepet ke sini saja. Sengaja bangun lebih awal juga, kan. Beres subuhan langsung masak,” ucap Ryuna.
“Kamu percaya kalau apa yang kamu lakukan, dan itu berusaha menyiapkan yang terbaik untuk aku sekaligus hubungan kita, juga bagian dari ikatan hubungan kita?” ucap Kim yang mendadak tersedak lantaran di dalam aula dan itu kamar mahasiswa, ada yang tiba-tiba histeris.
“Dodo?” lirih Ryuna refleks sambil menatap kedua mata Kim.
“Woooiiiii, Dodo kesuru*pan!” heboh para mahasiswa dari dalam.
“Puji Tuhan!” Dari dalam dapur, Candra sudah langsung merespons.
Lain dengan Kim yang tetap diam merenung serius, meski dari dalam, Dodo sudah meraung-raung mirip macan kelaparan, selain mahasiswa lain yang juga heboh memanggil sekaligus meminta bantuannya.
__ADS_1
“Kim ...?” lirih Ryuna mengingatkan sang suami.
“Aku enggak merasakan ada tanda-tanda kehadiran arwah dan kejanggalan lainnya. Itu jelas suara Dodo. Tuh anak sengaja bikin gara-gara,” ucap Kim sewot.
“Hah ... Kim sehebat itu? Kalau gini caranya, usahaku memikat dia lewat makanan bahkan barang, sia-sia, dong?” pikir Rukmi yang seketika hanya mampu menelan cairan yang menghiasi tenggorokannya karena bukannya terkecoh, Kim justru sengaja menyuapi Ryuna.
“Benar kata kamu. Lingkungan kita penuh manusia toxic sekaligus hal-hal mist*is. Ibadahnya dikencengin, ya. Yang namanya tebar tuai kan nyata. Siapa menanam bakalan menuai!” ucap Kim sengaja dengan suara lantang. Melalui ekor lirikannya, ia mendapati Rukmi yang seketika celingukan kemudian beberapa kali berdeham.
“Kiiiiiiimmmm, ini si Dodo gimana? Kes*uru*pan sil*um*an macan kayaknya!” seru Rasjid dari dalam aula.
“Dibebekin cabe sama bawang yang banyak saja. Sumpelin ke mulut sama kedua matanya. Bacain bismillah tiga kali, pasti sembuh!” ucap Kim yang kemudian kembali menyuapi Ryuna. Kali ini, Ryuna menerima suapannya sambil melotot. Wanita itu seolah mempermasalahkan tips pengobatan yang baru saja Kim arahkan kepada Rasjid untuk pengobatan Dodo.
“Lagian, ngapain si Dodo pura-pura kes*uru*pan?” heran Kim tak mau ambil pusing pada keadaan Dodo.
“Ini beneran cuma diulekin cabe sama bawang, Kim? Enggak usah ada garam apa penyedapnya?” sergah Rasjid beberapa menit kemudian. Ia membawa coet berisi cabai dan bawang yang sudah diuleg lembut.
“Kalau sampai dikasih garam lengkap dengan penyedap, bisa jadi bumbu geprek!” ucap Kim sambil menatap Rasjid yang detik itu juga langsung merengek, merasa dikelabuhi olehnya.
“Temen kes*uru*pan, kok kamu malah asyi*k pacaran!” keluh Rasjid.
“Sini ... sini. Itu sudah cukup!” sergah Kim yang juga jadi geregetan kepada Dodo. Apa sebenarnya maksud Dodo membuat heboh pagi-pagi dan itu lewat adegan kesur*up*an!
Bingung, Dodo langsung bengong ketika Kim datang sambil membawa cobek berisi sambal merah merona dan aromanya saja sangat pedas menyengat.
“Loh, diam ....?” Rasjid kebingungan.
Lain dengan Candra yang sudah langsung merasa lega lantaran hanya didatangi Kim, arwah ja*hat yang merasu*ki tubuh Dodo langsung jinak. “Puji Tuhan!” ucapnya sambil menggenggam erat salib di kalungnya.
__ADS_1
Sementara yang Ryuna lakukan, sambil tetap membawa bekal makannya, Ryuna buru-buru memejamkan mata lantaran meski sudah langsung diam, Kim yang tampak sangat kesal tetap menyumpal mulut bahkan kedua mata Dodo dengan sambal.
“Panas ... panas ... pedes ... pedes banget tolong!” raung Dodo dan sudah langsung membuat yang lain bingung lantaran suara Dodo sudah langsung normal. Tak lagi meraung-raung mirip macan kelaparan.