Saling Cinta Setelah Menikah

Saling Cinta Setelah Menikah
50 : Makin Bingung Memilih


__ADS_3

Hari ini Ryuna mencoba beberapa gaun muslim, sementara Kim menjadi penentu setiap gaun mahal yang akan sang istri coba.


“Kamu nyaman enggak? Warna sama modelnya cocok enggak?” tanya Kim memastikan, selalu begitu di setiap Ryuna mencoba gaun yang berbeda.


Semua gaun muslim yang Ryuna coba, sangat pas di tubuh Ryuna. Jika ditanya soal kenyamanan, jawaban Ryuna masih sama, “ada harga ada barang”. Karena dari semua gaun dan bahannya pun berbeda yang baru saja Ryuna coba, Ryuna nyaman-nyaman saja. Malahan yang kelihatan kurang nyaman justru Kim.


Di setiap Ryuna mencoba gaun baru, Kim selalu mengawasi dengan saksama bagian dada maupun bagian perut Ryuna. Semuanya tidak boleh terekspos apalagi bagian perut mengingat kini, Ryuna tengah hamil muda.


“Ini, aku harus ngapain lagi, Mas?” tanya Ryuna sambil menerima sebotol air minum yang sudah sampai Kim bukakan tutupnya untuknya.


“Pulang, istirahat di rumah.” Kim menuntun Ryuna untuk duduk sekaligus menunggu di sofa. Mereka masih berada di salah satu butik ternama kunjungan mereka, selain Ryuna yang belum menentukan gaun pilihannya. “Jadi, kamu mau pilih yang mana? Ambil dua terus langsung kita bawa,” ucap Kim sambil menatap saksama tujuh gaun muslim di hadapan mereka, dan sebelumnya sudah Ryuna coba.


“Mas maunya aku pakai yang mana?” tanya Ryuna yang kemudian menatap Kim.


Setelah terpaku menatap setiap gaun di hadapannya, Kim juga berangsur menatap wajah Ryuna dengan saksama. “Kamu sukanya yang mana?”


“Semuanya bagus, Mas. Jadi tolong pilihkan saja,” yakin Ryuna masih berucap lembut.


“Berarti ambil semuanya saja?” lanjut Kim serius, tapi justru ditertawakan oleh Ryuna. “Ih, Sayang, aku serius.”


“Jangan ih, buat apa ambil tujuh-tujuhnya, sementara sebentar lagi, bentuk tubuhku saja berubah?” balas Ryuna. Ia membiarkan Kim mengambil alih botol air minumnya. Suaminya itu meminum isinya nyaris habis sambil menatap saksama ketujuh gaun muslim di hadapan mereka.

__ADS_1


“Itu ... sama ... itu, ... oke?” ucap Kim memutuskan gaun yang di pilih dan langsung dibalas senyum sekaligus anggukan ceria.


“Aku lapar lagi loh, Mas!” rengek Ryuna kemudian.


“Aku sudah ngantuk lagi,” balas Kim yang kemudian tersenyum pasrah.


Bawaan hamil memang membuat Ryuna jadi gampang lapar, sementara Kim justru gampang mengantuk sekaligus tidur. Meski sesekali, Kim justru ingin makan makanan secara khusus, yang mana Kim memang lebih memborong mengidam di kehamilan pertama Ryuna.


“Kita cari makan di sekitar sini, habis itu pulang, ya,” ucap Kim sudah langsung bergegas.


“Mas, aku mau makan nasi padang atau sate, tapi satenya yang sate biasa, bukan sate padang,” rengek Ryuna sambil berusaha berdiri juga menyusul Kim. Baru ia sadari, ia sudah mulai terbiasa merengek kepada suaminya.


Setelah menatap sang istri tak percaya, Kim justru berakhir tertawa. “Kamu pengin nasi padang? Fix, anak kita bakalan jadi orang yang sangat pekerja keras!” ucapnya yakin, meski Ryuna tetap tidak paham dengan maksudnya.


“Kita pulangnya jam berapa?” tanya Ryuna sambil meraih sweater miliknya dari dalam lemari. Di luar dugaan, tenyata Kim mengajaknya.


“Harusnya enggak sampai malam,” ucap Kim yang juga memakai jaket.


Di luar, hujan memang sedang berlangsung hingga Kim berinisiatif memakaikan salah satu jaket miliknya meski sang istri sudah memakai sweater.


