Saling Cinta Setelah Menikah

Saling Cinta Setelah Menikah
63 : Jodoh Terbaik


__ADS_3

“Ibaratnya, Brandon sedang krisis kepercayaan. Karena sahabatnya sendiri justru menus*uknya dari belakang, bahkan itu menggunakan jalur instan. Masalahnya, meski Brandon terlihat dingin enggak punya hati, pada kenyataannya Brandon juga penyayang kayak Mas dan yang lainnya. Brandon dilema karena dia telanjur menyayangi sahabatnya,” ucap Ryuna sambil melangkah keluar dari kamar mengikuti rangkulan sekaligus tuntunan Kim.


Kim yang menyimak sang istri sudah langsung mengangguk paham. Yang membuat Kim tidak paham, justru kenyataan Rain yang tiba-tiba keluar dari kamar Calista.


“Mbak Ryuna, coba lihat aku. Katanya Mbak Ryuna sakti! Coba ramal aku dari ujung kepala sampai ujung katulistiwa. Gimana nanti aku ke depannya, terus matinya masuk sorga apa neraka!” ucap Rain yang detik itu juga langsung membuat Ryuna diam menatapnya.


“Enggak jelas banget!” refleks Kim.


“Mas Kim ihhh!” rengek Rain lagi yang kemudian melangkah buru-buru mendekati Ryuna, tapi detik itu juga, Kim langsung membelakangi Ryuna.


“Memangnya kamu sudah siap mati?” tanya Kim.


Rain langsung panik dan buru-buru menggeleng. “Ya maksudnya, Mas!”


“Lah kok tadi minta diramal matinya masuk surga apa neraka?” balas Kim.


“Persiapan lah Mas!”


“Ya paling kalau dikira-kira, dikalkulasi, orang kayak kamu paling masuk neraka!” ucap Kim yang pada akhirnya juga yakin. Ia mengangguk-angguk, bahkan meski Rain sudah panik menegurnya, “Hei Mas, hei Mas!”


“Ya jangan gitu dong Mas!” rengek Rain.


“Jangan gitu gimana? Salat wajib saja kamu sering bolos dan itu pun minta diskon,” balas Kim.


Rain menghela napas dalam. “Andaipun enggak dapat diskon, paling enggak ongkirnya gratis lah Mas!”


“Hah? Ongkir ke kuburan, maksudnya? Tenang, enggak usah khawatir, ongkir antar sampai kuburan bahkan liang kuburan, itu aku yang tanggung!” yakin Kim menggebu-gebu saking semangatnya, selain ia yang juga menjadi tertawa.

__ADS_1


Kim memilih merangkul Ryuna lagi, bermaksud membawanya pergi dari sana. Namun Rain justru tiba-tiba sungkem kepada Ryuna.


“Tolong angkat saya jadi murid, Mbak Ryuna!” ucap Rain.


“Apaan, sih! Makin enggak jelas!” ucap Kim yang berakhir menertawakan Rain.


“Aku serius Mas!” rengek Rain yang kemudian sengaja memanggil Kim ‘uncle’, lantaran pemuda beristri itu malah mengabaikannya.


Kim membawa Ryuna masuk ke dalam kamar Calista. Di sana ada Rain dan Sabiru juga, selain Hyera maupun Calista selaku pemilik kamar. Semuanya tampak sedang belajar bersama, meski sepertinya Sabiru menjadi guru dadakan di sana.


“Kamu enggak belajar?” tanya Kim kepada Rain.


“Aku sudah pinter, Mas. Guru di sekolah saja sering aku kibu*lin. Makanya, sekarang aku mau belajar ilmu kesaktian saja,” yakin Kim masih semangat menggebu-gebu.


Kim sudah langsung menggunakan telapak tangan kirinya untuk menahan wajah Rain.


“Ya ampun Mas, ... telapak tangan saja sewangi ini punyamu. Eh, bentar ... ini lagi penyaluran energi positif, ya? Awal-awal biar aku sakti?” ucap Rain yang mau-mau saja diperlakukan layaknya kini oleh Kim.


“Mas Sabiru, ... ini anak habis kenapa? Kok mendadak pengin sakti?” tanya Kim kepada Sabiru yang baru saja menghampiri Calista.


Dengan santainya, Sabiru yang langsung menatap Kim sambil mesem berkata, “Habis kejedut air kayaknya kepalanya. Makanya otaknya makin cair.”


Kim langsung terkikik, tapi Boy sang adik sudah memintanya untuk amit-amit.


“Kalian kenapa, sih? Ini aku serius loh,” rengek Rain mulai merasa frustrasi karena keinginannya belajar kesakitan, benar-benar tidak digubris. Terlebih ketika akhirnya Ryuna datang menggandeng Brandon, semuanya justru kompak masuk ke dalam kamat Calista melihat mereka yang sedang mengerjakan banyak tugas sekolah.


