
“Mereka benar-benar mafia yang sesungguhnya,” ucap paman Syam berbicara lirih kepada pak Helios.
“Sampai detik ini, si ibu Siska tetap tidak mau mengaku?” balas pak Helios tak kalah lirih.
“Masih berjalan di tempat. Ibu Siska terus meledak-ledak, menantang setiap pemeriksaan yang harus dia jalani. Mau lapor ke kaporl*i sama lapor presiden katanya. Bilangnya mau nuntut balik,” balas paman Syam.
“Tapi dia masih ditahan?” balas pak Helios dan hanya dibalas lirikan malas oleh paman Syam yang menandakan, dugaannya memang benar.
“Kalau sampai lepas, cul*ik saja terus lempar ke hutan biar jadi makanan binat*ang bu*as!” lanjut pak Helios sudah langsung geregetan bahkan naik pitam.
Paman Syam langsung menatap pak Helios. “Enggak dimutil*a*si dulu, baru dikasih ke binat*ang bua*s?”
Tanpa menatap Syam, Helios berkata, “Istrimu sedang hamil, jangan sampai apa yang kamu lakukan justru berdampak fatal ke calon bayi kalian.”
Mendengar itu, paman Syam sudah langsung gelisah. “Ya sudah ya Mas. Aku pamit dulu. Aku bahkan sampai lupa ke istriku.”
“Yang penting jangan sampai kayak Ojan saja. Sering lupa segalanya,” balas Helios dengan santainya.
Alasan yang juga membuat paman Syam langsung tertawa di tengah obrolan malam mereka yang memang rahasia. “Gitu-gitu kan anak kesayangan Mas.”
Mendengar balasan mele*dek dari paman Syam, pak Helios tidak bisa untuk tidak tertawa. “Per*usak silsilah, iya. Masa anak-anaknya panggil aku “Opa dan panggil Chole, Mbah Putri ....” Sampai detik ini, pak Helios masih tertawa, meski pamitnya paman Syam, kembali ia tanggapi dengan penuh keseriusan. “Usut sampai tuntas. Viralkan, dan kamu wajib kasih hukuman tambahan!”
__ADS_1
Pak Helios melepas kepergian punggung paman Syam dengan perasaan harap-harap cemas. Sebab baginya, sebelum ibu Siska mendapatkan balasan setimpal versinya yang wajib diberi hukuman tambahan, baginya itu ibarat beban. Terlebih kasu*s ibu Siska juga melibatkan Ryuna. Orang tua Ryuna sampai meninggal dan disinyalir efek kelelahan sekaligus kurang asupan gizi.
Baru akan masuk rumah, dari kejauhan di tengah malam yang sunyi, pak Helios mendapati Sabiru yang membonceng Rain menggunakan motor matic-nya.
“Hallo, Opa ... para bujang sengaja datang,” sapa Rain dengan santunnya dan segera menyalami tangan kanan pak Helios dengan sangat takzim.
Seperti yang sempat pak Helios bahas dengan paman Syam, gara-gara kak Ojan, silsilah keluarga mereka jadi amburadul. Rain sampai memanggil pak Helios opa atau itu kakek.
“Kalian mau ngapain ke sini malam-malam?” tanya pak Helios sambil membiarkan tangan kanannya disalami Sabiru.
“Mau apel tapi bukan apple, Opa! Ngapel maksudnya!” yakin Rain.
“Oalah ... kirain mau ke Kim. Soalnya kan sekarang Kim sudah nikah dan istrinya sedang hamil. Kalau bisa, kalau bukan buat hal yang mendesak, jangan sampai ajak main malam-malam ya. Lagian sepertinya Kim juga lagi sibuk banget. Urus kasu*s istri, urus pretelan KKN,” ucap pak Helios dan kali ini mencoba memberi kedua bujang di hadapannya pengertian.
“Masalahnya ya Opa, mereka terjebak cinta segi tajam karena Hyera juga naksir Mas Sabiru, Om. Ottoke(bahasa Korea artinya : bagaimana) bagaimana, ini jadinya?” ucap Rain cepat sekaligus ceriwis.
Pak Helios yang sempat menyimak keluhan Rain, berangsur menatap Sabiru dengan serius. “Memangnya, hubungan kamu dan Lista, sudah sejauh mana?” tanya pak Helios.