“Kamu nyaman, kan? Pakai sepatu saja, enggak usah sandal apalagi heels. Pakai flat juga jangan, takutnya licin lagi hujan gini,” ucap Kim yang berangsur mengambil sepatu putih dari rak sepatu dan itu sudah ia sediakan secara khusus untuk Ryuna.

__ADS_1


Bergegas Kim menuntun Ryuna untuk duduk di sofa sebelahnya, kemudian ia jongkok karena masih ia juga yang memakaikan sepatu untuk Ryuna.


“Gimana aku enggak nyaman, kalau setiap saat saja, Mas selalu memperlakukan aku dengan semanis ini?” lembut Ryuna yang kemudian turut tersipu malu layaknya sang suami yang sudah lebih dulu mengalaminya.


“Aku hanya melakukan apa yang selama ini bikin aku nyaman. Karena melihat papah mamah semanis itu, aku merasa nyaman banget. Jadi sebisa mungkin, aku memulainya dari dini, agar anak-anak juga merasa sangat nyaman dengan interaksi kita,” yakin Kim yang sampai detik ini masih tersipu.


“Bener sih,” refleks Ryuna yang juga langsung membenarkan. Jangankan Kim yang sudah terbiasa serba cukup baik segi materi maupun kasih sayang, Ryuna yang tumbuh di lingkungan kejam saja sudah langsung termotivasi untuk menjadi pasangan, orang tua, sekaligus keluarga romantis layaknya pak Helios dan ibu Chole.


Sekitar satu jam kemudian, setelah sempat terjebak macet parah, akhirnya mereka sampai di sebuah pusat perbelanjaan. Ryuna sempat berpikir mereka akan menemui klien kerja. Namun di sana ada ibu Chole, Calista dan juga Hyera, selain Kim yang justru membawa Ryuna ke toko perhiasan elite.


“Kita enggak ketemu klien atau urus pekerjaan, Mas?” tanya Ryuna dan sudah langsung mendapat gelengan kepala dari Kim yang sampai detik ini masih menggandengnya erat.


“Enggak, ... itu buat besok saja,” ucap Kim yang terus membawa Ryuna melangkah menghampiri mamah dan kedua adik perempuannya.


“Kita beli cincin pernikahan kita dulu, soalnya kita belum pakai cincin. Biar mamah enggak ceramah atau malah makein karet gelang di jari manis tangan kanan kita,” lanjut Kim.


Pernikahan mereka yang tiba-tiba, tanpa sedikit pun persiapan memang membuat sekadar cincin pernikahan, tak sampai mereka sediakan. Karena jangankan cincin, emas kawin saja, Kim hanya memberikan enam lembar uang seratus ribu yang saat itu ada di dalam dompetnya.


“Mbakkkkk, cincin sama perhiasan sebelah sana cantik-cantik! Ayo, pilih-pilih di sana saja!” heboh Hyera sudah langsung menuntun Ryuna.


Ryuna yang sampai detik ini masih merasa minder, mau-mau saja mengikuti tuntunan iparnya. Mereka langsung diikuti oleh Kim, ibu Chole, dan juga Calista. Namun, Kim mendadak berhenti melangkah karena fokus pandangan sekaligus perhatiannya tercuri pada kalung perhiasan putih berliontin bintang mungil sekaligus sangat berkilau.

__ADS_1


Kim segera mengambil kalung incarannya, kemudian diam-diam membungkusnya tanpa sepengetahuan siapa pun apalagi Ryuna. Selanjutnya, Kim kembali siaga mengikuti sang istri yang tengah dibuat pusing oleh ketiga wanita di sana. Sebab bukannya membantu, hadirnya ibu Chole, Calista, apalagi Hyera malah membuat Ryuna makin bingung memilih. Dan Kim tidak bisa untuk tidak tertawa ketika Ryuna menoleh kemudian menatapnya. Ryuna jelas meminta pendapat sekaligus bantuannya.


“Bentar ... bentar, ... aku pilih cincin nikah buat kita dulu. Sisanya terserah kamu,” ucap Kim yang juga sudah langsung ikut heboh karena Hyera begitu sibuk meyakinkannya untuk memilih cincin nikah sesuai pilihan gadis itu. Jadi, ketika tatapan Kim dan Ryuna lagi-lagi bertemu, keduanya sudah langsung menahan tawa lantaran hadirnya ketiga wanita terpenting dalam hidup Kim bersama mereka, malah membuat mereka makin bingung memilih.


__ADS_2