
LDR pertama Ryuna dan Kim jalani dengan sangat tidak mudah. Mereka layaknya pasangan pacaran yang sedang sayang-sayangnya. Beberapa pesan kerap mewakili perasaan mereka. Bukan hanya bertanya sedang apa, mau ke mana, dan sudah makan atau belum. Karena keduanya juga tak segan mengumbar kerinduan melalui kata-kata.
“Terinspirasi dari mas Aqwa yang selalu ditimang di pangkuan mamahnya,” ucap Kim sembari merebahkan kepala berikut sebagian tubuhnya di pangkuan sang istri. Ryuna yang awalnya tengah melipat pakaian Aqwa, sudah langsung cekikikan.
“Berarti ke Jakartanya, Mas hari apa?” tanya Ryuna sambil mendekap wajah suaminya menggunakan kedua tangan.
“Aduh, jangan dibahas dulu. Ini saja baru sampai dan masih kangen-kangennya!” balas Kim yang sudah langsung tersenyum pasrah menatap sang istri.
“Minggu malam, ya? Berarti besok malam, yah?” lirih Ryuna sembari menatap ngeri sang suami. Karena baru ia sadari, detik-detik menuju LDR jauh lebih ngeri dari ketika ia hamil Aqwa dan harus terbiasa melihat pemandangan makhluk-makhluk seram.
“Ngeri, ya? Lebih ngeri dari nagih hutang, atau malah token listrik nangis,” ucap Kim sambil tersenyum geli.
“Orang kaya yang hobi hidup susah memang paling tahu hal-hal menakutkan bagi orang susah!” balas Ryuna.
Karena Kim sudah langsung tersenyum lepas dan perlahan tertawa pelan, Ryuna sengaja mengalihkan perhatiannya kepada sang putra. Di tengah tempat tidur, Aqwa sangat pulas. Bayi itu bertingkah layaknya orang dewasa dan akan tidur sekaligus bangun tepat waktu. Jadi, sebelum adzan subuh berkumandang, Aqwa sudah lebih dulu bangun bersuara riang layaknya bayi tua.
Awal Ryuna dan orang rumah mendengar, mereka benar-benar tak percaya. Namun setelah mereka menyaksikannya secara langsung, yang ada mereka langsung terpana sekaligus terpesona.
“Langsung pules, ya? Tadi hanya merengek sebentar, diemban bentar langsung gitu,” ucap Kim setelah ikut mengawasi.
__ADS_1
Ryuna yang masih mengawasi sang putra, jadi mengangguk-angguk. “Memang pinter banget,” lembutnya yang kemudian membagi senyumnya kepada sang suami. Namun ketika tatapannya tak sengaja menoleh ke ranjang pakaian, ia sungguh terkejut. Sebab pakaian Aqwa, termasuk jarit dan selimut lainnya sudah tersusun rapi di sans, padahal ia belum sempat melipatnya.
“Kenapa?” sergah Kim tetap bertahan meringkuk di pangkuan sang istri. Karena kini, di sana memang tempat paling nyaman untuknya melepas penat. “MasyaAllah, temannya mas Aqwa. Sudah jagain mas Aqwa, bantu papah mamahnya juga. Sehat-sehat ya, semuanya,” lirih Kim menatap takjub kejadian janggal di luar nalar yang mereka alami dan ia yakini masih berkaitan dengan Aqwa berikut keistimewaan bocah itu.
Seiring bergulirnya waktu, Aqwa tumbuh lebih cepat dari anak seumurnya. Di usianya yang ke tujuh bulan, bocah itu sudah bisa bicara dengan jelas. Sementara memasuki bulan ke delapan, Aqwa sudah langsung lancar berjalan tanpa ada tanda-tanda bocah itu akan belajar lebih dulu.
Aqwa menjadi kesayangan semuanya. Sekelas Brandon saja sampai menangis gara-gara memilih mondok di pesantren yang ada di kampung. Sementara untuk kesehariannya, Aqwa sudah terbiasa diajak bekerja. Bayi itu ibarat sumber rezeki sekaligus pelindung keluarga maupun orang di sekitarnya.
