
Wanita bertubuh besar gen*d*ut dan matanya seolah selalu melotot, Ryuna kabarkan sebagai ibu Siska—mamahnya Dodo. Ibu Siska sangat mirip dengan Dodo. Baik wajah, maupun postur tubuh yang sama-sama besar. Yang membedakan mereka, ketika Dodo gundul, ibu Siska berambut kribo dan diikat tinggi hingga hasilnya tetap mengembang.
Ibu Siska mendekat dengan gaya yang sangat seram. Sekelas Ryuna yang sudah digenggam sekaligus didampingi Kim saja takut. Ryuna mendekap sebelah lengan sang suami menggunakan tangannya yang tidak digenggam Kim.
“Mas, lapor pak RT sama RW. Paman tunggu di sini,” ucap paman Syam yang masih menyikapi keadaan dengan tenang.
Jika keadaannya sudah seperti sekarang, memang harus melibatkan aparat setempat bahkan polisi. Agar kasu*snya cepat selesai dalam artian teratasi. Agar Dodo sekeluarga tak semena-mena lagi. Terlebih setelah melihat keadaan Santy yang sangat kurus, deki*l dan memang sangat memprihatinkan. Paman Syam tak ragu dan makin mantap untuk membawa Dodo sekeluarga ke ranah hukum.
“Harusnya, sebentar lagi, polisi juga datang,” ucap paman Syam dan sudah langsung membuat Ryuna maupun Kim, menatapnya tak percaya. Lain dengan ibu Siska yang sudah langsung marah-marah.
“Itu tadi maksudnya apa? Ngapain polisi datang ke sini? Mau lihat bisnis katering saya?” ucap ibu Siska meledak-ledak. Ia sudah langsung teriak lantaran Santy justru pergi dengan Ryuna dan Kim, selain ia yang sampai detik ini belum mengenali Ryuna akibat penampilan baru Ryuna.
“Heh, Santy! Kamu mau ke mana? Mau saya pecat kamu, makan gaji buta? Mau potong gaji, kamu mau saya laporkan ke polisi!” Terbiasa sem*ena-me*na, membuat ibu Siska tidak menyadari apa yang ia lakukan.
Paman Syam sampai menggeleng heran sambil terus bersedekap, menonton dan bersikap sesantai mungkin tontonan gra*t*is yang ibu Siska perankan sekaligus suguhkan, sebelum wanita itu mempertanggungjawabkan perbuatannya.
__ADS_1
“Kamu lagi, siapa yang izinin kamu ke sini, hah?” ibu Siska menjadikan paman Syam sebagai bahan omelannya. Karena paman Syam terus terdiam santai menatapnya, ia sengaja berkata, “Kamu berani sama saya? Kamu mau macam-macam sama saya? Oke, kamu pikir saya takut? Jangan salahkan saya kalau kamu menyesalnya!” Setelah berkata demikian, ia sungguh tidak segan untuk berteriak “Ma*l*ing!” Hingga menghebohkan kehidupan sekitar.
Bukan hanya tetangga maupun orang yang kebetulan lewat yang berdatangan. Karena empat karyawan di dalam dan penampilannya tak jauh mengenaskan dari Santy, juga berbondong-bondong keluar.
Pak RT dan pak RW yang sudah ibu Siska kenal, juga datang. Keduanya datang berdampingan diikuti oleh Kim dan Ryuna maupun Santy yang memilih bersembunyi di belakang punggung Ryuna. Semua kenyataan tersebut membuat ibu Siska merasa puas bahkan menang karena akan memberi paman Syam pelaj*aran. Termasuk kepada Santy, diam-diam dia juga sudah berencana merencanakan pembalasan.
“Mana mal*i*ngnya, Mah?” heboh Dodo yang masih memakai pakaian santai sambil membawa satu toples besar berisi emping goreng.
Walau suasana menceka*m, bahkan paham sang mamah meneriakkan “mal*i*ng” tetap makan dan membuat mulutnya sibuk mengunyah, tak ubahnya kewajiban untuk seorang Dodo. Namun ketika tatapannya memergoki wajah Kim, juga seorang wanita berhijab di sebelahnya yang ternyata Ryuna, Dodo refleks melepaskan toples besarnya hingga emping renyah yang terasa nikmat, berhamburan dari sana. Yang membuat Dodo makin panik, tak lain ketika mobil polisi juga berhenti di depan gerbang rumah orang tuanya.
Ibu Siska refleks berhenti kemudian menoleh akibat panggilan bergetar dari sang putra yang seolah mengabarkan kabar kurang baik.
