
Pesta memang sudah usai, tapi kebahagiaan masih menyertai mereka. Mereka tetap kompak, meski dalam kebersamaan adik-adik Kim kerap terjadi keributan kecil khususnya antara si kembar Boy dan Brandon dengan Hyera. Terlepas dari ketiganya, Calista menjadi adik Kim yang paling lurus dan memang selalu menjadi kakak yang baik layaknya Kim.
Keesokan harinya, selepas makan siang, Ryuna dan Kim kompak meninggalkan hotel dengan formasi lengkap. Orang tua sekaligus adik-adik Kim, kembali menjadi bagian dari mereka.
“Mas, ikut Papah ya! Pamit dulu ke istrimu. Ada kerjaan mendadak,” seru pak Helios dari belakang sana.
Tentu Ryuna sudah langsung mendengar walau Km belum sampai berpamitan layaknya arahan sang papah.
“Kamu langsung istirahat, ya!” sergah Kim yang memang sudah langsung pamit.
Semuanya kompak mengubah formasi karena Kim akan pergi dengan sang papah menggunakan mobil Kim, tapi kali ini mereka disopiri oleh seorang ajudan mereka.
Ryuna bergabung dengan rombongan perempuan dan dikawal oleh seorang ajudan. Sementara Boy dan Brandon—masing-masing bersama seorang ajudan membawa barang-barang mereka, termasuk itu setumpuk hadiah pernikahan milik Ryuna dan Kim.
Sampai di rumah, Ryuna memiliki kesempatan bersama Brandon lantaran si bengis berwajah tampan itu dengan siaga menuntunnya melewati anak tangga ke lantai atas.
“Brandddd, kopernya masih banyaaaak!” cerewet Boy dari belakang sana. “Oh, lagi antar Mbak Nana. Ya sudah ...,” ucap Boy yang juga langsung minta maaf.
Ryuna yang sengaja berhenti kemudian menoleh sekaligus menatap Boy, sudah langsung tersenyum. Lalu, perhatiannya tertuju kepada Brandron. Selain masih menggandengnya, pemuda itu ternyata tengah menatapnya heran.
“Mbak pikir, Mbak sudah pendiam. Karena sekadar ngomong saja rasanya malas banget. Lah ternyata kamu lebih parah. Cerewetnya diborong Dek Boy sama Dek Hyera,” ucap Ryuna sangat hati-hati, tapi Brandon hanya diam dan hanya sesekali meliriknya.
Brandon tetap menuntun Ryuna meski pemuda itu tak menanggapi ucapan Ryuna.
__ADS_1
“Diantar sampai sini juga enggak apa-apa, Dek. Makasih banyak, ya.” Ryuna berpikir, Brandon akan langsung meninggalkannya. Namun nyatanya tidak. Pemuda itu sampai membukakan pintu kamar Kim yang juga telah menjadi tempat tinggal Ryuna di sana. Kendati demikian, Brandon tetap tidak bicara meski tatapan mereka beberapa kali bertemu.
“Makasih banyak yah, Dek!” ucap Ryuna. Detik berikutnya Brandon langsung pergi kemudian pergi begitu saja. Di bawah, Boy terdengar sudah langsung mengajak Brandon berbicara. Boy berbicara panjang lebar, tapi tak ada sedikit pun suara Brandon yang terdengar.
***
“Oh ya?”
Itulah tanggapan Kim yang langsung mesem dan perlahan tertawa ketika Ryuna sudah langsung menceritakan ulah Brandon.
Ryuna yang mengikuti sang suami hingga kamar mandi, terdiam mengernyit. “Tapi kalau aku pikir-pikir lagi, ... sebenarnya Mas juga aneh.”
“Lah, aneh bagaimana?” tanggap Kim yang masih tersenyum geli. Ia melepas kancing pergelangan kiri jas putihnya.
Kim yang tidak bisa mengakhiri senyumnya begitu saja, sengaja membingkai wajah Ryuna menggunakan kedua tangannya. Kali ini Ryuna tak lagi memakai kerudung karena memang sudah malam. Sudah larut malam, tapi Kim memang baru pulang. Baru pulang sudah langsung Ryuna sambut dengan cerita mengenai Brandon.
“Enggak sembarang orang sampai dituntun Brandon, bahkan sampai dibukakan pintu diantar sampai kamar. Mamah sama oma saja jarang banget. Jadi, kamu tahu apa maksudku? Kamu beruntung, makanya aku langsung senyum-senyum!” lirih Ki. yang sengaja berbisik-bisik di depan wajah Ryuna. Seolah apa yang ia katakan memang sangat rahasia. Pun mesk di sana, mereka memang hanya berdua.
“Oh iya ...?” lirih Ryuna yang kemudian tersenyum geli. Senyum yang memang sama dengan senyum sang suami.
