
“Pakai s3mpak sudah jadi kewajiban kita, kan? Masa aku malah pakai k4ngcut, ya beneran dirukiah sama daddy Kim Oh,” ucap Rain, si ganteng berlambe lemes. Anaknya pak Ojan atau itu Kim Oh Jan.
“Kim Oh, Kim Oh ... Ojan!” semprot Kim.
“Ojan itu bapakku, ya?” ucap Rain mendadak linglung.
“Ya iya, bapakmu. Peru*sa*k silsilah keluarga. Coba, sekarang kita harusnya panggil apa? Masih bingung, kan?” balas Kim mendadak pusing jika harus membahas status apalagi panggilan satu sama lain dalam hubungan mereka.
“Ada apa, sih?” sergah seorang pemuda yang keluar dari kamar mandi belakang, dengan sangat buru-buru. “Kim, kamu sudah pulang? Terus tadi yang teriak siapa? Rain yang jadi Raini?”
Detik itu juga, baik Kim maupun Rain, berangsur menoleh ke belakang. Membuat keduanya melihat Sabiru, pemuda yang baru keluar dari kamar mandi dan hanya menutupi tubuh bagian bawahnya dengan handuk. Selain itu, kepala Sabiru juga masih penuh busa dan sebagiannya menetes ke bawah. Iya, pemuda yang agak mirip Rain meski jauh lebih tampan itu, merupakan anak Azzura dan Excel, protagonis utama novel : Muslimah Tangguh Untuk Sang Mafia.
“Raini ... Raini! Kamu tahu enggak, Raini itu apa? Raini itu singkatan dari ‘randa nini-nini’ alias janda nenek-nenek!” omel Rain kepada Sabiru yang langsung meliriknya sebal.
“Ya maksudnya, kalau malam kan ... kamu memang jadi biduan dan namanya dari Rain, berubah jadi Raini!” ucap Sabiru dengan sabarnya.
“Allahhummaghfir lahu warhamhu wa'aafihi wa'fuanhu ...,” ucap Kim sengaja melafalkan doa bersama kedua tangannya yang sengaja ia angkat.
Mendapati kenyataan tersebut, Rain apalagi Sabiru sudah langsung ketar-ketir.
“Kim ... itu kan doa buat jenazah laki-laki! Kupret kamu, dikiranya kami sudah koid!” semprot Rain.
“Makanya jangan pakai s3mpak!” lirih Kim kembali mendelik kepada Rain.
“Ya ... ya malah kelihatan kalau enggak pakai s3mpak soalnya enggak ada k4ngcut pengganti, Kim. Ya ampun, ‘k4ngcut pengganti’ kesannya kayak judul novel-novel laris di Noveltoon, yah! Hahahaha ... I-iya Kim! Ini beneran baru mau pakai baju. Mau ngem*is di lampu merah bareng Sabiru. Mana tahu ada yang kasih pulau atau malah planet!” ucap Rain dengan santainya. Ia buru-buru meraih kemeja lengan panjang warna abu-abu yang digantung di hanger di dinding sebelahnya lantaran Kim yang mendekatinya seolah akan menerka*mnya hidup-hidup.
“M-mas ... gimana?” lirih Ryuna benar-benar lembut terdengar manja.
Mendengar suara Ryuna, baik Sabiru maupun Rain sudah langsung penasaran. Apalagi Rain yang langsung beringas pecicilan. Rain sampai tak jadi memakai kemeja abu-abunya. Terlalu penasaran dan juga tak mau ketinggalan. Terlebih Rain yakin, setiap wanita yang dekat dengan Kim selalu cantik sekaligus bibit unggul.
__ADS_1
“Kamu bawa cewek?” tanya Sabiru memastikan kepada Kim yang sudah memanggul Rain, memaksanya masuk ke kamar sebelah, selain ia yang juga melempar masuk pakaian pemuda itu.
“Kiiiimmmm, sinyal jodohku kuat. Aku yakin dia jodohku!” heboh Rain di dalam sana sambil menggedor-gedor pintunya.
“Pacar apaan? Itu istri! Aku sudah nikah dan pengin tinggal di kontrakan ini buat tiga hari ke depan,” yakin Kim.
“Heh? Kamu sudah nikah? Kesambet kamu bilang begitu? Terus, Ryuna gimana?” balas Sabiru benar-benar meragukan jawaban Kim.
“Sudah pokoknya kamu mandi dulu. Enggak usah ganteng-ganteng, dan pakai bajunya mohon yang tertutup. Enggak usah pamer otot lengan apalagi pamer otot perut sama dada!” sergah Kim kali ini agak memaksa sekaligus mengomel.
