Saling Cinta Setelah Menikah

Saling Cinta Setelah Menikah
59 : Kehamilan Luar Biasa


__ADS_3

“Tampaknya, mereka menolak kembali ke jalan yang benar. Karena jika merujuk pada kata-kata Papah saat itu, ... ki Awet baru akan bisa kembali andai dia mau bertaubat,” ucap Ryuna berbisik-bisik kepada sang suami.


“Biarin saja. Apalagi sampai sekarang, baik Sonya maupun Tiwi enggak ada basa-basinya. Mereka sama sekali enggak minta maaf ke kamu. Hanya orang tua mereka saja yang minta maaf,” balas Kim yang memang sangat marah sekaligus kecewa dengan sikap Sonya maupun Tiwi. Jadi, andai keduanya diga*njar dengan hukuman paling berat sekalipun, Kim tidak akan ambil pusing meski keduanya khususnya Sonya, memiliki hubungan cukup baik dengan keluarga Kim.


Sidang Sonya dan Tiwi kali ini belum sampai ada putusan. Namun karena keduanya tetap menyangkal, sekaligus mengaku tidak sedikit pun menyesal, Kim sekeluarga yakin, kedua wanita itu hanya akan mempersulit langkahnya sendiri.


“Enggak usah dipikirin,” ucap Kim yang jadi sewot sekaligus sensi.


Ryuna yang masih dirangkul Kim, refleks tersenyum pasrah kepada ibu Chole yang kebetulan melangkah di sebelahnya.


Siang menuju sore kali ini mereka tutup dengan meninggalkan pengadilan. Mereka kembali satu mobil, sementara Kim dan Ryuna sengaja duduk di tempat duduk penumpang. Namun ketika Ryuna menoleh ke belakang, ki Awet yang masih memakai blangkon hitam dan hanya menggunakan kolor hitam selutut tanpa menutup tubuh bagian atasnya, menatap sedih kepergian mobil Alphard yang membawa rombongan Ryuna.


“Pah, ... ki Awet mau ikut,” ucap Ryuna sambil menatap ke depan, ke punggung kepala pak Helios yang kebetulan duduk persis di depannya.


“Serius ...?” Kim yang awalnya sudah bersandar santai agak meringkuk di sebelah Ryuna, sudah langsung ketar-ketir.


“Enggak mungkin bisa. Ke anak kalian pun, selain takut, dia bakalan hormat!” yakin pak Helios sambil mengecek sederet pemberitahuan yang memenuhi layar ponselnya.


“Itu maksudnya gimana, Pah? Kok papah ngomong gitu?” lirih ibu Chole yang jadi kepo. Kenapa ki Awet yang ia ketahu merupakan seorang du*kun, dikata pak Helios tak hanya takut? Melainkan akan hormat ke cucu pertama mereka?

__ADS_1


Berbeda dengan yang lain, Mas Aidan yang kebetulan duduk di sebelah sopir dan awalnya tengah mengecek berkas di pangkuannya, malah sama sekali tidak paham.


“Ki Awet siapa sih? Perasaan di belakang enggak ada siapa-siapa,” pikir mas Aidan yang memang sampai melongok ke belakang. Telah ia pastikan, di belakang sana tidak ada siapa-siapa atau malah ki Awet yang dimaksud. Karena sosok yang dimaksud memang hanya bisa dilihat oleh Ryuna dan pak Helios. Meski sampai detik ini, pak Helios yang telanjur gondok kepada ki Awet, benar-benar tidak sudi untuk sekadar melirik pria itu bahkan walau tidak sengaja.


***


Seiring bertambahnya usia kehamilan Ryuna, wanita itu mulai terbiasa dengan pemandangan tak kasat mata. Meski beberapa dari mereka sudah langsung memperlakukannya dengan bar-bar, Ryuna tetap bisa menyikapi dengan tenang. Terlebih buyut dari pak Helios dan beberapa sosok berpakaian serba putih lainnya, kompak menjaganya. Mereka selalu tersenyum bersahaja, dan seolah sengaja meminta Ryuna untuk tenang.


“Ah?!” refleks Kim yang kemudian buru-buru duduk. Pemuda itu tak lagi menyandarkan sebagian wajahnya di perut Ryuna yang sudah agak besar.


Ryuna yang awalnya sedang tidur, refleks terusik. Dengan kedua mata yang belum sepenuhnya terbuka, ia menatap sang suami sembari berangsur duduk. “Kenapa, Mas?”