Kim kembali mesem sambil mengangguk-angguk. Namun kemudian, ia sengaja mengec*up lembut bibir sang istri. Seseorang terdengar mengetuk pintu kamar mereka tak lama setelah Kim mengganti kecupa*nnya dengan pelukan mesra kepada Ryuna.
Setelah kompak mengernyit, kedua mata Ryuna dan Kim bertatapan. Namun tak lama setelah itu, Kim meninggalkan Ryuna di dalam kamar mandi. Ternyata Brandon yang mengetuk pintu.
__ADS_1
“Oh ... ternyata Mas sudah pulang? Ya sudah, aku mau tidur.” Setelah berucap demikian, Brandon sudah langsung balik badan dan berniat masuk ke dalam kamarnya lagi, yang memang pintunya tidak sepenuhnya tertutup.
“Makasih banyak tah, Dek. Sudah bantu bahkan jaga istri Mas, saat Mas enggak bisa,” ucap Kim.
Mendengar itu, Brandon sudah langsung bingung. Tatapan bengisnya perlahan goyah, seiring langkahnya yang jadi lebih pelan dan bahkan berhenti total. Namun seperti kepada Ryuna, kepada Kim pun, Brandon sama sekali tidak bersuara apalagi memberikan balasan berarti.
Senyum lembut Ryuna pasang ketika sang suami kembali. Ia yang masih di depan wastafel dan awalnya sedang mematut penampilannya di cermin yang ada di atas wastafel, sengaja balik badan. “Siapa, Mas?”
“Yang tadi kita omongin,” ucap Kim dengan entengnya dan perlahan mendekap hangat tubuh istrinya.
“Brandon ...?” tebak Ryuna sambil menengadah hanya untuk menatap wajah suaminya.
Kim sudah langsung mengangguk-angguk sambil tetap mengunci ubun-ubun Ryuna menggunakan bibirnya. Ryuna yang masih didekap Kim, hanya tersenyum lembut sambil sesekali mengusap kedua lengan sang suami. Namun ketika Ryuna tak sengaja menatap ke cermin di hadapan mereka, jantung Ryuna seolah nyaris copot hanya karena pandangannya mendapati orang lain selain dirinya dan sang suami. Ada sosok bertubuh tegap sekaligus tinggi yang memakai lengan panjang serba putih. Sosok tersebut tersenyum hangat kepadanya, tapi ketika Ryuna menoleh, memastikan si pria bersenyum bersahaja di sudut pintu belakang Kim, sosok itu tak ada. Termasuk juga ketika Ryuna kembali mencarinya di cermin. Pria berpakaian panjang dan kepalanya penuh uban, tapi tubuhnya bercahaya itu, benar-benar tidak ada.
“Merinding! Itu tadi siapa, ya? Kelihatan sangat nyata, tapi pas dipastikan malah enggak ada. Meski dari tampangnya terlihat baik, ... astaghfirullah!” batin Ryuna ragu mengabarkannya kepada Kim, meski kedua tangannya sudah sibuk mengelus perutnya yang masih rata.
“Mas? Kalau boleh tahu, tadi Mas dari mana?” tanya Ryuna.
Mendengar itu, Kim langsung menatap bingung pantulan bayangan sang istri di cermin yang ada di hadapan mereka. “Ke kantor, di restoran inti. Lantai atasnya kan kantor. Itu yang ke dalam lagi. Besok kalau ikut ke sana, kita lihat-lihat. Kan perginya juga sama papah,” ucap Kim sengaja memberi Ryuna pengertian.
Ryuna kembali tersenyum, berusaha menenangkan dirinya sendiri. Hanya saja, kejadian layaknya tadi terus berlanjut. Ryuna kerap menatap sosok yang tak semua orang bisa melihatnya.
“Sebenarnya aku kenapa? Bayiku enggak apa-apa, kan? Ini enggak bener, ini. Ya Allah ... ini aku kenapa lagi? Aku harus cerita, tapi aku takut dikira gil*a. Enggak ... enggak. Suamiku enggak gitu. Suamiku pasti akan mendengarkan aku. Aku harus cerita biar kami dapat solusinya!” pikir Ryuna yang kembali memergoki pria bersahaja yang terus tersenyum hangat kepadanya. Ia sengaja pura-pura tak melihat sosok tersebut, tapi yang membuatnya terkejut, ia yang melangkah buru-buru sambil menunduk, justru menabrak seseorang dan orang itu pak Helios.
__ADS_1
Pak Helios yang tak kalah buru-buru dari Ryuna dan tengah melangkah ke arah Ryuna, dengan sigap mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel. Di lantai bawah yang ada di dalam kediamannya, ia menyaksikan sosok pria bersahaja yang juga langsung tersenyum kepadanya, sebelum akhirnya pria itu menghilang.