Saling Cinta Setelah Menikah

Saling Cinta Setelah Menikah
49 : Masih Rahasia


__ADS_3

Ryuna masih bertahan dengan senyum manisnya. Ia yang sudah duduk di sebelah Kim yang siap menyetir, sengaja melambaikan tangan kanannya kepada sang mertua.


Pak Helios yang digandeng mesra oleh ibu Chole, memang sampai mengantar kepergian Kim dan Ryun, hingga depan gerbang. Kim mengakhiri kebersamaan mereka dengan menekan klakson. Kendati demikian, ibu Chole yang sudah memakai cadar, masih begitu bersemangat melambaikan tangan ke arah kepergian mereka.


“Mas ...?”


“Hmm ...?”


“Mas punya saudara banyak, pernah terjadi salah paham bahkan ribut enggak, sama adik-adik?” Kali ini, Ryuna makin bertutur dengan hati-hati. Ia dapati, sang suami yang langsung mengernyit serius kemudian mengangguk-angguk.


“Manusiawi lah Na. Malahan enggak seru kalau kami akur terus. Ribut dari yang sepele pun hampir setiap hari kalau lagi kumpul. Nanti lama-lama, kamu pasti tahu. Ya alhamdullilahnya, semuanya masih terbilang wajar,” ucap Kim masih fokus dengan kemudinya.


“Wajib belajar ke papah mamahnya Mas karena Mas pengin punya banyak anak,” ucap Ryuna yang kemudian tersipu. Namun nyatanya, ucapannya itu sudah langsung membuat sang suami tertawa.


Setelah Ryuna renungi, dari semuanya anak pak Helios dan ibu Chole, Kim menjadi sosok yang paling pendiam tapi sabar. Selain itu, Kim juga tipikal yang paling menyukai kehidupan sederhana. Ibaratnya, Kim benar-benar sudah menjadi kakak teladan.


“Oh iya, Mas. Adik-adik perempuan tetap dikawal, kan?” tanya Ryuna lagi, masih sangat penasaran pada keadaan suaminya yang kaya raya. Namun tadi, Kim menolak tegas dikawal. Meski Ryuna yakin, pengawalan tetap akan menyertai setiap langkah suaminya secara diam-diam. Buktinya saat di KKN, kedua pria yang Kim akui sebagai paman, nyatanya merupakan pengawal pribadi Kim.

__ADS_1


“Khusus adik-adik perempuan, wajib. Kamu pun nanti andai.perginya enggak sama aku, wajib.” Kim mengakhiri ucapannya dengan menatap sang istri penuh keseriusan.


Ryuna sudah langsung tersenyum sambil mengangguk paham. Karena hanya itu juga yang harus ia lakukan. Ia tak mau mempersulit hal yang sudah dibuat sangat mudah, selain hubungan mereka yang juga tidak bermasalah.


Sambil mengelus perut sang istri yang masih rata, Kim berkata, “Minggu depan ada acara keluarga. Jadwal kita beneran wajib fokus untuk hal itu. Acaranya di hotel, jadi sebelum itu wajib istirahat total sih, biar kita khususnya kamu enggak kecapaian.” Sadar istrinya sudah langsung tegang, Kim yang tetap berusaha fokus dengan kemudinya berkata, “Nanti isinya keluarga besar. Semuanya baik semua karena kami memang memiliki hubungan sangat baik.”


Untuk yang sekarang, Ryuna benar-benar tegang. Menghadapi keluarga besar sementara dirinya tidak memiliki latar belakang menjual? “Tapi tetap, Mas. Aku takut bikin Mas malu. Nanti diajarin, ya? Aku jangan ditinggal—pokoknya, ... M-mas wajib sama aku terus.”


“Nanti mamah papah sama adik-adik juga bantu. Brandon, meski anaknya bengis mirip vampir, dia anaknya tanggung jawab banget kok. Termasuk Boy, meski anaknya clengean dan mulutnya lemes dalam artian ngomongnya kadang enggak lewat jalan, dia juga penyayang. Termasuk mbak Lista yang meski kalem santun, sekali bant*ing lawan, lawannya pasti remuk. Terus khusus Hyera, ... Dek Hyera kalau sekali teriak, bisa bikin radiasi perusak gendang telinga!” jelas Kim sejelas-jelasnya. Ia mengakhiri penjelasannya dengan senyuman. Senyuman yang berubah menjadi tawa lantaran Ryuna malah tertawa setelah menyimak jawabannya.