Mendengar itu, Sabiru sudah langsung tertawa, “Takut kalah saing, ya ...? Tapi masa iya, kamu beneran nikah sama Ryuna? Gimana ceritanya? Bukannya kamu harusnya juga masih KKN?” Sabiru benar-benar penasaran kemudian menatap Kim sambil menyugar ke belakang rambutnya yang masih penuh busa. Namun detik berikutnya, Kim langsung mengomel dan memintanya untuk tidak banyak gaya. Fix, Kim takut kalah saing!
Walau menjadi diam, ternyata Ryuna masih menunggu dan rela bertarung dengan nyamuk. Kenyataan yang juga sudah langsung membuat Kim tak tega sekaligus merasa bersalah.
“Na, digigitin nyamuk, ya?” lembut Kim sambil menghampiri Ryuna.
“Si nyamuk, ya. Aku saja belum gigit-gigit, eh mereka malah—”
Mendengar apa yang Kim katakan, Ryuna langsung mendelik, menatap tak percaya wajah suaminya.
Kim tersenyum nakal membalas Ryuna, kemudian menahan tawanya sambil mendekap gemas kepala sekaligus punggung istrinya itu. “Ikut ke warung bentar yuk. Di dalam beneran masih zona berbahaya.”
“Berarti kita enggak salah kontrakan?” tanya Ryuna memastikan.
Kim langsung menggeleng kemudian menatap Ryuna. “Enggak ... itu tadi anaknya kak Ojan.”
“Hah? Anaknya kak Ojan? Ah masa ...? Jangan ngarang, nanti jatuhnya beda, fitnah. Dari segi warna kulit saja sudah beda pakai banget,” ujar Ryuna tapi Kim justru menertawakannya.
“Kok aneh banget, sih?” pikir Ryuna yakin, masih banyak hal yang belum ia ketahui mengenai Kim termasuk itu yang tadi ada di kontrakan.
__ADS_1
“Kontrakan ini satu untuk semuanya, tapi bukan buat mak*si*at, melainkan hanya sedikit sesa*t!” ucap Rain sambil melahap satu bungkus nasi padang yang Kim dan Ryuna belikan.
Ryuna yang sudah duduk di tikar karakter dan memang bersebelahan dengan Kim, jadi sibuk membuat otaknya berpikir keras.
“Lambenya lemes, mirip banget sama bapaknya, kan?” lirih Kim sambil memakan camilan mirip lidi dan rasanya sangat pedas.
Ryuna tersenyum masam kepada suaminya, kemudian mengawasi Sabiru yang jauh lebih anteng ketimbang Rain. Namun, keduanya terbilang memiliki wajah sekaligus warna kulit yang mirip.
“Eh Ryuna, jangan pernah melihat laki-laki lain selain Kim. Nanti yang ada nasibmu enggak kalah tragis dari kita yang terbiasa dibacakan doa buat jenazah!” heboh Rain lagi dan Ryuna langsung menahan tawanya.
Ryuna memilih membukakan tutup botol mineral dan bermaksud membantu Kim minum, tapi mendadak si Rain malah nyanyi dangdut koplo, “Tutup lah botolmu—”
Suara sumbang Rain yang terbilang berseru, sudah langsung terhenti lantaran Sabiru melempar satu botol air mineral dan mengenai kepalanya. Air mineral tersebut juga masih Kim dan Ryuna yang membelikan.
“Ini aku panggilnya apa, yah, Kim?” tanya Sabiru sangat santun.
“Ya nama saja. Aku saja ke kamu Mas,” balas Kim santai kemudian menerima pemberian air mineral dari sang istri yang sudah sampai menaruh sedotan untuk mempermudah minumnya.
“Ryu, ... kalian, kamu sama Kim beneran sudah nikah?” tanya Sabiru, lembut tapi serius. Cara makan pun, ia sangat elegan memakai sendok, tak sebar-bar Rain yang lebih memilih pakai tangan kosong, selain Rain yang makannya sangat berantakan.
Sebelum menjawab, Ryuna telah lebih dulu menatap Kim. Kim yang juga sudah langsung menatapnya, berangsur mengangguk. Suaminya itu jelas memberinya izin untuk berbicara.
Kini, Ryuna mengangguk-angguk sambil menatap dua pemuda tampan di hadapannya yang jelas menunggu balasannya. “Iya, ... kami sudah menikah.”
Mendengar itu, Sabiru langsung mesem. “Padahal kamu yang selama ini cita-citanya nikah mudah.”
Namun dengan santainya, Rain berkata sambil melahap nasi padang di tangan kanannya, “Yang penting aku enggak mati muda, pasti aku nikah!”
Detik itu juga, tiga orang yang di sana, termasuk Ryuna yang selalu irit bicara, langsung tertawa.
__ADS_1