
Sampai detik ini semuanya masih diam, mereka duduk beralas tikar dan tak ada yang kembali tidur apalagi berkomentar. Bahkan walau Kim telah memberi Sonya bantuan doa dan membuat wanita itu berangsur tenang layaknya orang normal.
“Jadi, sebenarnya awal mula KKN kita bermasalah karena memang ada yang sudah melandasi hati sekaligus otaknya dengan niat jahat?” ucap Kim yang akhirnya angkat suara. Ia duduk sila di tengah-tengah yang lain, meski mereka termasuk Ryuna memang duduk dalam keadaan berpencar. Ryuna bahkan duduk di antara Rasjid dan Candra agar Dodo tidak terus berlindung ke wanita itu.
“Kim bilang begitu, aku juga jadi kepikiran kalau sebenarnya, awal mula rasa jahat Sonya, justru karena kesalahan kami setelah kami salah konsumsi jamuan pengantin mbak Rukmi,” pikir Ryuna, tapi ia tak berani menyampaikannya. Namun tak bisa ia pungkiri, selain setiap tempat memiliki adat bahkan kepercayaan lain selain agama, di desa mereka KKN memang sangat angker. Bisa jadi, ia dan Kim sudah langsung diawasi oleh makhluk tak kasat mata hanya karena apa yang telah mereka lakukan, bahkan meski status mereka korban. “Seandainya aku beneran lagi hamil, ini bermasalah enggak, ya? Duh Ryuna, stop! Kamu jangan berpikiran begitu. Kamu wanita berpendidikan, sementara kamu punya Tuhan dan kamu pun tahu, semuanya bermula dari sugesti sekaligus hati. Jadi andai kamu sudah menanamkan sugesti kurang baik, hati kamu juga bisa ikut kena penyakit!” batin Ryuna mencoba menyemangati dirinya sendiri. Kendati demikian, layaknya sikapnya kepada Kim yang menjadi manis sekaligus perhatian meski ia hanya akan melakukannya secara diam-diam, kehamilan yang ia khawatirkan memang sudah mulai ada, juga membuat kedua tangannya jadi kerap melakukan gerakan refleks untuk mengelus, atau malah memegangi perutnya yang masih rata.
“Sonya, Tiwi ... meski rencana jahat kalian pada akhirnya kembali juga kepada kalian, sekarang aku mau tanya, hukuman apa yang pantas buat kalian setelah apa yang kalian lakukan dan membuat KKN kita bermasalah?” lanjut Kim masih tegas sekaligus berwibawa, meski jujur, ia sudah sangat geregetan. Kedua tangannya saja mengepal kencang di lutut dan sampai gemetaran.
Sesekali, Kim juga akan melirik Ryuna dan pemuda itu pergoki diam-diam tengah menatapnya dengan banyak kekhawatiran. Namun Kim yakin, andai ia langsung menyerahkan keputusan mengenai hukuman yang pantas untuk Sonya dan Tiwi kepada Ryuna, istrinya yang sangat baik hati akan langsung memaafkan. Dan Kim tidak mau jika itu sampai terjadi karena orang seperti Sonya maupun Tiwi, wajib diberi pelajaran.
__ADS_1
Berbeda dengan Ryuna, yang lain justru tampak kesal bahkan jengkel. Mungkin karena gara-gara ulah Tiwi dan Ryuna juga, mereka jadi mengalami banyak masa-masa sulit khususnya masa-masa mencengkam, tak lama setelah Ryuna jatuh ke jurang. Karena semenjak itu juga, desa tempat KKN yang awalnya bagi mereka sangat indah hingga mereka betah walau keberadaannya di pelosok dan membuat mereka tak bisa menjalani kesenangan duniawi melalui kecanggihan teknologi, kini mendadak misti*s dan apa-apa serba pamali, horor!
“Dicoret dari KKN bahkan dikeluarkan dari kampus, lalu berurusan dengan polisi, itu bahkan belum cukup karena ulah kalian sudah mengguncang ketenteraman desa ini, bahkan kita yang tengah menjadi bagiannya. Meski semua yang berurusan dengan kepercayaan masyarakat setempat kepada ki Awet juga tidak dibenarkan, apa yang Sonya dan Tiwi lakukan benar-benar membuat aku malu!” lanjut Kim yang kemudian sengaja memberi yang lain kesempatan untuk bersuara. Semuanya sudah langsung kompak meluapkan kekesalannya kepada Sonya maupun Tiwi.