“Si Hyera kan masih ...,” lanjut pak Helios yang sebenarnya belum selesai.
“Masih umbelen, Opa. Masih piyik wong Hyera masih SMP kelas 1, eh!” berisik Rain dan sudah langsung membuat pak Helios sibuk istighfar.
__ADS_1
“Sudah, kalian masuk saja. Tapi jangan ke kamar Kim karena Kim sedang di kamar sama istrinya,” ucap pak Helios.
“Opa ... Opa ....” Rain kembali berisik sambil menatap wajah pria paruh baya yang ia panggil opa itu. “Ini enggak ada pesta apa resepsi nikahan mereka? Biar kita kumpul-kumpul sambil makan enak? Tiap hari makan hati di tengah keadaan yang jomvlo begini kan, enggak enak banget, Opa. Sekali-kali, adain pesta sambil berwisata nginep di hotel mewah gitu satu keluarga kita dong biar kelihatan kalau kita orang kaya!” ucap Rain sudah langsung dibekap mulutnya menggunakan kedua tangan oleh Sabiru.
“Mau enggak diajak, sudah menyumbangkan diri, Om!” ucap Sabiru sambil tersenyum canggung kepada pak Helios. Tak lupa, ia juga beberapa kali meminta maaf karena hadirnya Rain di sana memang sangat ceriwis sekaligus mengganggu.
Sementara itu, di kamar, Kim masih menemani Ryuna melakukan diskusi melalui laptop. Ryuna melakukannya bersama beberapa peserta KKN lainnya, selain Sonya, Tiwi dan Dodo. Acara diskusi tersebut juga diawasi secara khusus oleh dua orang dosen.
Kim yang mengawasi dari samping sesekali akan menyediakan minum atau malah alat tulis untuk sang istri, jika ia tak menampakkan diri melalui laptopnya sendiri. Beruntung, meski KKN mereka sedikit bermasalah dan masalahnya terbilang fatal, berkat campur tangan pak Helios dan paman Syam bahkan kak Ojan, mereka tak sampai gagal apalagi ikut di-DO layaknya Tiwi dan Sonya. Namun khusus Dodo, meski pemuda itu tak sampai di-DO, kenyataan Dodo yang kerap berperilaku kurang baik bahkan tidak sopan, membuat pemuda gend*ut itu dicoret dari KKN.
Urusan KKN usai, dan Ryuna sudah langsung tiduran di lantai untuk meluruskan punggung.
“Pengin ambil beasiswa,” ucap Ryuna sambil menatap wajah suaminya yang masih duduk di sebelah menghadap meja berisi laptop dan layarnya masih menyala. Seiring kedua tangannya yang mengelus perut, ia berkata, “Namun aku sadar diri, anak dan suamiku lebih membutuhkan aku. Nantilah kalau anak sudah agak besar.”
Mendengar itu, Kim yang langsung tersipu berkata, “Kalau anak sudah besar, ya dikasih adik lagi!” Tawanya pecah hanya karena mengatakan itu. Tawa yang juga menular kepada Ryuna.
“Memangnya rencana Mas ke depan, apa?” tanya Ryuna lembut yang kemudian berkata tegas, “Ini serius, bukan hanya masalah nambah anak!”
“Aku sudah mulai mempelajari beberapa bidang bisnis secara privat buat pengembangan bisnis yang sudah ada. Beneran masih urusan bisnis. Buat bangun bisnis baru juga, dan mamah papah sangat dukung karena memang dulu pun, mamah pernah belajar di sana. Kamu mau ikut gabung juga? Nanti kuliahnya kalau kamu sudah lahiran dan sampai anak beres ASI eksklusif biar kamu enggak stre*s,” ucap Kim yang kemudian memegang perut Ryuna.
Perut Ryuna memang masih rata, tapi Kim sudah mulai mengajak calon janinnya yang di sana untuk berkomunikasi. Ia memperlakukan janin mereka penuh cinta karena ia tak mau kalah dari papahnya yang telah membuat hidup sekaligus lingkungannya penuh cinta.
__ADS_1
“Jangan lupa buat memikirkan resepsi pernikahan kita. Kamu mau konsep yang bagaimana?” sergah Kim dan detik itu juga, istrinya sudah langsung terlihat kebingungan.