
Hampir semua warga sudah berkumpul termasuk juga pak kades. Tentu salain helikopter dan pak Helios, hadirnya pak Ojan juga tak luput dari perhatian akibat kenyataan pria itu yang tak bisa diam.
Hadirnya pak Helios dan mereka ketahui sebagai orang tua Kim, yang sampai membawa helikopter, menjadi kenyataan yang membuat sosok Kim makin spesial di mata semuanya. Malahan ibaratnya, Kim itu paket komplit. Rasa kagum sekaligus pujian silih berganti terdengar dari setiap warga bahkan pak kades yang putrinya naksir Kim.
“Selera Rukmi tinggi banget, ya. Enggak sangka ternyata Kim orang kaya dan memang enggak kaleng-kaleng,” batin pak kades merasa bangga, pria pilihan sang putri ternyata sangat kaya. “Andai Kim mau sama Rukmi,” batinnya lagi dan sangat yakin, putrinya akan menjadi wanita paling beruntung jika bersanding dengan Kim.
“Karena kami memulai KKN ini dengan baik-baik, kami juga akan mengakhirinya dengan baik-baik.” Kim sengaja mewakili teman-temannya. Ia dan teman-temannya juga sudah mengenakan jaket almameter, benar-benar tinggal pergi dari sana jika mobil jemputan untuk mereka datang.
“Saya sudah menyiapkan kenang-kenangan untuk warga di sini.” Pak Helios yang duduk di sebelah Kim, angkat suara.
“Bingkisannya langsung diambil saja, Pih? Sekarang?” tanya pak Ojan yang lagi-lagi sudah langsung menjadi pusat perhatian hanya karena panggilannya terhadap pak Helios yang memang lebih muda darinya. “Halo ki Dawet, kamu orang mau bingkisan juga, enggak? Kalau memang mau, tunjukkan wujudmu!” Karena sampai detik ini, Ojan sungguh penasaran dengan wujud ki Awet, dan ia ketahui memiliki kekuatan sakti tapi hobi melarikan diri.
“Yuk Broder Kim, kita ambil kenang-kenangannya, sambil tunggu ki Dawet menampakkan diri. Mana tahu, mau kenang-kenangan juga dari kita. Nanti Kak Ojan kasih ajian kentut rontek saja!” yakin pak Ojan setelah sudah langsung mendapat izin.
“Banyak?” tanya Kim memastikan kepada sang papah di tengah kesibukannya menahan tawa gara-gara ocehan pak Ojan.
Pak Helios yang turut Kim tatap, segera mengangguk-angguk, membenarkan bahwa dirinya sudah menyiapkan kenang-kenangan berjumlah banyak untuk dibagikan ke warga setempat. Namun sepanjang pak Helios di sana, ada seorang pria tua yang pak Helios sadari sengaja mengawasinya. Sosok yang seolah tidak bisa dilihat oleh sembarang orang, dan keberadaannya ada di belakang warga barisan tengah. Karenanya, setelah Kim membawa beberapa mahasiswa untuk mengambil hadiah yang dimaksud dan ada di dalam helikopter, ia sengaja memanggil Ryuna dan kebetulan duduk sila di atas terpal juga, tepat di belakangnya memimpin mahasiswi yang ada.
“Ryuna ... yang namanya ki Dawet, ciri-cirinya seperti apa? Papah ingin tahu,” bisik pak Helios telanjur menyebut ki Awet sebagai ki Dawet gara-gara Ojan.
__ADS_1
Ryuna yang baru dipanggil apalagi dibisik-bisiki saja sudah panas dingin karena terlalu gugup mendadak berurusan dengan mertua, makin grogi lantaran pak Helios sudah memintanya untuk memanggil papahnya Kim itu dengan sebutan “papah”.
“Ya ampun Ryuna, ayo fokus ... papahnya Kim lagi tanya ke kamu!” batin Ryuna menguatkan dirinya sendiri agar tidak grogi.
Ryuna bertekad tidak mengecewakan sang mertua, selain ia yang akan menjelaskan sedetail mungkin. Namun sebelum itu, ia sengaja menghela napas dalam sekaligus pelan demi meredam rasa grogi yang telanjur menguasai.
“Maksudnya, ki Dawet itu, ki Awet kan, P-pah?” bisik Ryuna yang detik itu juga merasa, jantungnya seolah sudah langsung copot hanya karena ia menyebut pak Helios “pah”.