“Selamat siang! Maaf, benar ini rumah Ibu Siska?” ucap seorang polisi di depan sana.
Ucapan yang sudah langsung membuat ibu Siska tersentak. Wanita berkulit kuning langsat itu refleks menoleh ke depan untuk memastikan. Ia dapati, pak RT maupun pak RW yang sudah langsung membenarkan, mengabarkan bahwa rumah yang mereka kunjungi memang rumah ibu Siska.
__ADS_1
Setelah menyimak obrolan di depan, ibu Siska meyakini, bahwa hadirnya polisi ke rumahnya semata untuk memastikan bisnis ketering dan dikata polisi mengerjakan pekerja dengan tidak manusiawi. Tentu ibu Siska sudah langsung takut karena pada kenyataanya, semua karyawannya bertubuh nyaris mirip lidi saking kurusnya. Mirip kekurangan gizi, nyaris sama dengan penderita anoreksia.
“Duh, gimana ini? Ngumpetin mereka sudah enggak mungkin,” pikir ibu Siska ketar-ketir. Namun melalui lirikan tajam matanya yang terlihat selalu melotot, ia meminta pekerjanya untuk bersembunyi. “Cepat pada ngumpet ke gudang!” bisiknya pada keempat pekerjanya yang masih melongok dari sebelah pintu di sebelah Dodo.
Keempat pekerja yang ibu Siska suruh, tampak bimbang karena jujur saja, mereka juga ingin bebas dari sana. Namun andai mereka tidak menurut, mereka juga sadar, hukuman yang akan mereka dapatkan, akan jauh lebih berat.
“Mbakkkkk, sini, Mbak! Ayo, pada ke sini!” teriak Ryuna benar-benar lantang. Tekadnya sudah bulat yaitu membebaskan teman-temannya di sana. Teman-teman yang memang belum selama dirinya menjalani kerja rod*i dan dikit-dikit potong gaji.
Kim yang tak mau sesuatu yang fatal sampai menimpa sang istri yang sedang hamil, terus mendampingi. Malahan, Kim mengambil alih langkah, tetap memimpin langkah cepat yang lebih dulu Ryuna mulai.
Tak beda dengan Kim, paman Syam yang tak mau Kim apalagi Ryuna kenapa-kenapa, juga langsung siaga. Paman Syam juga yang menangkis ser*ang*an ibu Siska ketika wanita itu mencoba menghalang-halangi langkah Ryuna yang mendekati keempat pekerja yang tersisa di balik pintu.
Suasana mendadak ramai karena ibu Siska tak segan meraung-raung menyerupai orang keras*ukan arwah lain. Ibu Siska juga memuku*l-muku*l dadanya menggunakan kedua tangan, bersikap seolah dirinya korban. Yang ada di sana dan sebagian besar sudah langsung menjadi penonton, jadi bingung sendiri pada apa yang ibu Siska lakukan.
Namun beberapa detik kemudian, setelah dihampiri pak RT dan pak RW, ibu Siska mendadak bangun. “Ini kalian pada ngapain? Kenapa kalian bikin keonaran di tempat saya? Saya tidak terima ya! Saya akan perkarakan ini ke kapor*li bahkan presiden. Bisa-bisanya kalian melukai hak asasi manusia yang saya miliki!” tegas ibu Siska yang sudah langsung menatap marah Ryuna. Seperti biasa, Ryuna berani membalasnya dengan tatapan tak kalah marah. Bahkan dari semuanya, memang hanya Ryuna yang berani melakukannya. Sebab, sekelas keluarganya termasuk suami ibu Siksa saja, tidak berani dan memang tidak ada yang berani kepada ibu Siska.
__ADS_1
“Ibu Siska! Saya, Ryuna. Saya menuntut keadilan untuk diri saya, almarhum orang tua saya, dan juga karyawan lainnya. Ayo kita selesaikan semuanya melalui hukum seperti yang selama ini, Ibu Siska ancamk*an kepada kami di setiap kami menuntut hak kami sebagai pekerja yang selalu diperkerjakan tanpa kejujuran gaji!” tegas Ryuna mencoba member*ontak. Ryuna benar-benar tak akan melepaskan ibu Siska. Ia tak akan melepaskan kesempatan emas terlebih memiliki Kim membuatnya lebih mudah dalam mendapatkan segala sesuatunya. Tak peduli, meski ibu Siska sudah langsung menatapnya sangat marah, bahkan kedua tangan berkuku panjang runcingnya juga nyaris menca*karnya.