Saling Cinta Setelah Menikah

Saling Cinta Setelah Menikah
60 : Kemampuan Di Luar Nalar


__ADS_3

Pagi yang cerah Ryuna akhiri dengan senyum tak kalah cerah karena sang suami dengan sengaja menempelkan kedua jemari tangan pria itu di kedua sisi wajah. Kim sengaja menggunakan jemarinya membentuk hati, sebagai salam perpisahannya sebelum ia benar-benar berangkat kerja.


Tak mau kalah, Ryuna yang sampai detik ini masih istiqomah dengan hijrahnya, sengaja meletakan kedua jemarinya di depan perut, membentuk hati.


Kim yang harusnya mulai mengemudikan mobilnya, langsung melongo menyaksikan semua itu. Ia tersenyum takjub, dan langsung ikut kaget karena yang di dalam perut sudah kembali aktif. Ryuna yang terbiasa mendapatkan tendangan juga langsung kaget dan berakhir tertawa. Tawa yang juga sudah langsung menular kepadanya.


“Yang ... ikut saja yuk. Asli ini aku bisa enggak fokus kalau kalian enggak ikut,” rengek Kim mendadak berubah pikiran. Padahal sebelumnya ia begitu sibuk meyakinkan Ryuna untuk langsung tidur karena dari kemarin, istrinya susah tidur akibat efek kehamilan yang memang selalu disertai banyak drama.


Mendengar rengekan sang suami, Ryuna malah tertawa pasrah.


“Ayo ....” Kim sampai keluar dari mobilnya, mema*tikan mesin mobil yang sebelumnya sempat dinyalakan sekaligus dipanaskan. Ia sudah langsung menghampiri Ryuna menggandengnya kemudian membawanya masuk, hingga sang mamah yang akan mulai yoga, berakhir menertawakannya.


“Mbak Ryuna mau dibawa?” tanya ibu Chole dari anak tangga paling bawah sambil melepas kepergian punggung Kim dan Ryuna.


“Iya, Mah. Ini mau siap-siap bekel juga.” Sambil tetap melangkah, Kim sengaja berkata dengan lantang.


“Bekal makan juga? Mamah siapin, ya. Bawa beberapa kotak potongan buah juga. Itu kemarin buah melon yang dari Jepang, kalian suka kan?” Ibu Chole sudah langsung heboh dan tetap menyiapkan segala sesuatunya meski Kim maupun Ryuna belum merespons.


***


Ryuna memang diboyong ke restoran Kim Food pusat, dan di sana memang sampai disertai kantor. Namun di ruang kerja pak Helios yang menjadi tempat Ryuna istirahat, sampai disertai sofa lipat dan Ryuna tidur di sana. Kebetulan, Kim sengaja mengungsi di sana agar bisa bekerja sambil menjaga istrinya.


“Masih tidur?” lirih pak Helios yang baru datang. Ia sengaja mendekati sofa lipat Ryuna maupun Kim berada. Kim sengaja mendekatkan meja kerjanya ke sofa, hingga pemuda itu bekerja lebih leluasa di sebelah Ryuna.

__ADS_1


Kim yang awalnya sedang fokus menatap layar laptopnya, berangsur mengangguk-angguk dan kemudian tersenyum lantaran sang papah langsung menggeleng tak habis pikir ketika menyaksikan kehebohan yang ada di dalam perut Ryuna.


“Kamu ya ...,” lirihnya yang kemudian jongkok di sebelah perut Ryuna yang ia elus pelan dari atas ke bawah. “Istirahat dulu kasihan mamah, dari kemarin belum tidur,” lembutnya.


Detik itu juga Kim bengong karena yang di perut sungguh sudah langsung diam. “Itu diapain, Pah?”


“Diajak ngobrol saja. Pelan, ... mirip omanya kayaknya ini anak. Beneran enggak mau diam. Hahaha, mamah kamu kan gitu. Jatuh dari tangga saja langsung bisa lari kalau memang ada yang dituju,” ucap pak Helios dan Kim hanya mesem.


“Enggak ada yang begitu, ya? Boy saja hebohnya ya masih terbilang wajar,” ucap Kim.


“Ya mungkin ... anak kalian ini. Langsung diborong sama anak kalian,” balas pak Helios yang kali ini sengaja menahan tawanya agar ia tidak mengusik tidur sekaligus istirahatnya Ryuna.


Sekitar dua jam kemudian, Ryuna masih tidur ketika Brandon datang. Pemuda itu tak sedikit pun melayangkan salam. Menghampiri sang papah maupun sang kakak juga tetap tidak ada suara, meski Brandon sudah langsung menyalami tangan keduanya dengan sangat takzim.