“Ya sudah, khusus yang muslim dan sedang tidak berhalangan, kita siap-siap subuhan. Hari ini juga aku pastikan kita pulang dan jemputan akan datang!” lanjut Kim mengakhiri kegaduhan sarat kekecewaan sekaligus menyalahkan di sana.
Ryuna pikir, romantis dan manis hanya akan ia rasakan melalui interaksi langsung khususnya sentuhan dan kata-kata, dibarengi kejutan terlebih hadiah. Namun, diam-diam mendoakan sang suami yang kali ini kembali menjadi imam salat di sana dan ia menjadi bagiannya, dirasanya benar-benar manis. Apalagi setelah salat itu selesai, lagi-lagi ia memergoki sang suami sibuk mengawasinya melalui tatapan. Yang mana mereka benar-benar baru bisa berinteraksi melalui sentuhan, ketika semuanya bubar. Karena ketika yang lain sibuk dengan aktivitas lanjutan, Ryuna yang masih memakai mukena, diam-diam menghampiri Kim kemudian menyalami tangan kanan suaminya itu dengan takzim.
“Ryuna, ... pulang dari sini, kamu mau bawa Kim ke rumahku? Kalau memang iya, nanti aku bilang ke mami, kalian bisa tinggal di rumahku dan Kim bisa jadi tukang kebun atau malah supir!” ucap Dodo sudah langsung sibuk mengekor kepada Ryuna.
__ADS_1
Kim yang punya pendengaran sensi*tif layaknya mafia pada kebanyakan, sudah langsung emosi mendengarnya.
“Heh, Ryuna ... kamu jangan sok jual mahal gitu sementara ke Kim, kalian sudah mirip kump*ul kebo! Kalian baru kenal bentar tapi sudah gendong-gendongan, gandeng-gandengan, pangku-pangkuan. Seleramu rend*ah banget sih, masa iya kamu kan pembantu, kok iya juga dapat anaknya kul*i bangunan? Enggak mau memperbaiki hidup sedikit pun gitu, cari yang sedikit lebih berlevel? Ingat, kamu ada pinjaman uang dua juta ke mami dan kamu wajib ganti, enggak boleh angkat tangan begitu saja–” Dodo yang awalnya mengoceh mirip berbisik-bisik sudah langsung diam setelah mulutnya ditab*ok beralas sebuah kertas.
“Itu cek Do! Tulis, berapa pinjaman Ryuna ke kamu, sekalian tulis harga mulut kamu biar mulutmu itu bisa jauh lebih berguna. Nanti cairinnya di bank, jangan di tukang sambal biar uangnya enggak sepedas mulut kamu!” kesal Kim yang sudah langsung menggiring Ryuna masuk ke kamar putri.
“Kim punya cek? Beneran gitu, itu tadi cek?” pikir Ryuna jadi bertanya-tanya.
Namun, Dodo yang awalnya akan mengumpa*t karena ulah Kim, langsung bengong setelah pemuda gend*ut itu melihat saksama kertas yang Kim tempelkan dan memang cek.
__ADS_1
“Jangan-jangan, Kim malah pekerja gel*ap, makanya dia sampai punya cek begini?” pikir Dodo.
Para mahasiswi yang awalnya tengah merapikan barang-barang ke dalam ransel masing-masing termasuk Sonya dan Tiwi, langsung kebingungan. Sebab beberapa dari mereka tengah melakukannya sambil garuk-garuk kepala, punggung, bahkan sedang mengupil. Tentunya, mereka yang selalu ingin tampil sempurna di depan Kim, sudah langsung kikuk. Namun, sekitar pukul delapan, ada yang lebih membuat kikuk bahkan tak percaya dan itu ketika sebuah helikopter mendarat di halaman pondok putri, sementara Kim menjadi sosok yang langsung dicari oleh penumpangnya.