Pernah, restoran pusat dapurnya kebakaran. Namun hanya karena didatangi Aqwa yang usianya baru genap satu tahun, kebakaran sudah langsung diguyur banyak air yang asalnya entah dari mana, tapi kebakaran di sana beranjak padam.
“Siapa, Mas?” lembut Ryuna lantaran sang putra tak kunjung mau diajak masuk rumah.
“Ada temen, ya? Temennya kenapa?” tanya Ryuna yang juga merasa, dirinya wajib menjadi teman baik untuk sang putra.
“Itu wajah sama kepalanya beldalah. Lumahnya di sana, di yang sebelahnya punya anj*ing pudel!” cerita Aqwa yang tetap fokus menatap teman tak kasat matanya. Bocah berusia sekitar tiga tahun di hadapannya, kepalanya terus mengeluarkan darah, layaknya wajah bagian kanan. Namun wajah kirinya hanya lebam, tapi bocah itu tak hentinya menangis.
Kim dan Ryuna sudah langsung berkode mata. Khususnya Ryuna yang jadi gelisah takut. Sebab di setiap ada teman tak kasat mata dari Aqwa, ia jadi sibuk merinding sekaligus langsung meriang layaknya sekarang. Karenanya, Kim yang menyadarinya segera menghampiri. Kim mengantongi ponselnya, kemudian mengemban sang putra yang awalnya Ryuna gandeng.
“Papah, Mamah, temenku minta tolong!” ucap Aqwa dan lagi-lagi membuat kedua orang tuanya berkode mata melalui lirikan.
__ADS_1
Sadar keistimewaan sang putra harus disalurkan dan itu untuk menolong sesama, Kim langsung mengangguk-angguk sanggup. “Oke. Gimana-gimana? Papah Mamah harus gimana?”
Di sore menjelang petang, di tengah adzan maghrib yang terdengar berkumandang, Kim dan Ryuna membawa sang putra mengunjungi kompleks perumahan di depan.
“Sayang, aku mau sekalian ajak satpam kompleks deh,” ucap Kim yang sudah langsung yakin, keterangan yang diberikan oleh sang putra sangat akurat. Karenanya, ia juga sudah langsung menanyakan nama si bocah kepada Aqwa, agar mereka memiliki alasan untuk pura-pura menemuinya.
“Berarti teman Aqwa sudah meninggal. Jadi korban KDRT apa kelalaian pengasuhan, kah?” pikir Ryuna. Ia amati, rumah kunjungannya yang tidak sebesar kediaman rumah pak Helios selaku tempatnya tinggal.
“Tadi sih Aerinya habis naik sepeda, Non, Den. Aeri anaknya memang aktif banget. Sering tuh, keliling komplek pakai sepeda roda empat sama mamahnya,” jelas satpam komplek yang menemani mereka mengunjungi rumah sebelah.
Suasana di sana sangatlah bising oleh suara anj*ing yang tak hentinya menggonggong dari sebelah. Saking bisingnya, adzan maghrib sampai jauh dari jelas.
“Oh, jadi Aeri sama mamahnya, ya? Mamahnya memang sering di rumah, apa gimana, Pak? Terus, papahnya di rumah juga?” lanjut Ryuna yang kerap fokus pada tatapan sang putra. Baru saja, tatapan Aqwa teralih dari sebelahnya. Tatapan Aqwa menjadi masuk ke area dalam gerbang. Di sana ada kotak besar menyerupai boks anti dingin yang biasanya digunakan untuk menggantikan fungsi kulkas dalam menyimpan bahan beku.
“Mamah, Papah, itu Aeri di situ. Di dalam kotak itu,” ucap Awqa.
Masalahnya, bagaimana bisa mereka membuktikannya, sementara bel yang mereka tekan saja, belum mendapatkan respons.
“Itu maksudnya, gimana, Non, Den? Aeri ada di dalam kotak begitu?” tanya pak satpam benar-benar penasaran. Ia sampai merinding dan mendapati bulu kuduk di kedua tangannya kompak berdiri. Di tambah lagi, anjin*g di rumah sebelah tak hentinya menggonggong bahkan mengam*uk. Anj*ing tersebut sibuk memberontak, berusaha keluar dan tak segan menabra*kkan diri ke gerbang rumah keberadaannya.
__ADS_1