“Nah kebetulan kamu datang. Jagain mbak Ryuna, ya. Mas sama Papah mau rapat bentar. Ada program sama promo baru soalnya,” ucap Kim yang sudah langsung mengemasi beberapa dokumen sekaligus laptopnya. Ia memasukkan semua itu ke dalam ransel gendongnya.


Kim susah payah menahan tawanya. Lain dengan pak Helios yang sudah langsung geleng-geleng kemudian menghampiri Ryuna. Pak Helios kembali mengelus perut Ryuna dengan sangat pelan dari atas ke bawah. Sepanjang proses itu juga, Brandon yang menyaksikan dibuat melongo lantaran ulah sang papah sudah langsung sukses membuat yang di dalam perut Ryuna anteng.


“Kok bisa gitu, Pah?” tanya Kim antara heran tapi juga iri lantaran anaknya lebih patuh kepada sang kakek.


“Tuh anak punya dendam pribadi kayaknya ke Mas,” komentar Brandon dengan nada yang begitu datar.


Namun untuk kali ini Kim tidak menampik anggapan sang adik. Terlebih selama ini, jabang bayi dalam perut Ryuna memang akan makin aktif jika Kim sedang di dekat Ryuna, bahkan ketika mereka sedang bermesraan.

__ADS_1


“P-pah ... kok gini?” tanya Kim tak lama setelah sang papah justru menahan tawa. Tawa yang seolah membenarkan anggapan Brandon. Bahwa janin di dalam perut Ryuna memiliki dendam pribadi kepada Kim.


“Beneran bayi ajaib dan sudah bisa cemburu bahkan dendam, ya?” kepo Brandon lagi dan justru membuat sang kakak terlihat makin ngenes.


“Kayaknya memang iya, sih. Tuh anak sudah bisa cemburu ke papahnya soalnya sepertinya dia memang sudah tahu, kalau mamahnya sayang banget ke papahnya,” ucap pak Helios menerka-nerka.


“Ah Papah, bikin aku gugup saja!” ucap Kim yang memang sudah langsung salah tingkah lantaran pak Helios menyebut Ryuna sangat menyayanginya.


Lain dengan Kim yang jadi sangat gugup bahkan salah tingkah, Brandon yang masih memakai seragam SMA justru kepergok menahan tawa. Tawa yang perlahan membuat pak Helios menatap bahkan memperhatikannya lama.


“Pah ...?” tegur Kim lirih lantaran baginya, cara sang papah memperhatikan Brandon sangat berlebihan. Bahkan Brandon saja jadi kebingungan.


“Jaga mbak Ryuna, ya. Kamu sudah makan, belum?” ucap pak Helios, dan Kim sudah langsung mengabarkan bahwa di meja sebelah Ryuna banyak bekal makanan yang disiapkan secara khusus oleh ibu Chole.


Sekitar lima belas kemudian, Ryuna terbangun. Pandangannya masih tidak jelas, tapi Ryuna langsung tersentak lantaran di sebelah Brandon yang ia pergoki duduk di sofa tunggal seberang keberadaannya, ada sosok wanita cantik bertubuh ular yang tingginya hampir dua meter.


“Innalilahi ... apa lagi ini?” batin Ryuna sudah langsung tak karuan. Ia bahkan langsung berkeringat parah seiring detak jantungnya yang berisik tak beraturan. Terlebih ke mana pun Brandon melangkah, sosok wanita cantik dan penampilannya mirip dari sebuah kerajaan kuno, akan mengikuti.


Brandon menuangkan air ke gelas, sosok itu ikut. Brandon membawa air minumnya ke Ryuna, sosok itu juga masih ikut. Namun, sampai detik ini Ryuna sengaja tidak menatap sosok wanita bertubuh ular tersebut.


“Dek, coba kamu bawa tas kamu, bawa ke sini Mbak pengin lihat,” pinta Ryuna pada Brandon yang tetap saja diam meski pemuda itu sudah memberikan segelas air minum kepadanya.


Walau Brandon tampak kurang nyaman, pemuda itu segera mengambil tasnya dari sofa tadi dirinya duduk. Namun di lain sisi, di mata wanita ular tak kasat mata yang mengikuti Brandon, perut Ryuna yang buncit, terus memancarkan cahaya keemasan.

__ADS_1


“Sebentar ....” Ucap Ryuna sengaja menuang isi tas Kim dan ...


Ada bungkusan putih menyerupai kain mori, dan aromanya sangat wangi. Wangi bunga melati.


__ADS_2