Saling Cinta Setelah Menikah

Saling Cinta Setelah Menikah
40 : Ingatan Lima Tahun yang Hilang


__ADS_3

“I-itu beneran aku?” ucap Ryuna yang buru-buru mengoreksi ucapannya. “M-maksudnya, aku merasa itu ... gadis kecil itu mirip masa kecil aku, tapi.”


“Katakan kepadaku, hal terakhir yang kamu ingat tentang masa kecil kamu?” tanya Kim yang meraih bingkai fotonya kemudian dengan pelan sekaligus menghela napas dalam, duduk di sebelah Ryuna.


Ryuna terdiam sejenak, menunduk dan berangsur menatap Kim. “Dari kecil, aku sudah tinggal di rumah Dodo. Ya kerja gitu, orang tuaku kerja di rumah Dodo. Seperti yang Dodo katakan. Aku dan orang tuaku jadi pembantu, ya lebih dari itu sih karena kadang jadi tukang antar juga. Orang tuanya Dodo kan ada bisnis katering di rumah.” Ryuna menyadari, makin ia menjelaskan, makin serius juga tatapan Kim kepadanya.


“Bukannya kamu pulang kampung, ya?” tanya Kim. Karena hal terakhir yang ia ingat, Ryuna dan orang tuanya pamit untuk pulang kampung.


“Pulang kampung?” ulang Ryuna hang kemudian menggeleng. “Sempat beberapa kali saat orang tuaku masih hidup, kami ingin pulang kampung. Namun setelah melihat keadaan dan andai kami ambil cuti bareng-bareng pun enggak diizinkan sama orang tua Dodo, dan biaya otomatis mahal, bisa buat tambahan biaya sekolah atau keperluan lainnya—inilah alasan kenapa orang tuaku terlalu mi*sk*in buat menghidupi anak lebih dari satu.”


“Kalian bekerja tiga orang sekaligus ke orang tua Dodo. Memangnya kalian, atau setidaknya kamu, enggak dapat gaji?” balas Kim yang jadi curiga, ada yang janggal dengan Ryuna sekaligus kedua orang tuanya, dan juga menyeret keluarga itu.


“Nah itu Mas. Bapak mamakku bilang, dulu aku pernah sakit parah, dan kami kerja di keluarga Dodo, sebagian besar hasilnya itu buat bayar hutang kami,” jelas Ryuna lagi.


“Kamu sakit apa, sampai-sampai, kalian harus menghabiskan waktu kalian untuk bekerja agar bisa mengangsur pinjaman?” balas Kim lagi.


“Nah itu Mas, aku belum tahu. Tapi kata mamak, alasan kepalaku lihat ... kayak ada bekas bedah. Ini katanya dioperasi. Mungkin buat ini,” ucap Ryuna yang kemudian menyibak rambut kepala sebelah kirinya.

__ADS_1


Kim membantu Ryuna menyibak pelan rambutnya. Ia menatap saksama keadaan di sana yang sungguh ada bekas bedah terbilang kentara. “Kok aku jadi curiga, ya. Memang ada yang enggak beres. Apalagi kalau lihat cara Dodo memperlakukan Ryuna layaknya memperlakukan bu*d*ak. Jangan bilang, sebenarnya sakitnya Ryuna karena keluarga Dodo. Soalnya dulu, tiket bus saja sudah sampai dibelikan sama pengawalku. Kecelakaan lalu lintas, tapi malah Ryuna dan keluarganya yang dipak*sa tanggung jawab apa gimana? Andai benar, habislah kalian. Remu*k-remu*k kamu Do!” batin Kim yang kemudian merengkuh pinggang Ryuna, memindahkan tubuh istrinya itu ke pangkuannya.


“Ini memang kita, Na. Kita beneran pernah ada di masa lalu. Aku mencarimu, dan memang sempat kehilangan jejak kamu. Makanya aku sangat bersemangat ketika tahu, kamu justru jadi bagian dari KKN kita. Namun, dulu yang aku tahu, kamu mau pulang kampung. Orangnya papah yang sampai beli tiket busnya dan antar kalian sampai masuk bus. Kalau kamu enggak percaya, kamu bisa tanya orang tuaku. Mereka beneran sudah kenal kamu maupun orang tua kamu. Karena di beberapa kesempatan, kita memang sempat bareng. Kita sering makan bareng, kita sering belajar bersama,” ucap Kim tepat di hadapan wajah sang istri.


“Lah ... tahun berapa?” Ryuna menatap tak percaya kedua mata Kim atas pengakuan yang baru terlontar dari bibir sang suami. Kemudian ia meraih bingkai fotonya dari tangan kanan Kim. Ia tatap dengan saksama foto mereka berdua yang ada di sana.


“Saat itu, usia kita sama-sama lima tahun,” ucap Kim.