“Mas Sabiru, tolongin dong. Tolong bantu ini, soalnya susah banget!” rengek Hyera benar-benar manja. Terlebih melihat Sabiru yang malah duduk di sebelah Calista dan menatap kakaknya itu penuh cinta.

__ADS_1


Mendapati itu, Ryuna sudah langsung menyikapinya dengan tidak nyaman. “Hyera kok auranya enggak positif ya. Ini enggak boleh dibiarin. Jangan sampai ribut sama saudara sendiri,” pikir Ryuna yang sudah langsung mendekati Hyera. “Yang mana Dek?” lembutnya sambil merangkul punggung Hyera menggunakan tangan kanan. Selain itu, ia juga sengaja mengelus bahu Hyera yang tetap ia rangkul. Ia sengaja melakukannya agar Hyera fokus kepadanya. “Kamu masih sangat muda Dek, cinta monye*t boleh, tapi jangan sama yang jelas-jelas saling mencintai dan malah sudah dijodohkan sejak bayi. Doa terbaik buat kamu ya. Kamu kan cantik, pinter, kamu enggak kekurangan apa pun. Bismillah, kamu juga dapat jodoh terbaik,” batin Ryuna yang mulai mendengarkan setiap keluhan Hyera dengan sabar.


“Hyera ini gimana? Kamu kan enggak kekurangan gizi dan semua keluarga kita juga enggak ada yang enggak cerdas kecuali Kim Oh Jan! Masa soal kayak gitu enggak bisa? Malu-maluin ah!” ucap Brandon dan sudah langsung membuat Ryuna maupun yang lain tertawa, kecuali Rain.


“Mas Brandon kebiasaan. Enggak pernah ngomong, sekalinya ngomong langsung racun!” sebal Hyera.


“Iya, ... lagian ngapain juga daddy aku dibawa-bawa? Kasihan daddy, setiap saat telinganya panas mirip diji*lat seta*n katanya!” timpal Rain.


“Di mana-mana yang satu spesies memang jil*atnya yang masih satu spesies!” balas Brandon masih sinis, tapi kali ini, ia juga menerima tuntunan Ryuna untuk duduk di sebelah kakak iparnya itu. Hingga kini, Ryuna duduk diapit oleh Hyera dan Brandon.


“Ya ampun malah bahas spesies ...?” heran Rain yang perlahan juga bingung. Ia memilih duduk sila di karpet yang ada di sana, di sebelah meja dan kursi yang sedang digunakan untuk belajar.


“Tapi kalau dipikir-pikir, bapakmu itu masuk ke golongan spesies langka loh, Rain!” ucap Boy dengan entengnya.


“Hah? Masuk ke spesies langka, maksudnya?” balas Rain sambil menatap punggung Boy yang kebetulan duduk di tempat duduk paling ujung sebelah kiri.


“Spesies langka gimana? Orang enggak tahu diri, enggak tahu umur, dan enggak tahu semuanya kayak Kim Oh Jan kan banyak. Cuman khusus Ki. Oh Jan memang kebangetan. Penginnya eksis terus. Aku sampai berpikir, andai ada penghargaan ‘istri yang seumur hidupnya tabah’ itu mamah kamu. Kok iya, sampai nikah dan punya banyak anak!” ucap Brandon benar-benar terdengar nyelekit bahkan di telinganya sendiri.


Yang lain apalagi Boy, langsung heboh tertawa. “Seumur hidupku, asli aku beneran pengin ngomong itu, tapi aku enggak berani!” ucap Boy di sela tawanya.


Lain dengan Kim yang sudah sibuk bilang “Amit-amit” sambil mengelus-elus perut Ryuna, meski ia masih belum bisa menyudahi tawanya.


“Mas, sudah jangan dielus-elus. Itu yang diperut ngamuk!” tegur Brandon yang sudah paham kelakuan jabang bayi di dalam perut Ryuna.


Detik itu juga tawa mereda. Semuanya kompak menyaksikan perut Ryuna dari jarak dekat, dan semuanya dibuat takjub sekaligus tak percaya.


“Itu kayaknya besok keluarnya, lahirnya gitu maksudnya, beneran langsung loncat dari mulut!” yakin Rain kembali sungkem kepada Ryuna.

__ADS_1


Namun di balik kehebohan di sana, Kim baru menyadari, hadirnya sang istri mampu membuat semuanya duduk bersama. Dari Brandon yang akhirnya mau bergabung bahkan berbicara dalam kebersamaan. Juga Hyera yang tak sibuk merengek manja kepada Sabiru. Dalam rangkulan Ryuna, Hyera tetap anteng dan hanya sesekali mengomel pada Brandon dan bagi Hyera rese.


“Mungkin ini yang namanya jodoh terbaik. Hal-hal yang sebelumnya belum bisa aku lakukan, akhirnya bisa terwujud dan itu olehnya,” batin Kim yang juga berterima kasih kepada Ryuna, meski ia masih melakukannya serba di dalam hati.


__ADS_2