“Jangankan ditendang, lihat makhluk astral saja aku sudah biasa,” balas Ryuna benar-benar pasrah.


Detik itu juga Kim merasakan kebahagiaan luar biasa. Kim merasa sangat beruntung dan tak lupa bersyukur lantaran sang istri begitu sabar menghadapi sekaligus menjalani proses kehamilan putra pertama mereka, yang memang penuh drama luar biasa.


“Ini jam berapa?” ucap Kim yang sudah mendekap tubuh Ryunan. Di tengah suasana kamar yang temaram, ia meraih ponselnya dari meja nakas di sebelahnya. Ia dapati, waktu yang menunjukkan pukul satu pagi. “Salat yu? Biar kamu sama baby juga lebih sehat.”


Ryuna yang masih menatap Kim, berangsur mengangguk-angguk. Dan ia tetap cuek meski di sudut depan tempat tidur mereka ada sosok wewe gombel yang menatapnya dengan sangat marah. Dari kedua mata sosok tersebut seolah memancarkan kobaran api, selain kedua tangan berkuku panjang hitam nan runcingnya yang seolah siap menerka*am Ryuna kapan saja.

__ADS_1


“Mas, tolong bacain ayat kursi,” pinta Ryuna yang membiarkan sang suami membantunya duduk.


“Kenapa?” lirih Kim refleks mengawasi sekitar. Ia yakin, memang ada yang tidak beres, semacam ada penampakan yang telah mengganggu istrinya.


“Ada yang ngambek atau malah marah besar ke aku. Tolong bacakan ayat kursi saja sambil siap-siap salat,” pinta Ryuna lagi.


Merasakan kehamilan berbeda dari wanita normal saja, sudah sangat membuat Ryuna kewalahan. Itu baru kenyataan mengenai janinya yang teramat aktif. Kim yang hanya merasakan tendangan sekali saja sudah langsung terkejut, apalagi Ryuna yang hampir setiap saat merasakan keaktifan calon anak mereka? Itu baru mengenai keaktifan anak. Belum dengan gangguan dari makhluk astral yang selalu saja mengganggu. Mereka seolah tak terima, iri bahkan sangat marah kepada Ryuna.


“Ya Allah, terima kasih banyak untuk semua karunia sekaligus kebahagiaan yang selalu Engkau berikan kepada hamba sekeluarga, tanpa jeda. Termasuk untuk kehamilan hamba, hamba sungguh berterima kasih atas segala proses sekaligus nikmatnya. Semoga, semuanya selalu baik-baik saja, meski segala proses ini memang tidak ada yang benar-benar mudah,” batin Ryuna mengakhiri salatnya dengan doa. Kemudian ia segera meraih tangan kanan suaminya dan menyalaminya dengan takzim menggunakan kedua tangan.


Seperti biasa, setelah salat, Kim akan menuang air minum ke gelas, kemudian melafalkan beberapa doa, sebelum memberikannya kepada Ryuna dan Ryuna akan segera meminumnya langsung habis.


“Langsung adem ...,” ucap Ryuna yang mengakhirinya dengan tersenyum tak berdosa.


“Ini satu botol segini, buat temen ngaji, buat kamu minum nanti. Kamu gini, bentar, pakai bantal sofa. Kamu tidur di pangkuanku pakai bantal sofa sambil aku ngaji,” ucap Kim yang tak mau Ryuna berjuang sendiri. Apa pun yang bisa meringankan beban sang istri dalam menjalani kehamilan luar biasa untuk anak pertama mereka, akan ia jalani termasuk itu, mengaji sepanjang dini hari dan membuatnya kurang tidur.


“Ini mau jadi Iron Man, ya?” lirih Kim berbisik-bisik tepat di atas perut Ryuna yang juga sampai ia pegang menggunakan tangan kanan. Namun detik itu juga, Kim nyaris jantungan gara-gara dibalas tendangan yang ... benar-benar bertenaga.


Kendati demikian, Kim yang juga mulai terbiasa dengan kelebihan janinnya, menjadi cekikikan. “Jangan kenceng-kenceng, ya. Kasihan Mamah kecapean. Ini saja baru bisa tidur,” bisiknya yang juga langsung diam lantaran lagi-lagi, ia dibalas dengan tendangan. “Beneran lebih ngeri dari gayanya kak Ojan ...,” lirih Kim yang kemudian tersenyum gemas sambil mengelus perut Ryuna dengan hati-hati.

__ADS_1


__ADS_2