Meski sempat kebingungan, pak Helios berangsur mengangguk-angguk. “Yang dukun itu, loh.”
“Iya, P-pah, ... namanya ki Awet. Sejauh ini, bagi yang imannya kuat, mereka akan melihat ki Awet layaknya umur pria itu yang kalau enggak salah sudah masuk kepala delapan. Namun bagi yang imannya enggak kuat, apalagi gadis masih perawan yang maaf yah, P-pah ... enggak punya pegangan agama dan dia juga dipenuhi naf*s*u bir*ahi, sekelas mas Kim saja lewat, P-pah! Si ki Awet beneran jadi muda, gagah, tuh nyatanya Sonya saja sampai kep*elet!” bisik Ryuna dan sepanjang sang mertua menyimak, pria itu selalu kaget tak percaya.
Apa yang terjadi, yaitu sudah langsung diakrabi oleh papahnya Kim, benar-benar membuat perasaan Ryuna campur aduk. Ryuna berakhir panas dingin dan sampai kebelet pipis. Beruntung, Kim datang, yang mana pria itu sudah langsung siap menemani Ryuna, setelah menurunkan satu dus besar berisi bingkisan untuk warga, dan Kim ambil dari dalam helikopter.
Tak lama setelah Kim dan Ryuna pergi, pak Helios buru-buru menyusul lantaran pak Helios mendapati sosok ki Awet yang gentayangan, justru menyusul Kim dan Ryuna ke area kamar mandi di dekat sungai.
“Kamu enggak usah begitu. Kamu jangan cari gara-gara, kalau kamu masih mau jadi manusia, dan berhenti mirip arwah penasaran begini!” kesal pak Helios dan sudah langsung membuat sosok ki Awet kebingungan sembari balik badan sekaligus menatap heran pak Helios.
“Ya, saya bisa lihat kamu! Dikiranya kamu memang paling bisa? Di atas langit masih ada langit. Jangan lupa itu!” tegas pak Helios lagi.
__ADS_1
“Masuk ke helikopter bentar, kepalaku langsung puyeng,” keluh Kim masih membiarkan Ryuna melangkah di depannya.
Mereka tengah melewati jalan setapak menuju tepi sungai penuh bebatuan bernuansa dingin selaku keberadaan kamar mandi umum di sana.
“Maksudnya gimana?” tanggap Ryuna sudah langsung mendekat terlebih, wajah Kim juga sudah langsung pucat. Ia meraih sebelah tangan Kim yang syukurnya belum sampai demam.
“Pakai roll-om mau?” tawar Ryuna yang kemudian segera mengeluarkan roll-on dari dalam ransel P3K-nya.
“Jangan khawatir, aku baik-baik saja,” yakin Kim masih membiarkan tengkuk, pelipis, bahkan kepalanya diolesi roll-on oleh sang istri.
“Enggak khawatir gimana? Kamu saja beneran sakit,” lirih Ryuna setengah mengomel sambil mengantongi roll-onya.
“Jadi, beneran khawatir? Berarti, kamu juga sudah sayang banget, ya, ke aku?” ucap Kim masih lirih dan berakhir tersipu. Terlebih, di hadapannya, wajah Ryuna langsung merah merona. “Tuh, wajah kamu begitu. Itu tandanya kamu beneran sayang ke aku!” Kali ini, Kim sengaja mengejek.
“Y-ya sayang ... kamu kan suami aku.” Setelah bingung harus berkata apa lagi, bahkan ia juga jadi tidak berani menatap Kim karena terlalu gugup, Ryuna mendadak ingat hutang penjelasan Kim kepadanya. “Kamu punya banyak hutang penjelasan kepadaku,” ucapnya yang kali ini merengek, menatap sedih sang suami.
Kim berangsur berdeham kemudian menatap Ryuna penuh keseriusan. Tak sampai di situ karena ia sengaja menunduk, membuat wajah mereka dekat karena tinggi Ryuna memang hanya selengannya.
“Mas Kiiiiiiiimmmmmm!” Suara Rukmi terdengar mendekat seiring wanita itu yang lari kencang mendekati kebersamaan Kim dan Ryuna.
__ADS_1
“Aku ikut ke Jakarta!” Sampai detik ini Rukmi masih berteriak sambil terus berlari ke arah Kim yang masih membingkai wajah Ryuna. Namun baik Kim maupun Ryuna sudah langsung menatap sekaligus menjadikan kedatangan Rukmi sebagai fokus perhatian.