Mendengar itu, Ryuna refleks mengalihkan tatapannya dari bingkai foto yang ia pegang menggunakan kedua tangan. Ia menatap bingung, tak paham, kedua mata Kim yang juga masih menatapnya penuh keseriusan. “Pas di rumah Dodo, usiaku juga sekitar itu, Mas. Namun yang di foto ini memang mirip aku. Namanya pun sama, kah?” Karena Kim mengangguk, Ryuna berkata, “Namun aku juga kehilangan ingatanku sebelum aku tinggal di rumah Dodo. Aku hanya ingat semua ingatan dari usia itu. Sebelum usia itu, beneran enggak ingat.”


“Nanti aku usut deh. Awas saja kalau mereka berani macam-macam. Terus, bapak mamak kamu, kenapa bisa meninggal?” Kim masih serius, meski ia juga mulai mengatur emosinya. Sebab baru membayangkan Ryuna dan orang tuanya diperlakukan semena-mena oleh Dodo sekeluarga saja, sudah membuatnya emosi. Uban-ubunnya seolah akan meledak.


Mendengar bapak Ryuna sampai terkena paru-paru, Kim sudah langsung mengernyit bersama emosinya yang makin tinggi. “Bukannya bapak enggak ngerokok?” Yang Kim tahu gitu.


Membahas keadaan orang tuanya dan semuanya kompak meninggal karena kelelahan, Ryuna jadi dirundung kesedihan mendalam. Ryuna berkaca-kaca, dan jadi tak kuasa menahan air matanya. “Bapak kan tidurnya di lantai. Nah kalau malam jaga di depan, ya kayak satpam. Sebenarnya Dodo sekeluarga memang bikin emosi lah Mas. Mas kan tahu pas di KKN. Di depan banyak orang saja ibaratnya dia enggak sungkan buat menginj*ak aku. Nah, orang tuanya lebih parah, Mas.”


“Sudah cukup. Pokoknya nanti aku usut. Alasan kamu sampai dibedah kepalanya, dan kamu juga sampai enggak ingat kejadian saat usia kamu lima tahun ke belakang.” Kim yakin dengan tekadnya. Ia akan mengusut Dodo sekeluarga setuntas-tuntasnya.

__ADS_1


Ryuna menyeka air matanya dan sangat berharap keputusan sang suami mengusut kas*us urusannya dengan keluarga Dodo, membuahkan hasil terbaik.


“Itu kemarin dia juga ada bilang, kamu masih punya pinjaman berapa? Yang aku kasih cek itu!” Kim ingat itu.


Setelah terdiam sejenak, Ryuna segera berkata, “Itu cek dihanguskan saja Mas. Takut diambil semena-mena. Buang dulu. Kalau Mas memang mau bayar, bayar sisanya saja. Wong seumur hidup orang tuaku saja ibaratnya habis buat kerja ke mereka. Sudah diurus duru, sana.” Ryuna turun dengan sangat hati-hati dari pangkuan sang suami. Tak lama kemudian, Kim juga sudah langsung mengurus cek yang sempat Kim berikan di KKN kepada Dodo.


Sekitar dua puluh menit kemudian, seseorang mengetuk pintu dan ternyata seorang ART yang mengirimkan pesanan Kim. Ada yang dari apotek, ada juga yang dari toko pakaian.


“Aku beli pakaian beberapa dulu buat kamu. Takutnya enggak cocok. Lusa beres dari kampus, kita mampir beli ke mal apa butik,” ucap Kim masih sibuk dengan ponselnya.


“Hah ...? Ini semua buat aku?” batin Ryuna menatap tak percaya dua kantong karton berukuran besar dan berisi pakaian terbilang banyak.


“Mas, ini semua buat aku?” sergah Ryuna sambil menghampiri Kim. Ia ingin memastikan, takutnya suaminya salah.


Kim menatap bingung wajah khususnya kedua mata Ryuna. Mata yang begitu polos dan selalu takut jika diberi kemewahan. “Ya memang buat kamu, itu kan buat perempuan. Aku kan bukan Rain yang suka pakai baju perempuan buat ngibu*lin gebetannya,” lembut Kim.


“Tapi ini pakai uang Mas, apa uang jatah dari orang tua Mas?” sergah Ryuna yang tak mau, Kim menghamburkan uang orang tua bahkan itu untuknya.

__ADS_1


Kim menahan tawanya. “Sejak SMP kelas akhir, aku sudah dapat gaji pertama Na. Aku beneran sudah punya penghasilan sendiri, kamu enggak usah khawatir kalau aku kasih kamu nafkah pakai uang orang tua apalagi uang harom!” Ia malah tertawa lepas karena baginya, kekhawatiran Ryuna sangat lucu.


__ADS_2