Seharian ini, Kim dan Ryuna sangat sibuk mengurus hasil akhir dari KKN. Sepanjang acara, kebersamaan Kim dan Ryuna terus menjadi fokus perhatian. Apalagi ketika peserta KKN yang tidak so*ngo*ng layaknya Tiwi, Sonya, maupun Dodo, bertemu dengan mereka. Sekelas Candra jadi sibuk mengatakan “Puji Tuhan” di setiap pemuda itu menatap Ryuna dengan penampilan terbaru Ryuna, selain interaksi manis Ryuna dengan Kim, dan sampai detik ini masih keduanya lakukan secara diam-diam.


Mereka sedang makan siang di restoran Kim Food cabang. Jadwal makan siang yang sebenarnya telat karena kini sudah pukul tiga sore lewat sepuluh. Mereka memang sengaja membereskan urusan KKN mereka lebih dulu, agar mereka merasa plong dan tak lagi memiliki tanggungan KKN yang masih serba diselesaikan secara kelompok.


Bukannya menjawab, Ryuna dan Kim justru tersipu kemudian bertukar tatapan satu sama lain.


“Ealah ... masih main rahasia-rahasiaan padahal sudah enggak ada pak RT, pak kades, apalagi ki Awet!” keluh Rasjid sambil menikmati hidangan di piringnya. Namun karena ia menyebut ketiga nama tadi dan sudah dianggap horor oleh semuanya, ia langsung jadi bahan olo*k-olo*kan yang lainnya.

__ADS_1


“Ih apaan sih? Kan kita sudah di sini, enggak di sana lagi? Hah, apa? Takut kera*s*ukan kayak Dodo apalagi Rukmi? Ah sudah lah ... lama-lama, aku juga jadi ngeri!” ucap Rasjid menyerah sendiri. Apalagi ketika ada kecelakaan mobil di jalan depan sana dan benturannya sangat dahsyat hingga terdengar oleh mereka.


Semuanya kompak berdiri sambil menoleh ke sumber suara. Namun dari semuanya, Rasjid menjadi orang yang paling latah—sibuk berteriak ketakutan kemudian menghubungkan kecelakaan di depan sebagai bagian dari obrolan mereka. Lain dengan Kim yang sudah langsung menghampiri Ryuna, kemudian mendekapnya.


“Ndra, coba diramal. Ini beneran bagian dari pembahasan tadi, enggak?” seloroh Rasjid.


Dari semuanya, mereka menjadi yang paling kompak merespons kecelakaan di depan. Lain dengan pengunjung lain yang hanya melihat sekejap kemudian langsung asyik makan lagi.


“Sudah, jangan bahas yang enggak-enggak. Balik makan terus pulang, istirahat,” ucap Kim sambil mengelus-elus lengan kanan Ryuna yang masih ia rangkul.


Detik itu juga, yang lain kecuali Ryuna dan Kim, menyalahkan Rasjid selaku sosok yang membahas nama-nama terlarang dalam hidup mereka.


“Eh, Bos Kim. Itu omong-omong, kenapa tangan sama badan kamu nempel terus ke Ryuna?” tanya Rasjid yang menjadi cengengesan mengawasi interaksi Kim dan Ryuna.


Kim yang langsung cengar-cengir, berkata, “Ada magnetnya ... beneran enggak mau udahan!” Ia mengakhiri ucapannya dengan tersipu.


“Ciiieeeee!” kompak mereka, tapi hampir semua mahasiswi sudah langsung iri kepada Ryuna. Mereka merasa, Ryuna sangat beruntung andai Ryuna jadi dengan Kim. Namun tiba-tiba saja mereka juga kompak melihat keadaan kini dari sisi yang lain.

__ADS_1


“Sebelumnya Ryuna kan kerja jadi ART di rumah Dodo dan kasu*usnya pun lagi panas-panasnya. Sudah, jangan iri ... karena buat sampai di titik ini, perjuangan Ryuna sangat berdarah-darah!” yakin mereka berusaha berpikir positif. Cukup Sonya, Tiwi, dan juga Dodo saja yang ditangkap polisi hanya karena tidak bisa mengendalikan rasa iri sekaligus dengki. Mereka jangan sampai, apalagi mereka orang terpelajar.


__ADS_2